Ada Apa dengan Cantik?

Si Cantiq

Sudah dua hari ini Cantik gak masuk sekolah setelah sebelumnya muntah-muntah. Kupikir masuk angin biasa. Namun malamnya Cantik menangis ‘coz takut hujan dan banjir. Sudah kujelaskan bahwa rumah kita jauh dari banjir dan kalo takut hujan, masuk kamar aja nonton DVD ato apalah. Namun Cantik tetap mogok sekolah kemaren. Akhirnya kuijinkan gak masuk. Dan keesokan harinya barulah terungkap kenapa Cantik gak mo sekolah.

Rupanya, Kawan, temannya sebut saja Ita,  bercerita bahwa di ruang guru ada boneka bayi. Dan boneka itu terus saja memandangi Ita, lalu Ita bercerita pada Cantik bahwa boneka itu hantu. Waduh, Cantik jadi ketakutan. Namun penyebab muntah ternyata beda lagi. Temannya yang lain, Jessi, bercerita tentang mimpinya. Dalam mimpinya itu Jessi dicekek sampai muntah dan berdarah. Oh, aneh sekali anak sekecil itu sudah berimajinasi sedemikian? Rupanya Jessi menceritakannya sambil bergaya muntah, tentu saja Cantik jadi muntah. Perlu kau tau, Kawan,  Cantik ini sangat penjijik. Makan sambil lihat berita aja bisa membuatnya berhenti makan.

Sudah kujelaskan bahwa gak mungkin boneka menjadi hantu. Dan kujelaskan pula bahwa apa yang diceritakan Jessi hanya mimpi. Tapi Cantik berkata tak bisa melupakannya. Ita dan Jessi sudah minta maaf, Bunda. Adek juga udah maafin, tapi Adek inget terus sama mimpi Jessi. Dia menjelaskan sambil menangis. Maka kupeluk Cantikku ini.

Oh, Kawan, Cantikku ini memang termuda di kelas. Tahun depan baru enam tahun usianya. Apakah karena kemudaannya dia tak bisa mengimbangi teman-temannya? Ato ‘coz selama ini aku terlalu memprotec dia? Tak boleh nonton sinetron, tak boleh nonton horor, tak boleh ini tak boleh itu. Sementara teman-temannya mungkin kerap menonton sinetron tak bermutu yang beradegan berdarah-darah? Karena itukah Cantik jadi berhati lemah? Kalo prestasi, tak perlu ragu, Kawan. Bahkan di raport bayangan nilainya didominasi oleh 90. Matematika, Sains, IPS, hampir semua mata pelajaran. Padahal belajar malas dan memang tak pernah kupaksa.

Pagi inipun Cantik masih tak mau sekolah. Dia bilang takut muntah di kelas. Kali ini pun bertambah lagi satu alasan. Adek jijik di aula sama di kelas banyak sampah. What? Mana mungkin? Ketika kutanyakan pada Gaunteng ternyata tidak. Lalu kutanya lagi, Adek takut sama teman Adek, Jessi dan Ita? Cantik pun mengangguk. Adek bukan takut sama orangnya, tapi Adek inget terus mimpi Jessi. Kan Jessi dah minta maaf sama Adek? kataku. Udah, tapi Jessi cerita teruuus. Kalo gitu Adek gak usah main sama Jessi lagi. Teman Adek kan masih banyak. Cantik tetap bertahan gak mo sekolah. Ya sudah, akhirnya hari ini gak masuk sekolah lagi. Itu pun masih menangis takut banjir dan takut tenggelam. Karena berita TV kah Cantik jadi takut?

Aku sudah berpesan pada staff rumah tanggaku, kalo hujan ato muntah lagi segera dihibur. Ajak main game ato dengarkan lagu ato nonton Barbie, pokoknya dialihkan perhatiannya. Duh, gimana ini? Apa yang terjadi pada Cantik? Dulu begitu riang dia ke sekolah, kenapa sekarang begitu takut? Ketika mengambil raport bayangan, gurunya bercerita bahwa Cantik walopun termuda di kelas, namun bisa beradaptasi. Bahkan teman-temannya segan padanya, tak ada yang mengganggunya, bahkan karena pintar sering temannya bertanya padanya. Tapi kenapa sekarang begini? Kenapa imajinasi teman-temannya sebegitu jauhnya? Kenapa Cantik mudah terpengaruh pada imajinasi gak jelas seperti itu? Ah, sungguh kau masih begitu rentan, Sayang.

Senin nanti aku berjanji mengantarnya sampai kelas dan aku akan menemui gurunya. Cantik oh Cantikku, kenapa kau sekarang begitu penakut? Aku mo berangkat kantor pun ditangisinya, mandi pun ditungguinya. Dan yang mengagetkan Kawan, semalam dia bertanya pada Ayahnya, Ayah, kalau di sorga masih bisa ketemu Ayah Bunda gak? Soalnya Adek gak mau berpisah sama Bunda. Duuuhhh???

Cantik, Cantik Sayang,…. Jangan kau takut pada apapun, Nak. Ayah, Bunda dan Kakak akan selalu melindungimu. Kalo Cantik jenuh bersekolah, gak papa sekarang isitirahat dulu. Bunda janji gak akan memaksa. Kapanpun Cantik siap untuk bersekolah, Bunda akan siap mengantar. I love you, Cantik.

4 Tanggapan to this post.

  1. Ah …
    Saya jadi sedih juga mendengar cerita si Cantik ini …
    Mudah-mudahan trauma itu cepat hilang dari alam fikiran si Adek ya …

    Salam saya

    Choco:

    Makasih Om, perhatiannya. Iya, aku juga berusaha menghiburnya terus biar cepet lupa :(

  2. ahh cantik, kenapa dirimu ituh?
    Anak kecil memang mudah menangkap apa yang dilihat dan didengarnya, apalagi yang menimbulkan shock seperti itu bakal sudah ilangnya dari ingatan. Mungkin perlu relaksasi pikiran dengan mengajak bermain ataupun membaca …

    Choco:

    Iya, sampe skarang masih takut ujan dan kuatir banjir. Padahal tadinya gak lhoo :(
    Makasih sarannya, Om :D

  3. saya pikir cuma fiktif belaka (gara2 caca judulnya)!
    semangat deh buat si cantik!

    Choco:

    Jadi ingat judul film ya? :D
    Makasih smangatnya. Smangaaat….!

  4. Wah, traumatik sekali.
    Kalau takut, disuruh berdoa saja.
    Semoga lekas sembuh dari traumanya.

Tanggapi posting ini