Sudah lamaaaaa sekali aku gak bertandang ke warung Yu Minah. Kangen sekali rasanya, tentu sama rujaknya bukan Yu Minahnya
Maka hari Sabtu sore aku menyambangi warung Yu Minah yang tumben tampak sepi. Seperti biasa setelah mengucap salam aku langsung bertengger di bangku kesayangan.
“Lhadalah, Jeeeng, kok lama banget ndak main sini to? Kangen banget saya!” Seru Yu Minah sambil cipika-cipiki lalu menepuk-nepuk bahuku dengan lengannya yang mantap itu. Untung aku gak sampai terbatuk-batuk.
“Iya Yu, lagi banyak kerjaan banget sampai-sampai gak bisa mampir mana-mana. Kalo dah pulang capek rasanya. Buatkan rujak ulek ya, Yu. Pedes tapi gak banget,” sahutku. Dengan cekatan Yu Minah segera meramu bumbu-bumbu di cobeknya yang segede Gaban itu.
“Kok tumben sepi to, Yu?” Tanyaku sambil iseng memegang-megang nanas yang belum dikupas. Air liur langsung terbit.
“Lha kalo liburan sekolah gini kan banyak yang pada ke luar kota to, Jeng. Wajarlah, setelah anak-anak stress ujian dan orang tua stress cari sekolah ya sekarang saatnya bersantai,” jawab Yu Minah.
Aku jadi teringat temanku yang sedang mencari SMU untuk anaknya yang baru lulus. Dan hebatnya ia lulus dengan nilai nyaris sempurna. Maka ia jadi rebutan banyak sekolah. Bahkan ia dibujuk untuk masuk ke sekolah berstatus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) di Jakarta. Ada satu Kelas Internasional bekerjasama dengan Cambridge nah di sanalah ia kelak akan bersekolah.
“Jadi ingat temen saya, Yu. Anaknya mau masuk SMU Kelas Internasional tapi biayanya mahal banget katanya,” ceritaku.
“Sekolah swasta ya memang mahal to, Jeng? Makanya saya bersyukur Si Tole bisa masuk negri yang bagus kemaren itu,” sahut Yu Minah sambil ngulek dengan hotnya.
“Bukan Yu, itu sekolah negri. Tapi keren, isinya anak pinter semua dan kerjasama sama luar negri. Masuknya saja 40 jutaan lho.”
“Walaaah, negri kok mahal banget to, Jeng? Ndak mungkin, itu mesti sekolah swasta, sampeyan salah informasi kali?” Yu Minah masih ngeyel saja.
“Sekolah ini, Yu, mempersiapkan siswanya untuk bisa melanjutkan sekolah di luar negri. Lha wong di kelas X mereka sudah belajar ke Singapore, trus nanti kelas XI ke Inggris, gak tau lagi deh nanti di kelas akhir ke mana lagi. Lha kalo bukan anak orang kaya ya gak bisa to, Yu?” Kataku mencoba menjelaskan sependek yang aku tahu.
“Belajarnya pun pakai bahasa Inggris Yu, baik bukunya maupun ujiannya. Malah tugas-tugas dari luar itu dikerjakan lewat internet. Siswanya pun mesti ikut ujian dari Cambridge dan Ujian Nasional. Wis pokoknya kalo gak pinter dan gak kaya ya gak bisa masuk situ, yu!” Tambahku.
“Itu namanya ndak adil, Jeng! Lho kalo sekolah swasta sih silakan aja pasang tarif mahal begitu. Nah kalo sekolah negri yo ndak bisa gitu. Mestinya biar kerjasama sama sekolah luar negri atau luar planet sekalipun ya harus mengutamakan anak pinter tapi justru yang ndak mampu!” Omel Yu Minah sambil mengiris buah dengan cepat. Duh, merinding aku takut keiiris itu jarinya yang segede pisang rebus.
“Susah Yu, biayanya darimana? Di situ kan fasilitasnya lengkap. Ada proyektor, lab lengkap, buku-bukunya tebel dari luar negri, belum lagi biaya untuk ke luar negrinya gimana?”
“Gini lho, Jeng, kalo memang mau memajukan pendidikan, bertaraf internasional pula, ya harus berani menyiapkan semua fasilitas secanggih apapun. Kalo orang kaya itu tinggal tunjuk mau sekolah di mana saja. Mau di luar negri pun jadi, lha mereka saja kalo liburan bisa keliling dunia to? Justru yang harus diperhatikan itu anak-anak yang pinter tapi ndak mampu. Bekali mereka dengan pengalaman ke luar negri, sekolah terbaik, pendidikan bermutu, dan kelak mereka bakal jadi duta negri ini dengan kecerdasan dan pengalamannya. Kalo negara ndak mau rugi ya kalo perlu kasih mereka ikatan, boleh sekolah internsional ndak bayar tapi nanti bekerja untuk negara. Ato gimana gitu, lho! Mereka pastinya lebih tahu.”
Yu Minah ini kalo sudah ngomong menggebu-gebu dan panjang. Aku hanya kuatir ada yang loncat dari mulutnya ke rujakku. Itu saja. Meski masuk akal juga apa yang dikatakannya. Beruntunglah anak-anak pintar yang mempunyai orang tua mampu, tinggal tunjuk mau sekolah di mana kata Yu Minah. Tapi terberkatilah negara ini kalo mau membiayai anak-anak pintar tapi kurang mampu untuk dapat memperoleh pendidikan sekelas anak-anak mampu itu.
“Itu tiap tahun mbayar segitu yo, Jeng?” Tanya Yu Minah masih gemas.
“Gak tau juga, Yu. Tapi katanya mereka transparan kok, tiap tahun gak tentu segitu, bisa berkurang dari 40 juta.”
“Trus kalo ke luar negri masih suruh mbayar lagi?”
“Mm, katanya sih kalo ke Singapore masih bayar lagi 2 jutaan, tapi seminggu lebih di sana, Yu. Trus gak tau deh yang ke Inggris harus bayar apa tidak.”
“Itu sebetulnya ndak seberapa kalo buat pemerintah. Wong untuk proyek ini itu saja bisa milyaran bahkan trilyunan. Yang dikorup saja setengahnya. Ya mending buat anak-anak ini to? Biar mereka juga ndak cuma cerdas, tapi berwawasan luas dan kaya pengalaman. Ndak ndeso kayak orang-orang di gedung sana, studi banding ke luar negri bawa-bawa keluarga. Ndeso to itu?” Kata Yu Minah sambil mulai membungkus rujakku. Ngomongnya sudah ngelantur. Harus segera diakhiri.
“Eh, Tole gimana, Yu? Mau melanjutkan ke mana?” Tanyaku sambil merogoh dompet. Wajah Yu Minah yang tadi kencang langsung melembut demi mendengar Tolenya disebut.
“Masih nunggu pengumuman negri, Jeng. Moga-moga lulus, biar saya ndak mumet.”
“Tak doakan, Yu,” kataku sambil memberikan uang.
“Eh, uang pas ndak ada, Jeng?”
“Ndak ada, Yu, cuma bawa selembar itu.”
“Waduh, saya ndak punya kembalian je,” kata Yu Minah sembari mencari-cari di kaleng uangnya.
“Yo wis tinggal aja, Yu, ntar kapan-kapan kalo beli lagi,” kataku melihat Yu Minah tak juga menemukan uang tujuh ribu untuk kembalian.
“Tapi saya takut lupa, Jeng, ndak enak nanti.”
“Hayah, dicatet to Yu, jangan ndeso gitu.”
“Hehehehehe…. semoga sampeyan yang lupa yo, Jeng.”
“Weeeh, ndak ada beda sampeyan sama orang-orang di gedung itu. Ndeso dan amnesia!” Gerutuku.
“Weelhadalaaaaah, cuma bercanda lho, Jeeeeengg…..!”







Komentar Terakhir