Arsip Penulis: chocoVanilla

[BeraniCerita #12]: Sepatu Dina

“Lepas sepatu itu, Dina!”

Suryo menghardik anaknya dengan keras. Dina menoleh terkejut. Wajahnya pias ketakutan.

“Tapi, Pa…..”

“Tidak ada tetapi, lepas!”

Gemetar Dina melepas sepatu merahnya yang sudah kumal dan berlubang di sana-sini.

“Ini pemberian Mama, Pa. Dina…Dina…,” isaknya tak berdaya.

“Jangan sebut kata Mama lagi di depan Papa!”

Gadis menjelang remaja itu mengisak lalu berlari menuju kamarnya. Suryo hanya bisa menahan amarah, nyaris ia menendang dan membuang sepatu itu jika tak ingat betapa Dina sangat menyayanginya. Amarahnya masih belum terkendali setiap mendengar atau melihat semua barang yang berbau Rani, istrinya. Tepatnya mantan istrinya. Apalagi sepatu itu sudah begitu kumalnya.

Hari Minggu yang terlanjur rusak. Sejatinya Suryo ingin mengajak Dina makan siang sekaligus mengenalkannya pada Vita, calon istrinya. Entah ini calon keberapa setelah yang sebelum-sebelumnya selalu ditolak Dina.

“Dina hanya ingin Mama.” Begitu selalu jawaban Dina setiap Suryo membawa pulang kekasihnya. Dan biasanya tak ada percakapan lebih lanjut selain suara pintu yang dibanting oleh Suryo.

Hujan tiba-tiba turun lalu menderas disertai angin yang menderu. Dina berlari-lari ke teras, menyelamatkan sepatu merahnya dari guyuran hujan lalu menghilang lagi ke kamarnya. Suryo sudah tak peduli. Hatinya geram bukan main, tetapi ia sedang malas ribut dengan gadisnya.

*************

Bertahun-tahun setelah kejadian itu Suryo tak pernah lagi melihat Dina memakai sepatu kumalnya, bahkan tak pernah lagi melihat sepatu itu. Mungkin Dina telah membuangnya. Waktu memang selalu bisa menyembuhkan. Hingga suatu hari, Andre, kekasih Dina datang dengan membawa kotak sepatu.

“Hadiah ulang tahun untuk Dina, Om,” jelas Andre ketika Suryo bertanya. Suryo tertawa senang. Hampir saja ia membeli kado yang sama, untunglah tidak jadi karena ia tak tahu ukuran sepatu Dina.

“Tunggulah, sebentar lagi Dina turun,” kata Suryo. Ia menyukai Andre, anak muda yang sopan dan bisa diandalkan menjaga Dina. Meski belum mengenal keluarga Andre, tetapi Suryo siap memberikan restunya jika Andre ingin melamar Dina.

Mereka masih mengobrol ringan hingga terdengar langkah kaki menuruni tangga. Kedua lelaki beda generasi itu mendongak lalu tersenyum penuh cinta melihat Dina turun dengan gaun ungunya. Cantik. Suryo nyaris menitikkan air mata melihat gadisnya yang telah tumbuh dewasa dan … begitu mirip Rani!

“Hai, Pa, Andre,” sapa Dina malu-malu. Kedua lelaki itu berdiri menyambut putri cantik itu. Suryo dengan kecupannya di dahi, dan Andre yang hanya berani menyambut tangan pujaan hatinya.

Malam berlalu dengan menyenangkan, makan malam bertiga diiringi musik lembut dan obrolan penuh canda. Hingga saatnya membuka kado. Suryo memberi jam tangan cantik untuk putrinya. Sementara Andre segera mengambil kotak sepatunya.

“Ini kado untukmu, Sayang.” Andre memberikan bingkisannya. Dina membukanya lalu memekik girang. Sementara Suryo memucat. Sebuah sepatu kets merah sama persis dengan sepatu kumal yang dibencinya, hanya beda ukuran tentu saja. Dan wajahnya begitu muram ketika Dina memeluk kekasihnya dengan bahagia. Suryo tak berani berkata-kata.

*****************

“Keluarganya ingin berkenalan, Pa,” kata Dina takut-takut.

“Datang saja, kau atur waktunya, Nak,” sahut Suryo masih tetap memandangi koran paginya.

“Papa… gak akan marah dengan papanya kan?” bisik Dina ragu. Tentu saja Suryo terheran-heran.

“Mengapa Papa mesti marah pada Papa Andre?”

“Karena… Papanya …. adalah suami Mama.”

*******************

words: 500

[BeraniCerita #11]: Kembalinya Cincin Ibu

YSL

Lha kok bukan gambar cincin? :mrgreen:

Sepasang betis putih mulus dengan stiletto keperakan meluncur turun dari sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik.

“Tunggu sini ya, Pak. Saya tidak lama,” ujarnya pada sopirnya yang membukakan pintu mobil. Sejenak ia berdiri menatap jalan sempit yang ada di depannya, mencoba menata nyalinya. Tangannya mengerudungkan scarf Yves Saint Laurent di atas kepalanya, kemudian memakai kacamata hitam bermerk sama. Seperti teringat sesuatu, ia merogoh tas Hermes nya, memastikan keberadaan sebuah kotak kecil berlapis beludru. Oh, masih ada, batinnya lega.

Siang yang membara, bahkan angin pun enggan bertiup. Jalan kampung begini sepi, mungkin penghuninya lebih senang mendekam di dalam rumah menghindari panas dan debu. Ia merasa lega karenanya, tak perlu seorang pun tahu akan keberadaannya.

Langkahnya kemudian terhenti pada sebuah rumah kecil yang catnya nyaris mengelupas semua. Pintunya setengah terbuka, seperti mengharap embusan angin untuk meredakan panas yang membakar. Tanpa mengetuk pintu, ia masuk dan mendapati seorang perempuan paruh baya sedang tiduran di dipan lapuk, menonton televisi tua yang telah buram.

“Ibu…,” panggilnya lirih. Air matanya nyaris tumpah. Lima tahun ia pergi tanpa pamit, tanpa pernah berkabar. Ingatkah sang bunda padanya? Ia menurunkan kerudung dan membuka kacamatanya.

Perempuan tua itu bangkit, memandang terkejut pada wanita mewah di hadapannya.

“Ini aku, Bu,” katanya dengan suara tercekat. Segera ia bersimpuh dan menangis di pangkuan ibunya. Perempuan itu terpana, sesaat kemudian iapun turut menangis bersama anaknya.

“Maafkan aku, Ibu,” tangisnya menyayat. Ibunya tak mampu berkata-kata selain mengelus rambut anaknya dengan takut-takut. Rambut sehalus sutra dan seharum melati.

Setelah reda tangisnya, ia mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya. Membukanya dan mengeluarkan sebentuk cincin emas belah rotan tua, emas pasar dengan kadar paling rendah.

“Ini Bu, cincin yang…yang pernah aku curi,” isaknya. Ia mengambil tangan ibunya, menyusupkan cincin itu ke jari manisnya. Cincin yang pernah ia gadaikan untuk ongkos merantau ke ibukota, yang hanya seharga satu kali tiket bus dan dua kali makan di Jakarta.

Sang Ibu menatap haru anaknya, memandangi jari manisnya yang kini berhias satu-satunya perhiasan yang pernah ia miliki seumur hidupnya.

Namun kemudian matanya nanar menatap pesawat televisi. Sosok wajah cantik yang sejak tadi disiarkan itu mirip sekali dengan anaknya. Wanita yang dikabarkan menjadi simpanan seorang politikus.

“Kau sudah bosan hidup susah, Nak?” Bisiknya nelangsa.

****************

Words: 363

Gambar pinjam Google ;)

Cerita: Tertipu

Kisah ini terjadi kira-kira dua ratus dua belas tahun yang lalu. Waktu itu aku masih pengantin baru ashamed0002 Free Emoticons   Shame dan masih tinggal di kos. Sebetulnya sih udah ada rumah sendiri, tapiii jauuuuuuh dari tempat kerja (itu alasan diplomatisnyaaa, alasan benernya mah lom ada pager, dapur, kasur :mrgreen: ). Nah, berhubung masih kos tentu saja makan masih beli, ndak mungkin masak sendiri to? (Lagi-lagi alasan diplomatis, benernya siy ya emang gak iso mangsak :P ) Untuk urusan isi perut ini, kami punya tempat-tempat favorit. Maklumlah, buat kami berdua yang tergolong “gerombolan si berat” ini, makan adalah salah satu rekreasi yang menyenangkan :D Untuk makan siang kalo lagi libur dan lagi malas ke mana-mana (Halah, diplomasi maning! Tanggal tuwo to?), kami punya langganan warteg yang wuenak, dekat, bersih dan murmer tentu saja.

Pada suatu hari, dengan alasan lelah dan sok manja ihik…ihik…. (kan manten anyaaar), aku gak ikut ke warteg hanya kekasihku sendiri yang berangkat.

“Mau lauk apa?” Begitu kekasihku bertanya.

“Apa aja. Apapun yang kamu pilihkan aku suka kok.” Ituuu waktu masih manten anyaarr cool0003 Free Emoticons   Cool

Kalo sekarang?

“Rujak cingur yaa, tapi jangan pake cingurnya. Awas, jangan lupa lho! Kalo gak ada ya bakso, pake soun nya dikiiiit aja, jangan pake saos. Sambelnya minta banyakan yaa, oh ya ama kasih kecap dikiit. Jangan lupaaa kuahnya juga banyakan.” sign0023 Free Sign Emoticon Dan biasanya tanpa mendengar pesanku yang tiga meter itu kekasihku langsung ngacir hihihihihi….

Lanjooot, kekasihku pun berangkat ke warteg. Sementara aku menunggu di kamar kos dengan manis dan pasrah. Tak berapa lama dia pun kembali. Jika biasanya aku menyambut kepulangannya dengan tari hula-hula sick0022 Free Sick Emoticons kali ini cukup dengan senyum manis dan lemes karena wis ngelih. Kami pun menikmati nasi bungkus lazat itu.

Di tengah-tengah makan aku ngintip miliknya (nasinya maksude). Ih, curang kok ada yang beda dengan punyaku?

“Itu apa?” Tanyaku sembari menunjuk bulatan-bulatan besar berwarna kecoklatan.

“Oh, eh..ini jamur.”

“Kok aku gak dibeliin juga?” Tanyaku sedikit merajuk sambil memalingkan pipi sok-sok ngambek (idiiih, pengen nggebuk bukan?)

“Tadi tinggal dikiiit, tinggal segini doang,” jawabnya rada tergagap.

“Enak gak?” Tanyaku siap-siap nyomot untuk mencoba.

“Gak…gak enak. Kayaknya udah menjelang basi gitu. Tapi sayang ah kalo dibuang,” kilahnya. Tentu saja aku gak jadi nyobain. Herannya, katanya otw basi tapi kok abis bersih begitu?

Setelah itu, ketika kami sudah menempati rumah sendiri, ibunda mertua pun mulai sering menginap. Dan tentu saja selayaknya putri Minang, Nenek sangat pandai memasak. Dan salah satu andalannya adalah Jariang Tumbuk Lado! Perlu kau ketahui Kawan, seumur-umur aku melihat dan kenal jengkol itu ya setelah beberapa lama tinggal di ibukota. Gara-garanya ibu kos adalah seorang JFC. Tapi karena katanya bau aku gak berani cobain. Dan waktu masih pacaran pun kekasihku itu gak pernah mengenalkan jengkol padaku, bahkan katanya gak suka.

Ternyata! Setelah sekian ratus tahun menikah dan beranak-pinak, barulah dia mengaku bahwa “bulatan-bulatan coklat” yang katanya “jamur” dulu itu ternyata semur jengkol! Dan ternyata pula, kekasihku ini juga anggota JFC! Lhadalaaahhhh tertipu akuuuu…..!

Tapi ya priben maning, karena sudah cinta yaa terima saja. Paling-paling kalo doi abis makan jengkol, kami pisah ranjang sejenak, kalopun seranjang yaaa diam sejenak :mrgreen: animal0019 Free Emoticons   Animals

Tulisan ini untuk ikutan Hari Jengkol ketiga

Wish me luck ;)

semur jengkol

Sogokan buat Jenab :mrgreen:

Gambar minjem google ;)

 

Lukisan Cinta, Episode 19

Yuuuuk, baca yang maren duluu… :)

ocean-storm-wallpaper

Lanjut membaca

[BeraniCerita #10]: Forbidden Love (3)

Ayah Liza keluar dari ruang kerjanya sambil mengacungkan sepucuk surat.

“Liza,” katanya, “Aku sedang mencarimu. Masuklah ke ruang kerjaku.”

Liza mengikuti ayahnya memasuki ruang kerja, dan ia menduga bahwa apa yang akan disampaikan oleh ayahnya tentu berhubungan dengan surat yang dipegangnya. Mereka duduk berdua saling berhadapan. Liza menyusun kata-kata dalam kepalanya untuk memberikan penjelasan yang tepat.

Namun semua buyar ketika ayahnya mengeluarkan tumpukan surat merah muda dari laci meja kerjanya.

“Apa ini?” Tanya ayahnya dingin. Bibir Liza gemetar.

“Tapi Liza tak pernah mengirimkannya, Pa,” sahutnya lirih.

“Mengirimkannya atau tidak tetap saja tidak patut kamu menulis ini!” Bentak ayahnya.

“Siapa Bowo?” Lanjut ayahnya masih dengan amarah.

“Gu…guru matematika,” jawab Liza menahan tangis.

“Kamu…sungguh tidak pantas!”

“Tapi…tapi Liza mencintainya, Pa.”

“Cinta? Tahu apa kamu soal cinta, hah? Kamu baru delapan tahun, Liza!”

Pecahlah tangis Liza.

words: 146

Gambar pinjam dari Google :)

Jidati

Ini sebetulnya gak penting banget siy. Perkara sebuah kata “jidat” yang entah mengapa aku gak suka mendengarnya. Kata ini sebetulnya biasa saja dan tentu sangat familiar ya? Aku aja yang merasa agak aneh untuk mengucapkannya :mrgreen: Di lingkungan kerja, sekolah, di mana-mana kata ini sering diucapkan. Aku males siy cari referensi, apakah kata ini sudah masuk dalam bahasa Indonesia atau belum :mrgreen:

Aku lebih suka menyebutnya “dahi” atau malah “bathuk” sekalian :lol: Nah, ternyata si jidat ini pun sering diucapkan oleh kedua malaikatku. Akupun mengeluarkan aturan untuk menyebut dahi atau kening untuk bagian wajah paling atas yang biasanya lebih lebar daripada bagian yang lain itu :lol:

Tapi dasar anak-anak, semakin dilarang malah semakin sering diucapkan. Bahkan malah disengajain untuk diulang-ulang bila ada aku. Setelah itu mereka pun terbahak-bahak. Jiyan, bandel banget! Di antara kawan-kawan mereka di jemputan pun larangan mengucapkan kata “jidat” ini malah menjadi bahan lelucon. Kedua malaikatku sering sekali meledekku dengan mengatakan ini berulang-ulang. Herannya, aku gak marah malah ikut ngakak bersama mereka :( Gak konsisten blaz! Yah, pura-pura marah siy :P

Sampai malam ini terjadilah obrolan berikut:

Cantik : Bunda, jidat Adek kejedot

Aku     : Hush! Dahi!

(Jendral G tertawa ngakak)

Cantik  : Bunda ini aneh, masa ngomong ji titik-titik gak boleh sih

Aku      : Biarin, kan ada kata yang lebih baik

Cantik   : Besok kalo Adek punya kucing mau Adek kasih nama Jidati. Trus manggilnya Jidati… ck..ck..ck.. sini Jidatiii…

Aku      : Ih, masa nama kucing kayak gitu

Cantik   : Iyaa, trus biar cepet manggilnya Jidat… Jidat….

(Huwahahahaha aku dan Jendral G ngakak bareng, geliii ampek sakit peyut :lol: )

Meski geli setengah mati, aku tetap pura-pura marah. No jidat at home! :mrgreen:

Mama Dedeh

Sebelumnya,

Seluruh warga chocoLand mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian Uje kembali kepada Sang Pencipta. Semoga amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Amien.

Nah, aku mo bercerita, Kawan. Siapa sih yang tak kenal Mama Dedeh? Hampir setiap pagi meski disambi ini itu aku mendengar ceramah Mama Dedeh sekilas-sekilas. Biasa, setiap pagi kekasihku mendengarkan berita olah raga yang disambung acara Mama Dedeh, dan karena sambil mengerjakan banyak hal maka aku tak sempatlah mengganti saluran :D

Betapa kondangnya beliau bukan? Tapi yang membuatku sangat heran dan takjub, pagi ini Mama Dedeh datang berceramah di mushola dekat rumah, tepatnya di blok rumahku! Undangan sudah dibagikan sejak seminggu yang lalu. Aku masih tak percaya. Mama Dedeh? Mau datang ke kompleksku yang di Jakarta Gembrobyos dan Bogor Minggir jauh ini? Yang musholanya kecil karena hanya untuk penghuni blok **?

Tapi ternyata benar! Tadi pagi Nenek sudah di mushola sejak jam 6. Acara pun didahului dengan pengajian. Mama Dedeh datang jam 8.30 dan berceramah hingga jam 11.00. Top ya? Sebetulnya aku ingin ikutan, tapi sayangnya aku tak punya dan tak bisa berhijab (ditambah lagi buta huruf) :(

Semoga, para ustad dan ustadzah benar-benar fokus pada tujuan mulia mereka. Rela dan bersedia datang kepada siapapun yang mengundang. Tanpa peduli bayaran, tempat, dan siapa yang mengundang. Dan semoga apa yang mereka sampaikan adalah yang bermakna bagi seluruh umatnya tanpa mengecilkan sesamanya yang berbeda. Karena sesungguhnya, apa yang mereka kerjakan dengan ikhlas dan benar adalah tabungan untuk hari akhir :)

[BeraniCerita #09]: Camelia

snow white

“Psst, dia sudah pulang. Tumben sore,” bisik tetangga kepada tetangganya.

“Iya, sejak kecelakaan itu dia selalu pulang malam,” sahut tetangganya. Keduanya langsung terdiam ketika Darto membuka pagar dan memasukkan mobilnya.

“Mari, Bu,” sapa Darto ketika menutup pagar. Tetangganya mengangguk lalu membuang muka. Darto tak peduli. Ia masuk rumah dan langsung ke kamarnya.

“Ah, Camelia, aku pulang. Hmm, cantik sekali kau hari ini,” puji Darto sambil membuka kemejanya. Ditatapnya tanpa berkedip wajah cantik yang selalu tersenyum itu. Hari ini gaunnya berwarna ungu muda. Camelia selalu cantik dengan baju apapun. Itulah sebab Darto sangat memujanya.

“Ini hari yang melelahkan, Sayang. Melihatmu, hilang sudah penatku,” bisik Darto pedih. Ia memeluk Camelia dan air matanya mengalir turun. Mannequin itu tetap tersenyum.

words: 117

Gambar: Google

Bisikan Ghaib

suburman

Gambar pinjam dari Google :D

Hari ini entah mengapa malas sekali ngantor. Maka akupun memutuskan untuk sejenak meliburkan diri :mrgreen: Menjelang siang, ketika perut mulai berontak akupun melangkahkan kaki menuju warung Yu Minah. Yaah, sudah lama sekali aku tak singgah ke sana. Sebetulnya kesal sekali aku pada Yu Minah. Bagaimana tidak, dengan sewenang-wenang ia menaikkan harga rujaknya tanpa pemberitahuan. Setelah naik menjadi tiga belas ribu, tiba-tiba sekarang menjadi enam belas ribu. Tapi berhubung setiap tanggal-tanggal begini (batja: tanggal tuwa) aku jadi vegetarian, ya wislah aku ke warung Yu Minah saja :P

Setelah menyerukan salam, aku mendaratkan diri di bangku favorit dekat cobek Yu Minah yang segede gaban itu.

“Buatkan rujak ulek ya, Yu. Pedes tapi gak banget,” ujarku segera mengambil koran yang tergeletak di samping cobek Yu Minah. Asli, sengaja kulakukan ini untuk menghindari cipika cipikinya Yu Minah yang basah itu :mrgreen:

“Jeng, kok sekarang jarang mampir sini to? Apa rujak saya ini sudah kehilangan pesona? Sudah ndak enak lagi?” tanya Yu Minah sedikit merajuk. Aku jadi sedikit merasa bersalah :P

“Bukan gitu, Yu. Jelas rujak sampeyan ini masih paling top sak mBogor sini, tapi karena mahal jadi males aku,” godaku. Yu Minah menghentikan ulekannya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Refleks aku mundur 30 cm.

“Sampeyan ini gak paham rupanya. Dalam setiap usaha kita mesti memperhitungkan adanya biaya produksi. Tahun lalu grafik pendapatan saya hampir menyerupai garis datar. Itu berarti ndak ada peningkatan. Nah, untuk meningkatkan revenue di tahun ini, maka salah satu usahanya adalah menaikkan harga jual, Jeng. Biaya produksi jelas naik, contoh gula jawa, buah-buahan, trasi, kacang. Lha kalo harga ndak ikut naik yo morat-marit saya nanti. Jadi sampeyan harus maklum, Jeng. Lagipula porsinya kan saya tambahin dikit biar mantep!”

Aku terpana mendengar jawaban Yu Minah. Dia ini bakul rujak atau akuntan pabrik batu batre to? Akupun melanjutkan membolak-balik koran daripada menanggapi ocehan yang bukan bidangku. Dari dalam terdengar TV Yu Minah menyiarkan berita infotainment. Seorang anggota DPR yang sedang heboh dengan perceraiannya. Akupun tertarik bergosip :twisted:

“Yu, kayaknya jadi anggota dewan itu ada kutukannya ya?”

Yu Minah yang sedang memotong-motong buah menatapku heran.

“Maksudnya?”

“Lha itu, coba sampeyan hitung Yu, ada berapa artis yang jadi anggota dewan terutama wanita, bercerai dengan suaminya? Trus kalo yang pria terlibat kasus syahwat. Belum lagi tergoda proyek atau obyekan. Padahal mungkin sebelum jadi anggota dewan mereka ini bisa jadi baik-baik aja lho.”

Yu Minah tertawa geli.

“Sampeyan ini mengada-ada, Jeng. Tahu darimana kalo mereka baik-baik aja sebelum jadi anggota dewan? Saya bukannya mau menghakimi, tapi godaan harta, tahta dan syahwat itu sifat dasar manusia, Jeng. Tinggal ada kesempatan atau tidak. Nah, mungkin saja ketika masuk sana sisi gelap itu tersalurkan? Satu orang berbuat, maka yang lain mengikuti karena itu dianggap hal biasa dan sah. Ikut arus. Kalo beda sendiri nanti malah ndak populer, dijauhi, dimusuhi. Sama kalo anak-anak itu pada tawuran, nek sendiri mana berani? Tapi begitu keroyokan pada ngikut to? Itu trend , Jeng! “

Tuh kan, Yu Minah ini kalo dipancing satu kalimat aja menanggapinya bisa berkilometer kalimat.

“Wah, parah sampeyan, Yu. Itu menuduh namanya. Kalo aku kan curiganya ada kutukan. Itu lebih mistis Yu, gak bisa dibuktikan, gak ada pasalnya. Kalo menuduh itu bisa kena pasal pencemaran nama baik, Yu.”

Yu Minah yang sudah mulai membungkus rujakku mendadak pucat.

“Waduh, iya ya, Jeng? Urusan perdukunan saja sekarang jadi pembahasan anggota dewan jeh. Wong orang gak beres yang selalu dapat bisikan ghaib aja kok diurusi. Kurang gawean to?”

Nah, nah, pembicaraannya sudah merembet ke mana-mana. Akupun cepat-cepat berdiri sebelum obrolan ini ngelantur gak jelas. Berita basi kalo di tangan Yu Minah bisa naik daun lagi nanti. Yu Minah mengangsurkan bungkusan rujak padaku.

“Sst, Yu, aku baru saja dapat bisikan ghaib,” bisikku. Yu Minah celingukan kiri kanan.

“Bisikan apa, Jeng? Siapa yang mbisiki?” Tanyanya sambil berbisik dan bergidik.

“Dari Eyang Ghaib, Yu. Katanya, hari ini rujaknya gratis,” bisikku lalu kabur.

“Welhadalaaahhh, sampeyan ini, Jeeeng! Ndak gratiiisss, enam belas ribu siniiii!” Teriaknya.

:mrgreen:

[BeraniCerita #08]: Lipstik Merah

tumblr_lr4odrYaCk1qmrtwjo1_500_large

Jantung Sinta berdebar keras ketika membuka pintu kamar tidurnya dan mendapati secangkir teh dengan bekas lipstik merah menyala. Dengan tangan gemetar ia mengambil cangkir itu dan mengamatinya. Wajahnya menahan rasa jijik yang amat sangat. Jadi benar, benar rupanya gosip itu, bisik hatinya galau.

Dengan marah ia membuka kamarnya dan menghambur keluar.

“Irfaaaaan!” Teriaknya marah sambil menangis. Tak ada jawaban.

“Irfaaan!”

Suaminya tergopoh-gopoh keluar dari kamar mandi.

“Apa ini?” Tanya Sinta sambil mengacungkan cangkir berlipstik itu di wajahnya.

“Itu…ehh….”

“Aku benci!” Teriak Sinta lalu membanting cangkir itu.

Irfan tak mampu berkata-kata selain menghapus sisa lipstik merah dari bibirnya.

*************

words: 97

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 81 pengikut lainnya.