Arsip Harian:Juli 21, 2008

Jealousy

Pria itu menatapku marah saat kupeluk erat kekasihku. Bibirnya terkatup rapat dan mata elangnya menatapku tajam, membuatku salah tingkah. Sudah kujelaskan kepadanya bahwa kekasihku adalah suamiku tapi dia tak mau mengerti. Dia hanya ingin aku jadi miliknya seorang, hanya dia yang boleh kupeluk. Ah, bagaimana mungkin?

Tapi aku pun tau, di balik kekasihku seorang gadis juga menatapku marah. Dia membuang muka saat kekasihku mendekapku. Sekilas kulihat air mata menetes di pipi merahnya. Ah, dia pun cemburu sama seperti priaku itu. Kekasihku pun telah menjelaskan kepadanya, bahwa akulah istrinya. Bahwa apapun dia tetap mencintai gadis itu. Aku tak tega. Kulepaskan dekapan kekasihku dan kuhampiri gadis cantik itu. Dia pun memelukku.

Bagaimana lagi harus kujelaskan pada priaku dan gadis kekasihku, bahwa kami telah menikah? Aku tetap mencintai priaku, tapi aku juga tak ingin mengabaikan kekasihku? Sama seperti kekasihku menjelaskan pada gadisnya, akulah istrinya bukan dia?

Ah, pria kecilku dan gadis kecilku, sampai kapanpun aku tetap mencintai kalian melebihi apapun. Buanglah cemburu itu, kalianlah malaikatku, buah hatiku. Kalian sudah punya tempat khusus di hati Bunda. Begitu juga Ayah, ada di bagian lain di hati Bunda. Kenapa sekarang kalian mudah sekali cemburu?

Lagipula, karena Ayah dan Bunda saling mencintailah maka kalian lahir ke dunia ini, memberi warna pelangi dalam hidup kami. Ah, belum mengerti juga malaikatku. Nanti Nak, menjelang remaja kau akan mengerti.

Jangan cemburu lagi, ya Sayang. Bukankah setiap pagi kalian mendapat pelukan yang sama?

(Dah diedit, ‘coz ada komen salah sangka!)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 98 pengikut lainnya.