Beberapa waktu lalu aku dan teman entertain seorang customer di Tauto Pekalongan. Wuih, ternyata uenak tenan! Sebetulnya beliau (karena dah agak berumur) dah lama ajak makan di sana tapi karena jauh dan gak terlalu minat belum kesampaian juga.
Sampai suatu ketika kebetulan kami pulang dari RSCM dan beliau dari Pramuka janjian deh ke warung itu (kita sengaja nelpon soale ada proyek dalam waktu dekat he..he..). Setelah melalui perjuangan panjang macet dan sedikit nyasar (untung temanku mantan kondektur sering jalan jadi gak terlalu nyasar) sampailah kami di tempat itu dan yang lebih parah beliau dah makan duluan karena nunggu kelamaan he…he…
Sebetulnya tempatnya biasa aja gak terlalu nyaman, parkirnya pun di seberang jalan. Rupanya Si Pemilik yang asli warga Pekalongan itu sangat cinta tanah airnya. Terbukti dengan dipajangnya foto-foto walikota Pekalongan dari beberapa jaman dan cuplikan berita di sepanjang dinding yang menceritakan segala sesuatu tentang Pekalongan. Tapi Si Pemilik (pensiunan salah satu instansi pemerintah) cukup ramah bersedia mendampingi dan menjelaskan menu yang tersedia. Uniknya, kalo kita warga Pekalongan (kebetulan teman orang Pekalongan) selesai makan kita diminta mengisi buku tamu yang isiannya menunjukkan alamat di Pekalongan dan di Jakarta.
Nah, sekarang cerita makanannya. Menu andalan di sini adalah tauto yaitu sejenis soto yang dimasak dengan tauco. Rasanya, waah…. Tautonya disajikan dengan mangkuk kecil, dengan potongan daging sapi, menurut Si Penjual mestinya daging kerbau tapi karena gak fav ya diganti sapi. Begitu melihat tampilannya langsung saja kucoba. Sruputan pertama wuiiiih……. sueger tenan…. Sruputan kedua aaaah…. linaklijo (lali anak lali bojo) berlebihan, deh… Sruputan ketiga uuuuuuh….. pedes soale kutambah sambel. Sruputan keempat dan seterusnya tetep uenak…. (sruputan tuh basa Indonesanya apa, ya?). Trus makannya pake nasi megono, yaitu nasi yang diberi semacam urap dari nangka muda campur parutan kelapa muda en bunga kecombrang. Kalo yang ini kurang cocok biasa aja karena baru kali pertama cobain jadi belon meresap.
Wah, pokoke enak. Mangkuknya kecil tapi kenyangnya lama. Oya, kita juga pesan cumi eh sotong tapi sausnya item pekat. Lumayan enak, begitu nyengir giginya item semua he…he… Aku cobain dikit soale malu takut gak bisa nyengir he…he… Selama makan aku iseng nanya ma si Pemilik dah pernah diliput TV belon. Beliau langsung menunjukkan foto-foto plus nyetel VCD Mak Nyusnya Pak Bondan. Rupanya dah tujuh kali diliput stasiun TV yang berbeda-beda juga ditulis di koran. Ooo, ternyata ngetop juga ya?
Nah, karena tamuku mo langsung meeting beliau pulang duluan. Kesempatan nih, begitu beliau pulang kita langsung pesan mendoan buat cemilan di jalan kantor. Soale kalo mo pesan tadi malu, perempuan kok makannya banyak
Setelah mengisi buku tamu sambil ngobrol ma istri Si Pemilik, terungkaplah bahwa Si Pemilik ternyata kenal ma Bapak temanku itu. Mengobrollah mereka dengan riang gembira. Apalagi ternyata Si Pemilik ini mantan anak buah Bapak teman saya, wah makin seru dan giranglah mereka (opo to yo?) bernostalgila tentang Pekalongan yang indah…
Nah, kalo mo cobain tauto yang enak itu silakan datang ke:
TAOTO PEKALONGAN
Jl. Tebet Timur dalam Raya No. 3, Jakarta Selatan (depan Pasar PSPT/sebelah Bank Panin). Buka jam 09.00-20.00 Hari Minggu tutup.
Nyam..nyam…sedaaap….
Posted by Emanuel Setio Dewo on Januari 5, 2008 at 2:10 am
Wakaka… ga jauh-jauh dari makanan ceritanya.
Sruputan = sedotan?
Wakakaka…
Ehem…
(** Nungguin kalau ada yang ngajak dan traktir… **)
Posted by chocovanilla on Januari 5, 2008 at 4:42 am
Dear Dewo,
Masa sedotan, sih? Gak cocok ah, kesannya disedot pake sedotan.
Sruputan = menyedot sedikit sehingga menimbulkan bunyi “srupuuut”, wah sruputan lagi, dong?
Sruputan = menyedot sedikit sambil memonyongkan bibir? Ih, nggilani…
Sruputan = mencicipi, kayaknya lebih enak, deh?
Posted by chocovanilla on Januari 5, 2008 at 4:43 am
Dear Dewo,
Oya, kapan-kapan ke sana yuk? Tapi aku lali jalannya, gak papa kita cari aku punya kartu namanya, kok.
Posted by Emanuel Setio Dewo on Januari 6, 2008 at 4:03 pm
Hore… kapan2 ya?
Oh ya, rasanya kayak soto Pemalang ga? Kan sama-sama pakai tauco tuh. BTW, rasa soto Pemalang enak juga ya?
Salam.
Posted by Ari on Mei 2, 2008 at 3:47 pm
Lain Bos Pemalang Grombyang cenderung Bening. Kalau Tauto Item leket leket. Kadang pakai Kluwek yang item itu. Di jakarta ada lho dikawasan Mampang dan Jembatan Lima
Sate grombyang maemnya ama sate kebo eh sate sapi, ya? Hiii…..
Posted by mel on Juni 17, 2008 at 4:30 pm
sabtu ini anak2 milis bango mania pd mo kesana loh.. ayo bareng2 kita isi buku tamunya heheheheh
Wah, ditunggu liputannya ya…
Posted by Khaidar on Juni 24, 2008 at 3:47 pm
wah jadi ngiler nih… :p
minggu depan mo nyoba ah…
Dijamin gak nyesel deh, mas. Ditunggu critanya, ya….
Posted by santirta m ( Bagian Foto Minggu Koran Tempo), 7255625 on September 13, 2008 at 6:31 pm
Mas/Mba Chocovanilla kami dari Koran Tempo ingin minta ijin untuk meminta foto anda tentang sate tutut, untuk dimuat di koran kami pada edisi Minggu tgl 14/09/08 dalam rubrik ramadhan. Nama blog anda akan kami cantumkan dalam foto anda di Koran kami.
Terimakasih Chocovanilla.
Wah, sebetulnya saya sama sekali gak keberatan, tapi kayaknya dah telat yaa…..
Saya baru buka blog nih, maaf yaa…. tapi kalo lain kali memerlukan silakan saja….
Posted by santirta m ( Bagian Foto Minggu Koran Tempo), 7255625 on September 13, 2008 at 6:40 pm
Maaf, kAmi sudah mencoba untuk mencari kontak mas/mba chocovanilla untuk kami hubungi. mas/mba bisa mengontak kami di nomer 7255625 ex 307 apabila anda meminta honor atas foto anda yang kami muat, kami akan membayarnya.
Terimakasih atas perhatiannya
Salam,,
Dah telat ya, Mas?
Tapi saya kirim email aja, kapan-kapan memerlukan lewat japri aja yaa…..
Salam and thanks..
Posted by TEDJO on Oktober 28, 2008 at 7:18 am
Orang PEKALONGAN lebih suka memasak daging kerbau dibanding SAPI memiliki sejarah Panjang. Konon Sunan Kudus (salah satu wali songo) Pernah Berjanji dihadapan Umat Hindu sbb “Wahai saudaraku umat Hindu … karena kalian menghormati SAPI, maka SAYA dan UMATKU tidak akan menyembelih sapi dan hanya menyembelih KERBAU sebagai GANTINYA” …. ini sebuah TOLERANSI yang luar biasa.
Siapa saja boleh punya tafsir terhadap ajaran agama. Tapi scara umum, orang yang meragukan kemampuan, kedalaman Ilmu dan keimanan SUNAN KUDUS …. Perlu diragukan kewarasannya.
Ooo, gitu to sejarahnya?
Wah, tapi tanpa bermaksud meragukan apapun, menurutku mang lebih enak daging sapi ya? Katanya kalo daging kerbau lebih alot?