Jumat sore, aku nonton film Soegija – Uskup Mgr. A. Soegijapranata, SJ
Motivasiku nonton film ini adalah jelas untuk mengetahui sisi kepahlawanan beliau. Mengingat meskipun aku penganut Katolik, aku hanya tahu beliau sebagai Uskup pribumi pertama di Indonesia. Dan namanya diabadikan sebagai jalan di Solo dan universitas di Semarang
Nah, Kawan, ternyata tak sesuai harapanku! Sisi kepahlawanan beliau dalam film ini tak terlalu ditonjolkan. Tertutup oleh kisah-kisah lain yang lebih dramatis. Film ini lebih mengisahkan keseharian Romo Kanjeng (sebutan untuk beliau) yang terpanggil untuk mensupport rakyat, menjadi pengayom. Tak diceritakan bagaimana beliau sempat bertemu dengan Presiden Sukarno atau ketika turut pada pertemuan-pertemuan kenegaraan lainnya. Lebih banyak dinarasikan saja kepahlawanan beliau. Namun pandangan-pandangannya mengenai perbedaan dan pemikiran-pemikirannya akan negara banyak ditampilkan. Keheroikan beliau hanya tampak ketika pendudukan Jepang, ketika mereka berniat menjadikan gereja sebgai markas militer. Saat itu Romo berkata,”…………. penggal dulu kepala saya jika hendak menjadikan gereja ini sebagai markas militer!” Kira-kira gitulah
Namun kisah ketika beliau mendapat telegram dari Roma yang menunjuk beliau menjadi Uskup pribumi pertama di Indonesia, lalu ketika beliau membawakan misa sebagai uskup, dikisahkan dengan sangat baik.
Ada tiga adegan yang mengganjal. Menurutku perlu sentuhan yang lebih eleikhan (minjem istilahnya Om NH ntah nulise bener ato gak
) Mari kita simak
Pertama, adegan di mana Romo sedang periksa di rumah sakit. Lalu Mariyem menyampaikan bahwa banyak tentara Belanda datang hendak mencari para pejuang. Romo berkata, “….di sini adalah rumah sakit, isinya orang sakit. Tidak ada kawan dan tidak ada lawan.” Kira-kira lagi gitu. Nah, sayangnya yang menyampaikan pada Robert si Londo itu ya Si Mariyem ini.
Alangkah heroiknya kalo yang menghadapi adalah Romo Soegija sendiri dengan segala kewibawaannya meski dalam keadaan sakit, dan Si Belanda takut gitu yaaa…
Kedua, adegan saat Ling Ling berdoa bersama Mariyem di gereja. Mariyem berkata, “Ibu Maria adalah Ibu bagi semua ibu. Maka jika kita berdoa melaluinya, semua ibu akan mendengarnya.” Kira-kira lagi deh
Oh ya, Ling Ling ini terpisah dari ibunya yang dibawa oleh tentara Jepang. Lalu Ling Ling segera membuka kotak piringan hitamnya dan memutar lagu kesukaannya dan mamanya. Selagi berdoa tiba-tiba Ling Ling menoleh ke belakang. Dan mak jegagik, Mamanya sudah ada di sana lalu mereka berpelukan. Bukankah akan lebih indah jika adegannya begini:
Ling Ling berdoa diiringi musik kesayangannya dan mamanya. Sementara, ratusan kilometer jauhnya dari Ling Ling, dalam tawanan tentara, ibunya tiba-tiba menangis, seolah mendengar musik dansa itu dan ia membayangkan sedang berdansa bersama putri semata wayangnya. Saat itu dadanya terasa sakit menahan pedih.
Nah, kalo gitu pasti akan lebih dramatis dan menguras air mata daripada tiba-tiba mak bedhunguk ada di belakang Ling Ling
Itu menurutku lho yaaa
Ketiga, ketika para pemain musik gereja yang sedang memainkan lagu di jalanan, tiba-tiba ada serangan bom dekat mereka. Namun pemimpin orkes mengatakan untuk terus bermain, jangan berhenti karena mereka harus bermain musik sampai akhir. Mengingatkan akan film apa hayooo? Titanic!
Seharusnya gak perlu yaa, cari aja adegan lain yang tak harus meniru begitu.
Misalnya ketika ada serangan udara, mereka sedang bermain musik, lalu kena bom semua
Toh hasil akhir sama, mereka tetap main musik hingga maut tiba
![]()
Namun secara keseluruhan film ini sangat bagus. Bahasa yang digunakan ada bahasa Indonesia, Jawa (Jowo banget, bahkan akupun banyak yang gak ngerti
), Belanda, Jepang. Dan yang hebat, semua pemerannya wong asli! Maksudnya asli Jawa, Londo, Jepang. Gak seperti film Sang Penari di mana sosok Srintil diperankan oleh orang Batak, sehingga dialek yang keluar dimedok-medokan, gak asli
Selain itu setting yang dibuat luar biasa! Aku takjub pada peralatan yang begitu kuno. Seperti kotak piringan hitam, kamera, perangkat siaran radio, cangkir, bahkan gayung pun kuno banget. Lalu setting gedung, gereja, suasana misa yang begitu lampau. Keren!
Dan di atas segalanya, yang membuat aku merinding dan nyaris mengeluarkan air mata adalah lagu-lagu rohani yang dilantunkan. Lalu misa dalam bahasa Jawa yang dibawakan Romo Soegija. Owh, betapa membuatku rindu akan Yogya, rindu akan….. gereja
Dulu, mengikuti misa pagi di gereja ketika udara masih dingin, membuatku serasa dekat sekali dengan Sang Pencipta
Satu lagi yang keren, para pemainnya! Darimana ya Om Garin ini mendapatkan Londo-londo keren ituh
Robert yang bengal, Hendrick yang manis
Lalu para Jepang itu. Aku sempat bercanda dengan sobatku, wah ini para boss Jepang di EJIP, Jababeka, MM2100 pada main film
Pemeran Romo Soegija (Nirwan Dewanto) persiiiiis kayak Romo beneran
Nah Kawan, aku sangat merekomendasikan film ini. Meski apa yang kucari tak ada, namun film ini cukup menghibur dengan segala kisah sejarahnya, latar yang luar biasa, para pemain keren, belum lagi komedi yang lutju (Pak Butet keren dah, juga penyiar radio Pak Besut
), dan tentu saja ada adegan mengharu biru. Tak heran jika katanya film ini berbiaya sangat mahal
Ada satu perkataan Romo yang membuatku tersentuh.
“Tak perlu menyediakan makan untuk para imam. Utamakan dulu rakyat. Jika rakyat sudah kenyang, biarlah para imam menjadi orang paling akhir yang kenyang. Dan jika rakyat kelaparan, biar para imam menjadi orang pertama yang merasakan kelaparan.”
Bukankah demikian seharusnya seorang pemimpin? Bukan malah menimbun duluan baru mikirin rakyat
Aku gak protes kok, karena film ini adalah fiksi yang berlatar belakang sejarah dan bukan film sejarah yang dibumbui fiksi (lhah?
)
Sumber foto(pinjam yaaa…):
1. http://www.21cineplex.com/soegija-movie,2843,02SOJA.htm
Ditandai:feview film soegija, soegijapranata









wah reviewnya bagus sekali … belum sempat nonton. walau sudah dapat tiket 20ribu gratis.. hehehehe… filemnya diproduksi mahal sekali ya.. ternyata masih ada sedikti kekurangan disana sini ya…
Aku tidak berharap banyak dari sebuah film, karena tidak bisa membuat semua orang “happy”, dan ada faktor ekonomi juga tentunya (selain dari kehati-hatian agar tidak dituduh kristenisasi
)
banyak londo keren ya bude..? xixi..
film om Garin.. pastinya keren
sekeren ripiew bude ini.
selamat berakhir pekan wat bude sekeluarga.
Jadul banget ya..
Kayanya seruu tuh Mba Piet..
Keren Riviewnya..
*rayu Papa Olive buat nonton ini*
hepi wiken Mba..
aku masih nahan2 diri iuntuk nonton bioskop mbak nunggu breaking dawn aja maklumharus nitipin anak-anak. aku pikir filmnya setype dgn angel demon eh beda ya
ketauan jarang nonton film indonesia hehehe ooops tapi tetep cinta indonesia kok
ini tulisan ke2 yang saya baca tentang film ini
malah bikin saya pengin beli bukunya agar lebih kenal pribadinya secara mendalam
thanks ulasannya ya mba Choco, sudah nge-tek suami buat nemenin nonton siang ini
Apa bedanya dgn bukunya Ayu Utami bu choco? Terlalu fiksi kah?
Trimakasih Diajeng dibuatkan ripiew, sehingga bisa nyambung dengan semaraknya buku tsbt di Gramedia, Selamat berakhir pekan
Membaca review di atas keknya ini bisa menjadi salah satu film terbaik di Indonesia. Memang Garin Nugroho top banget.
Beruntung diangkat dalam film sehingga mereka yg hidup dijaman sekarang tau kepahlawanan Soegijapranata. Kayaknya selain jalan di Solo dan perguruan tinggi di Semarang, nama beliau nggak dikenal.
Bahkan mahasiswa yg kuliah di Universitas Soegijapranata pun belum tentu tau sejarah
review yg bagus mbak….temen saya sepertinya ada yg ikut dlm pembuatan film ini…..nonton ah :d
baru tau saya ternyata sejarahnya Romo Soegija sangat berpengaruh ya….
jadi pengen nonton filmnya juga ^__^
ooo… beru ngeh nyang namanyah soegijapranata, soalnya di jawa ada univeristas entu tapi kagak ngarti ituh sapa…xixixixi *maklum sejarah nilainya sering juelek
well, saya berminat sekali tentang film ini, namun sayang disini tidak ada bioskop..
Kayaknya bagus ya mbak
Nonton ah…
Apalagi Garin Nugroho…
Aaaaahh saza belum nonton
[...] diarahkan ke blog itikkecil yang menulis tentang SOEGIJA. Masih di hari yang sama baca lagi ulasan mba Choco masih tentang SOEGIJA. Penasaran dong saya. Rasanya kok seperti ketinggalan banyak karena [...]
Saya belum sempat nonton film ini.
Blom nonton, Mbak. Maklum tinggal dipedesaan nan tiada punya bioskop
Untung di review dimari, kan aku jadi tau tentang Pak Soegija..
Aku wis nonton ki…
Kecewa sih… ngaranku kok neng film Soegijane ra ngopo ngopo yo @.@
Tapi apik sih seneng aku liat settingnya, dialognya, bulenya… *eh*