Bye…bye… Mungil

Dah dua minggu ini aku kehilangan sesuatu yang kusayangi. Gak bener-bener kehilangan, sih, hanya gak bisa lagi bersamanya. Ponsel CDMA ku patah hu….hu….hu…. Hampir tiga tahun kulalui bersamanya. Semua orang lebih senang menghubungiku lewat Si Mungil ini  (tentu saja ‘coz irit).

Ponselku ini emang tangguh luar biasa. Dah berkali-kali terbanting di kerasnya aspal gara-gara terlepas dari genggaman, belum lagi suka dimainkan kedua malaikatku. Bentuknya yang maniz, pas di genggaman tanganku, warnanya yang macho, ih….sedihnya. Bisa gak ya dibetulin? Aku belum menemukan pengganti yang cuocok. Satu-satunya kekurangan Si Mungil hanya aku gak bisa melihat siapa penelpon kalo gak buka dulu, so gak bisa menghindar he…he…. But mo ganti yang candy bar kayaknya gak secantik Mungil, ya?

Bye Mungil, sampai kapanpun kau akan kusimpan (dijual gak laku kali). Proyek kecil besar sudah banyak kuterima lewat dirimu, sanjungan dan omelan pun ikut kau dengar, kesedihan dan kebahagiaan pun ikut kau rasakan.

Thanks and good bye….

                                                                                                     

 

4 Tanggapan to this post.

  1. weh… semacam sadis dan mengerikan mbak…
    lha kok bisa patah? emang telpon sambil emosi yo mbak?

    Hihihi…. kayak korban mutilasi ya?
    Gak, gak sambil emosi kok, karena dah beberapa kali jatuh jadi begitu

  2. Wah, beli baru baru yg lebih bagus lagi. Hehehe…

    Belum ada yang pas di hati (alasan diplomatis, alasan sebenernya sih belum ada dana, he…he…)

  3. Posted by ngodod on Juni 27, 2008 at 2:35 pm

    karena kenangan tak kan pernah mampu dihargai dengan nilai rupiah…

    Setujuuuuu……
    (eh, nek dollar piye?)

  4. Posted by adipati kademangan on Juli 3, 2008 at 4:14 pm

    itu artinya anda ditakdirkan untuk mempunyai hape baru saat ini

    Ntaar, nunggu ada yang mbeliin
    Tapi enak juga, hidup ini jadi lebih tenaang…

Tanggapi posting ini