Sweety, milky, creamy, crispy, bitter also

Kado Untuk Guru

Gak papa sih, sebagai tanda terimakasih :)

Sebentar lagi kedua malaikatku akan segera menerima rapor kenaikan kelas. Dan inilah saat-saat untuk mencari kado untuk guru wali kelas.

Dulu, sewaktu Guanteng masih duduk di bangku TK, aku menjadi orang tua yang paling naif ketika mengambil rapor. Bagaimana tidak, ketika semua orang tua datang dengan membawa aneka bingkisan, aku datang dengan tangan kosong dan wajah polos tak berdosa.

Ketika Guanteng duduk di bangku SD, aku kembali menjadi orang tua yang polos ketika saatnya mengambil rapor semesteran. Kupikir bingkisan akan diberikan¬† ketika kenaikan kelas saja. Ternyata tidak, Kawan! Jadi begini “rule” nya. Kalau mengambil rapor bayangan atau semesteran, cukup memberi bingkisan berupa kue atau sejenisnya, yang ringan sajalah. Nanti ketika kenaikan kelas baru memberi kado yang lebih baik. Dompet, tas, batik, dll. Siapa sih yang membuat aturan itu? Hohoho, tentu saja bukan sekolah, tetapi inisiatif para orang tua murid, khususnya Ibu-ibu gaul itu. Kalo dari sekolah jelas-jelas tidak menyarankan (meski tidak melarang). Bahkan ada juga ortu yang mengkoordinir mengumpulkan uang untuk dibelikan kenang-kenangan untuk wali kelas.

Sebetulnya gak papa gak sih memberi bingkisan untuk guru itu? Kalo pas kenaikan kelas, aku setuju saja. Itu kan bentuk terimakasih karena telah membimbing anak-anak kita selama satu tahun belajar. Lagipula di kelas yang lebih tinggi nanti belum tentu guru tersebut akan kembali menjadi wali kelas bukan?

Tetapi kalo bingkisan di tengah-tengah semester gitu kok aku agak gak setuju ya? Karena kesannya kok…eh…maap…maap…bukan bermaksud apa-apa…. tapi kok kayak eh….menyuap gitu ya? Aduh, ampuuun kasar sekali kata-kataku ini? Semoga bukan seperti dugaan negatifku ini ya, tapi benar-benar karena berterimakasih pada para guru itu :( Karena tanpa sengaja, ketika sedang mengantri ambil rapor, aku mendengar percakapan di antara para Ibu yang wangi-wangi itu. Begini kira-kira:

“Ini lho, Mama Devan, aku bawa bingkisan gini kan supaya anak kita lebih diperhatikan sama guru.”

“Betul, moga-moga guru jadi lebih perhatian sama anak kita, ya. Paling gak kasih nilainya gak pelit-pelit amat hihihihi…..”

Deg! Dag! Dig! Dhueerr!!! Jantungku kena bom! Kenapa? Karena saat itu aku tidak membawa apa-apa untuk Guru! :mrgreen:

Aku jadi sedih. Aku yakin (atau berharap?) para guru di sekolah kedua malaikatku tidak serendah itu. Buktinya ketika aku tidak membawa apa-apa itu, Guanteng tetap mendapat perhatian dari wali kelasnya, bahkan perhatian yang berlebih. Cantik juga tetap memperoleh nilai bagus sesuai dengan kemampuannya, meski waktu itu aku juga tak membawa apapun untuk wali kelasnya. Tapi aku jadi agak tersentil. Memang seharusnya aku membawa bingkisan itu, bukan untuk mendapat imbalan tetapi untuk berterimakasih bukan?

Saat pengambilan rapor kenaikan kelas nanti, aku pasti akan membawakan kado untuk para wali kelas malaikatku. Karena sudah purna tugas mereka setahun sebagai wali kelas malaikatku. Dan pemberian ini tentu tidak akan mengubah apapun, selain ungkapan terimakasih. Tapi untuk semesteran? Entahlah, hatiku masih bimbang. Ingin memberi tetapi takut guru berprasangka, tidak memberi juga kuatir guru mengharap? Aduuh, bingung! Ikuti arus sajakah?

Kau tahu Kawan, (enggggaaaaaakkkk) kuperhatikan kalau yang mengambil rapor para bapak, mereka tak perlu membawa apa-apa. Cukup dengan senyum, ngobrol dikit dan pulang. Tapi kalo yang mengambir rapor para emak? Weits, tangan kiri nenteng donat satu lusin, tangan kanan nenteng bingkisan entah apa :( Dan sayangnya kekasihku tak pernah mau mengambil rapor. Padahal kalo mau kan jadi terbebas membawa bingkisan yang menimbulkan prasangka itu :(

Saking paniknya pernah memberi guru sekotak coklat, darurat :(

P.S. Maaf, saya belum sempat BW mengunjungi Kawan-kawan :(

About these ads

Comments on: "Kado Untuk Guru" (25)

  1. he..he…keikhlasan wali muridnya aja kok, guru yang baik tak mengharapkan apa-apa dari muridnya, karena bagi seorang guru hadiah terbaik adalah kesuksesan murid-muridnya itu sendiri. Memang bagusnya kalo memberi itu pas bagi rapor bukan sebelum, jadi apapun yang terjadi mau nilai anak jelek atau bagus pemberian itu bukan menyuap tapi tanda terima kasih.

    Choco:

    Setuju, Jeng. Tiada kado terindah selain kesuksesan anak muridnya :D

    (jadi tambah pengen jadi guru nih)

  2. kalau aku biasanya membawa bingkisan pada saat kenaikan kelas Pascal, jadi tidak dianggap nyogok kan hehehe.toh setelah itu gurunya ganti dikelas berikutnya. tahun ini siapin 3 bingkisan untuk guru.
    lagi pula sekelasnya pascal sudah patungan untuk mengucapkan rasa terima kasih.

    Choco:

    Iya, Jeng, kalo pas kenaikan kelas itu jelas ungkapan terimakasih atas bimbingan wali kelas ya. Saya setuju banget :D

  3. Aduh enaknya jadi guru SD dan TK.

    Ah, emak-emak wangi memang sering menyebalkan tingkahnya. Mereka saling menyombong dan menghitung berapa uang yang dikeluarkan kawan/rival karena malu jika kalah jumlah. Cape deh.
    Resiko sekolah di Sekolah Fvaorit, mbak.

    Choco:

    Saya juga kaget pas denger obrolan itu, Jeng. Ternyata pemebrian mereka ada pamrihnya ya :(

  4. Hmmm…. kyknya gpp deh mba ga mengikuti ‘arus’, rasanya kalo udh kenaikan kelas baru oke ngasih bingkisan. persis seperti yg mba Choco bilang, sebagai ungkapan terima kasih., kalo semesteran mah ga usah laaah, ngehemat jg kaan? *pelit mode : ON* hihihihi

    Choco:

    Gak enak aja kalo memberi pas semesteran gitu. Takutnya mereka jadi gak enak, kitanya juga gak enak. Halah, senengane mbulet :D

  5. Ini lho, Mama Devan, aku bawa bingkisan gini kan supaya anak kita lebih diperhatikan sama guru …

    Ini salah besar …
    Mau anak kita diperhatikan Guru ?
    Bantu anak belajar di rumah … monitor … sehingga dia bisa menjadi salah satu anak yang menonjol di kelas … dan itu pasti di perhatikan oleh gurunya …

    Ini lebih eiylekhan …
    Saya terus terang … tidak membudayakan memberi sesuatu kepada Guru …
    Menurut saya … dengan kita datang ke sekolah … berbincang layaknya seorang partner … bertukar fikiran layaknya seorang sahabat … (jadi bukan transaksi jual beli antara penyedia jasa dan penerima jasa … ) …
    saya rasa … mereka akan sangat dihargai …

    Salam saya Bu …

    Choco:

    Menurut saya sih memberi bingkisan untuk guru pada saat kenaikan kelas atau kelulusan sih gak papa, Om. Yang saya gak setuju motivasi lain di balik pemberian itu.

    Betul kata Om, jangan jadikan pemberian itu sebagai transaksi :(

  6. Embuh, Mbak.. Cantikku blom sekolah siiihhhh…
    Tapi menurutku sih, ngasih kadonya ntar ajalah, pas kenaikan kelas, kalo tengah-tengah semesteran, ngasih kadonya ke aku ajah… :D

    Choco:

    Wakakaka…. kau akan segera mengalaminya, Jeng :mrgreen:

    Yo wis, nanti pas semesteran tak kirim coklat satu batang yak :P

  7. waduh.. aku juga belum nyari nih.. :(
    mana ga punya sisa oleh2 jjs lagi…

    Choco:

    Buruaan cari, terima rapor tgl. 25 kan? :D

  8. makasih kadonya mbak…

    Choco:

    Aahh, Pak Mars…. :oops:
    Kalo di SMA dah gak model yang beginian ya, Pak?

  9. bikin bimgumg ya mbak…
    saya lebih suka urunan aja, biar ngak pada sirik2an he..he..

    Choco:

    Betul, Bu Mon, kalo urunan kita gak pusing lagi, paling yang pusing ibu koordinatornya hehehe….
    Masalahnya karena saya gak gaul jadi jarang ada yang ngajakin patungan :(

  10. mandor tempe said:

    lha itu yang mbikin acara bingkisan siapa? Saya kalau pas nanti anak saya sekolah gak bakalan bawa-bawa bingkisan. Kalau mau bu gurunya dibawain beras atau pisang satu tundhun saja. Kan gak mungkin dibungkus dan dibingkis kan.

    Choco:

    Ealaaah Pak Ndoor, masak iya saya mesti nggotong-nggotong beras sak karung to? Teganya…teganya…teganya…. :lol:

  11. Baik-baik saja memberi bingkisan pada guru, tapi alangkah baiknya jika memberinya jangan di sekolah. Datangi saja sang guru di rumahnya. Itu menurut saya lho ya. :)

    Choco:

    Waduh, kalo datang ke rumah malah jadi lebih gak enak, Sop. Nanti dikira yang enggak-enggak lagi :(

  12. apa perlu dibikin peraturan guru dilarang menerima parcel?? hihihihi

    Choco:

    Menurut saya sih gak perlu, Mas Brur, wong bingkisan gak seberapa kok bukan “cek perjalanan” :D

  13. Wah bisa dikira gratifikasi nih

    Choco:

    Nilainya gak seberapa kok :D

  14. :D aku juga ngajar part time dan tidak pernah meminta kado (walau tidak menolak kalau dikasih)
    Tapi kado gak akan mempengaruhi penilaianku, aku fair semua nilai bs dipertanggungjawabkan…
    Cuma ya gak tau yah klo guru lain…

    Btw apa guru2 itu apa gak ngeri kena pasala gratifikasi? Kado senilai satu juita udh termasuk suap lho dan ada UU yang mengatur soal itu

    Choco:

    Harusnya sih gitu. Wong pemberian itu kan niatnya sebagai tanda terimakasih :D
    Gak nyampe 1 juta sih, paling sekedar tas, dompet,kemeja, kain, dll kok :)

    BTW ngajar di mana, Sis? Pengen jugak nih jadi guru part time :D

  15. Patrul Bekasi said:

    bagus juga tuh acaranya, tapi kalau aku pribadi sih asalkan hanya untuk setahun sekali pada saat kenaikan kelas gak masalah, memang itu sebagai ucapan terima kasih aja, dan nilainya juga gak diatur terserah semampunya kita aja kan..:) (by Patrul Bekasi)

    Choco:

    Iya, saya juga setuju kok kalo tiap kenaikan kelas :)

  16. Saya suka sekali tulisan Ibu,…. pas betul dengan yg pernah sy alami di sekolah anak saya, ibu-ibu yang lain pada waktu ambil rapor semesteran juga pada rame yang bawa bingkisan apalagi kenaikan kelas… hampir semua bawa… saya jadi malu sendiri karena gak bawa apa2,.. tapi untuk terima rapor semester tahun ini mungkin saya akan mempersiapkannya tapi kado apa ya ? ….

    choco:

    Makasiy, Jeng… :D

    Kalo untuk ibu guru lebih mudah ya, saya pernah beri kado dompet, tas, aksesoris, parfum, bahkan sekotak coklat :D (ke depannya mungkin kerudung)
    Kalo untuk pak guru saya hanya berani beri Polo Shirt, itu pun suami yang pilihkan :D

    Mudah-mudahan bisa memberi ide ya, Jeng :)

  17. numpang tanya nih.. kalo misalnya kita ngasih kadonya pas hari ulang tahun gurunya.. dan guru ini bukan wali kelas… aneh gg sih..??? ntar dia geer lagi..

    Waduh, tergantung itu, Say. Kalo lawan jenis sih sebaiknya gak usah, kecuali kalo kita emang ada hati (kalo sama-sama single lho yaa) :P Kalo sejenis sih gak papa, dan biasanya karena dekat antara guru dan anak kita. Momen yang tepat emang pas kenaikan kelas ya :D

  18. Enak jaman sekolah saya dulu kayaknya. Ambil raport oleh murid sendiri2, gak ngrepoti orangtua. Nggak bawa afa2 juga. Toh saya juga jadi Jenderal ha ha ha ha.
    Sekolah sekarang kebanyakann gaya dan gengsi, tapi kalau ulangan/UAN sibuk cari joki ha hak.

    Salam sayank selalu. Awas kalau gak ikut kontesku. Thax…thax..thax…tiga kali kethak saja ach

    Sekarang maksudnya biar ada interaksi antara guru dan ortu murid kali ya, Pakdee?
    Waaaa, jangan kethak daku to, Pakdeee :cry:

  19. sepupu saya yang SD nangis2 karena bapak ibunya nggak ngasih bingkisan ke gurunya.
    teman sy yang wali kelas dan dapat bingkisan disiriki guru2 matapelajaran lain yang bukan wali kelas, sampai2 ada kompetisi menjadi wali kelas.
    tetangga saya shock saat ditodong walikelas anaknya sebuah bingkisan.
    tujuan memberi itu apa to bu? yang berjasa memintarkan anak kita itu siapa saja to bu? wali kelas saja atau guru2 yang lain juga?budaya apa to bu yang hendak kita lestarikan dengan cara beri-memberi itu?
    kalau saya sih? ndak mau memulai hal2 yang ujung2nya complicated seperti itu, bahaya…. hahahahaha… pelit banget yah? babahin. peace V

    Iya juga ya, Mi. Tapi ndak enak juga klo yang lain kasih kenang-kenangan tapi kita enggak ya :( Aku pernah mengalami soalnya. Tapi kembali ke pribadi masing-masing ya, Mi. Semoga tak berujung keburukan yaa :(

  20. hmmm sesuai bgt ma yg dirasakan saya nih mba, salam kenal ya..lagi browsing2 spoal ide kado untuk guru ketemu blog ini..salam kenal ya

    Salam kenal, terimakasih, semoga bisa memutuskan yang terbaik ya, Jeng :D

  21. ijin link ya..link saya di http://fitri2boys2.blogspot.com/

    Sudah saya hapus, Jeng, mungkin ini yang dimaksud Jeng Lidya yaa :D

  22. memang serba salah ya mak kalau memberikan bingkisan untuk guru di tengah semester, kalau akhir semester kan sudah tidak diajar sama guru itu lagi jadi tidak bermaksud menyogok hanya ucapan terima kasih. maksudnya ada namaku diatas apa ya mbak?

    • Saya juga lupa, Jeng, klo gak salah Jeng Fitri salah copy surat apaaa gitu ke kolom komen ini. Lalu Jeng Lid komen di manaa gitu kalo Jeng Fitri salah komen malah copy surat apaa gitu :D

      Halah ribet ya, Jeng, abis udah kelamaan sih :D

  23. Asalamu’alaikum,,,bunda..

    Sembari baca artikel nya intip my koleksi yuks?? :)

    promo bulan ini Order MINIMAL 3pcs DISCOUNT 20% selanjut nya 1pcs pun ttp dapet 20% diantos orderan na,,siapa tw berminat busana muslim kita..

    katalog ofline+online ny jg ada,,bisa buat dijual lg..

    ayo bunda bisnis online jg bisa jd dd nya ttep terjaga :)

    http://mazayabandung.com/ atau di mazalah ummi,aulia,hatur nuhun (^_^) NUHUN.

    Siaapp…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 189 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: