Arsip Kategori: Fiksi Kilat

[BeraniCerita #11]: Kembalinya Cincin Ibu

YSL

Lha kok bukan gambar cincin? :mrgreen:

Sepasang betis putih mulus dengan stiletto keperakan meluncur turun dari sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik.

“Tunggu sini ya, Pak. Saya tidak lama,” ujarnya pada sopirnya yang membukakan pintu mobil. Sejenak ia berdiri menatap jalan sempit yang ada di depannya, mencoba menata nyalinya. Tangannya mengerudungkan scarf Yves Saint Laurent di atas kepalanya, kemudian memakai kacamata hitam bermerk sama. Seperti teringat sesuatu, ia merogoh tas Hermes nya, memastikan keberadaan sebuah kotak kecil berlapis beludru. Oh, masih ada, batinnya lega.

Siang yang membara, bahkan angin pun enggan bertiup. Jalan kampung begini sepi, mungkin penghuninya lebih senang mendekam di dalam rumah menghindari panas dan debu. Ia merasa lega karenanya, tak perlu seorang pun tahu akan keberadaannya.

Langkahnya kemudian terhenti pada sebuah rumah kecil yang catnya nyaris mengelupas semua. Pintunya setengah terbuka, seperti mengharap embusan angin untuk meredakan panas yang membakar. Tanpa mengetuk pintu, ia masuk dan mendapati seorang perempuan paruh baya sedang tiduran di dipan lapuk, menonton televisi tua yang telah buram.

“Ibu…,” panggilnya lirih. Air matanya nyaris tumpah. Lima tahun ia pergi tanpa pamit, tanpa pernah berkabar. Ingatkah sang bunda padanya? Ia menurunkan kerudung dan membuka kacamatanya.

Perempuan tua itu bangkit, memandang terkejut pada wanita mewah di hadapannya.

“Ini aku, Bu,” katanya dengan suara tercekat. Segera ia bersimpuh dan menangis di pangkuan ibunya. Perempuan itu terpana, sesaat kemudian iapun turut menangis bersama anaknya.

“Maafkan aku, Ibu,” tangisnya menyayat. Ibunya tak mampu berkata-kata selain mengelus rambut anaknya dengan takut-takut. Rambut sehalus sutra dan seharum melati.

Setelah reda tangisnya, ia mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya. Membukanya dan mengeluarkan sebentuk cincin emas belah rotan tua, emas pasar dengan kadar paling rendah.

“Ini Bu, cincin yang…yang pernah aku curi,” isaknya. Ia mengambil tangan ibunya, menyusupkan cincin itu ke jari manisnya. Cincin yang pernah ia gadaikan untuk ongkos merantau ke ibukota, yang hanya seharga satu kali tiket bus dan dua kali makan di Jakarta.

Sang Ibu menatap haru anaknya, memandangi jari manisnya yang kini berhias satu-satunya perhiasan yang pernah ia miliki seumur hidupnya.

Namun kemudian matanya nanar menatap pesawat televisi. Sosok wajah cantik yang sejak tadi disiarkan itu mirip sekali dengan anaknya. Wanita yang dikabarkan menjadi simpanan seorang politikus.

“Kau sudah bosan hidup susah, Nak?” Bisiknya nelangsa.

****************

Words: 363

Gambar pinjam Google ;)

[BeraniCerita #10]: Forbidden Love (3)

Ayah Liza keluar dari ruang kerjanya sambil mengacungkan sepucuk surat.

“Liza,” katanya, “Aku sedang mencarimu. Masuklah ke ruang kerjaku.”

Liza mengikuti ayahnya memasuki ruang kerja, dan ia menduga bahwa apa yang akan disampaikan oleh ayahnya tentu berhubungan dengan surat yang dipegangnya. Mereka duduk berdua saling berhadapan. Liza menyusun kata-kata dalam kepalanya untuk memberikan penjelasan yang tepat.

Namun semua buyar ketika ayahnya mengeluarkan tumpukan surat merah muda dari laci meja kerjanya.

“Apa ini?” Tanya ayahnya dingin. Bibir Liza gemetar.

“Tapi Liza tak pernah mengirimkannya, Pa,” sahutnya lirih.

“Mengirimkannya atau tidak tetap saja tidak patut kamu menulis ini!” Bentak ayahnya.

“Siapa Bowo?” Lanjut ayahnya masih dengan amarah.

“Gu…guru matematika,” jawab Liza menahan tangis.

“Kamu…sungguh tidak pantas!”

“Tapi…tapi Liza mencintainya, Pa.”

“Cinta? Tahu apa kamu soal cinta, hah? Kamu baru delapan tahun, Liza!”

Pecahlah tangis Liza.

words: 146

Gambar pinjam dari Google :)

[BeraniCerita #09]: Camelia

snow white

“Psst, dia sudah pulang. Tumben sore,” bisik tetangga kepada tetangganya.

“Iya, sejak kecelakaan itu dia selalu pulang malam,” sahut tetangganya. Keduanya langsung terdiam ketika Darto membuka pagar dan memasukkan mobilnya.

“Mari, Bu,” sapa Darto ketika menutup pagar. Tetangganya mengangguk lalu membuang muka. Darto tak peduli. Ia masuk rumah dan langsung ke kamarnya.

“Ah, Camelia, aku pulang. Hmm, cantik sekali kau hari ini,” puji Darto sambil membuka kemejanya. Ditatapnya tanpa berkedip wajah cantik yang selalu tersenyum itu. Hari ini gaunnya berwarna ungu muda. Camelia selalu cantik dengan baju apapun. Itulah sebab Darto sangat memujanya.

“Ini hari yang melelahkan, Sayang. Melihatmu, hilang sudah penatku,” bisik Darto pedih. Ia memeluk Camelia dan air matanya mengalir turun. Mannequin itu tetap tersenyum.

words: 117

Gambar: Google

[BeraniCerita #08]: Lipstik Merah

tumblr_lr4odrYaCk1qmrtwjo1_500_large

Jantung Sinta berdebar keras ketika membuka pintu kamar tidurnya dan mendapati secangkir teh dengan bekas lipstik merah menyala. Dengan tangan gemetar ia mengambil cangkir itu dan mengamatinya. Wajahnya menahan rasa jijik yang amat sangat. Jadi benar, benar rupanya gosip itu, bisik hatinya galau.

Dengan marah ia membuka kamarnya dan menghambur keluar.

“Irfaaaaan!” Teriaknya marah sambil menangis. Tak ada jawaban.

“Irfaaan!”

Suaminya tergopoh-gopoh keluar dari kamar mandi.

“Apa ini?” Tanya Sinta sambil mengacungkan cangkir berlipstik itu di wajahnya.

“Itu…ehh….”

“Aku benci!” Teriak Sinta lalu membanting cangkir itu.

Irfan tak mampu berkata-kata selain menghapus sisa lipstik merah dari bibirnya.

*************

words: 97

[BeraniCerita #6] Nomor Sepuluh

Tak perlu waktu lama, Rino akhirnya sampai di rumah bergaya Jawa kuno yang cukup besar. Halamannya luas dengan beberapa pohon beringin. Tampaknya rumah ini adalah rumah turun-temurun.

Tok, tok! Rino mengetuk pintu.

Tak lama pintu dibuka. Rino terkejut melihat sosok yang berada di hadapannya.

“Lho, Tina? Kamu…kok kamu di sini? Ngapain?” Tanya Rino tak percaya. Perempuan di hadapannya tak kalah terkejut dan langsung panik.

“Aku eh…kamu…kamu sendiri ngapain ke sini?” Tanyanya gelagapan. Rino masih tak percaya memandang Tina yang hanya mengenakan daster tipis, seolah berada di rumahnya sendiri. Rino melongok ke belakang tubuh Tina, mencoba melongok siapa yang ada di dalam rumah kuno ini.

“Aku mau ketemu Eyang, untuk mencari tahu ke mana kamu pergi selama ini. Nyatanya kamu malah ada di sini. Ngapain, Tina? Bagaimana bisa?” Jawabnya tak habis pikir.

Tina bergerak-gerak gelisah. Melihat gelagat kekasihnya yang aneh Rino berusaha menerobos masuk melalui pintu jati kokoh itu. Namun Tina mengahalangi dengan tubuhnya.

“Jangan, Rino! Tak ada siapapun di dalam. Pergilah, besok kita bicara,” cegah Tina panik. Rino memandangnya tajam, setajam silet.

“Ngapain kamu di sini? Orang tuamu kelabakan mencarimu. Ayo, ikut aku pulang!” Rino menarik lengan Tina mengajaknya pergi.

“Aku gak bisa, Rino,” tolak Tina. Dikibaskannya tangan Rino dengan kasar.

“Kamu…? Mengapa kamu jadi aneh begini? Apa yang terjadi, Tina? Ayo ikut aku!”

“Tidak. Kamu pulang saja, aku tetap di sini. “

“Bagaimana bisa kamu mau tetap di sini? Pengikut Eyang banyak, kamu gak pantas tinggal di sini. Lagipula, mau apa kamu di sini sampai gak pulang-pulang, hah?”

“Kamu gak ngerti. Aku sudah menjadi istrinya,” sahut Tina dingin seraya menunjukkan cincin emas besar 24 karat di jari manisnya. Rino terbelalak. Wajahnya merah padam, seluruh tubuhnya bergetar menahan amarah. Angin dingin dan desau dedaunan beringin tak mampu mendinginkan darahnya.

“Sialan kau, Eyang Sumur!” Teriaknya menggelegar.

*************

 Word: 294

Ini adalah kisah fiktif. Apabila ada kesamaan nama, tokoh, dan peristiwa maka itu hanyalah kebetulan belaka. Ciyus!

[Berani Cerita #05]: Switch

Sepertinya suasana malam ini tidak begitu bersahabat bagi Riana. Angin yang dingin membuat dia memaki dirinya sendiri kenapa lupa membawa jaketnya yang tertinggal di mobil. Lorong yang tidak terlalu terang karena beberapa lampu mulai dimatikan. Dan kenapa tidak ada orang bersliweran? Padahal masih jam 8 malam.

“Nah, sebentar lagi sudah sampai di kamar Sinta.” Riana mencoba menghibur diri sendiri karena dirinya masih merinding. Cepat-cepat langkahnya diayun, sampai akhirnya dia berhenti tiba-tiba saat melihat sebuah tempat tidur dorong melaju cepat ke arahnya.

“Heiiii!” Teriaknya kaget. Tubuhnya langsung merapat pada dinding agar tidak terserempet.

“Hihihihihihihi….” Sosok berseragam hijau muda yang mendorong tempat tidur kosong itu tertawa melengking di balik maskernya, membuat bulu kuduk Riana meremang. Cepat-cepat Riana melangkahkan kaki menuju kamar Sinta. Agak kesal juga ia mengapa Sinta memintanya datang malam-malam begini. Jika tak mendengar sedu sedannya sudah pasti ia takkan mau datang.

Kamar Sinta sudah gelap. Sudah tidurkah? Batin Riana. Tanpa mengetuk pintu ia membuka kamar itu perlahan.

“Sin?” Panggilnya lirih. Tak ada jawaban. Riana melihat saudara kembarnya itu meringkuk di tempat tidur. Seluruh tubuhnya tertutup selimut. Kesal sekali Riana dibuatnya. Bagaimana tidak? Tadi ketika Sinta menelpon ia tengah menikmati makan malam berdua dengan Budi. Dan kini, setelah terbirit-birit karena kuatir sesuatu terjadi dengan kembarannya, tenyata Sinta malah tidur dengan pulasnya.

“Hei, pulas benar kau tidur. Bangun, Non!” Gerutu Riana seraya duduk di tepi tempat tidur. Tak ada suara. Dengan kesal Riana menyibak selimut itu. Seketika ia menjerit. Sebuah boneka peraga anatomi yang sudah setengah rusak terbaring di hadapannya. Riana menjerit tanpa mau berhenti. Seseorang membekap mulutnya dan memukul tengkuknya hingga pingsan. Ia segera melucuti baju Riana dan menggantinya dengan bajunya sendiri. Secepat kilat ia menidurkan Riana dan menutupinya dengan selimut, tepat ketika dua perawat memasuki kamar dan menyalakan lampu.

“Ada apa?” Tanya salah satu perawat sambil mendekat ke tempat tidur dan memeriksa nadi pasiennya.

“Entahlah, Sus, ia tiba-tiba histeris ketika sedang bermain dengan phantom itu,” bisiknya.

“Ia tertidur rupanya,” kata perawat satu lagi lalu tersenyum padanya.

“Anda Riana bukan? Baiklah kami tinggal dulu, nanti kalau ada apa-apa silakan tekan bel.”

“Terimakasih, Sus. Saya akan menjaganya beberapa jam lagi.”

Ia mendekati tempat tidur setelah perawat itu pergi.

“Maaf, Sis, aku sedang bosan di dalam sini. Biarkan aku keluar dan gantikanlah aku untuk beberapa hari, okay? Mmm… atau untuk selamanya? Hihihihihihi……..”

Sinta terkikik-kikik lalu segera meninggalkan Rumah Sakit Jiwa itu. Tak lupa ia mengembalikan phantom rusak dengan tempat tidur beroda yang tadi dipinjamnya diam-diam.

********************

words: 401

[BeraniCerita #4] New Life, The Sequel

Jakarta, 20 Januari 2013

“Kamu yakin dengan keputusanmu?”

“Aku gak punya pilihan bukan?”

“Selalu ada pilihan, Sayang. It’s depends on you.”

“Bagiku tak ada pilihan, Ann. Aku terjebak. Aku gak bahagia!”

Diam. Hanya hela napas panjang yang saling bersautan.

“Orang tuamu tahu akan hal ini?”

“Orang tuaku sudah membuangku! Aku bukan lagi anak mereka!”

Oh, Dear, I’m sorry about that.”

It’s ok. Resiko ini sudah ku ambil.”

“Tidakkah kamu mau mempertimbangkannya lagi?”

Hey, it’s my life! Tak seorangpun bisa mengaturku! No one! Even you, Ann!”

“Jangan marah. Aku hanya minta kamu pertimbangkan lagi. Ini… ini sebuah keputusan besar. Aku gak ingin kamu menyesal nanti.”

“Kamu tahu, aku sudah memimpikannya sejak umurku masih lima tahun! Begitu lamanya aku menderita. Aku tersiksa, Ann, ini jalan satu-satunya menuju kebahagianku!”

Anne menatap wajah sahabatnya dengan penuh kasih sekaligus sedih.

Sorry, aku ingin bertanya sesuatu. Tidakkah kamu takut … takut dosa?”

Oh, shit, Ann! Jangan mulai lagi! I just wanted to ask you, you coming with me or not?”

“Tapi….”

Just answer!”

“Baiklah, aku akan menemanimu. Aku sayang kamu. You’re just the best friend I have.”

Thanks, Ann. I really appreciate it.”

Bangkok, 04 Maret 2013

“Kapan jadualnya?”

“Lusa, pukul tiga. Aku takut.”

“Aku tahu. Mari kupeluk.”

Bangkok, 05 Maret 2013

“Kamu sedang apa?”

Diam tak ada jawaban.

Dear, what are you doing? You have to do some medical test right now. “

“Aku sedang berdoa. I haven’t done since I knew that I was sick.”

Oh, that’s nice, Dear. Never too late to pray.”

Bangkok, 06 Maret 2013.

14.00  @Hospital Room

“Salahkah apa yang akan aku lakukan ini, Ann?”

Ia menggenggam tangan sahabatnya yang lebih dingin dari suhu kamar.

“Aku gak tahu. Ini hidupmu, kamu bebas menorehkan apapun dalam lembarannya. Dengan tinta emaskah atau tinta hitamkah? Hanya kamu yang berhak, no one else, Dear.”

Oh, I’m very scared. I’m cold.”

Sshh, here, let me hug.”

14.55 @Operating Room

Ann, help me! No! Don’t do this to me! Go away, Doc! Don’t do this to me! Anne, help me…..God, help me…. Noooo!!!

15.38 @Hospital Room

Dear…?”

“Ann, oh, Ann, what happened to me? Did they do it? Oh, aku gak mau, Ann! Aku gak mau melakukannya…aku…”

“Ssshh, don’t cry. Mereka belum melakukan apapun padamu. Kamu histeris luar biasa. Mereka terpaksa menidurkanmu.”

“Ann…? Aku…aku belum berubah? Aku masih seperti yang dulu?”

“Ya, Ellen, kamu masih seperti yang dulu.”

Ellen bangkit dari pembaringannya dan memeluk sahabatnya erat-erat dengan air mata bercucuran.

“Mulai sekarang, panggil aku Dony, Ann.”

*******************

words: 397

[BeraniCerita #3] Tak Kusangka!

changing room

Antrian itu cukup panjang, tapi Rio tak bosan menemaniku mengantri. Obrolan jenakanya membuatku betah meski harus mengantri di belakang lima perempuan lain di depanku. Ah, betapa menyenangkannya lelaki yang baru dekat denganku tiga bulan ini.

“Kamu gak bosan kan?” Tanyaku sedikit cemas.

“Kalo nemenin kamu gak bakalan bosan. Tapi kalo nemenin nyonya yang itu tuh, baru aku bosaaaan,” bisiknya sembari mengerling ke seorang wanita bertampang judes dengan tiga potong pakaian dalam pelukannya. Aku tertawa tertahan.

Akhirnya tiba juga giliranku.

“Aku masuk dulu yaa,” ujarku pada Rio. Pria itu mengikutiku masuk.

“Aku ikut,” katanya. Tentu saja wajahku merah padam karena malu.

“Jangan, kamu tunggu sini aja,” bisikku.

“Ah, cewek di sana tadi juga dianterin cowoknya kok,” bujuknya. Perempuan-perempuan di sekelilingku mulai melirik ke arah kami. Demi tak mau membuat keributan maka aku ijinkan ia masuk. Memang betul kami sudah berpacaran tapi tidak berarti ia boleh melihat tubuhku kan?

“Balikkan badanmu,” gerutuku kesal. Rio tertawa lalu membalikkan badannya. Secepat kilat aku melepas bajuku lalu mencoba blouse cantik itu. Tak sempat lagi aku bercermin, bahkan tak berani aku berpaling dari punggungnya. Begitu selesai, aku membalikkan badannya ke arahku.

“Nah, cantik gak?” Tanyaku sambil bergaya di hadapannya.

“Cantik…cantik banget,” puji Rio. Aku tersipu malu.

“Tapi…tapi…apa itu?” Tanya Rio sembari menunjuk sesuatu di dadaku. Aku menunduk dan seketika memekik.

“Apa itu, Ellen?” Desak Rio. Tergesa aku mencoba merapikan bra ku yang miring dan menyembul dengan aneh. Karena panik busa penyumpalnya malah meluncur jatuh.

“Kau…?” Rio merenggut blouse itu dari tubuhku. Maka terpampanglah semua hal yang bisa dilihat olehnya.

“Ellen?” Desis Rio. Sedetik kemudian wajahnya merah padam.

“Tak kusangka, kamu penipu!” Geramnya lalu meninggalkanku dengan wajah jijik.

Akupun menangis seperti perempuan, meski sesungguhnya aku adalah laki-laki.

*****************

words: 280

Pujangga Cinta

Lagu irama Melayu mendayu-dayu yang terdengar dari rumah Bang Zulham membuat langkah Ashraff terhenti. Ah, mengapa tepat benar lagu itu dengan perasaan hatiku? Gumamnya lirih. Kepalang basah, kakinya telah pula masuk halaman Bang Zulham.  Maka ia pun berseru mengucap salam.

“Assalammualaikum, Bang!” Ditingkah lagu Elia Kadam yang menyesak itu, tentu tak terdengar salam yang diucap Asraff. Maka ia pun berseru sekali lagi.

Bang Zulham yang sedang meminyaki rambutnya dengan minyak kelapa campur odo kolonyo agar wangi, sejenak menghentikan kegiatannya. Samar-samar terdengar salam dari luar. Benarlah, ada tamu nampaknya. Maka sambil meneriakkan salam balasan, Bang Zulham segera menyelesaikan jambul ombak tebalnya. Lalu ia rapikan krah bajunya yang setinggi telinga. Sejenak ia elus jambang tebalnya. Sempurna! Ia segera menyambut tamunya.

“Ah, kau rupanya, Asraff! Masuk, masuklah,” sambut Bang Zulham.

“Haha…mengapalah kau bermuram? Seperti tiada buang air seminggu rupamu itu hahahaha….,” goda Bang Zulham. Asraff tersenyum kecut. Si Tuan Rumah tak sedikitpun mau mengecilkan volume tape nya, hingga rasa hati Asraff kian merana.

“Nah, ada apa kau datang? Tiada jauhlah pasti urusan perempuan, bukan?”

Asraff tersipu. Pandai sekali laki-laki ini menebak urusan percintaan. Tak salah maka ia selalu berjaya dalam urusan yang satu ini. Pujangga Cinta orang kampung sini menyebutnya.

“Iya, Bang. Laila tiada lagi mau menjumpaiku,” desah Asraff.

“Laila? Laila anak Cik Noor itu?” tanya bang Zulham ragu. Asraff mengangguk-angguk.

“Ah, Laila. Memang manis anak itu, hei aku tiada tahu jika kau menjalin asmara dengannya?”

“Baru tiga bulan saya dekat dengannya. Itu pun diam-diam sahaja, karena Mak Cik selalu awasi Laila. Apa yang harus saya buat, Bang. Sekarang Laila tiada lagi mau jumpa. Setiap saya lewat depan rumahnya, ia menghilang ke dalam,” keluh Asraff. Rupanya sakit cinta membuatnya tak berdaya. Bila tak malu, tentu air mata sudah turun ke pipi.

“Hmm, Laila…Laila… Gadis rupawan elok menawan. Banyak kumbang mengitari, lakunya jinak-jinak merpati,” gumam Bang Zulham. Tangannya yang penuh cincin batu mengusap-usap janggutnya.

“Bagaimana, Bang?” desak Asraff tak sabar melihat Bang Zulham malah bersyair.

“Kau sungguh cinta padanya, Bujang?”

“Iyalah, Bang. Rasanya hanya dia gadis yang membuat saya jungkir balik begini.”

“Tapi Bujang, menurut pengalamanku jika anak gadis tiada lagi mau jumpa, itu berarti ia sudah tiada cinta. Lebih baik kau cari yang lain sahaja.”

Asraff terperanjat mendengar jawaban Bang Zulham. Tak pernah laki-laki beristri empat itu memberi nasihat demikian. Dahulu saja Kasran, sahabatnya, diberi semangat mati-matian sehingga akhirnya berjaya menyunting Puti. Mengapa kini Bang Zulham menyerah?

“Dia masih cinta saya, Bang. Hanya sahaja Mak Cik tiada merestui kami.”

“Nah, itu pula. Mengapa tiada kau dekati sahaja Aida? Parasnya lebih elok, tubuhnya lebih molek, dan orang tuanya lebih bijak.”

“Ah, Abang ini bagaimana? Saya hanya cinta sama Laila,” keluh Asraff.

“Sedarlah, Bujang. Kau baru menjalin asmara tiga bulan, jika orang tuanya pun tiada setuju mengapa pula kau kejar-kejar? Hidupmu tiada akan bahagia, malah nanti sial menimpa,” nasehat Bang Zulham.

Asraff tercenung. Ia memang cinta Laila, tapi bila tak ada restu untuk apa diteruskan? Mungkin benar apa kata Bang Zulham. Dan ia takut tertimpa sial.

“Baiklah, bila itu saran Abang. Saya tiada akan lagi kejar Laila, mungkin ia bukan jodoh saya,” gumam Asraff lalu beranjak pergi. Bang Zulham tertawa lalu menepuk-nepuk bahu Asraff.

“Yakinlah kau, Bujang, perempuan bukan Laila sahaja. Satu dua minggu kau akan merana karena sakit cinta. Tapi setelah itu, kau akan segera berjaya hahahaha…..”

“Asalammualaikum, Bang,” pamit Asraff lesu.

“Waalaikum salam, Aida menunggumu, Bujang hahahaha…..”

Kau pergi tanpa pesan
Ku nanti tiada datang
Di mana kau kini
Di mana kau kini
Aku tiada berkawan lagi
Aduh…! Aduh..!
Aduh.. duh.. duh..

Apakah kau tak sedar
Janji suci kau patahakan
Di mana ku cari
Di mana ku cari
Aku tiada terdaya lagi
Aduh…! Aduh..!
Aduh.. duh.. duh..

Selesai sudah lagu Elia Kadam. Sekali lagi Bang Zulham berdiri di depan kaca lalu merapikan rambutnya yang telah wangi dan kaku. Badai laut pun takkan menggoyahkan jambulnya.

“Laila pujaankuuu, tunggu Abang di situu. Segala bujang tiada akan berdaya, memberi cinta seperti Abang punya, Sang Pujangga Cinta hahahaha…..”

************

Tahi Lalat (the different ending)

Parasnya sungguh elok menawan ditunjang dengan kulit yang halus langsat. Siapapun akan sulit mengalihkan pandangan ketika melihatnya. Bibirnya merah merekah meski tanpa polesan pewarna. Juwita namanya, Pak Lurah bapaknya, tentu saja Bu Lurah ibunya. Aku sudah mengincarnya sejak lulus sekolah menengah. Dan kini tinggal selangkah untuk bisa memilikinya. Siapa tak girang, mengalahkan sekian banyak pemuda dari segala penjuru kecamatan?

Namun sayang disayang, sesekali kecantikannya menghilang hanya karena sebuah tahi lalat! Tidak, bukan tahi lalatnya, itu tak masalah. Besarnya hanya sebesar kacang hijau, letaknya pun malu-malu agak di bawah dagu. Tapi sehelai rambut yang tumbuh di atasnya, oh sungguh membuatku sesekali hilang rasa! Dulu rambut itu tak begitu nampak (atau aku tak pernah memerhatikan?), namun karena tak pernah dipotong, sekarang panjangnya hampir lima senti. Menjuntai lemas ke bawah, sesekali ikut bergoyang bila ia tertawa. Duuh, entah mengapa itu bisa membuat hasratku terbang menguap melayang-layang!

Lanjut membaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 77 pengikut lainnya.