Kaos Kaki

Aku tentu sudah pernah cerita tentang Guantengku yang selalu memakai baju tentaranya. Ke manapun pergi bahkan kalo baju kebesarannya itu dicuci Guanteng enggan ikut bepergian. Sudah kubelikan jaket yang lain, bukannya untuk pengganti malah dirangkapnya pula. Duh, aku sering sumuk sendiri ngeliatnya. Calon Jendral yang sudah sangat terobsesi.

Kali ini kisahnya tentang kaos kaki. Setelah rapi memakai pakaian kebesarannya, segera aku pakaikan kaos kaki. Belang-belang putih abu-abu. Dengan tegas Guanteng menolaknya. Maunya pakai kaos kaki yang putih beralas hitam. Lho, ini kan sama aja, Kakak, gak kiatan juga kok, kataku. Tapi Guanteng tetap menolak, Gak mau, Bunda, itu kan kaos kaki anak-anak. Masa tentara pake kaos kaki anak-anak? Duh, sedangkan kami buru-buru untuk segera pergi. Maka segera kukatakan padanya, Enggak, ini kaos kaki tentara juga. Tuh, belang-belang, tentara waktu masih kecil kaos kakinya juga begini, macem-macem kok, malahan warna-warni. Dengan setengah memaksa kupakaikan juga kaos kaki itu. Guanteng pun setengah gak percaya menurut juga. Oh Kawan, segitu terobsesinya dia tuk menjadi tentara. Padahal sungguh aku takut kalo benar kelak Guanteng jadi tentara. Mbok ya jadi arsitek aja, ato dokter, ato pengusaha, ato insinyur. Tapi, terserahlah, jadi apapun semoga menjadi yang terbaik.

DSC02476

Kaos kaki belang-belang

DSC02479

Duh, gayanyaaa....

DSC02475

Menanti panggilan tugas

Es Brasil Mirama

Pada jaman dahulu kala, ketika aku masih kecil ada jajanan yang uenak, namanya Es Brasil. Bentuknya kotak seperti bantal, paling enak pada waktu itu rasa es dawet. Wuih, sueger banget! Nah Kawan, pada suatu hari aku menemukan kembali es yang segar itu! Dalam wujud yang berbeda siy, klo skarang bentuknya kayak es mambo biasa bulat panjang. Tapi variannya makin banyak, es ketan item ni paling enak, es kelapa, kopyor, nangka, strawberry, coklat, kopi, kacang ijo, wah banyak deh. Cuman mengkudu yang gak ada, halah lebay :D

es brasil

Hmmm, sueger tenaaan

Menariknya lagi Kawan, di toko ini benar-benar menjual jajanan masa lalu. Ada permen coklat yang bentuknya kayak rokok. Ingat semasa kecil dulu ikut-ikutan gaya orang dewasa merokok hehehe…. padahal ampek skarang benci banget ma rokok. Trus ada permen Davos. Kau tau permen itu, Kawan? Permen pedas yang bentuknya bulat putih. Dulu alm. Mbah Tie senang banget ma permen ini, padahal kalo makan permen ini pasti bersin-bersin. Pernah kutanyakan pada Mbah Tie ku itu. Mbah Tie, kok seneng ma permen davos sih? Padahal kan bersin-bersin? Lalu Mbah Tie menjawab sambil terus merenda, Iya buat rame-rame daripada sepi. Hehehe, dulu semasa kuliah mang hanya aku dan Mbah Kakung dan Mbah Tie yang tinggal, setelah kakakku lulus.

permen rokok

Merokok ini aja, lebih aman

davos

Hatsyiiii.....

Kalo kau merindukan jajanan masa lalu, Kawan datanglah ke toko ini. Toko Mirama di Bekasi Square, pokoknya kalo parkir di halaman pasti kliatan. Jangan lupa, beli es brasil yaaa…. Maniiiiis rasanya….

mirama

Masuk sini dipriksa dulu ma densus 88

Dualisme Lebaran

Lebaran? Wow, hari yang dinanti-nanti gak cuma oleh para muslim bahkan yang non muslim. Mengapa? Tentu saja karena Lebaran berarti libur, THR, makan ketupat, itu setidaknya pandangan non muslim. Bagi yang muslim tentu saja mempunyai makna yang lebih dalam.

Aku pun sangat menanti-nanti hari raya ini. ‘Coz berarti liburan dan makan rendang dan gulai ayam buatan nenek (ibunda mertua) yang wuenak. Dan tak ketinggalan ketupat ketan yang luwar biaso lezatnyo. Dengan santannya yang mletrek-mletrek dan gurih tiada tara. Katupek sipuluik owh….. nyam…nyam….

Tapiiiii…… dibalik segala kenikmatan dan kelegaan itu masih terselip rasa cemas yang juga tiada tara. Apa itu? Oh, kau tentu dengan mudah bisa menebaknya, Kawan! Pikiran yang tak terasa di awal liburan namun memenuhi benak dan mengganjal di kalbu di akhir liburan. Membayangi terus di detik-detik akhir liburan. Bahkan terasa mengganggu di setiap kegiatan. Pikiran itu adalah sebentuk perntanyaan. Pertanyaan yang takkan pernah bisa kujawab namun selalu kuharap.

Sebentuk pertanyaan yang sangat sederhana namun menguras seluruh perasaan. Kau tau Kawan, pertanyaan itu?

Hanya  “Si Mbak balik lagi gak yaaaa?” Ooooh, sebentuk pertanyaan yang sungguh menyiksa batin :(

Mudah-mudahan kedua staf rumah tanggaku itu mau balik lagi. Aku sudah sangat tergantung pada mereka. Sudah 3 tahun mereka ikut aku, dan mereka mengatakan akan kembali. Semoga itu benar.

Waduk Walahar

Meminjam istilah Guanteng, kemaren aku hanya puasa 12, puasa ampek jam 12 aja hihihi…. abis panaaaaas banget! Ceritanya maren aku ke Karawang Timur, sehabis ke kelurahan dilanjutkan ke Puskesmas Ciampel. Duh Kawan, jauhnyaa… Untuk menuju ke sana kami harus melewati jalan yang berliku-liku, beberapa jalan rusak dan sempit sekali. Yang lebih seru ketika menuju puskesmas, kami harus melewati persawahan. Wuiih, seru dan indah! Tapi Kawan, jalannya hanya bisa dilalui satu mobil. Bayangkan ketika harus berpapasan dengan truk. Untunglah sopir truknya mau mengalah ampe ke pinggir sawah hihihi…… Di sepanjang jalan kanan dan kiri sawah hijau terhampar. Air irigasi mengalir dengan indahnya, mengalunkan gemericik air kehidupan… halah…. Nyesel gak aku foto maren. Padahal jarang banget berada di pinggir sawah beneran, biasanya kan kliatan dari tol aja.

Setelah urusan selesai, aku menanyakan jalur alternatif agar gak lewat sawah lagi. Indah sih, tapi sempit banget. Ntar kalo papasan lagi ma mobil gimana? Oh, ternyata ada, Kawan. Memang sih katanya mesti lewat jembatan sempit juga tapi gak papa ‘coz ada yang mengatur. So aku putuskan lewat jalan kedua.

Ternyata Kawan, keputusanku gak salah! Jalan yang kutempuh melewati jembatan waduk Walahar! Wuih, kami girang banget. Apalagi di samping kiri ada tempat makan yang sangat terkenal dengan menu pepesnya. Maka aku dan sobatku memutuskan untuk belok hahaha…..

Lanjutkan membaca

Gempa

Gempa kemaren sungguh mengerikan. Sebetulnya aku pengeen sekali bisa cerita kondisiku saat gempa maren. Tapiiiii….. gak brani. Soalnya kalo aku crita maka akan ketahuan “kebandelanku” kemaren hehehe…..

Yang pasti panik dan gemetar. Hal pertama yang kulakukan adalah menelpon anak-anak di rumah. Tapi Kawan, telpon gak isa dihubungi, huwaaaaa…… aku panik banget. Aku kuatir anak-anak ketakutan. Dan setelah berhasil kuhubungi memang anak-anak sempat menangis ketakutan. Untunglah semua aman. Thanks God!

Semoga semua korban gempa diberi ketabahan dan kekuatan. Amin.

Mengapa Diciptakan Kalau Hanya untuk Dibunuh?

Tadi malam, kekasihku membaca buku yang sangat tebal, seperti kebiasaannya sehabis sholat. Entah itu tafsir ato hadis, ato apa aku tak tau. Setiap membaca hal yang menarik, kekasihku membacakannya untuk kedua malaikatku. Salah satunya adalah membicarakan cicak. Rupanya ada pernyataan bahwa membunuh cicak itu tidak apa-apa, bahkan cicak memang harus dibunuh. Wah, Si Cantik yang bercita-cita jadi dokter hewan dan penyayang binatang tentunya bertanya-tanya. Cicak kan baik, Yah? Kenapa dibunuh? Kasian.  Kan kalo ada pencuri dia bunyi ck…ck..ck…. gitu. Begitu tanyanya. Wah, Ayah juga belum tau nih, Dek. Besok Ayah cari dulu jawabnya, yaa. Begitu kata kekasihku. Saat itu Guanteng sedang asyik bermain NDS dan sepertinya tak memperhatikan. Lalu kekasihku berkata lagi, kalo ular harus dibunuh, DekSoalnya ular itu lambang kejahatan, terutama ular kobra. Si Cantik rupanya setuju. Iya, Yah, kalo ular Adek gak kasian. Gak papa dibunuh aja, soalnya serem.

Lalu tiba-tiba Guanteng yang lagi asyik main game nyelutuk, Ayah, kalo gitu kenapa Allah menciptakan ular kalo cuma buat dibunuh? Nah, nah, suamiku tertawa dan terpesona mendengar pertanyaan Guanteng. Waduh, itu pertanyaan bagus, Kak. Itu pertanyaan yang bahkan orang dewasa pun menanyakannya. Gak ada habisnya debat soal itu. Guanteng tentu saja tak puas dengan komentar kekasihku. Iya, jadi kenapa Allah menciptakan ular, Yah? Padahal kita disuruh membunuhnya.

Maka dengan gaya seorang ustazah aku menjelaskan pada Guanteng. Ehm, ehm, gini, Nak. Allah (dibaca sesuai EYD, ‘coz lidahku gak fasih :D ) itu menciptakan semua makhluk baik dan jahat, rupawan dan buruk. Semua itu punya Allah. Termasuk ular dan iblis. Allah menciptakan iblis untuk menggoda kita manusia. Kalo iman kita kuat, maka kita akan selamat dan masuk surga. Tapi kalo kita tergoda dan berbuat yang gak baik maka kita akan masuk neraka. Jadi mungkin salah satu tujuan Allah menciptakan ular adalah untuk menguji iman kita. Bukankah dulu setan menggoda Hawa dalam bentuk ular? Maka agar kita tidak celaka, Allah juga mengingatkan untuk membunuh ular jika kita menemukan binatang itu. Ular kan binatang berbisa. Tentu saja aku tidak membahas urusan ekosistem dan rantai makanan di sini.

Guanteng nampaknya menyimak. Bunda tanya dulu sama Allah, benar gak jawaban Bunda itu. Gubrakkk!!! Udah berbusa-busa, panjang lebar ngarangnya, masih gak dipercaya jugak?? Kekasihku tertawa aja. Udah, Bunda udah nanya Allah, emang gitu jawabnya. Sanggahku sok pede. Ah, bener gak, Yah jawaban Bunda? Kekasihku yang jarang mengakui “kecerdasanku” itu hanya menjawab, iya kali. Huh!

Namun aku kini menyadari, kedua malaikatku sudah tumbuh besar. Banyak sekali pertanyaan kritis dan bahkan yang mungkin tak bisa kujawab. So aku mesti banyak belajar lagi. Hmm….

Unggu

Pada suatu malam, aku lihat Cantik sedang menggambar sambil menggumamkan sebuah lagu. Owh, rupanya dia mengikuti lagu yang sedang tayang di TV. Maka aku iseng bertanya padanya.

Aku          : Dek, itu lagu siapa yang Adek nyanyiin?

Cantik     : Lagunya Ungu, Bunda.

Aku          : Ooo, Unggu..

Cantik     : Bukan Unggu, Bundaaaa, tapi Ungu

Aku          : Lho, iya Unggu kan?

Cantik      : Bukaaaaan, UNGU

Aku          : Adeek, Bunda itu gak bisa bilang Ungu, bisanya bilang Ungguu

Cantik      : Nah, tadi Bunda bisa bilang Ungu???

Aku          : Enggak, Bunda tuh paling susah bilang Ungu, bisanya UNGGU

Cantik      : Huwaaaa, Bunda bo’ong, tadi Bunda bilang Unguuuu!!!

Aku           : Masa sih, Dek?

Cantik      : Coba Bunda ikutin Adek, Uuuu…

Aku          : Uuuu…

Cantik      : Nguuuu…

Aku          : Nguuuu….

Cantik      : Unguuuu

Aku          : Ungguuu….

Cantik      : Huwaaaa, Bunda isengin Adek, huwaaaa…… padahal tadi Bunda bisa bilang ungu, hwaaaa……

Waduh, gawat, Si Cantik menangis!!! Paling seneng deh, godain Cantik. Tapi kalo sampe nangis??? Langsung kupeluk Si Cantik, tapi sayangnya dia terlanjur kesal. Hehehehe….. maaf ya, Cantik. Bener kok, Bunda mang iseng. Abis kau lucuuuu, deeeh! Bunda jadi gemes, seneng godain Cantik.

DSC01587

Cantik lagi cemburut hehehe.....

Dihampiri Wanita Bercadar

Sabtu kemaren kami jalan-jalan ke Monas. Maksud hati mo naik ampe puncak trus melihat pemandangan Jakarta Raya gitu. Namun apa daya, tiba di sana jam 3 lewat 15, dan ternyata selama bulan puasa Monas buka ampek jam  3 doang. Wah, kesal dan kecewa tentunya. Selama ini aku kalo ajak kedua malaikatku ke Monas selalu malam hari untuk lihat air mancur berjoget. Lom pernah naik puncaknya. Ya sudahlah akhirnya kami melihat-lihat museum saja. Itu pun ternyata kedua malaikatku sangat senang, mereka baca-baca dan berkomentar macam-macam. Terutama Guanteng selalu mengomentari jenis-jenis senapan tentara jaman dulu. Ck…ck… kok ya hafal bener yak?

Trus kami lanjutkan naik ke atas, tempat disimpan naskah proklamasi. Aku lalu duduk-duduk di depan Bhinneka Tunggal Ika raksasa. Sejak tadi di bawah kuperhatikan ada sepasang suami istri bergamis dan bercadar. Prianya jelas-jelas orang Arab dengan postur gagah dan wajah lumayan tampan dengan cambang di mana-mana (Hah? Di mana aja?), sedangkan istrinya aku tak tau darimana. Mereka berfoto-foto di depan pintu naskah proklamasi. Aku curi-curi pandang ke arah mereka. Sejak dulu kala aku selalu tertarik dengan wanita bercadar. Sambil memandang mereka aku selalu berfantasi ada apa di balik cadar itu. Cantik jelitakah? Ato bibirnya sumbingkah, ato berlesung pipikah? Sungguh misterius.

Lanjutkan membaca

Buta Huruf

Tadi pagi sebelum berangkat, seperti biasa aku ngecek buku pelajaran Guanteng. Hari ini ada pelajaran agama rupanya. Iseng-iseng aku buka buku catatannya. Wah, ternyata ada tugas menulis huruf hijaiah yang jumlahnya 29 itu. Waduh, langsung saja aku panggil Guanteng untuk mengerjakannya. Ternyata Kawan, Guantengku ini hafal lho huruf-huruf itu. Aku cocokkan dengan huruf latinnya ternyata bener semua apa yang ditulisnya. Gak sia-sia ikutin Guanteng belajar ngaji di mushola tiap sore. Maklumlah, dalam hal ini sungguh aku tak tau harus bagaimana ngajarinnya, lha wong aku aja buta huruf! Gak isa bedain ba sama sa ato ta :D

Tapi seperti biasa Kawan, tulisan Guantengku ini sungguh melebihi ukiran Jepara. Wong nulis tegak bersambung aja dah kayak ukiran, apalagi huruf hijaiah yang bener-bener mirip ukiran itu. Untunglah sedikit-sedikit aku ini bisa menirukan gambar, jadi kubimbing Guanteng menulisnya.

Hampir setengah jam aku dan Guanteng menyelesaikan tugasnya. Padahal cuman 29 huruf berikut huruf latinnya, tapi nulisnya lamaaaa…. Yang aku takjub, kok Guanteng bisa bacanya ya? Cantik yang hari ini bolos sekolah pun dah bisa baca lho huruf-huruf itu. Memang betul, mengajar anak kecil lebih cepat menyerapnya daripada orang dewasa. Coba kalo aku yang diajarin, gurunya pasti dah putus asa duluan, wakakaka…. Maafkan Bunda, Nak, kalo yang beginian Bunda gak bisa ajarin.

Lelah

Kawan, hari ini aku lelah sekali. Gak, bukan hari ini, sejak seminggu yang lalu. Oh, enggak, sejak setahun lalu. No, no, sejak seratus tahun lalu mungkin. Tapi dulu lelah itu masih bisa teratasi, masih bisa diusir. Entah mengapa lelah itu kini kian membuncah. Serasa lahar panas yang terus-menerus menggelegak. Ingin kumuntahkan, ingin kusemburkan tapi selalu tertahan. Untuk kesekian kalinya kutelan lagi lelah ini. Aku gak ingin merusak apa yang ada, gak ingin meluluhlantakkan sekitarku. Karena Kawan, lelahku ini nyaris menjadi marahku. Harus kutahan bukan? Harus kukendalikan bukan?

Kawan, rasanya aku ingin istirahat. Penat sekali aku ini. Istirahat bagaimana yang harus kujalani? Bahkan aku pun gak tau ingin apa aku ini sebenarnya. Mati rasaku. Kebas sudah. Mimpi pun sudah tak bisa lagi. Menghayal pun menjadi haram. Ingin apa aku ini? Sungguh aku gak tau. Aku hanya lelah, lelah, lelah, lelah, lelah, lelah, lelah, lelah, lelah, lelah.

Aku harus istirahat sejenak. Sejenak saja. Setelah itu mungkin lelahku akan hilang. Seperti yang sudah-sudah. Entah mengapa kali ini lelahku sungguh melelahkan. Sudahlah, aku ingin istirahat. Sejenak saja. Sebentar saja. Sekejap saja. Sedetik saja. Setelah itu, kuharap lelahku hilang. Setelah itu aku bisa bermimpi lagi. Setelah itu aku bisa menghayal lagi. Demi memendam lelahku. Demi menghibur diriku.