Cita-citaku

Lho, masih punya cita-cita to? Lha iya, wong cita-citaku jadi dokter lom kesampaian. Hehehe… tentu saja bukan cita-cita seperti itu, Kawan. ‘Coz yang begitu dah gak mungkin deh! Apa sih tepatnya ya, impian mungkin ato keinginan ato obsesi? Ah, apa sajalah bagiku ini tetap cita-cita yang ingin kuwujudkan.

Sederhana saja cita-citaku ini. Mungkin bagi banyak orang bukan cita-cita tapi malah dah bagian hidup sehari-hari. Iya, iya, tapi apa cita-citanya? Mbulet aja dari tadi.  Sederhana saja…… Halah! Diulang lagi? Ya…ya… kali ini serius.

Aku ingin punya ruangan pribadi dalam rumahku. Ruang pribadi ini akan kujadikan perpustakaan dan ruang kerja. Perpustakaan? Apa saja koleksimu? Bukankah hanya fiksi dan fiksi? Hei, jangan kau rendahkan fiksi, Kawan! Hidup ini sudah sangat berat, kalo harus membaca yang berat-berat juga bukankah menambah stress? Kau mau tau koleksiku? Memang sebagian besar fiksi, namun ada juga yang setengah fiksi, ato fiksi berlatar belakang sejarah, ato fiksi berlatar belakang kisah nyata. Yaaa tetap aja fiksi! Dengan membaca kisah-kisah ini kau akan menjelajah dunia. Kau akan lihat Paris, New York, London, bahkan Banyumas ato Papua. Itu aku tau, lalu siapa aja pengarang yang kau sukai? Oo, banyak! Dari Enid Blyton sampai Sidney Sheldon, dari Ahmad Tohari sampai Eiji Yoshikawa, dari Mira W ampek Pramoedya Ananta Toer, Alfred Hitchcock ampek JK Rowling, S Mara GD ampek Agatha Christie, banyak lagi deh! Pokoke kalo kubaca ringkasannya bagus ya pasti kubaca. Sayangnya banyak buku yang kukoleksi sejak masih SD hilang. Dipinjam tak kembali ato tercecer sewaktu pindah :( Sedih bukan? Padahal sebagian besar dari buku itu tak lagi mudah dicari saat ini.

Trus, cuma itu cita-citamu? Oh, gak. Kan kubilang tadi perpustakaan sekaligus ruang kerja. Ah, mau kerja apa kau? Bukankah pekerjaanmu sekarang saja sudah merepotkan? Hohoho, bukan pekerjaan yang ini, Kawan! Kalau hidupku tlah mapan, kedua malaikatku dah besar, dan ruang perpustakaanku sudah tewujud, aku akan keluar dari pekerjaanku ini. Lho, jadi buat apa ruang kerja dan perpustakaan itu? Menulis, Kawan! Menulis! Itulah cita-citaku. Wuahahaha, menulis? Gak salah? Mau menulis apa? Kau bisa menulis? Hei, jangan dulu kau patahkan semangatku! Kau tau Kawan, dalam seumur hidupku sudah tiga kali naskahku dimuat di malajah. Pertama puisi di majalah anak, lalu cerpen di majalah remaja. Semua dapat honor, Kawan! Sekalipun semua itu kukerjakan ratusan tahun silam. Okay, lalu apa yang mau kau tulis? Laku di pasaran gak? Oh, aku akan menulis apa saja. Entah itu menghasilkan uang ato tidak. Karena cita-citaku ini lebih untuk kepuasan batinku. Tentu saja aku harus banyak belajar. Gak harus selalu dipublikasikan bukan?

Kau tau, Kawan, sering kubayangkan begini. Setelah kekasih dan kedua malaikatku memulai aktifitasnya, maka aku akan segera memasuki ruang pribadiku. Di situ aku akan membaca atau menulis. Hei, tentu saja aku gak mau direpotkan dengan urusan mengepel, jemur baju, ato menyetrika. Itu semua tetap dilakukan Mbak, so kukatakan tadi jika aku sudah mapan. Nah, setelah puas dan lelah, aku akan bersiap ke toko buku lalu menjemput malaikatku. Setelah seluruh belahan jiwaku pulang tentu aku takkan mengurung diri di perpustakaan. Aku akan kembali menemani dan mengurus mereka. Lalu setiap Sabtu dan Minggu aku juga libur, tak perlu menulis ato membaca. Demikian berulang. Enak to?

Tapiii, membosankan tidak ya? Entahlah. Jawaban itu akan kudapat setelah kugapai cita-citaku. Kalo bosan ya cari cita-cita yang lain. Belajar mbangun jembatan ato bikin kue talam sajalah :D

Hidup untuk Bertahan Hidup?

Sebetulnya tujuan hidup itu apa ya? Untuk memperbanyak keturunan, untuk beramal bakti, untuk berbuat baik pada sesama, untuk bersyukur pada Yang Memberi hidup, atau…….? Tapi bukankah hidup itu juga perjuangan untuk bertahan hidup? So simple, but right or wrong?

Kemaren malam, di tengah hujan deras mengguyur, kulihat sesuatu yang menakjubkan. Sebuah speda motor bertuliskan “Tambal Ban Bergerak” dengan segala aksesoris tambal ban di boncengannya. Tentu saja dengan tabung besar kompresorkah namanya? untuk mengisi angin. Pengendaranya seorang laki-laki yang sudah agak berumur tanpa jas hujan terus melaju dengan beban beratnya itu. Dia hanya berhenti sebentar melihat jalanan yang banjir lalu kembali melanjutkan perjalanannya. Betapa air hujan itu menetes-netes melalui kacamatanya, mengguyur kepalanya yang tanpa pelindung. Oh, semoga istrinya menyambutnya dengan hangat dan anaknya memberi penghiburan.

Di benakku saat itu Kawan, tentunya setelah seharian bekerja ia ingin segera pulang untuk menemui anak istrinya. Tentu saja dengan membawa hasil yang entah cukup ato tidak untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Tapi perjuangannya sungguh membuat aku merenung, betapa kurang bersyukurnya aku ini pada Yang Memberi Hidup. DIA telah memberi banyak kemudahan bagiku dibandingkan bapak itu, tapi begitu banyak keinginan dalam benakku yang merasa belum terpenuhi.

Maka hari ini, aku mensyukuri semua nikmat yang telah kuterima. Terimakasih Allah, atas rejeki dan keindahan yang telah kuterima.

Dan semoga semua orang pun dapat mensyukuri apa pun yang mereka terima hari ini dan seterusnya. Khususnya bagi para korban bencana alam, percayalah  Allah takkan pernah meninggalkan kita.

Mie Ramen Super Extra Hot

Sudah beberapa kali aku makan mie nya Naruto dan Nobita ini, tapi baru sempat ku foto sekarang :D Tepatnya mie ramen di Gokana Tepan. Mie ramen di sini sangat mengerti kesenanganku makan yang hot-hot alias pedas. Ada yang cuma hot, extra hot, dan super extra hot. Nah yang terakhir ini sudah aku coba dan ternyata cukup membuat bibir terbakar dan keringat mengucur deras alias gembrobyoz! Soale beberapa kali aku makan mi ramen gak da yang pedes gini.

Kalo kau masuk angin Kawan, datang dan makanlah mi ramen super extra hot ini, dijamin langsung sembuh! Dan tanpa efek samping alias gak pake diare. Swear, aku sudah membuktikannya. Tapi kalo gak tahan pedas ya cukup pilih yang hot sajalah. Gak jaman lagi kerokan ato minum obat, cukup dengan makan enak dan panaz, bablaz angine hehehe… Ups, ntar aku dimarahin nyang punya restoran nih, wong makanan enak-enak kok wat obat masuk angin :D Gak cuman ramennya yang enak, menu lain pun boleh dicoba enak-enak kok.

Ramen extra hot tempura

Tempuranya so crispy, mie nya so hotz!

gak hot

Tenaaang, ada jugak yang gak hot kok...

Jadi ingat waktu menjamu klien beberapa tahun lalu. Kami makan di restoran Jepang di sebuah kawasan industri di mana kebanyakan yang makan di situ ya wong asli Jepang. Cuma kami yang pribumi. Begitu membuka pintu maka para pramusaji akan berteriak “Mase…mase…!” Entah nulise gimana, pokoke di kupingku terdengarnya seperti itu. Kuamati setiap pintu membuka dan ada tamu masuk maka mereka akan berteriak “mase….mase…”. Rada berisik sih, tapi mang gak seheboh makan di soto gebrak.

Nah, setelah menikmati hidangan lezat, kulihat para pramusaji berdiri berjajar di garis belakang. Siap-siap melantunkan paduan suara mase mase itu. Ketika tamuku lengah, kulambaikan tangan dan kupanggil salah seorang pramusaji wanita. Dia menghampiriku lalu kubisikkan padanya, “Mbak, lain kali kalo aku ke sini lagi jangan teriak mase-mase yaa?” Sang pramusaji bingung, dia siap-siap membuka mulut menjawab, tapi segera kupotong, “Ssst, jangan teriak mase mase, tapi mbake mbake aja, aku kan perempuan??” Sobatku langsung berdiri menuju ke kasir pura-pura gak dengar. Si mbak pramusaji menahan tawanya, tamuku menunjukkan wajah bingung. Dan aku kembali menyantap makanan penutupku.

Maka ketika lain kali aku datang kembali, mereka akan berteriak “Mbake…..mbake…..!!!” Halah, lebaaayyy….. :D :D :D

Mbak….oh….mbak….

Apa yang aku kuatirkan terjadi
Si Mbak tak kunjung kembali
Sungguh remuk redam kalbu ini
Bak ditinggal kekasih hati

Segala tlah kuberikan
Subur ku pupuk harapan
Apa daya tinggal khayalan
Si Mbak mengecewakan

Tanya ku kirim lewat bayu
Jawaban pun tlah menunggu
Kubuka dengan ragu
Oh, Si Mbak pulang tak menentu

Jumat dia janjikan
Hari ini malaikat ku liburkan
Esok ada ulangan
Maka cuti kan kulanjutkan

Mbak oh mbak
Kau tlah kuanggap sanak
Janganlah kau berlagak
Lebih enak makan martabak (lhoooo??? susah nyari blakangnya “k”)

Jumat kau brangkat
Sabtu pagi tiba janganlah telat
Datanglah dengan selamat
Kuberi nanti sebatang coklat (lhoooo, lagiiiii???)

Cutiku sudah tiada
Ini pun libur memaksa
Malaikatku pun sungguh terpaksa
Tak bersekolah seperti biasa

Mbak oh mbak, segeralah kau datang
Kuteriakkan ini dengan lantang
Biar sampai subuh menjelang
Dan kalbuku melayang-layang

Halaaah, lebay banget ditinggal si mbak….
Lagian janji senin datang kok ya mulur ampe jumat itu jugak lom jelas
ya nasib… ya nasiiibb…

Huuuuhhh!!!

Kaos Kaki

Aku tentu sudah pernah cerita tentang Guantengku yang selalu memakai baju tentaranya. Ke manapun pergi bahkan kalo baju kebesarannya itu dicuci Guanteng enggan ikut bepergian. Sudah kubelikan jaket yang lain, bukannya untuk pengganti malah dirangkapnya pula. Duh, aku sering sumuk sendiri ngeliatnya. Calon Jendral yang sudah sangat terobsesi.

Kali ini kisahnya tentang kaos kaki. Setelah rapi memakai pakaian kebesarannya, segera aku pakaikan kaos kaki. Belang-belang putih abu-abu. Dengan tegas Guanteng menolaknya. Maunya pakai kaos kaki yang putih beralas hitam. Lho, ini kan sama aja, Kakak, gak kiatan juga kok, kataku. Tapi Guanteng tetap menolak, Gak mau, Bunda, itu kan kaos kaki anak-anak. Masa tentara pake kaos kaki anak-anak? Duh, sedangkan kami buru-buru untuk segera pergi. Maka segera kukatakan padanya, Enggak, ini kaos kaki tentara juga. Tuh, belang-belang, tentara waktu masih kecil kaos kakinya juga begini, macem-macem kok, malahan warna-warni. Dengan setengah memaksa kupakaikan juga kaos kaki itu. Guanteng pun setengah gak percaya menurut juga. Oh Kawan, segitu terobsesinya dia tuk menjadi tentara. Padahal sungguh aku takut kalo benar kelak Guanteng jadi tentara. Mbok ya jadi arsitek aja, ato dokter, ato pengusaha, ato insinyur. Tapi, terserahlah, jadi apapun semoga menjadi yang terbaik.

DSC02476

Kaos kaki belang-belang

DSC02479

Duh, gayanyaaa....

DSC02475

Menanti panggilan tugas

Es Brasil Mirama

Pada jaman dahulu kala, ketika aku masih kecil ada jajanan yang uenak, namanya Es Brasil. Bentuknya kotak seperti bantal, paling enak pada waktu itu rasa es dawet. Wuih, sueger banget! Nah Kawan, pada suatu hari aku menemukan kembali es yang segar itu! Dalam wujud yang berbeda siy, klo skarang bentuknya kayak es mambo biasa bulat panjang. Tapi variannya makin banyak, es ketan item ni paling enak, es kelapa, kopyor, nangka, strawberry, coklat, kopi, kacang ijo, wah banyak deh. Cuman mengkudu yang gak ada, halah lebay :D

es brasil

Hmmm, sueger tenaaan

Menariknya lagi Kawan, di toko ini benar-benar menjual jajanan masa lalu. Ada permen coklat yang bentuknya kayak rokok. Ingat semasa kecil dulu ikut-ikutan gaya orang dewasa merokok hehehe…. padahal ampek skarang benci banget ma rokok. Trus ada permen Davos. Kau tau permen itu, Kawan? Permen pedas yang bentuknya bulat putih. Dulu alm. Mbah Tie senang banget ma permen ini, padahal kalo makan permen ini pasti bersin-bersin. Pernah kutanyakan pada Mbah Tie ku itu. Mbah Tie, kok seneng ma permen davos sih? Padahal kan bersin-bersin? Lalu Mbah Tie menjawab sambil terus merenda, Iya buat rame-rame daripada sepi. Hehehe, dulu semasa kuliah mang hanya aku dan Mbah Kakung dan Mbah Tie yang tinggal, setelah kakakku lulus.

permen rokok

Merokok ini aja, lebih aman

davos

Hatsyiiii.....

Kalo kau merindukan jajanan masa lalu, Kawan datanglah ke toko ini. Toko Mirama di Bekasi Square, pokoknya kalo parkir di halaman pasti kliatan. Jangan lupa, beli es brasil yaaa…. Maniiiiis rasanya….

mirama

Masuk sini dipriksa dulu ma densus 88

Dualisme Lebaran

Lebaran? Wow, hari yang dinanti-nanti gak cuma oleh para muslim bahkan yang non muslim. Mengapa? Tentu saja karena Lebaran berarti libur, THR, makan ketupat, itu setidaknya pandangan non muslim. Bagi yang muslim tentu saja mempunyai makna yang lebih dalam.

Aku pun sangat menanti-nanti hari raya ini. ‘Coz berarti liburan dan makan rendang dan gulai ayam buatan nenek (ibunda mertua) yang wuenak. Dan tak ketinggalan ketupat ketan yang luwar biaso lezatnyo. Dengan santannya yang mletrek-mletrek dan gurih tiada tara. Katupek sipuluik owh….. nyam…nyam….

Tapiiiii…… dibalik segala kenikmatan dan kelegaan itu masih terselip rasa cemas yang juga tiada tara. Apa itu? Oh, kau tentu dengan mudah bisa menebaknya, Kawan! Pikiran yang tak terasa di awal liburan namun memenuhi benak dan mengganjal di kalbu di akhir liburan. Membayangi terus di detik-detik akhir liburan. Bahkan terasa mengganggu di setiap kegiatan. Pikiran itu adalah sebentuk perntanyaan. Pertanyaan yang takkan pernah bisa kujawab namun selalu kuharap.

Sebentuk pertanyaan yang sangat sederhana namun menguras seluruh perasaan. Kau tau Kawan, pertanyaan itu?

Hanya  “Si Mbak balik lagi gak yaaaa?” Ooooh, sebentuk pertanyaan yang sungguh menyiksa batin :(

Mudah-mudahan kedua staf rumah tanggaku itu mau balik lagi. Aku sudah sangat tergantung pada mereka. Sudah 3 tahun mereka ikut aku, dan mereka mengatakan akan kembali. Semoga itu benar.

Waduk Walahar

Meminjam istilah Guanteng, kemaren aku hanya puasa 12, puasa ampek jam 12 aja hihihi…. abis panaaaaas banget! Ceritanya maren aku ke Karawang Timur, sehabis ke kelurahan dilanjutkan ke Puskesmas Ciampel. Duh Kawan, jauhnyaa… Untuk menuju ke sana kami harus melewati jalan yang berliku-liku, beberapa jalan rusak dan sempit sekali. Yang lebih seru ketika menuju puskesmas, kami harus melewati persawahan. Wuiih, seru dan indah! Tapi Kawan, jalannya hanya bisa dilalui satu mobil. Bayangkan ketika harus berpapasan dengan truk. Untunglah sopir truknya mau mengalah ampe ke pinggir sawah hihihi…… Di sepanjang jalan kanan dan kiri sawah hijau terhampar. Air irigasi mengalir dengan indahnya, mengalunkan gemericik air kehidupan… halah…. Nyesel gak aku foto maren. Padahal jarang banget berada di pinggir sawah beneran, biasanya kan kliatan dari tol aja.

Setelah urusan selesai, aku menanyakan jalur alternatif agar gak lewat sawah lagi. Indah sih, tapi sempit banget. Ntar kalo papasan lagi ma mobil gimana? Oh, ternyata ada, Kawan. Memang sih katanya mesti lewat jembatan sempit juga tapi gak papa ‘coz ada yang mengatur. So aku putuskan lewat jalan kedua.

Ternyata Kawan, keputusanku gak salah! Jalan yang kutempuh melewati jembatan waduk Walahar! Wuih, kami girang banget. Apalagi di samping kiri ada tempat makan yang sangat terkenal dengan menu pepesnya. Maka aku dan sobatku memutuskan untuk belok hahaha…..

Lanjutkan membaca

Gempa

Gempa kemaren sungguh mengerikan. Sebetulnya aku pengeen sekali bisa cerita kondisiku saat gempa maren. Tapiiiii….. gak brani. Soalnya kalo aku crita maka akan ketahuan “kebandelanku” kemaren hehehe…..

Yang pasti panik dan gemetar. Hal pertama yang kulakukan adalah menelpon anak-anak di rumah. Tapi Kawan, telpon gak isa dihubungi, huwaaaaa…… aku panik banget. Aku kuatir anak-anak ketakutan. Dan setelah berhasil kuhubungi memang anak-anak sempat menangis ketakutan. Untunglah semua aman. Thanks God!

Semoga semua korban gempa diberi ketabahan dan kekuatan. Amin.

Mengapa Diciptakan Kalau Hanya untuk Dibunuh?

Tadi malam, kekasihku membaca buku yang sangat tebal, seperti kebiasaannya sehabis sholat. Entah itu tafsir ato hadis, ato apa aku tak tau. Setiap membaca hal yang menarik, kekasihku membacakannya untuk kedua malaikatku. Salah satunya adalah membicarakan cicak. Rupanya ada pernyataan bahwa membunuh cicak itu tidak apa-apa, bahkan cicak memang harus dibunuh. Wah, Si Cantik yang bercita-cita jadi dokter hewan dan penyayang binatang tentunya bertanya-tanya. Cicak kan baik, Yah? Kenapa dibunuh? Kasian.  Kan kalo ada pencuri dia bunyi ck…ck..ck…. gitu. Begitu tanyanya. Wah, Ayah juga belum tau nih, Dek. Besok Ayah cari dulu jawabnya, yaa. Begitu kata kekasihku. Saat itu Guanteng sedang asyik bermain NDS dan sepertinya tak memperhatikan. Lalu kekasihku berkata lagi, kalo ular harus dibunuh, DekSoalnya ular itu lambang kejahatan, terutama ular kobra. Si Cantik rupanya setuju. Iya, Yah, kalo ular Adek gak kasian. Gak papa dibunuh aja, soalnya serem.

Lalu tiba-tiba Guanteng yang lagi asyik main game nyelutuk, Ayah, kalo gitu kenapa Allah menciptakan ular kalo cuma buat dibunuh? Nah, nah, suamiku tertawa dan terpesona mendengar pertanyaan Guanteng. Waduh, itu pertanyaan bagus, Kak. Itu pertanyaan yang bahkan orang dewasa pun menanyakannya. Gak ada habisnya debat soal itu. Guanteng tentu saja tak puas dengan komentar kekasihku. Iya, jadi kenapa Allah menciptakan ular, Yah? Padahal kita disuruh membunuhnya.

Maka dengan gaya seorang ustazah aku menjelaskan pada Guanteng. Ehm, ehm, gini, Nak. Allah (dibaca sesuai EYD, ‘coz lidahku gak fasih :D ) itu menciptakan semua makhluk baik dan jahat, rupawan dan buruk. Semua itu punya Allah. Termasuk ular dan iblis. Allah menciptakan iblis untuk menggoda kita manusia. Kalo iman kita kuat, maka kita akan selamat dan masuk surga. Tapi kalo kita tergoda dan berbuat yang gak baik maka kita akan masuk neraka. Jadi mungkin salah satu tujuan Allah menciptakan ular adalah untuk menguji iman kita. Bukankah dulu setan menggoda Hawa dalam bentuk ular? Maka agar kita tidak celaka, Allah juga mengingatkan untuk membunuh ular jika kita menemukan binatang itu. Ular kan binatang berbisa. Tentu saja aku tidak membahas urusan ekosistem dan rantai makanan di sini.

Guanteng nampaknya menyimak. Bunda tanya dulu sama Allah, benar gak jawaban Bunda itu. Gubrakkk!!! Udah berbusa-busa, panjang lebar ngarangnya, masih gak dipercaya jugak?? Kekasihku tertawa aja. Udah, Bunda udah nanya Allah, emang gitu jawabnya. Sanggahku sok pede. Ah, bener gak, Yah jawaban Bunda? Kekasihku yang jarang mengakui “kecerdasanku” itu hanya menjawab, iya kali. Huh!

Namun aku kini menyadari, kedua malaikatku sudah tumbuh besar. Banyak sekali pertanyaan kritis dan bahkan yang mungkin tak bisa kujawab. So aku mesti banyak belajar lagi. Hmm….