Arsip Kategori: Dongeng insomnia

Obituari Oma

Sebuah proyek rahasia yang digagas dan dimotori oleh pemilik Dunia Pagi, Amela Erliana itu akhirnya purna sudah. Mengumpulkan sekian blogger dan melempar bermacam thema cerita lalu pada akhirnya memutuskannya tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan. Menyatukan sekian belas (ato puluh) blogger pada awalnya, dengan karakteristik yang berbeda, bahkan mungkin belum saling kenal apalagi kopdar bukan juga pekerjaan mudah. Namun itulah Amela, di sela kesibukannya mempersiapkan pernikahan (cihuuuiiii) akhirnya gadis manis yang suka bangun pagi ini mampu menyatukan sahabat-sahabat mayanya dan menyelesaikan buku “Obituari Oma”.

Dan inilah sepuluh orang bloggers yang naskahnya terkumpul dalam “Obituari Oma”:

AmellaIlham, Orin, Sulung, Ari Tunsa, Dhenok, Kakaakin, Ne’, Lea, dan tentu saja…ihik…ihik..uhuk…uhuk… aku sendiri ashamed0002 Free Emoticons   Shame

Simak ini:

“Marina Wijaya, seorang artis senior yang telah malang-melintang selama setengah abad di dunia perfilman Indonesia. Kematiannya yang tiba-tiba meninggalkan kesedihan yang mendalam di hati keluarga dan penggemarnya. Tapi tak semua orang merasa kehilangan. Tak semua orang mencintai si cantik Marina.
10 orang blogger, dalam 17 flashfiction, mengisahkan sosok Marina Wijaya dari berbagai sudut pandang, berusaha mengungkap sisi lain sang bintang.”
Nah, Kawan, tidakkah kau penasaran dengan isi buku ini? Kumpulan tulisan sepuluh orang blogger yang mempunyai gaya bercerita tersendiri? Menarik!
???????

Sebuah langkah kecil yang berani namun mampu memotivasi untuk langkah-langkah yang lebih besar di kemudian hari. Terimakasih Amela, untuk kesempatan yang kau berikan untukku. Dan tentu saja para penulis buku ini. Seperti kata Amela, “Semoga buku ini bisa menjadi kenangan indah atas persahabatan kita.”   love0062 Free Emoticons   Love ;)

[BeraniCerita #12]: Sepatu Dina

“Lepas sepatu itu, Dina!”

Suryo menghardik anaknya dengan keras. Dina menoleh terkejut. Wajahnya pias ketakutan.

“Tapi, Pa…..”

“Tidak ada tetapi, lepas!”

Gemetar Dina melepas sepatu merahnya yang sudah kumal dan berlubang di sana-sini.

“Ini pemberian Mama, Pa. Dina…Dina…,” isaknya tak berdaya.

“Jangan sebut kata Mama lagi di depan Papa!”

Gadis menjelang remaja itu mengisak lalu berlari menuju kamarnya. Suryo hanya bisa menahan amarah, nyaris ia menendang dan membuang sepatu itu jika tak ingat betapa Dina sangat menyayanginya. Amarahnya masih belum terkendali setiap mendengar atau melihat semua barang yang berbau Rani, istrinya. Tepatnya mantan istrinya. Apalagi sepatu itu sudah begitu kumalnya.

Hari Minggu yang terlanjur rusak. Sejatinya Suryo ingin mengajak Dina makan siang sekaligus mengenalkannya pada Vita, calon istrinya. Entah ini calon keberapa setelah yang sebelum-sebelumnya selalu ditolak Dina.

“Dina hanya ingin Mama.” Begitu selalu jawaban Dina setiap Suryo membawa pulang kekasihnya. Dan biasanya tak ada percakapan lebih lanjut selain suara pintu yang dibanting oleh Suryo.

Hujan tiba-tiba turun lalu menderas disertai angin yang menderu. Dina berlari-lari ke teras, menyelamatkan sepatu merahnya dari guyuran hujan lalu menghilang lagi ke kamarnya. Suryo sudah tak peduli. Hatinya geram bukan main, tetapi ia sedang malas ribut dengan gadisnya.

*************

Bertahun-tahun setelah kejadian itu Suryo tak pernah lagi melihat Dina memakai sepatu kumalnya, bahkan tak pernah lagi melihat sepatu itu. Mungkin Dina telah membuangnya. Waktu memang selalu bisa menyembuhkan. Hingga suatu hari, Andre, kekasih Dina datang dengan membawa kotak sepatu.

“Hadiah ulang tahun untuk Dina, Om,” jelas Andre ketika Suryo bertanya. Suryo tertawa senang. Hampir saja ia membeli kado yang sama, untunglah tidak jadi karena ia tak tahu ukuran sepatu Dina.

“Tunggulah, sebentar lagi Dina turun,” kata Suryo. Ia menyukai Andre, anak muda yang sopan dan bisa diandalkan menjaga Dina. Meski belum mengenal keluarga Andre, tetapi Suryo siap memberikan restunya jika Andre ingin melamar Dina.

Mereka masih mengobrol ringan hingga terdengar langkah kaki menuruni tangga. Kedua lelaki beda generasi itu mendongak lalu tersenyum penuh cinta melihat Dina turun dengan gaun ungunya. Cantik. Suryo nyaris menitikkan air mata melihat gadisnya yang telah tumbuh dewasa dan … begitu mirip Rani!

“Hai, Pa, Andre,” sapa Dina malu-malu. Kedua lelaki itu berdiri menyambut putri cantik itu. Suryo dengan kecupannya di dahi, dan Andre yang hanya berani menyambut tangan pujaan hatinya.

Malam berlalu dengan menyenangkan, makan malam bertiga diiringi musik lembut dan obrolan penuh canda. Hingga saatnya membuka kado. Suryo memberi jam tangan cantik untuk putrinya. Sementara Andre segera mengambil kotak sepatunya.

“Ini kado untukmu, Sayang.” Andre memberikan bingkisannya. Dina membukanya lalu memekik girang. Sementara Suryo memucat. Sebuah sepatu kets merah sama persis dengan sepatu kumal yang dibencinya, hanya beda ukuran tentu saja. Dan wajahnya begitu muram ketika Dina memeluk kekasihnya dengan bahagia. Suryo tak berani berkata-kata.

*****************

“Keluarganya ingin berkenalan, Pa,” kata Dina takut-takut.

“Datang saja, kau atur waktunya, Nak,” sahut Suryo masih tetap memandangi koran paginya.

“Papa… gak akan marah dengan papanya kan?” bisik Dina ragu. Tentu saja Suryo terheran-heran.

“Mengapa Papa mesti marah pada Papa Andre?”

“Karena… Papanya …. adalah suami Mama.”

*******************

words: 500

Lukisan Cinta, Episode 19

Yuuuuk, baca yang maren duluu… :)

ocean-storm-wallpaper

Lanjut membaca

Bisikan Ghaib

suburman

Gambar pinjam dari Google :D

Hari ini entah mengapa malas sekali ngantor. Maka akupun memutuskan untuk sejenak meliburkan diri :mrgreen: Menjelang siang, ketika perut mulai berontak akupun melangkahkan kaki menuju warung Yu Minah. Yaah, sudah lama sekali aku tak singgah ke sana. Sebetulnya kesal sekali aku pada Yu Minah. Bagaimana tidak, dengan sewenang-wenang ia menaikkan harga rujaknya tanpa pemberitahuan. Setelah naik menjadi tiga belas ribu, tiba-tiba sekarang menjadi enam belas ribu. Tapi berhubung setiap tanggal-tanggal begini (batja: tanggal tuwa) aku jadi vegetarian, ya wislah aku ke warung Yu Minah saja :P

Setelah menyerukan salam, aku mendaratkan diri di bangku favorit dekat cobek Yu Minah yang segede gaban itu.

“Buatkan rujak ulek ya, Yu. Pedes tapi gak banget,” ujarku segera mengambil koran yang tergeletak di samping cobek Yu Minah. Asli, sengaja kulakukan ini untuk menghindari cipika cipikinya Yu Minah yang basah itu :mrgreen:

“Jeng, kok sekarang jarang mampir sini to? Apa rujak saya ini sudah kehilangan pesona? Sudah ndak enak lagi?” tanya Yu Minah sedikit merajuk. Aku jadi sedikit merasa bersalah :P

“Bukan gitu, Yu. Jelas rujak sampeyan ini masih paling top sak mBogor sini, tapi karena mahal jadi males aku,” godaku. Yu Minah menghentikan ulekannya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Refleks aku mundur 30 cm.

“Sampeyan ini gak paham rupanya. Dalam setiap usaha kita mesti memperhitungkan adanya biaya produksi. Tahun lalu grafik pendapatan saya hampir menyerupai garis datar. Itu berarti ndak ada peningkatan. Nah, untuk meningkatkan revenue di tahun ini, maka salah satu usahanya adalah menaikkan harga jual, Jeng. Biaya produksi jelas naik, contoh gula jawa, buah-buahan, trasi, kacang. Lha kalo harga ndak ikut naik yo morat-marit saya nanti. Jadi sampeyan harus maklum, Jeng. Lagipula porsinya kan saya tambahin dikit biar mantep!”

Aku terpana mendengar jawaban Yu Minah. Dia ini bakul rujak atau akuntan pabrik batu batre to? Akupun melanjutkan membolak-balik koran daripada menanggapi ocehan yang bukan bidangku. Dari dalam terdengar TV Yu Minah menyiarkan berita infotainment. Seorang anggota DPR yang sedang heboh dengan perceraiannya. Akupun tertarik bergosip :twisted:

“Yu, kayaknya jadi anggota dewan itu ada kutukannya ya?”

Yu Minah yang sedang memotong-motong buah menatapku heran.

“Maksudnya?”

“Lha itu, coba sampeyan hitung Yu, ada berapa artis yang jadi anggota dewan terutama wanita, bercerai dengan suaminya? Trus kalo yang pria terlibat kasus syahwat. Belum lagi tergoda proyek atau obyekan. Padahal mungkin sebelum jadi anggota dewan mereka ini bisa jadi baik-baik aja lho.”

Yu Minah tertawa geli.

“Sampeyan ini mengada-ada, Jeng. Tahu darimana kalo mereka baik-baik aja sebelum jadi anggota dewan? Saya bukannya mau menghakimi, tapi godaan harta, tahta dan syahwat itu sifat dasar manusia, Jeng. Tinggal ada kesempatan atau tidak. Nah, mungkin saja ketika masuk sana sisi gelap itu tersalurkan? Satu orang berbuat, maka yang lain mengikuti karena itu dianggap hal biasa dan sah. Ikut arus. Kalo beda sendiri nanti malah ndak populer, dijauhi, dimusuhi. Sama kalo anak-anak itu pada tawuran, nek sendiri mana berani? Tapi begitu keroyokan pada ngikut to? Itu trend , Jeng! “

Tuh kan, Yu Minah ini kalo dipancing satu kalimat aja menanggapinya bisa berkilometer kalimat.

“Wah, parah sampeyan, Yu. Itu menuduh namanya. Kalo aku kan curiganya ada kutukan. Itu lebih mistis Yu, gak bisa dibuktikan, gak ada pasalnya. Kalo menuduh itu bisa kena pasal pencemaran nama baik, Yu.”

Yu Minah yang sudah mulai membungkus rujakku mendadak pucat.

“Waduh, iya ya, Jeng? Urusan perdukunan saja sekarang jadi pembahasan anggota dewan jeh. Wong orang gak beres yang selalu dapat bisikan ghaib aja kok diurusi. Kurang gawean to?”

Nah, nah, pembicaraannya sudah merembet ke mana-mana. Akupun cepat-cepat berdiri sebelum obrolan ini ngelantur gak jelas. Berita basi kalo di tangan Yu Minah bisa naik daun lagi nanti. Yu Minah mengangsurkan bungkusan rujak padaku.

“Sst, Yu, aku baru saja dapat bisikan ghaib,” bisikku. Yu Minah celingukan kiri kanan.

“Bisikan apa, Jeng? Siapa yang mbisiki?” Tanyanya sambil berbisik dan bergidik.

“Dari Eyang Ghaib, Yu. Katanya, hari ini rujaknya gratis,” bisikku lalu kabur.

“Welhadalaaahhh, sampeyan ini, Jeeeng! Ndak gratiiisss, enam belas ribu siniiii!” Teriaknya.

:mrgreen:

[BeraniCerita #08]: Lipstik Merah

tumblr_lr4odrYaCk1qmrtwjo1_500_large

Jantung Sinta berdebar keras ketika membuka pintu kamar tidurnya dan mendapati secangkir teh dengan bekas lipstik merah menyala. Dengan tangan gemetar ia mengambil cangkir itu dan mengamatinya. Wajahnya menahan rasa jijik yang amat sangat. Jadi benar, benar rupanya gosip itu, bisik hatinya galau.

Dengan marah ia membuka kamarnya dan menghambur keluar.

“Irfaaaaan!” Teriaknya marah sambil menangis. Tak ada jawaban.

“Irfaaan!”

Suaminya tergopoh-gopoh keluar dari kamar mandi.

“Apa ini?” Tanya Sinta sambil mengacungkan cangkir berlipstik itu di wajahnya.

“Itu…ehh….”

“Aku benci!” Teriak Sinta lalu membanting cangkir itu.

Irfan tak mampu berkata-kata selain menghapus sisa lipstik merah dari bibirnya.

*************

words: 97

Lukisan Cinta, Episode 18

Maafkan, lanjutannya terlalu lama ya :( Mari tengok ke belakang dulu :)

bg-big2

Lanjut membaca

[BeraniCerita #6] Nomor Sepuluh

Tak perlu waktu lama, Rino akhirnya sampai di rumah bergaya Jawa kuno yang cukup besar. Halamannya luas dengan beberapa pohon beringin. Tampaknya rumah ini adalah rumah turun-temurun.

Tok, tok! Rino mengetuk pintu.

Tak lama pintu dibuka. Rino terkejut melihat sosok yang berada di hadapannya.

“Lho, Tina? Kamu…kok kamu di sini? Ngapain?” Tanya Rino tak percaya. Perempuan di hadapannya tak kalah terkejut dan langsung panik.

“Aku eh…kamu…kamu sendiri ngapain ke sini?” Tanyanya gelagapan. Rino masih tak percaya memandang Tina yang hanya mengenakan daster tipis, seolah berada di rumahnya sendiri. Rino melongok ke belakang tubuh Tina, mencoba melongok siapa yang ada di dalam rumah kuno ini.

“Aku mau ketemu Eyang, untuk mencari tahu ke mana kamu pergi selama ini. Nyatanya kamu malah ada di sini. Ngapain, Tina? Bagaimana bisa?” Jawabnya tak habis pikir.

Tina bergerak-gerak gelisah. Melihat gelagat kekasihnya yang aneh Rino berusaha menerobos masuk melalui pintu jati kokoh itu. Namun Tina mengahalangi dengan tubuhnya.

“Jangan, Rino! Tak ada siapapun di dalam. Pergilah, besok kita bicara,” cegah Tina panik. Rino memandangnya tajam, setajam silet.

“Ngapain kamu di sini? Orang tuamu kelabakan mencarimu. Ayo, ikut aku pulang!” Rino menarik lengan Tina mengajaknya pergi.

“Aku gak bisa, Rino,” tolak Tina. Dikibaskannya tangan Rino dengan kasar.

“Kamu…? Mengapa kamu jadi aneh begini? Apa yang terjadi, Tina? Ayo ikut aku!”

“Tidak. Kamu pulang saja, aku tetap di sini. “

“Bagaimana bisa kamu mau tetap di sini? Pengikut Eyang banyak, kamu gak pantas tinggal di sini. Lagipula, mau apa kamu di sini sampai gak pulang-pulang, hah?”

“Kamu gak ngerti. Aku sudah menjadi istrinya,” sahut Tina dingin seraya menunjukkan cincin emas besar 24 karat di jari manisnya. Rino terbelalak. Wajahnya merah padam, seluruh tubuhnya bergetar menahan amarah. Angin dingin dan desau dedaunan beringin tak mampu mendinginkan darahnya.

“Sialan kau, Eyang Sumur!” Teriaknya menggelegar.

*************

 Word: 294

Ini adalah kisah fiktif. Apabila ada kesamaan nama, tokoh, dan peristiwa maka itu hanyalah kebetulan belaka. Ciyus!

[Berani Cerita #05]: Switch

Sepertinya suasana malam ini tidak begitu bersahabat bagi Riana. Angin yang dingin membuat dia memaki dirinya sendiri kenapa lupa membawa jaketnya yang tertinggal di mobil. Lorong yang tidak terlalu terang karena beberapa lampu mulai dimatikan. Dan kenapa tidak ada orang bersliweran? Padahal masih jam 8 malam.

“Nah, sebentar lagi sudah sampai di kamar Sinta.” Riana mencoba menghibur diri sendiri karena dirinya masih merinding. Cepat-cepat langkahnya diayun, sampai akhirnya dia berhenti tiba-tiba saat melihat sebuah tempat tidur dorong melaju cepat ke arahnya.

“Heiiii!” Teriaknya kaget. Tubuhnya langsung merapat pada dinding agar tidak terserempet.

“Hihihihihihihi….” Sosok berseragam hijau muda yang mendorong tempat tidur kosong itu tertawa melengking di balik maskernya, membuat bulu kuduk Riana meremang. Cepat-cepat Riana melangkahkan kaki menuju kamar Sinta. Agak kesal juga ia mengapa Sinta memintanya datang malam-malam begini. Jika tak mendengar sedu sedannya sudah pasti ia takkan mau datang.

Kamar Sinta sudah gelap. Sudah tidurkah? Batin Riana. Tanpa mengetuk pintu ia membuka kamar itu perlahan.

“Sin?” Panggilnya lirih. Tak ada jawaban. Riana melihat saudara kembarnya itu meringkuk di tempat tidur. Seluruh tubuhnya tertutup selimut. Kesal sekali Riana dibuatnya. Bagaimana tidak? Tadi ketika Sinta menelpon ia tengah menikmati makan malam berdua dengan Budi. Dan kini, setelah terbirit-birit karena kuatir sesuatu terjadi dengan kembarannya, tenyata Sinta malah tidur dengan pulasnya.

“Hei, pulas benar kau tidur. Bangun, Non!” Gerutu Riana seraya duduk di tepi tempat tidur. Tak ada suara. Dengan kesal Riana menyibak selimut itu. Seketika ia menjerit. Sebuah boneka peraga anatomi yang sudah setengah rusak terbaring di hadapannya. Riana menjerit tanpa mau berhenti. Seseorang membekap mulutnya dan memukul tengkuknya hingga pingsan. Ia segera melucuti baju Riana dan menggantinya dengan bajunya sendiri. Secepat kilat ia menidurkan Riana dan menutupinya dengan selimut, tepat ketika dua perawat memasuki kamar dan menyalakan lampu.

“Ada apa?” Tanya salah satu perawat sambil mendekat ke tempat tidur dan memeriksa nadi pasiennya.

“Entahlah, Sus, ia tiba-tiba histeris ketika sedang bermain dengan phantom itu,” bisiknya.

“Ia tertidur rupanya,” kata perawat satu lagi lalu tersenyum padanya.

“Anda Riana bukan? Baiklah kami tinggal dulu, nanti kalau ada apa-apa silakan tekan bel.”

“Terimakasih, Sus. Saya akan menjaganya beberapa jam lagi.”

Ia mendekati tempat tidur setelah perawat itu pergi.

“Maaf, Sis, aku sedang bosan di dalam sini. Biarkan aku keluar dan gantikanlah aku untuk beberapa hari, okay? Mmm… atau untuk selamanya? Hihihihihihi……..”

Sinta terkikik-kikik lalu segera meninggalkan Rumah Sakit Jiwa itu. Tak lupa ia mengembalikan phantom rusak dengan tempat tidur beroda yang tadi dipinjamnya diam-diam.

********************

words: 401

[BeraniCerita #4] New Life, The Sequel

Jakarta, 20 Januari 2013

“Kamu yakin dengan keputusanmu?”

“Aku gak punya pilihan bukan?”

“Selalu ada pilihan, Sayang. It’s depends on you.”

“Bagiku tak ada pilihan, Ann. Aku terjebak. Aku gak bahagia!”

Diam. Hanya hela napas panjang yang saling bersautan.

“Orang tuamu tahu akan hal ini?”

“Orang tuaku sudah membuangku! Aku bukan lagi anak mereka!”

Oh, Dear, I’m sorry about that.”

It’s ok. Resiko ini sudah ku ambil.”

“Tidakkah kamu mau mempertimbangkannya lagi?”

Hey, it’s my life! Tak seorangpun bisa mengaturku! No one! Even you, Ann!”

“Jangan marah. Aku hanya minta kamu pertimbangkan lagi. Ini… ini sebuah keputusan besar. Aku gak ingin kamu menyesal nanti.”

“Kamu tahu, aku sudah memimpikannya sejak umurku masih lima tahun! Begitu lamanya aku menderita. Aku tersiksa, Ann, ini jalan satu-satunya menuju kebahagianku!”

Anne menatap wajah sahabatnya dengan penuh kasih sekaligus sedih.

Sorry, aku ingin bertanya sesuatu. Tidakkah kamu takut … takut dosa?”

Oh, shit, Ann! Jangan mulai lagi! I just wanted to ask you, you coming with me or not?”

“Tapi….”

Just answer!”

“Baiklah, aku akan menemanimu. Aku sayang kamu. You’re just the best friend I have.”

Thanks, Ann. I really appreciate it.”

Bangkok, 04 Maret 2013

“Kapan jadualnya?”

“Lusa, pukul tiga. Aku takut.”

“Aku tahu. Mari kupeluk.”

Bangkok, 05 Maret 2013

“Kamu sedang apa?”

Diam tak ada jawaban.

Dear, what are you doing? You have to do some medical test right now. “

“Aku sedang berdoa. I haven’t done since I knew that I was sick.”

Oh, that’s nice, Dear. Never too late to pray.”

Bangkok, 06 Maret 2013.

14.00  @Hospital Room

“Salahkah apa yang akan aku lakukan ini, Ann?”

Ia menggenggam tangan sahabatnya yang lebih dingin dari suhu kamar.

“Aku gak tahu. Ini hidupmu, kamu bebas menorehkan apapun dalam lembarannya. Dengan tinta emaskah atau tinta hitamkah? Hanya kamu yang berhak, no one else, Dear.”

Oh, I’m very scared. I’m cold.”

Sshh, here, let me hug.”

14.55 @Operating Room

Ann, help me! No! Don’t do this to me! Go away, Doc! Don’t do this to me! Anne, help me…..God, help me…. Noooo!!!

15.38 @Hospital Room

Dear…?”

“Ann, oh, Ann, what happened to me? Did they do it? Oh, aku gak mau, Ann! Aku gak mau melakukannya…aku…”

“Ssshh, don’t cry. Mereka belum melakukan apapun padamu. Kamu histeris luar biasa. Mereka terpaksa menidurkanmu.”

“Ann…? Aku…aku belum berubah? Aku masih seperti yang dulu?”

“Ya, Ellen, kamu masih seperti yang dulu.”

Ellen bangkit dari pembaringannya dan memeluk sahabatnya erat-erat dengan air mata bercucuran.

“Mulai sekarang, panggil aku Dony, Ann.”

*******************

words: 397

[BeraniCerita #3] Tak Kusangka!

changing room

Antrian itu cukup panjang, tapi Rio tak bosan menemaniku mengantri. Obrolan jenakanya membuatku betah meski harus mengantri di belakang lima perempuan lain di depanku. Ah, betapa menyenangkannya lelaki yang baru dekat denganku tiga bulan ini.

“Kamu gak bosan kan?” Tanyaku sedikit cemas.

“Kalo nemenin kamu gak bakalan bosan. Tapi kalo nemenin nyonya yang itu tuh, baru aku bosaaaan,” bisiknya sembari mengerling ke seorang wanita bertampang judes dengan tiga potong pakaian dalam pelukannya. Aku tertawa tertahan.

Akhirnya tiba juga giliranku.

“Aku masuk dulu yaa,” ujarku pada Rio. Pria itu mengikutiku masuk.

“Aku ikut,” katanya. Tentu saja wajahku merah padam karena malu.

“Jangan, kamu tunggu sini aja,” bisikku.

“Ah, cewek di sana tadi juga dianterin cowoknya kok,” bujuknya. Perempuan-perempuan di sekelilingku mulai melirik ke arah kami. Demi tak mau membuat keributan maka aku ijinkan ia masuk. Memang betul kami sudah berpacaran tapi tidak berarti ia boleh melihat tubuhku kan?

“Balikkan badanmu,” gerutuku kesal. Rio tertawa lalu membalikkan badannya. Secepat kilat aku melepas bajuku lalu mencoba blouse cantik itu. Tak sempat lagi aku bercermin, bahkan tak berani aku berpaling dari punggungnya. Begitu selesai, aku membalikkan badannya ke arahku.

“Nah, cantik gak?” Tanyaku sambil bergaya di hadapannya.

“Cantik…cantik banget,” puji Rio. Aku tersipu malu.

“Tapi…tapi…apa itu?” Tanya Rio sembari menunjuk sesuatu di dadaku. Aku menunduk dan seketika memekik.

“Apa itu, Ellen?” Desak Rio. Tergesa aku mencoba merapikan bra ku yang miring dan menyembul dengan aneh. Karena panik busa penyumpalnya malah meluncur jatuh.

“Kau…?” Rio merenggut blouse itu dari tubuhku. Maka terpampanglah semua hal yang bisa dilihat olehnya.

“Ellen?” Desis Rio. Sedetik kemudian wajahnya merah padam.

“Tak kusangka, kamu penipu!” Geramnya lalu meninggalkanku dengan wajah jijik.

Akupun menangis seperti perempuan, meski sesungguhnya aku adalah laki-laki.

*****************

words: 280

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 83 pengikut lainnya.