Arsip Kategori: Iseng Aja

[BeraniCerita #11]: Kembalinya Cincin Ibu

YSL

Lha kok bukan gambar cincin? :mrgreen:

Sepasang betis putih mulus dengan stiletto keperakan meluncur turun dari sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik.

“Tunggu sini ya, Pak. Saya tidak lama,” ujarnya pada sopirnya yang membukakan pintu mobil. Sejenak ia berdiri menatap jalan sempit yang ada di depannya, mencoba menata nyalinya. Tangannya mengerudungkan scarf Yves Saint Laurent di atas kepalanya, kemudian memakai kacamata hitam bermerk sama. Seperti teringat sesuatu, ia merogoh tas Hermes nya, memastikan keberadaan sebuah kotak kecil berlapis beludru. Oh, masih ada, batinnya lega.

Siang yang membara, bahkan angin pun enggan bertiup. Jalan kampung begini sepi, mungkin penghuninya lebih senang mendekam di dalam rumah menghindari panas dan debu. Ia merasa lega karenanya, tak perlu seorang pun tahu akan keberadaannya.

Langkahnya kemudian terhenti pada sebuah rumah kecil yang catnya nyaris mengelupas semua. Pintunya setengah terbuka, seperti mengharap embusan angin untuk meredakan panas yang membakar. Tanpa mengetuk pintu, ia masuk dan mendapati seorang perempuan paruh baya sedang tiduran di dipan lapuk, menonton televisi tua yang telah buram.

“Ibu…,” panggilnya lirih. Air matanya nyaris tumpah. Lima tahun ia pergi tanpa pamit, tanpa pernah berkabar. Ingatkah sang bunda padanya? Ia menurunkan kerudung dan membuka kacamatanya.

Perempuan tua itu bangkit, memandang terkejut pada wanita mewah di hadapannya.

“Ini aku, Bu,” katanya dengan suara tercekat. Segera ia bersimpuh dan menangis di pangkuan ibunya. Perempuan itu terpana, sesaat kemudian iapun turut menangis bersama anaknya.

“Maafkan aku, Ibu,” tangisnya menyayat. Ibunya tak mampu berkata-kata selain mengelus rambut anaknya dengan takut-takut. Rambut sehalus sutra dan seharum melati.

Setelah reda tangisnya, ia mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya. Membukanya dan mengeluarkan sebentuk cincin emas belah rotan tua, emas pasar dengan kadar paling rendah.

“Ini Bu, cincin yang…yang pernah aku curi,” isaknya. Ia mengambil tangan ibunya, menyusupkan cincin itu ke jari manisnya. Cincin yang pernah ia gadaikan untuk ongkos merantau ke ibukota, yang hanya seharga satu kali tiket bus dan dua kali makan di Jakarta.

Sang Ibu menatap haru anaknya, memandangi jari manisnya yang kini berhias satu-satunya perhiasan yang pernah ia miliki seumur hidupnya.

Namun kemudian matanya nanar menatap pesawat televisi. Sosok wajah cantik yang sejak tadi disiarkan itu mirip sekali dengan anaknya. Wanita yang dikabarkan menjadi simpanan seorang politikus.

“Kau sudah bosan hidup susah, Nak?” Bisiknya nelangsa.

****************

Words: 363

Gambar pinjam Google ;)

Lukisan Cinta, Episode 19

Yuuuuk, baca yang maren duluu… :)

ocean-storm-wallpaper

Lanjut membaca

Jidati

Ini sebetulnya gak penting banget siy. Perkara sebuah kata “jidat” yang entah mengapa aku gak suka mendengarnya. Kata ini sebetulnya biasa saja dan tentu sangat familiar ya? Aku aja yang merasa agak aneh untuk mengucapkannya :mrgreen: Di lingkungan kerja, sekolah, di mana-mana kata ini sering diucapkan. Aku males siy cari referensi, apakah kata ini sudah masuk dalam bahasa Indonesia atau belum :mrgreen:

Aku lebih suka menyebutnya “dahi” atau malah “bathuk” sekalian :lol: Nah, ternyata si jidat ini pun sering diucapkan oleh kedua malaikatku. Akupun mengeluarkan aturan untuk menyebut dahi atau kening untuk bagian wajah paling atas yang biasanya lebih lebar daripada bagian yang lain itu :lol:

Tapi dasar anak-anak, semakin dilarang malah semakin sering diucapkan. Bahkan malah disengajain untuk diulang-ulang bila ada aku. Setelah itu mereka pun terbahak-bahak. Jiyan, bandel banget! Di antara kawan-kawan mereka di jemputan pun larangan mengucapkan kata “jidat” ini malah menjadi bahan lelucon. Kedua malaikatku sering sekali meledekku dengan mengatakan ini berulang-ulang. Herannya, aku gak marah malah ikut ngakak bersama mereka :( Gak konsisten blaz! Yah, pura-pura marah siy :P

Sampai malam ini terjadilah obrolan berikut:

Cantik : Bunda, jidat Adek kejedot

Aku     : Hush! Dahi!

(Jendral G tertawa ngakak)

Cantik  : Bunda ini aneh, masa ngomong ji titik-titik gak boleh sih

Aku      : Biarin, kan ada kata yang lebih baik

Cantik   : Besok kalo Adek punya kucing mau Adek kasih nama Jidati. Trus manggilnya Jidati… ck..ck..ck.. sini Jidatiii…

Aku      : Ih, masa nama kucing kayak gitu

Cantik   : Iyaa, trus biar cepet manggilnya Jidat… Jidat….

(Huwahahahaha aku dan Jendral G ngakak bareng, geliii ampek sakit peyut :lol: )

Meski geli setengah mati, aku tetap pura-pura marah. No jidat at home! :mrgreen:

Mama Dedeh

Sebelumnya,

Seluruh warga chocoLand mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian Uje kembali kepada Sang Pencipta. Semoga amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Amien.

Nah, aku mo bercerita, Kawan. Siapa sih yang tak kenal Mama Dedeh? Hampir setiap pagi meski disambi ini itu aku mendengar ceramah Mama Dedeh sekilas-sekilas. Biasa, setiap pagi kekasihku mendengarkan berita olah raga yang disambung acara Mama Dedeh, dan karena sambil mengerjakan banyak hal maka aku tak sempatlah mengganti saluran :D

Betapa kondangnya beliau bukan? Tapi yang membuatku sangat heran dan takjub, pagi ini Mama Dedeh datang berceramah di mushola dekat rumah, tepatnya di blok rumahku! Undangan sudah dibagikan sejak seminggu yang lalu. Aku masih tak percaya. Mama Dedeh? Mau datang ke kompleksku yang di Jakarta Gembrobyos dan Bogor Minggir jauh ini? Yang musholanya kecil karena hanya untuk penghuni blok **?

Tapi ternyata benar! Tadi pagi Nenek sudah di mushola sejak jam 6. Acara pun didahului dengan pengajian. Mama Dedeh datang jam 8.30 dan berceramah hingga jam 11.00. Top ya? Sebetulnya aku ingin ikutan, tapi sayangnya aku tak punya dan tak bisa berhijab (ditambah lagi buta huruf) :(

Semoga, para ustad dan ustadzah benar-benar fokus pada tujuan mulia mereka. Rela dan bersedia datang kepada siapapun yang mengundang. Tanpa peduli bayaran, tempat, dan siapa yang mengundang. Dan semoga apa yang mereka sampaikan adalah yang bermakna bagi seluruh umatnya tanpa mengecilkan sesamanya yang berbeda. Karena sesungguhnya, apa yang mereka kerjakan dengan ikhlas dan benar adalah tabungan untuk hari akhir :)

Bisikan Ghaib

suburman

Gambar pinjam dari Google :D

Hari ini entah mengapa malas sekali ngantor. Maka akupun memutuskan untuk sejenak meliburkan diri :mrgreen: Menjelang siang, ketika perut mulai berontak akupun melangkahkan kaki menuju warung Yu Minah. Yaah, sudah lama sekali aku tak singgah ke sana. Sebetulnya kesal sekali aku pada Yu Minah. Bagaimana tidak, dengan sewenang-wenang ia menaikkan harga rujaknya tanpa pemberitahuan. Setelah naik menjadi tiga belas ribu, tiba-tiba sekarang menjadi enam belas ribu. Tapi berhubung setiap tanggal-tanggal begini (batja: tanggal tuwa) aku jadi vegetarian, ya wislah aku ke warung Yu Minah saja :P

Setelah menyerukan salam, aku mendaratkan diri di bangku favorit dekat cobek Yu Minah yang segede gaban itu.

“Buatkan rujak ulek ya, Yu. Pedes tapi gak banget,” ujarku segera mengambil koran yang tergeletak di samping cobek Yu Minah. Asli, sengaja kulakukan ini untuk menghindari cipika cipikinya Yu Minah yang basah itu :mrgreen:

“Jeng, kok sekarang jarang mampir sini to? Apa rujak saya ini sudah kehilangan pesona? Sudah ndak enak lagi?” tanya Yu Minah sedikit merajuk. Aku jadi sedikit merasa bersalah :P

“Bukan gitu, Yu. Jelas rujak sampeyan ini masih paling top sak mBogor sini, tapi karena mahal jadi males aku,” godaku. Yu Minah menghentikan ulekannya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Refleks aku mundur 30 cm.

“Sampeyan ini gak paham rupanya. Dalam setiap usaha kita mesti memperhitungkan adanya biaya produksi. Tahun lalu grafik pendapatan saya hampir menyerupai garis datar. Itu berarti ndak ada peningkatan. Nah, untuk meningkatkan revenue di tahun ini, maka salah satu usahanya adalah menaikkan harga jual, Jeng. Biaya produksi jelas naik, contoh gula jawa, buah-buahan, trasi, kacang. Lha kalo harga ndak ikut naik yo morat-marit saya nanti. Jadi sampeyan harus maklum, Jeng. Lagipula porsinya kan saya tambahin dikit biar mantep!”

Aku terpana mendengar jawaban Yu Minah. Dia ini bakul rujak atau akuntan pabrik batu batre to? Akupun melanjutkan membolak-balik koran daripada menanggapi ocehan yang bukan bidangku. Dari dalam terdengar TV Yu Minah menyiarkan berita infotainment. Seorang anggota DPR yang sedang heboh dengan perceraiannya. Akupun tertarik bergosip :twisted:

“Yu, kayaknya jadi anggota dewan itu ada kutukannya ya?”

Yu Minah yang sedang memotong-motong buah menatapku heran.

“Maksudnya?”

“Lha itu, coba sampeyan hitung Yu, ada berapa artis yang jadi anggota dewan terutama wanita, bercerai dengan suaminya? Trus kalo yang pria terlibat kasus syahwat. Belum lagi tergoda proyek atau obyekan. Padahal mungkin sebelum jadi anggota dewan mereka ini bisa jadi baik-baik aja lho.”

Yu Minah tertawa geli.

“Sampeyan ini mengada-ada, Jeng. Tahu darimana kalo mereka baik-baik aja sebelum jadi anggota dewan? Saya bukannya mau menghakimi, tapi godaan harta, tahta dan syahwat itu sifat dasar manusia, Jeng. Tinggal ada kesempatan atau tidak. Nah, mungkin saja ketika masuk sana sisi gelap itu tersalurkan? Satu orang berbuat, maka yang lain mengikuti karena itu dianggap hal biasa dan sah. Ikut arus. Kalo beda sendiri nanti malah ndak populer, dijauhi, dimusuhi. Sama kalo anak-anak itu pada tawuran, nek sendiri mana berani? Tapi begitu keroyokan pada ngikut to? Itu trend , Jeng! “

Tuh kan, Yu Minah ini kalo dipancing satu kalimat aja menanggapinya bisa berkilometer kalimat.

“Wah, parah sampeyan, Yu. Itu menuduh namanya. Kalo aku kan curiganya ada kutukan. Itu lebih mistis Yu, gak bisa dibuktikan, gak ada pasalnya. Kalo menuduh itu bisa kena pasal pencemaran nama baik, Yu.”

Yu Minah yang sudah mulai membungkus rujakku mendadak pucat.

“Waduh, iya ya, Jeng? Urusan perdukunan saja sekarang jadi pembahasan anggota dewan jeh. Wong orang gak beres yang selalu dapat bisikan ghaib aja kok diurusi. Kurang gawean to?”

Nah, nah, pembicaraannya sudah merembet ke mana-mana. Akupun cepat-cepat berdiri sebelum obrolan ini ngelantur gak jelas. Berita basi kalo di tangan Yu Minah bisa naik daun lagi nanti. Yu Minah mengangsurkan bungkusan rujak padaku.

“Sst, Yu, aku baru saja dapat bisikan ghaib,” bisikku. Yu Minah celingukan kiri kanan.

“Bisikan apa, Jeng? Siapa yang mbisiki?” Tanyanya sambil berbisik dan bergidik.

“Dari Eyang Ghaib, Yu. Katanya, hari ini rujaknya gratis,” bisikku lalu kabur.

“Welhadalaaahhh, sampeyan ini, Jeeeng! Ndak gratiiisss, enam belas ribu siniiii!” Teriaknya.

:mrgreen:

Bak Sinetron

Obrolan di malam hari setelah makan malam.

Jendral G : Bundaa, tadi siang di sekolah ada adegan kayak sinetron di sekolah Kakak.

Aku            : Hah? Emang adegan apa, Kak?

Jendral G : Pokoknya lucu deh… (Jendral G emang gak banyak bicara jadi susah kali mo cerita :D )

Aku            : Ceritain dong, Kak.

Cantik       : Aoohh, Adek tau ceritanya. Gini Bundaa….

Jendral G : Eh, biar Kakak aja yang cerita. Kan temen Kakak naksir anak kelas 4B, Bundaa. Temen Kakak namanya Ricardo, nah yang ditaksir itu namanya Cantika.

Aku            : Trus?

Jendral G : Nah, Kakak juga gak terlalu tau soalnya Kakak baru selesai sholat. Tau-tau ada kerumunan, gak taunya Ricardo lagi nembak Cantika.

Aku             : Hah? Nembak “dhooorrr” gitu?

Jendral G : Iihh, bukaaaan. Maksudnya nembak bilang gini,” Kamu mau gak jadi pacarku?”

(Gubrak, aku menahan tawa. Sementara kekasihku udah gelisah :mrgreen: )

Aku            : Ricardo bilang gitu? Trus Cantika bilang apa?

Jendral G : Cantika bilang  “iya“. Wah, banyak yang nonton deh, kayak sinetron. Eh, tapi trus Cantika bilang lagi gini, “Eh, gak jadi deh. Aku masih terlalu kecil.”

(Nyaris tawaku meledak).

Jendral G : Tapi bukan itu yang seru, Bundaa. Yang seru, karena temen Kakak yang lain namanya Bagja juga suka sama Cantika. Dia berkaca-kaca lho mau menangis. Kakak tepuk-tepuk aja pundaknya.

Aku             : Waduh, Bagja menangis? Trus Kakak bilang apa?

Jendral G : Kakak bilang aja, “Tenang aja, Bag. Ntar guwe cariin cewek lain.” (dengan gayanya yang cool).

Tanpa dapat kutahan tawaku meledak sampe sakit perut :lol: Minta ampun gayanya anakku ini :lol:

Aku            : Trus Bagja bilang apa?

Jendral G : Katanya dia udah gak suka lagi sama Cantika. Kakak bilang aja iya cari aja cewek lain.

Maka seluruh isi rumah Nenek tertawa terpingkal-pingkal. Gayanya udah kayak yang paling jago cari cewek aja :lol:

Aku           : Emang Cantika cantik ya, Kak?

Jendral G : Hmm, gak tau.

Lalu aku ke dapur mencuci piring. Kakak yang masih seru bercerita menghampiriku di dapur.

Aku           : Kalo Kakak ada yang naksir gak?

Jendral G ngintip-ngintip ayahnya di ruang keluarga.

Jendral G : Gak tau deh. Tapi katanya sih ada.

Aku            : Waduh, siapa Kak?

Jendral G : (menyebutkan tiga nama cewek tapi aku lupa semua, salah satunya Fadia klo gak salah :mrgreen: )

Aku           : Kakak tau darimana kalo mereka naksir Kakak?

Jendral G : Yaa dari temen Kakak. Katanya,”G, si itu naksir kamu lho“. Trus ada lagi yang bilang, “G, di buku si anu ada tulisan G Forever.”

Tak sanggup lagi aku menahan tawa. Salah, sungguh salah tertawa di kala anak sedang bercerita. Tapi aku gak tahan, Kawan!

Aku            : Di antara bertiga itu mana yang paling cantik, Kak?

Jendral G : Hmm, Fadia, sih.

Ooowwhhh, malaikatku sudah tau cewek cantik? Padahal belum lama ia selalu mengatakan Bunda adalah perempuan paling cantik di seluruh dunia. Sekarang? Sainganku bakal ngantri sampai Monas :cry:

Lihatlah Kawan, malaikatku belum lagi berumur sebelas tahun, tapi sudah tau menembak, anak perempuan cantik. Duh, cepatnya waktu berlalu. Bahkan kalo sampai mendengar cerita teman-temannya udah tembak-tembakan apa gak bikin ngeri itu? Padahal kalo di rumah Jendral G itu masih main jadi Zombie, suka ngomong sendiri seolah berperang, wis pokoke masih kayak anak kecil. Lha kok dah ngerti tembak-tembakan :cry:

Aku masih ingat, dalam obrolan malam itu Kekasihku sempat nanya begini:

Kekasihku : Emang kalo udah nembak trus jadi pacarnya trus ngapain, Kak?

Jendral G  : Yaa, gak tauuu.

Kekasihku : Kalo ada yang nembak Kakak, Kakak bilang apa?

Jendral G  : Bilang aja, mau nembak pake RPG 7? Atau Kriss? (judes)

Kekasihku : Hush! Gak boleh judes, kita tuh gak boleh menyakiti hati anak perempuan. Bilang aja “makasih” gitu.

Lalu masih ada kuliah sedikit panjang dari kekasihku perihal pacaran dll…dll…dll… :P

Duuhh, betapa anakku yang tadinya masih ABC (Anak Bau Chiki) kini on the way ABG. Sooner or later hal ini pasti akan terjadi. Tapi mengapa aku merasa tak siap yaa? Rasanya baru kemaren aku menimangnya dalam pelukan, kini sudah tau anak cantik :(

M2081S-1029

Imut banget yaaa :)

DSC02028

Sekarang sudah berani menyelam :D

Camera 360

Pose ABG kelas 5 qiqiqi :)

Camera 360

Bagi pengguna ponsel dengan sistem operasi Android tentu gak asing dengan judul di atas :P Yeah, ini adalah solusi instant untuk tampil cantik tanpa perlu krim malam, setrika wajah, laser, apalagi suntik botox Tergolong pembohongan publik? Yaahh, priben maning :lol:

Jika kau belum punya, Kawan, silakan download di Play Store.

play apps

Download camera 360

Screenshot_2013-04-09-22-19-36-1

Tampilkan di halaman yang mudah dicari :P

Effect

Magic skin, hasil memuaskan tanpa perawatan mahal :lol:

pizap.com13655224390721

Before and after :D

pizap.com13655229107331

Lupa gak pake blitz :(

pizap.com13655227878821

Before and after jugak :P

Berhubung gak ada yang mau jadi sukarelawan, maka aku memaksa kedua malaikatku untuk jadi model love0085 Free Emoticons   Love Tadinya mau pakai fotoku sendiri trus diblur, lha kan percuma gak kliatan jugak evilgrin0039 Free Emoticons   Evil

Coba kau lihat foto Jendral G, Kawan. Yang pertama itu foto aslinya, betapa sudah mulai berminyak dan berkomedo malaikatku ini :( Dengan Camera 360, tarra….. hilanglah semua minyak dan komedo itu cool0003 Free Emoticons   Cool

Foto Cantik yang pertama diambil malam hari dan lupa gak pake blitz, jadi ya gak terlalu sukses. Tapi tetap kelihatan lebih bening bukan? :P Nah, foto Cantik yang kedua lebih nyata bedanya. Memang wajahnya masih mulus sekali, belum berminyak dan belum berjerawat (semoga sampai dewasa gitu aja ya, Nak :) ). Tapi dengan Camera 360 nampak lebih bersih bukan? :D

Oh ya, penggunaan camera ini bisa di setting apakah akan tetap menyimpan foto aslinya atau hanya menampilkan foto hasil editan. Pada magic skin tersedia pilihan jenis, di antaranya ada natural, glossy, B & W, sunshine, sexy lips, fresh, dll :D Wis, pokoke instan banget, tinggal sentuh sana sini. Jauuuuhhh lebih mudah dari photoshop atau yang lainnya, yang memerlukan keahlian khusus :P

Hasil dijamin cantik dan jauuuuhh lebih muda, mengingatkan ketika masih gadis innocent0009 Free Emoticons   InnocentMaka jika di foto cantik, jangan kaget ketika bertemu ternyata jerawatan :mrgreen:

Apakah ini merupakan kebohongan publik? Yaahh, kembali pada hati nurani masing-masing deh. Kalo menurutku siy, yaaa biar aja. Hawong cuma untuk PP dan lucu-lucuan kok :P Fotoku sendiri buanyaaak buanget meski hanya untuk koleksi pribadi. Karena saking takjubnya, betapa indahnya kalo berwajah mulus :lol: Asal jangan sampai kelihatan ama Eyang Sumur aja siy…  animal0019 Free Emoticons   Animals

Lukisan Cinta, Episode 18

Maafkan, lanjutannya terlalu lama ya :( Mari tengok ke belakang dulu :)

bg-big2

Lanjut membaca

Kulering 2

Setelah mendulang ketidaksuksesan pada Kulering tahun lalu, maka kembali ditampilkan Kulering 2. Yuk mariii ber”kulering”. Kumpulan Lelucon Gariiiiingg….. :lol:

Beli Pulsa

Mbaknya : Mas, beli pulsa dong!

Masnya    : Oke, Mbak. Berapa nomernya?

Mbaknya : Sik…sik…bentaaaar…

Masnya    : Oh, mbeliin pacar ya, Mbak? Hehehehe….

Mbaknya : Huh, sotoy! Beli buatku sendirilah.

Masnya    : Kok gak hafal nomer sendiri?

Mbaknya : Lhah, saya kan gak pernah nelpon diri sendiri. Yeeeee….. :mad:

****************

Teman

Omnya   : Hallo, met malam.

Masnya  : Malam, Ooomm…. bisa bicara dengan Ani, Om?

Omnya   : Ini dari siapa?

Masnya  : Temannya, Oomm….

Omnya   : Ya iyalah temennya, masa musuhnya? Nama…namanya siaapppaaa???

Masnya  : Owh, saya Rhoma, Om. Saya emang calon musuhnya Ani, Om.

Omnya   : Lho? Kok bisa?

Masnya  : Iya, Omm, critanya kan guweh ama Ani ha te es an, Omm. Sekarang guweh maw mutusin Ani, Omm. Gitu loh!

Omnya   : BRAAKKK!!!

(Sumpah! Yang ini mah garing puoollll!!!)

****************

Saya Sendiri

Sono  : Hallo, bisa bicara dengan Ani?

Sini    : Iyaa, saya sendiri.

Sono  : Oh, saya berduaaa….

Sini    : &(*&(*&(*&)(&^%%$$##

***************

Silakan mbacanya sambil gelitikan diri sendiri yaaa………… Garing puoolll! Mbuh ahh!!

Pujangga Cinta

Lagu irama Melayu mendayu-dayu yang terdengar dari rumah Bang Zulham membuat langkah Ashraff terhenti. Ah, mengapa tepat benar lagu itu dengan perasaan hatiku? Gumamnya lirih. Kepalang basah, kakinya telah pula masuk halaman Bang Zulham.  Maka ia pun berseru mengucap salam.

“Assalammualaikum, Bang!” Ditingkah lagu Elia Kadam yang menyesak itu, tentu tak terdengar salam yang diucap Asraff. Maka ia pun berseru sekali lagi.

Bang Zulham yang sedang meminyaki rambutnya dengan minyak kelapa campur odo kolonyo agar wangi, sejenak menghentikan kegiatannya. Samar-samar terdengar salam dari luar. Benarlah, ada tamu nampaknya. Maka sambil meneriakkan salam balasan, Bang Zulham segera menyelesaikan jambul ombak tebalnya. Lalu ia rapikan krah bajunya yang setinggi telinga. Sejenak ia elus jambang tebalnya. Sempurna! Ia segera menyambut tamunya.

“Ah, kau rupanya, Asraff! Masuk, masuklah,” sambut Bang Zulham.

“Haha…mengapalah kau bermuram? Seperti tiada buang air seminggu rupamu itu hahahaha….,” goda Bang Zulham. Asraff tersenyum kecut. Si Tuan Rumah tak sedikitpun mau mengecilkan volume tape nya, hingga rasa hati Asraff kian merana.

“Nah, ada apa kau datang? Tiada jauhlah pasti urusan perempuan, bukan?”

Asraff tersipu. Pandai sekali laki-laki ini menebak urusan percintaan. Tak salah maka ia selalu berjaya dalam urusan yang satu ini. Pujangga Cinta orang kampung sini menyebutnya.

“Iya, Bang. Laila tiada lagi mau menjumpaiku,” desah Asraff.

“Laila? Laila anak Cik Noor itu?” tanya bang Zulham ragu. Asraff mengangguk-angguk.

“Ah, Laila. Memang manis anak itu, hei aku tiada tahu jika kau menjalin asmara dengannya?”

“Baru tiga bulan saya dekat dengannya. Itu pun diam-diam sahaja, karena Mak Cik selalu awasi Laila. Apa yang harus saya buat, Bang. Sekarang Laila tiada lagi mau jumpa. Setiap saya lewat depan rumahnya, ia menghilang ke dalam,” keluh Asraff. Rupanya sakit cinta membuatnya tak berdaya. Bila tak malu, tentu air mata sudah turun ke pipi.

“Hmm, Laila…Laila… Gadis rupawan elok menawan. Banyak kumbang mengitari, lakunya jinak-jinak merpati,” gumam Bang Zulham. Tangannya yang penuh cincin batu mengusap-usap janggutnya.

“Bagaimana, Bang?” desak Asraff tak sabar melihat Bang Zulham malah bersyair.

“Kau sungguh cinta padanya, Bujang?”

“Iyalah, Bang. Rasanya hanya dia gadis yang membuat saya jungkir balik begini.”

“Tapi Bujang, menurut pengalamanku jika anak gadis tiada lagi mau jumpa, itu berarti ia sudah tiada cinta. Lebih baik kau cari yang lain sahaja.”

Asraff terperanjat mendengar jawaban Bang Zulham. Tak pernah laki-laki beristri empat itu memberi nasihat demikian. Dahulu saja Kasran, sahabatnya, diberi semangat mati-matian sehingga akhirnya berjaya menyunting Puti. Mengapa kini Bang Zulham menyerah?

“Dia masih cinta saya, Bang. Hanya sahaja Mak Cik tiada merestui kami.”

“Nah, itu pula. Mengapa tiada kau dekati sahaja Aida? Parasnya lebih elok, tubuhnya lebih molek, dan orang tuanya lebih bijak.”

“Ah, Abang ini bagaimana? Saya hanya cinta sama Laila,” keluh Asraff.

“Sedarlah, Bujang. Kau baru menjalin asmara tiga bulan, jika orang tuanya pun tiada setuju mengapa pula kau kejar-kejar? Hidupmu tiada akan bahagia, malah nanti sial menimpa,” nasehat Bang Zulham.

Asraff tercenung. Ia memang cinta Laila, tapi bila tak ada restu untuk apa diteruskan? Mungkin benar apa kata Bang Zulham. Dan ia takut tertimpa sial.

“Baiklah, bila itu saran Abang. Saya tiada akan lagi kejar Laila, mungkin ia bukan jodoh saya,” gumam Asraff lalu beranjak pergi. Bang Zulham tertawa lalu menepuk-nepuk bahu Asraff.

“Yakinlah kau, Bujang, perempuan bukan Laila sahaja. Satu dua minggu kau akan merana karena sakit cinta. Tapi setelah itu, kau akan segera berjaya hahahaha…..”

“Asalammualaikum, Bang,” pamit Asraff lesu.

“Waalaikum salam, Aida menunggumu, Bujang hahahaha…..”

Kau pergi tanpa pesan
Ku nanti tiada datang
Di mana kau kini
Di mana kau kini
Aku tiada berkawan lagi
Aduh…! Aduh..!
Aduh.. duh.. duh..

Apakah kau tak sedar
Janji suci kau patahakan
Di mana ku cari
Di mana ku cari
Aku tiada terdaya lagi
Aduh…! Aduh..!
Aduh.. duh.. duh..

Selesai sudah lagu Elia Kadam. Sekali lagi Bang Zulham berdiri di depan kaca lalu merapikan rambutnya yang telah wangi dan kaku. Badai laut pun takkan menggoyahkan jambulnya.

“Laila pujaankuuu, tunggu Abang di situu. Segala bujang tiada akan berdaya, memberi cinta seperti Abang punya, Sang Pujangga Cinta hahahaha…..”

************

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 80 pengikut lainnya.