Gigi Si Guanteng

Tadi pagi sewaktu aku ganti baju di kamar terdengar Guanteng dan Cantik ketawa-ketawi ma Karti.

“Hii, gigi Kakak ada coklatnya, item lucu deh,” celoteh Si Cantik.

“Sini Kak, mbak bersihkan,” kata Karti.

Tapi kudengar Guanteng menolak lalu kabur terbirit-birit. Aku lalu keluar kamar. Kulihat Guanteng berlari-larian gak bisa anteng. Trus kalo ketawa gak berani buka mulut jadi cuma senyum aja. Wah, aneh nih? Biasanya kalo ketawa begitu lepasnya. Kudekati dia.

“Coba Bunda liat, mana giginya yang kena coklat?” Bujukku. Guanteng meringis buka mulutnya dikit tapi cuma dua detik. Oh, giginya tanggal!!!

“Ooo, gigi Kakak lepas, ya?” kataku setenang mungkin. Padahal kaget juga aku kok gak ada tanda-tandanya? Wah, Cantik dan Karti langsung berminat.

“Itu coklat kok, Bu. Barusan Kakak maem oreo,”ujar Karti dengan cemas. “Staf”ku yang satu ini emang panik sekali kalo dah menyangkut urusan anak-anak.

“Bukan, gigi Kakak lepas. Gak papa, kok. Itu tandanya Kakak dah gede, yang lepas itu gigi susu sebentar lagi juga tumbuh lagi, kok,” kujelaskan setenang mungkin. Karena gara-gara suara Karti, Guanteng jadi agak takut. Kubujuk lagi dia membuka mulutnya. Memang benar gigi serinya yang bawah lepas sampe ke akar-akarnya. Kok gak pake acara goyang dulu, ya?

“Kapan Kakak berasa lepasnya?”

“Kemaren sore waktu ngaji.”

“Ah, kemaren itu pasti goyangnya lepasnya kan barusan. Tadi pagi Bunda liat masih ada, kok? Kakak taruh mana giginya?”

“Di sini,” jawab Guanteng sambil menunjuk pipinya. Waduh, jangan-jangan tertelan?

“Kakak telan, ya waktu maem oreo tadi?”

“Nggak kok, kan gak bisa ditelan, Bunda?”

“Kalo gitu jatuh dimana?” Tanyaku was was. Karti sibuk masuk ke kolong-kolong nyari gigi anakku, merekonstruksi kemana saja anakku tadi.

“Di sini, Bundaaa!” ujar Guanteng sambil menunjuk pipinya lagi. Mulai gak sabar dia.

“Ya sudah gak papa, nanti Kakak ingat-ingat ya jatuh di mana. Kalo dah ketemu Bunda mau liat, ya.”

“Hi…hi… Kakak ompong kayak kakek-kakek’” goda Cantik. Kakaknya senyum-senyum kesal.

“Gak papa, itu tandanya Kakak sudah jadi Big Boy. Nanti gigi Kakak akan lepas semua trus ganti jadi gigi dewasa, jadi kuat deh,” hiburku.

“Kalo Adik jadi Big Girl ya, Bunda? Tapi kapan dong giliran Adik?” Si Cantik ini emang cerdas dan gak pernah mo kalah!

“Nanti dong, kalo Adik dah seumur Kakak, baru ganti gigi juga.”

Begitulah, tak terasa Guanteng dah besar. Giginya yang putih kecil-kecil itu akan habis, berganti gigi besar-besar. Mudah-mudahan gigi yang sama bagusnya dan sama rapinya agar tetap guanteng.

Aku berangkat kantor dengan perasaan aneh. Anakku dah besar. Sementara kulihat Karti masih merangkak ke kolong-kolong kursi, tempat tidur, kulkas, meja makan, sengaja kusuruh mengaduk-aduk tempat sampah di dapur, he….he…. pokoknya harus ketemu!

6 Tanggapan to this post.

  1. Axel belum tanggal giginya. Normal ga ya?

  2. @Dear Om Dewo,
    Tenang ajaaa, sampe umur 10-an kok, yang penting belum kesundulan ma gigi bungsunya. Tapi pastinya tanya Mbak Iwik aja, ya. GBU.

  3. itukan giginya dia taro dipipinya kan? di pipi dalem mulutnya?

    *ihhh ikutan nebak dechhh -bodoh mode: on-

  4. @verlita
    iya, di pipi dalem mulut, sampe sekarang gak ketemu. Ketelan kayaknya.

  5. aku ingat ketika aku berumur 5 tahunan,gara gara jatoh gigiku ilang 2-3 an.. diketawain ibuku.. :) ) begonya poto gilang/gigiku ilang.. juga ikut ilang :(

  6. @galih
    wah, jangan-jangan terbawa ma peri gigi tuh ……

Tanggapi posting ini