Untuk Papa Tersayang

28 Jan:   Siang ini, sepi terasa, hanya terdengar dengkur halusmu, Pa. Namun hanya sebentar, sesaat kemudian kau terbangun, kaget entah karena apa, lalu terlelap kembali. Kasihan Papaku, sungguh tidur yang tak nyenyak.  Kutatap wajah tua Papa, masih tampak sisa-sisa ketampanan, hidung yang mancung – yang entah mengapa tidak diturunkan padaku – dan alis lebat yang mulai memutih. Rambut yang memutih dan menipis, padahal dulu lebat dan berjambul, khas tahun 70 –an.  Ah, Papa sayang, tak terasa usiamu menjelang 69 tahun. Rasanya masih terasa usapan tangan Papa di rambutku menjelang tidurku, aku yang penakut yang selalu minta temani sebelum tidur,  yang tak mau lepaskan pelukan Papa karena takut ditinggal. Ah, ternyata masa-masa itu sudah jauh berlalu… 

Sedih sekali aku sekarang, melihat Papa yang dulu gagah kini terbaring tak berdaya. Tak terasa air mataku menetes. Aku masih ingat, betapa Papa dulu seperti tak pernah kehabisan energi. Sepulang kerja masih tenis, malamnya masih harus mengerjakan PR yang tumpukannya setinggi langit-langit rumah, aku ingat judul PRnya ”Asmanan”, yang entah apa artinya. Pagi mengurus perkutut dan cucak rawa, ah… seperti tak ada lelah.   

Aku pun masih ingat, ketika Papa menduduki jabatan yang sungguh menyita waktu. Tak ada waktu untuk keluarga, betapa kami jarang sekali bertemu. Hampir setiap Minggu sepulang gereja kita selalu makan bersama lalu nonton, sepertinya Papa ingin menebus enam hari yang hilang. Kadang Ibu marah-marah karena Senin harus sekolah tapi kami menghabiskan waktu bersama sampai larut. Sungguh ironis, ketika Papa terkena stroke 18 th yang lalu justru Papalah yang kesepian, harus di rumah sepanjang waktu. Sementara kami anak-anaknya sudah harus meninggalkan rumah untuk menjalani kehidupan yang lain. Kasihan Papa… 

Sebenarnya Papa bukan orang yang mudah sakit. Seumur hidupku aku tahu Papa sakit saat stroke. Setelah itu pun tak pernah sakit yang berarti, Papa sungguh kuat. Hingga sekarang harus terbaring kembali karena jatuh. Dan betapa beratnya karena Papa harus operasi. Tak terbayangkan sakit yang menimpamu, Pa… 

Sayup-sayup aku ingat nyanyian Papa diiringi gitarnya,               

Willingly, I’ll be yours               

Willingly, I’ll wait for you…

Karena Papa aku senang sekali mendengarkan lagu-lagu lama. Siapa, Pa? Andi Williams, Nat King Cole, my love Elvis Presley, Pat Boone, Everly Brothers, Louis Amstrong, sampai teman-temanku dulu mengatakan aku telat lahir.  

31 Jan:    Hari ini Pa, kau akan menjalani operasi. Kami hanya bisa mendoakanmu, kita serahkan semua kepada Tuhan. Rasa sakit itu akan segera lenyap, Pa. Dan kita bisa segera bersama lagi, makan bersama seperti dulu, seperti belum lama ini, seperti sebelum Papa jatuh. Kami mohon setelah ini Papa tidak pulang lagi ke Semarang. Tinggallah bersama kami, Pa, bersama anak-anak dan cucu-cucu yang selalu menyayangimu. Kami tau berat buat Papa meninggalkan rumah, meninggalkan kenangan masa lalu, tapi kami gak tega Papa hanya berdua dengan Ibu. Kumohon, Papa bersama kami saja, please? 

Papa sayang, yang tabah ya, seberat apapun sakit Papa kami akan selalu mendampingi. Allah Bapa, berikan kesembuhan kepada Papa. Bunda Maria dampingilah Papa. Delapan belas tahun lalu aku mohon agar Papa bisa berjalan normal kembali, tapi kali ini aku hanya mohon agar Papa bisa jalan kembali seperti sebelum jatuh dan tidak kesakitan lagi. Semoga operasi Papa berjalan lancar dan Papa segera pulih. 

Papa sayang, selamat berjuang….. doa kami menyertaimu. Jangan takut ya, Pa… Kami semua menyayangimu… 

(Saat ini Papa sedang menuju ruang operasi)

10 Tanggapan to this post.

  1. Posted by Citra Dewi on Januari 31, 2008 at 4:50 pm

    Mbak Choco,
    Terharu baca doa dari seorang anak yg keluar dari dalam lubuk hati hati yg tulus.
    Rasanya perasaan mbak ini semakin langka di jaman yg super modern and super egoistis.
    Ada keteduhan dan kelembutan yg kurasakan dan terutama kasih sayang didalam setiap kalimat2 yg dirangkai. Ada keindahan didalamnya,yaitu indahnya cinta anak thd oranngtua. Ada rasa haru yg menyentak-nyentak batin ini, perasaan ini yg kurindukan.
    Tuhan pasti akan memberikan yg terbaik buat anak2Nya yg selalu berserah kepadaNya.

  2. Posted by Citra Dewi on Januari 31, 2008 at 4:51 pm

    Btw,
    lupa Mbak,
    Salam kenal dari saya. Saya ini penggemar setianya adik anda (Dewo) yg beruntung mempunyai kakak spt anda dan sebaliknya.

  3. mbak..aku jadi inget papa akuh dech…
    aku kok yah nangis yah baca ini? mirip kisah papa akuh…
    salam buat papamu yah, mbak…semoga cepet sembuh…
    luv u pa…

  4. Dear Kakak,

    Aku juga sedih sekali mengingat semua hal itu yang sangat kontras dengan saat ini. Benar-benar masa kecil kita yang sangat indah. Semuanya berkat paduan kasih sayang Papah & Ibu. Kenangan indah itu benar-benar sangat membekas di dalam hati kita semua. Sudah seharusnyalah kita meneruskan kasih sayang ini kepada anak & cucu kita kelak.

    Doaku untuk Papah & Ibu tercinta. GBU.

  5. [...] Terima kasih atas doa-doa dari para sahabat. Tuhan memberkati. ~~~ Terkait: – “Papah Jatuh Sakit” – “Untuk Papa Tersayang” [...]

  6. @ Mbak Citra Dewi
    Salam kenal juga, terimakasih doanya. Kami memang sangat menyayangi ortu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Cinta yang semakin kurasakan saat aku sendiri sudah menjadi orang tua, aku jadi bisa merasakan apa yang dirasakan ortuku dulu.

    @verlita
    Thanks doanya, ya. Operasinya dah berhasil kok, tinggal recovery. Gimana dengan papa Verlita? Smoga selalu sehat dan diberkati.

    @Dewo
    Senang juga ya mengenang masa lalu. Ingat gak ketika kita curi-curi nyetir mobil keliling kota? Aku yakin Papa tau tapi pura-pura gak tau. Smoga Papa cepat pulih, ya. GBUT.

  7. Dan aku ikut berdoa semoga Papa-mu sehat….aku salut dengan suara hati seorang anak pada Papanya. salam

  8. Frater, makasih doanya. Puji Tuhan sekarang Papaku dah gak kesakitan lagi, tinggal recovery. Mudah-mudahan bisa cepat jalan kembali. GBU.

  9. Bagaimana keadaan Papah sekarang mbak. Aku baru sempat bezuk 1 kali. Pengennya berkali-kali…tapi benar-benar harus bagi waktu. Doaku selalu untuk Papah.
    Btw, kesehatan Ibu juga perlu dijaga. Aku salut banget dengan ketabahan Ibu.
    Salam sayang untuk semua

  10. Bune,
    Gak papa gak besuk lagi yang penting doanya ya, Mbak. Oya, Papa dah pulang hari KAmis kemaren. Selanjutnya fisioterapi di rumah. MEmang Ibu juga harus jaga kesehatan, gimana ya, soulmate sih! Doakan aja ya, Bune. Terimakasih dan salam buat si centil Gita.

Tanggapi posting ini