Istri sempurna itu seperti apa sih?
Sudah delapan tahun aku menjadi seorang istri, tapi masih belum juga kutemukan arti seorang “istri sempurna.” Apakah istri sempurna itu sama dengan istri ideal? Masih lagi timbul pertanyaan apakah kriteria istri sempurna ato istri ideal itu?
Menurut beberapa teman, istri sempurna itu tidak ada. Nah, kalo istri ideal baru ada. Hanya saja istri ideal itu tergantung dari suami masing-masing. Ideal untuk Si A lom tentu ideal untuk Si B. Ketika temanku balik bertanya padaku apa istri ideal menurutku. Lha, aku juga bingung, wong yang nanya duluan kan aku tadi?
Ketika kutanya Terry (nama palsu ), istri ideal itu harus bisa melayani suami secara total, bisa menjadi ibu yang baik, tidak ada kerja lembur dalam kamus hidupnya. Pokoknya dia harus sudah sampe rumah sebelum suaminya pulang, walopun untuk itu dia harus terbirit-birit tiap hari. Melayani suami secara total maksudnya apa dan dalam hal apa? Menurutnya harus bisa masak makanan kesuakaan suami, bersedia melayani di tempat tidur kapanpun si suami mengajaknya. Lalu kutanya lagi, trus kalo kamu lagi gak mood gimana? Ya, lakukan aja. Toh kita bisa berpura-pura, walopun suami dah puas kita belom, ya bilang aja udah. Trus tidur, selesai deh ! Waduh??
Lalu kutanya Wina (bukan nama sebenarnya ), dia gak setuju pendapat Terry ‘coz suaminya tidak menuntut demikian. Kebetulan Wina gak bisa masak dan suaminya gak mau dia masak, lebih baik menemaninya bermalas-malasan kalo libur. Urusan masak suruh aja pembantu ato makan diluar. Trus kalo urusan adegan ranjang gimana? Ya, klo lagi gak mood suaminya juga gak maksa . Mereka lebih senang win-win solution daripada enak sendiri. Dah gitu suaminya juga mendukung karir Wina ‘coz nambah wawasan dan pengembangan diri. Menurut Wina, istri ideal adalah istri yang mengerti kebutuhan suami, jadi walo suami tidak banyak menuntut tapi dia juga gak seenaknya. Dia mesti tau kapan suaminya sedang sedih, maka dihiburlah, suami capek dan banyak beban kerja, maka dimanjanya, suami sakit maka dirawatlah. Hmm, kayaknya lebih enak yang ini ya?
Terakhir kutanya Sinta (nama samaran ), ternyata dia lebih ekstrem lagi. Menurutnya, istri ideal seharusnya tidak keluar rumah tanpa didampingi suami. Lalu kenapa kamu kerja? Karena tuntutan ekonomi. Menurutnya kalo suaminya sudah mampu memenuhi semua kebutuhan hidup baik primer, sekunder, tertier maupun kuartier (walah? ), suaminya menuntut dia keluar kerja. Di rumah saja melayani semua kebutuhan suami dan anak-anak. Selalu siap sedia di rumah kapanpun suaminya pulang, menurut apapun perintah ato kata suami, tidak boleh ngeyel. Nurut aja, menjadi pendengar yang baik. Tidak perlu pembantu di rumah, nyuci, masak, kerjain sendiri semua, segala sesuatu yang dikerjakan dengan tangan istri akan membawa berkah. Total! Trus kalo suatu saat suamimu mo kawin lagi gimana? Ya, apa boleh buat? Kalo itu membahagiakan suami ya aku rela, katanya. Lalu kutanya, seandainya seperti itu apa kamu bahagia? Dia diam sejenak, trus katanya, kebahagianku adalah kebahagiaan suami. Apa artinya aku bahagia tapi suamiku tidak bahagia? Yang terpenting adalah kebahagiannya dan kebutuhannya . Waduh?? Waduh?? Istri sempurnakah Sinta?
Akhirnya aku menarik kesimpulan. Bahwa istri ideal itu memang berbeda untuk tiap suami. Dan semestinya harus dibicarakan sebelum menikah ato bahkan setelah menikah. Kau ingin aku seperti apa dan harus bagaimana? Haruskah aku menjadi seperti yang kau mau? Kalo aku gak bisa menjadi seperti yang kau mau lalu harus bagaimana? Adakah pengertian? Maukah kau menerimaku apa adanya ? Tentu sebagai istri kita tidak begitu saja bilang, aku gak bisa menjadi seperti yang kau mau ! Kita harus berusaha semampu kita. Toh suami kita juga belum tentu mau menjadi seperti yang kita mau bukan? Menjadi ideal tidaklah mudah namun tidak berarti tidak bisa. Mencari arti idealpun tidak cukup setahun dua tahun atau bahkan sepuluh tahun perkawinan lalu ketemu arti ideal itu. Barangkali butuh waktu lama, karena bahkan ideal menurut suami pun bisa berubah-ubah menyesuaikan kondisi. Lalu bagaimana?
Setidaknya, jadilah istri yang “mendekati ideal” bagi suami. Namun hendaknya suami juga bersedia “mendekati ideal” bagi sang istri. Semua butuh komunikasi dan toleransi. Sebagai istri kita harus mengakui bahwa suamilah pemimpin keluarga. Kepadanyalah kita bersandar dan bergantung. Namun sebagai suami juga harus sadar bahwa istrilah "pendampingnya", dimana mereka pun harus rela mendengar dan memanjakannya.
Bahkan akupun gak tau, sudah mendekati idealkah aku? Ato malah masih jauh dari ideal? Setidaknya aku akan terus belajar dan berusaha walo mungkin berat. Karena aku cinta kekasihku.
Sekedar renungan untuk Netty tersayang, yang sebentar lagi menjadi seorang “istri”.







istri sempurna, sempurna kecantikannya, sempurna kebaikannya, sempurnya nurutnya. namun bagi kebanyakan orang justru kekurangannya ada pada kesempurnaannya itu. Orang jadi was – was kalau – kalau ….#$%@#$%@#$%^
apakah ideal = cocok ? kalo ya berarti aku sekapat … eh sepakat. Cocok bagi suami, cocok apa yang dimau istri.
….#$%@#$%@#$%^ tuh maksude apa sih Om?
Klo dah sempurna ya brarti gak ….#$%@#$%@#$%^ gitu dooong
Cocok lom tentu ideal, Om. Tapi yang penting cocok dulu deh, itu juga indaaah…
Seorang istri ideal adalah istri yang memahami arti dari peranan sebagai “istri” itu sendiri, bahwasanya seorang wanita memutuskan menjadi seorang istri maka seharusnyalah si wanita menyadari bahwa beberapa haknya sebagai individu bebas berkurang seiring dengan keberadaanya sebagai istri.
Seorang istri yang ideal adalah istri yang bisa menerima keadaan suaminya apa adanya, bahwa cukup tidaklah pernah cukup, karena cukup adalah rasa syukur terhadap apa yang telah diberikan suaminya.
Seorang istri yang ideal adalah istri yang sadar bahwa setelah memiliki status sebagai istri maka hanya kepada suaminyalah ia tunduk setelah ia tunduk kepada ALLAH, sehingga restu orang tua sekalipun harus didahului restu suaminya.
Seorang istri ideal adalah istri yang mampu menghormati suami melebihi hormatnya terhadap siapapun bahkan terhadap seorang raja sekalipun.
Seorang istri ideal adalah istri yang tidak menyembunyikan apapun terhadap suaminya kecuali menyembunyikan perasaan kesal dan amarah dihadapan suaminya.
Seorang istri ideal adalah istri yang bisa membuat rumah sebagai pelipur lelah dan penghilang resah ketika suaminya pulang dari mencari nafkah.
Seorang istri ideal adalah istri yang mampu mendidik anak – anaknya menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan agamanya melebihi peranan guru pada umumnya.
Seorang istri ideal adalah istri yang menjalankan semua hal diatas tanpa berfikir bahwa Tuhan adalah laki – laki…
Waduh, ternyata berat ya menjadi ideal? But thanks atas pencerahannya.
Bolehkan seorang istri menuntut suaminya menjadi ideal pula?
Suami ideal itu yang bagaimana ya?
Tergantung,
kita bicara dalam konsep keislaman atau bukan, sebab konsep pernikahan sendiri berbeda pada tiap – tiap agama, disini saya bicara konsep pernikahan dalam ISLAM, sementara setahu saya konsep pernikahan dalam kristiani misalnya berbeda dengan ISLAM, konsep pernikahan dalam islam adalah “Ijab – Kabul” atau serah terima, bahwasanya sang ayah telah menyerahkan anak gadisnya kepada sang suami sehingga hak dan kewajiban sang ayah berpindah kepada sang suami ditambah beberapa hak suami yang tidak dimiliki sang ayah dan hak istri adalah seperhi hak sang anak kepada ayahnya ditambah beberapa hak yang tidak boleh diminta dari sang ayah (seperti hubungan suami istri misalnya).
Sementara konsep pernikahan dalam kristiani adalah kesamaan hak dan kewajiban ini dilambangkan dengan si perempuan bertukar cincin dengan si lelaki.
jadi tukar cincin bukanlah budaya dalam ISLAM, yang ada adalah membayar mahar atau maskawin sebagai kewajiban sang suami terhadap istri.
Sehingga suami yang ideal dalam ISLAM adalah yang selalu berikhtiar atau berusaha menafkahi istri dan anak – anaknya serta memberi kasih sayang melebihi yang diberikan orang tua si istri tentunya.
….memberi kasih sayang melebihi yang diberikan orang tua si istri tentunya…. setujuuuu
Tapi seringkali seorang suami justru menjadi seorang yang seenaknya bukan? Contoh kecil: maukah seorang suami melihat istrinya kerepotan membantunya? Mencuci piring misalnya, ato mengepel? Kelihatannya kok pantang bagi seorang suami untuk membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ato memang gak diperbolehkan?
Alangkah indahnya walopun suami mempunyai hak-hak istimewa dalam perkawinan tapi dia mau merendahkan hatinya untuk mau mengerti kesusahan ato kekesalan istrinya.
Lha ini istrinya malah harus menyembunyikan kekesalannya di hadapan suami. Ntar suaminya gak tau dong apa yang membuat istrinya kesal?
satu lagi ALLAH telah melebihkan laki – laki dari perempuan tentu dalam konsep ISLAM perempuan tidak bisa membandingkan apa yang boleh dan yang tidak dengan laki – laki disinilah mengapa banyak orang kristiani mencibir dengan pernyatan bahwa Tuhan adalah laki – laki dalam ISLAM tanpa mereka sadar bahwa yesus sendiri terlahir sebagai laki – laki bukan perempuan adalah sebagai pertanda bahwa laki – laki dilebihkan dari perempuan.
Sebetulnya yang diinginkan dari istri bukanlah hak-hak istimewa seperti pada laki-laki. Tapi lebih pada pengertian suami. Misalnya seorang istri bekerja, tentu dengan segala konsekuensinya. Jika memang harus lembur misalnya hendaknya suami mau mengerti ato malah dijemput sekalian di kantor sehingga istri akan senang dan ilang capeknya gitu. Toh kalo istri senang dia akan total melayani suaminya, ya kan?
manusia pertama pun (ADAM) adalah laki – laki dan hawa adalah bagian dari laki – laki karena diambil dari tulang rusuk laki – laki kenapa setelah berakal malah mempertanyakan keputusan Tuhan ???
dalam Katolik (kebetulan saya sedikit tahu) ada retret “Tulang Rusuk” entah apa yang mereka bahas sehingga selalu ada pertanyaan apakah Tuhan laki – laki ?
Wah, memangnya selalu ada pertanyaan apakah Tuhan laki-laki setelah ikut retret Tulang Rusuk?
Kebetulan saya juga sedikit tau tentang retret itu dimana peserta sebaiknya suami dan istri karena kalo hanya salah satu maka akan percuma. Dalam retret itu diajarkan keharmonisan hidup pernikahan. Di mana pasutri saling menghargai, istri bukanlah budak suami namun pendamping suami, bagaimana berkomunikasi yang baik, gimana menghindari perselingkuhan, mengatasi masalah2 dlam rumah tangga, dll.
….wanita diciptakan dari rusuk lelaki bukan dari kakinya untuk dapat diinjaknya
tetapi dari sampingnya untuk sejajar dengannya,
dekat dengan hatinya untuk disayanginya
dekat dengan lengannya untuk dapat dilindunginya
hai suami , sayangilah istrimu yg sudah tak secantik yg dulu
hai istri , cintailah suamimu yg tak segagah dahulu
sebab Tuhan selalu menganugrahkan kehidupan bahagia selamanya
@ # 3,
Apakah anda meminta ayah anda membantu cuci piring dan membersihkan lantai ?
Apakah anda menganggap mencari nafah lebih mudah dari membereskan rumah ?
anda tentu dapat memberitahukan keluh kesah anda kepada suami anda tanpa memperlihatkan kekesalan atau kemarahan, justru disitu keharmonisan rumah tangga dapat dipertahankan.
melihat dari jawaban anda sepertinya anda bukan muslimah atau barangkali anda kurang faham dengan ajaran ISLAM…
Tentu tidak! Hanya saja alangkah tersanjungnya seorang istri jika tanpa diminta suami bersedia membantu? Gak ada salahnya kan menyanjung istri sendiri?
Sebagai catatan, di sini saya tidak membicarakan diri saya secara pribadi. Saya tidak pernah meminta suami saya untuk mencuci piring ato membersihkan lantai. Klo gak ada pembantu semua saya kerjakan sendiri sekalipun sampai tengah malam. Itu sudah kewajiban istri bukan?
So, let’s guess saya muslimah ato bukan?
@ # 4,
Apakah suami anda memaksa anda untuk bekerja ? sungguh laknat suami macam itu sebab nafkah adalah kewajjiban suami kepada anak – istrinya…
Tidak ada kewajiban dan pembenaran istri untuk bekerja, tentunya jika si istri ikhlas untuk membantu suami mencari nafkah tentu tuntutan seperti yang anda sebutkan juga tidak ada sebab sebaik – baiknya istri adalah yang bisa membuat rumah surga untuk suami dan anaknya.
Hidup adalah nafas sementara tuntutan hidup adalah nafsu, untuk hidup adalah kewajiban suami anda tapi untuk tuntutan hidup adalah bagaimana anda menjaga nafsu duniawi anda.
Tentu saja tidak! Bahkan suamiku lebih senang jika aku gak kerja. Tapi dia baik mengijinkan aku kerja karena dia tau aku, dia tau kebutuhanku untuk mengekspresikan talentaku. Dan akupun tau diri untuk tidak menyalahgunakan kepercayaannya.
Tapi dalam kehidupan banyak bukan suami yang tidak mau tau kebutuhan istrinya malah memerasnya? Sekali lagi terlepas dari agama apapun alangkah indahnya kalo suami mau mengerti kebutuhan istrinya? Mau menghiburnya jika istri bersedih? Mau menolongnya jika istri membutuhkan? BUkan sebagai raja terhadap budaknya? Yang berhak penuh atas dirinya lalu bertindak sesukanya? Sekalipun seorang suami mempunyai hak-hak istimewa?
Begitupun suami, ingin istrinya mengerti mereka. Tapi kalau istri mereka bangun setelah suami bangun, tidak bisa ngurus rumah dan anak, cuma sebagai boz dirumah yang nonton TV, makan (makanya banyak istri yang ndut) dan baca tabloid, katanya kerja tapi boros coz ngk punya tabungan, trus bagaimana bisa istri tersebut dibilang istri sempurna ? Boro-boro sempurna, ideal juga ngk.
belum lagi banyak istri yang nuntut ini itu…… duh kan kasihan para suami
Alhamdullillaaaah, saya gak suka nonton sinetron dan baca tabloid, tapi doyan makan iya

Gak lah, Pak. Yang sy maksud, istri tetap hrs tau posisinya sebagai istri, tapi hendaknya para suami juga mau mengerti kebutuhan istri. Bukan materi saja, tapi lebih pada perhatian. Alangkah bahagianya seorang istri yang sedang kelelahan kemudian sang suami membantunya apalagi pake bonus mijetin, waaaahhhh…..apapun akan dilakukan deh buat sang suami…
Menurut saya, pernikahan adalah sebuah team menuju kebahagiaan bersama, baik ayah ibu dan anak. Bukan atasan dan bawahan, raja dan budak, artis dan asisten (lhah?)
Saya setuju dengan Fulan Hamba ALLAH kalau dilihat dai jawaban si penulis seh, pasti penulis bukan orang MUSLIM………………………….
benar ngk sih ?????
He…he…, coba itung kancing bajunya
Jaman sekarang banyak juga muslimah yang berpikiran seperti saya, Pak. Dosa ato tidak biarlah Allah yang menghakimi. Allah Maha Pengampun dan Maha Mengetahui bukan? Saya menulis berdasarkan kisah teman-teman perempuan baik muslim maupun bukan
istri ideal ? ehem yang pas kali yah
pas suami butuh, kita ada
pas suami bt, kita yg nenangin
pas suami gak ada duit, kita yg cover
dan pas pas yg lain …
Asal jangan suami minta kawin lagi kita pas boleh, weks…..
Wah “rame” nih …
Yang jelas one thing for sure …
Tidak ada manusia yang sempurna …
Udah gitu aja …
Choco:
Dear friend,
Klo isteri sempurna…TIDAK ADA! Tapi bicara mengenai isteri ideal berarti bicara mengenai kemampuan sang wanita untuk menyerap arti cinta dan kasih sayang. Secara umum hal ini bisa dipelajari dalam agama kita masing2. Memang wanita mempunyai keterbatasan dalam banyak hal begitu juga dengan pria, tapi pada dasarnya pria & wanita saling melengkapi. Nah…mungkin dalam comment ini pendapat saya akan sedikit menyakitkan tapi itulah kenyataan yg terjadi dalam kehidupan ini; yaitu perkembangan wanita dewasa ini lebih cenderung negatif.
Wanita sekarang lebih berani berbuat hal2 yg negatif ketimbang wanita jaman dahulu, tetapi semakin sedikit wanita modern yg lebih baik dari pada wanita jaman dahulu. Ironis…
Saran saya kepada kaum hawa, jika kalian menginginkan pria ideal maka kalian jg harus bisa mengimbanginya. Ini bukanlah hal yg mudah karena pergaulan & pendidikan pada masa kini telah mencetak mindset yg “unik”. Nah…merubah mindset inilah yg menjadi masalah besar. Coba kalian pikirkan: apakah kalian akan tetap menghormati suami yg setia, bersikap santun dan lembut, mau melakukan pekerjaan rumah tangga dengan rajin, mengurus & mendidik anak di sela2 tekanan & kesibukannya sebagai pencari nafkah? Kelihatannya indah sekali dan jawabannya sangat mudah, TAPI…prakteknya AMAT SULIT! (saya sudah membuktikannya).
So…kembali lagi pada topik pembicaraan “Isteri Ideal”, saya rasa ‘ga usah terlalu jauh, pelajarilah apa yg ada di dalam agama kalian masing2. Lebih dari itu adalah “selera” atau gaya hidup (lifestyle) yg merupakan hak asasi setiap orang. Nah…hanya Tuhan yg bisa mempertemukan kalian dengan orang yg menganggap kalian “ideal”…itu namanya “jodoh”
NB: Saya ini pria.