“Lepas sepatu itu, Dina!”
Suryo menghardik anaknya dengan keras. Dina menoleh terkejut. Wajahnya pias ketakutan.
“Tapi, Pa…..”
“Tidak ada tetapi, lepas!”
Gemetar Dina melepas sepatu merahnya yang sudah kumal dan berlubang di sana-sini.
“Ini pemberian Mama, Pa. Dina…Dina…,” isaknya tak berdaya.
“Jangan sebut kata Mama lagi di depan Papa!”
Gadis menjelang remaja itu mengisak lalu berlari menuju kamarnya. Suryo hanya bisa menahan amarah, nyaris ia menendang dan membuang sepatu itu jika tak ingat betapa Dina sangat menyayanginya. Amarahnya masih belum terkendali setiap mendengar atau melihat semua barang yang berbau Rani, istrinya. Tepatnya mantan istrinya. Apalagi sepatu itu sudah begitu kumalnya.
Hari Minggu yang terlanjur rusak. Sejatinya Suryo ingin mengajak Dina makan siang sekaligus mengenalkannya pada Vita, calon istrinya. Entah ini calon keberapa setelah yang sebelum-sebelumnya selalu ditolak Dina.
“Dina hanya ingin Mama.” Begitu selalu jawaban Dina setiap Suryo membawa pulang kekasihnya. Dan biasanya tak ada percakapan lebih lanjut selain suara pintu yang dibanting oleh Suryo.
Hujan tiba-tiba turun lalu menderas disertai angin yang menderu. Dina berlari-lari ke teras, menyelamatkan sepatu merahnya dari guyuran hujan lalu menghilang lagi ke kamarnya. Suryo sudah tak peduli. Hatinya geram bukan main, tetapi ia sedang malas ribut dengan gadisnya.
*************
Bertahun-tahun setelah kejadian itu Suryo tak pernah lagi melihat Dina memakai sepatu kumalnya, bahkan tak pernah lagi melihat sepatu itu. Mungkin Dina telah membuangnya. Waktu memang selalu bisa menyembuhkan. Hingga suatu hari, Andre, kekasih Dina datang dengan membawa kotak sepatu.
“Hadiah ulang tahun untuk Dina, Om,” jelas Andre ketika Suryo bertanya. Suryo tertawa senang. Hampir saja ia membeli kado yang sama, untunglah tidak jadi karena ia tak tahu ukuran sepatu Dina.
“Tunggulah, sebentar lagi Dina turun,” kata Suryo. Ia menyukai Andre, anak muda yang sopan dan bisa diandalkan menjaga Dina. Meski belum mengenal keluarga Andre, tetapi Suryo siap memberikan restunya jika Andre ingin melamar Dina.
Mereka masih mengobrol ringan hingga terdengar langkah kaki menuruni tangga. Kedua lelaki beda generasi itu mendongak lalu tersenyum penuh cinta melihat Dina turun dengan gaun ungunya. Cantik. Suryo nyaris menitikkan air mata melihat gadisnya yang telah tumbuh dewasa dan … begitu mirip Rani!
“Hai, Pa, Andre,” sapa Dina malu-malu. Kedua lelaki itu berdiri menyambut putri cantik itu. Suryo dengan kecupannya di dahi, dan Andre yang hanya berani menyambut tangan pujaan hatinya.
Malam berlalu dengan menyenangkan, makan malam bertiga diiringi musik lembut dan obrolan penuh canda. Hingga saatnya membuka kado. Suryo memberi jam tangan cantik untuk putrinya. Sementara Andre segera mengambil kotak sepatunya.
“Ini kado untukmu, Sayang.” Andre memberikan bingkisannya. Dina membukanya lalu memekik girang. Sementara Suryo memucat. Sebuah sepatu kets merah sama persis dengan sepatu kumal yang dibencinya, hanya beda ukuran tentu saja. Dan wajahnya begitu muram ketika Dina memeluk kekasihnya dengan bahagia. Suryo tak berani berkata-kata.
*****************
“Keluarganya ingin berkenalan, Pa,” kata Dina takut-takut.
“Datang saja, kau atur waktunya, Nak,” sahut Suryo masih tetap memandangi koran paginya.
“Papa… gak akan marah dengan papanya kan?” bisik Dina ragu. Tentu saja Suryo terheran-heran.
“Mengapa Papa mesti marah pada Papa Andre?”
“Karena… Papanya …. adalah suami Mama.”
*******************




















Komentar Terakhir