Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 11

Episode 11 : Pengakuan Juna

Sore sudah semakin jingga dan matahari mulai meredup meski udara masih terasa gerah. Marni meletakkan pot mawar terakhir di dekat water wall. Mbok Sum telah menyiapkan segelas es limun (ya ampun limun? Bahasanya ck..ck… Gak orson sekalian?) Sepiring puding coklat vanilla dingin sudah terhidang menggoda selera. Marni segera mencuci tangan dan duduk manis menikmati puding lezat itu. Meresapi sore yang panas, meski sesekali angin bertiup, persis nyonya besar yang hidupnya tak pernah susah. Segala telah tersedia tinggal perintah, tinggal tunjuk, maka tring…. semua terhidang di depan mata. Oh, begitukah kehidupan para nyonya yang pernah dilihatnya pada pesta lalu? Marni merasa keciiiil sekali. Dipandanginya cincin berlian bermata besar itu. Tak pernah dalam hidupnya ia membayangkan bakal memakai cincin seindah ini. Bahkan dalam mimpipun. Ini adalah barang termewah yang pernah dimilikinya setelah city car hadiah dari Markisa Gee.

Sebuah kecupan hangat mendarat di ubun-ubunnya. Marni terlonjak kaget. Bimo tertawa renyah lalu duduk di samping Marni.

“Lho, Bapak kok sudah pulang?” tanyanya heran. Dan tanpa menimbulkan suara Mbok Sum tiba-tiba sudah menyajikan es limun dan puding yang sama untuk majikannya. Tuh kan, bahkan tak perlu bersabda semua langsung terhidang. Ck…ck… ini to orang kaya?

“Kangen sama kamu. Ini memang jadualmu datang kemari kan?”

Marni tersipu malu.

“Ah, Bapaaak……”

“Ups, lupa. Gimana kalau kamu sekarang memanggil aku “Mas” dan bukan Bapak?” ujar Bimo dengan suara rendah. (astopilulooo, “Mas”? Qiqiqiqiq…..wahahahaha……wkwkwkwkwkw……  Shut up! Please deh, narator gak usah ikutan!) Marni mendongak, nyaris tertawa untunglah tertahan.

“Malu ah, Pak,” desahnya manja. Bimo menggenggam tangannya.

“Mengapa malu? Kan aku sudah melamarmu dan tak lama lagi kita akan menikah, masa kau panggil aku Bapak? Gak pantes, ah,” gumam Bimo setengah merajuk (astopiluloo lagi, wis tuwek kok ya manja bener. Shut up!! Oke…..oke…..) Marni tertawa kecil.

“Baiklah…emmm…. Mas Bimo,” ujar Marni malu-malu. Bimo meremas tangannya.

“Nah, gitu kan enak kedengarannya. Duh, serasa seumur Juna aku ini.”

Mendengar nama Juna disebut Marni terkesiap.

“Oya Pak eehhh Mas, waktu pesta lalu Pak Juna tidak datang ya?” tanyanya perlahan dan agak berdebar.

“Tidak. Entahlah, kemana perginya anak itu. Tidak ada pesan. Ah, sudahlah,” jawab Bimo. Suaranya mendadak lelah. Semua orang tahu bahwa Bimo sangat mencintai anak semata wayangnya. Segala akan ia korbankan dan berikan demi Juna. Marni jadi merasa tidak enak. Segera ia mengambil puding dan menyuapkan sepotong kecil untuk kekasihnya. Bimo kembali tersenyum cerah.

“Oya Mar, lusa aku akan berangkat ke Belanda. Ada sesuatu yang harus kukerjakan di sana.”

“Waah, berapa lama, Mas?”

“Mungkin sekitar dua mingguan. Sebetulnya aku ingin mengajakmu tapi serba mepet waktunya.”

“Gak papa, Mas. Nanti saja kapan-kapan, mungkin emmm setelah menikah?” bisik Marni. Merah padam pipinya saat mengatakan itu. Bimo tertawa.

“Tentu saja, jangankan ke Belanda, tiket ke bulan pun akan kupesan untuk bulan madu kita nanti. Duh, tak sabar rasanya, Mar.” (Shut Up! Ups, qiqiqiqi…. okay, hmmffrtt….)

Marni semakin memerah.

“Selama aku pergi nanti, tinggallah di sini, Mar.”

“Wahh, senang sekali.. Tapi… ah tidak, saya akan datang lebih sering, Mas. Tapi untuk menginap lebih baik tidak. Ndak enak dengan tetangga dan semua staf di sini.”

“Ah, tetangga takkan peduli bahkan jika aku menikah, Mar.”

“Tapi lebih baik jika saya datang saja, Mas.”

“Baiklah, kuhargai prinsipmu. Kau memang anak baik.”

Matahari sudah benar-benar tenggelam sekarang. Lampu-lampu taman mulai menyala di tiap sudut. Dan Marni mohon diri untuk pulang. Naik Trans Jakarta? Tidak lagi sekarang. Kang Bejo, sopir Mas Bimo siap sedia mengantar pulang.

****************************************

Sudah dua hari berlalu sejak Bimo berangkat ke luar negri. Marni tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu untuk segera menyelesaikan tugas dari Nancy. Setelah itu ia bertekad untuk berhenti dan tak mau lagi terlibat aksi spionase macam ini lagi. Kadang ia menyesali perjanjiannya dengan Nancy. Namun di lain waktu ia mensyukurinya karena berkat tugas ini ia bisa bertemu dengan Bimo, meski pada akhirnya segalanya jadi penuh misteri.

Setelah merawat tanaman-tanaman kesayangannya, ia segera menuju kamar atas. Rumah sedang sepi sekali. Mbok Sum di bawah, ia benar-benar sendirian di lantai dua ini. Marni menutup kamar, memakai sarung tangan tipis yang dibelinya di apotek, dan menggeser kursi di bawah lukisan serta segera menurunkan lukisan cantik itu. Ia masih ingat kotak marmer rahasia dan segera menghantam dengan tangannya. Kotak itu mendesing dan tebuka dengan perlahan.

Seketika Marni melongo melihat ceruk itu. Kosong! Pistol itu sudah tidak ada! Dirabanya ceruk itu hingga ke dasar dan ke ujung paling dalam. Nihil. Nol. Tak ada apa-apa. Bahkan sebutir debupun tak ditemukannya. Marni pucat. Seseorang telah mengambil pistol itu. Siapa? Juna? Bimo? Mbok Sum? (hayah) Marni terduduk lesu. Misteri ini semakin tak berujung. Bagaimana tanggapan Nancy nanti?

Tiba-tiba pintu terbuka. Marni menoleh dengan cepat, jantungnya serasa melompat hingga ke leher. Ia lupa mengunci pintu! Sesosok pria tampan berdiri di ambang pintu dan menatapnya dingin.

“Apa yang kau cari?”

Marni gelagapan dan segera meloncat turun dari kursi.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya pria itu lagi.

Pria itu menutup pintu di belakangnya dan mendekati Marni yang bahkan bernafas pun tak sanggup lagi.

“Eee, saya …. saya…saya cuma penjual jamu,” desisnya lirih tanpa berpikir. Kedua tangannya saling meremas. Keringat dingin sudah begitu saja membasahi punggungnya.

“Bohong! Kau bekerja untuk siapa?”

Pertahanan Marni runtuh. Bagaimanapun ia hanyalah seorang gadis dua puluh dua setengah tahun yang rentan yang masa depannya entah seperti apa, yang karena keisengannya berbuah petualangan tak jelas. Nyaris histeris Marni menangis tergugu. Pria itu mendekati Marni dan menyuruhnya diam. Suaranya tetap dingin namun tak lagi galak.

“Katakan, siapa yang menyuruhmu melakukan ini? Aku hanya ingin tahu. Aku takkan melakukan apapun padamu.”

“Tapii… tapi… kalau saya katakan, marahkah Bapak padanya? Berbahayakah untuknya?” tanyanya polos di sela tangis.

“Marah? Aku sudah meredam amarahku bertahun-tahun lamanya. Katakan saja, aku hanya ingin tahu.”

Marni memberanikan diri menatap bola mata pria tampan di hadapannya. Masih dingin, mata yang terluka, mata yang menyimpan derita, namun ada kilas kelembutan dan kejujuran di situ.

“Bu…Bu Nancy…” bisik Marni. Demi mendengar nama itu, pria tampan itu mendadak lemas. Bahunya turun, wajahnya menahan derita hingga akhirnya terduduk di love seat dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Marni kebingungan tak tahu harus berbuat atau berkata apa. Bahu pria itu naik turun seperti menahan tangis pedih.

Marni memberanikan diri menyentuh bahu kekar itu.

“Pak Juna?” panggilnya lirih.

Pria itu membuka wajahnya dan menyandarkan seluruh badannya ke punggung sofa. Matanya memerah dan keseluruhan wajahnya nampak terluka.

“Bagaimana bisa kau bertemu Bu Nancy?”

Marni menarik kursi yang tadi dinaikinya lalu duduk di hadapan Juna. Rasa takutnya telah menguap entah kemana berganti dengan rasa kasihan dan sayang menatap pria yang serupa benar dengan ayahnya itu. Dengan perlahan ia mulai menceritakan pertemuannya dengan Nancy hingga akhirnya ia terlibat urusan yang njlimet ini. Yang awalnya hanya diminta memata-matai target hingga harus mengambil sesuatu pada akhirnya.

“Jadi kau mendekati Papa hanya untuk ini?”

“Oh…. tidak Pak, ini terjadi di luar skenario. Saya…saya… benar-benar mencintainya,” bisik Marni lirih, ” saya bahkan sama sekali tidak tahu mengapa Bu Nancy ingin meminjam pistol itu.”

“Bu Nancy tidak menceritakan apa-apa padamu?”

Marni menggeleng.

“Ia berjanji untuk menceritakan pada saya setelah pistol itu ada di tangannya.”

“Uji balistik,” gumam Juna.

“Apa, Pak?”

Juna menggeleng.

“Maaf Pak…. apa Bapak yang mengambil err… pistol itu?” Marni memberanikan diri bertanya. Tak disangka-sangka Juna mengangguk.

“Untuk apa, Pak? Dan mengapa?”

“Kau akan mendengar kisah ini dariku dan bukan dari Nancy. Aku bimbang apa yang harus kulakukan pada pistol itu. Benda itu bisa membuat aku hancur namun sekaligus bisa membuatku menyongsong kehidupan baru.” Juna menghela napas panjang. Marni tak berani menyela.

“Pistol itu telah merenggut nyawa seseorang,” lanjut Juna. Marni terpekik kecil lalu membekap mulutnya dengan tangannya sendiri.

“Nya…nyawa… siapa, Pak?” tanyanya gugup. Juna menatapnya dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.

“Suryo Darmawan, suami Bu Nancy, ayah Dewi kekasihku,” bisik Juna lirih. Marni menahan napas, tiba-tiba ingat nama itu, nama yang pernah beberapa kali didengarnya dari mulut yang berbeda. Suryo Darmawan, orang kepercayaan Bimo Wicaksono.

“Tapi…tapi…. saya dengar Pak Suryo meninggal karena kecelakaan?”

Juna menggeleng.

“Bunuh diri. Tapi itu tidak benar. Dia dibunuh,” kata Juna dingin. Nancy langsung merinding. Refleks ia menarik tubuhnya ke belakang menjauh dari Juna.

“Ssi…ssiapa yang membunuhnya?” desisnya ketakutan.

Juna menatapnya kosong. Marni gemetar. Miranti meneteskan air mata. (Pliz deh, gak usah lebay gitu, Narator!)

********************************

Duhh, nyambung lagi deh :( Tapi bentar lagi tamat kok, sabar yaaaa…. ;)

Episode 12 : Pulang

Keseluruhan cerita dapat dibaca di Serial Marni, Bakul Jamu Eksekutif :D

About these ads

14 thoughts on “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 11

  1. mbak Choco ,request nih pokoknya Marni harus tetap nikah sama Bimo, harussss :-D maksa.
    aku ga rela kebahagiaan marni terenggut juga halah

    choco:

    Hihihihihi…. request dipertimbangkan Jeng, soalnya saya jugak lom tau endingnya mau gimana :(
    Thanks yaa, Jeng, nantikan kejutan bagi para komentator :P

  2. walaaaaaaahh saya ketinggalan kereta nih mbak.. mendadak udah nyampe klimaks aja..

    choco:

    Waaa, gak papa Jeng, kisah keseluruhan ada di page “Serial Marni” kok :D bisa dibaca dari awal “D

  3. huahahahhaha..Naratore loh kok kethok mupeng-mupeng piye ngono
    *eh :D
    penasaran. sekali lagi dibuat penasaran :(

    choco:

    Ketoke ngiri tuh Riani, ama cincin berlian segede kacang telor itu :P

  4. je jreeengggg….. *tarik nafaass dulu… fyuuh

    asikan nyambung terus, biar penasarannya makin menjadi-jadi,,,
    si marni ga boleh kalah sama cintanya fitri,,,, hahahah

    choco:

    Waaa, nek kepanjangan takut mbosenin, Mas Brur :P

    (padahal idenya wis entek :D )

  5. Jhaduh deg degan gini….. Ojo nganti podo mubyar bubrah cinatane marni…. Melasi banget tau…

    choco:

    Hihihihi…. mugo-mugo yo, Mam. Mesakno banget lagi arep urip enak kok yo onoooo ae alangane :P

  6. Marni gemetar. Miranti meneteskan airmata… lho, Miranti bukannya orang di lukisan ya? kok bisa nangis? :D

    choco:

    Hahahaha…. iya Jeng, Miranti emang lukisan kok. Saya emang orangnya lebay banget :oops:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s