Iseng Aja · Tak Enak

Karti Mo Kawin

Oh, tidaaaaak!!! Umurnya memang sudah 27 tahun, sudah sangat tua untuk ukuran kampungnya. Adik-adiknya 4 orang dah kawin semua di usia 20 – 21 th dan sudah beranak pinak. Tapi dia juga masih punya adik umur 8 th yang dia biayai sekolahnya. Jumlah sodaranya semua 12 orang, meninggal 2 waktu bayi. Orang tuanya hanya petani gak jelas dan sudah sakit-sakitan pula. Sudah banyak cucunya tapi tetap menuntut Karti untuk segera kawin dan memberinya cucu lagi.  

Sudah sejak tiga tahun lalu Karti dipaksa kawin, sampe didatangi ibunya dan dipaksa pulang. Tapi Karti tidak mau, segala macam laki-laki pilihan Bapaknya dia tolak. Mulai dari perjaka, anak majikan Bapaknya (karena Bapaknya ada utang), sampe duda muda pun dia tolak. Sempat terpikir Karti tidak normal, karena dulu pernah ”dekat” dengan perempuan bernama Suti. Sangat dekat, sampai mandi pun bareng, makan sepiring berdua, kalo malam Karti tiduran di pangkuan Suti di teras sambil menatap bintang di langit (lho, kok tau? Hasil ngintip dan gosip). Karti kerja di tempat lain tapi kalo bobok maunya sama Suti. Barangkali Karti normal tapi Suti tidak. Karena Suti berperawakan besar dan selalu berambut pendek serta selalu melindungi Karti yang kecil dan perempuan banget. Sempat Suti melamar kerja di tempat Karti kerja, tapi karena gosip ”tak normal” nya mereka, dengan tegas ditolak oleh boss Karti. Seringkali di siang hari, saat boss Karti tak ada Suti datang menjenguk Karti. Entah apa yang mereka bicarakan atau lakukan. Tapi Karti tidak jujur, dia tidak memberitahu sang boss. Semua terungkap karena ada yang melihat. 

Tapi ternyata dugaan itu salah. Suatu saat Suti harus pulang kampung karena ibunya sakit. Terpisahlah mereka karena ternyata Suti tidak kembali lagi. Karti mulai bergaul dengan teman-temannya lagi. Karti mulai bergaul dengan laki-laki. Awalnya dikenalkan oleh kakaknya yang tukang kayu. Mereka sering sms-an, sampai suatu saat sang pria mengajak kopi darat. Awalnya Karti takut, tapi entah mengapa akhirnya dia pergi juga. Dan ternyata cinta bersemi. Mereka mulai merajut mimpi, merenda cinta, dan mengobras masa depan (opo to yo?). 

Karti mulai sering pergi, tak ada hari libur yang dia lewatkan di rumah. Pergi pagi pulang malam. Biarlah, mereka sedang kasmaran. Telepon mulai sering berdering, pagi, siang, malam. Karti mulai tidak konsen, masak selalu asin, mulai pakai minyak wangi, suka senyum sendiri bahkan kadang ngobrol sendiri (ah, berlebihan lagii). Namun tak jarang pula Karti uring-uringan, semua kena cemberut, telepon dibanting, masak gosong, ah rasanya seperti menghadapi anak belasan tahun sedang puber. 

Singkat cerita, terjadilah pembicaraan antar orang tua. Imron, pacar Karti, mulai mendatangi ortu Karti di kampung. Lancar. Lalu Imron mulai mengajak Karti bertandang ke rumahnya, dikenalkan pada keluarganya. Lancar. Ibu Imron yang Betawi asli sangat menyukai Karti. Oya, Si Imron ini anak pertama, bujang lapuak karena sudah 34 th umurnya. Kerja di perusahaan kayu PT. Mumet Merdeka, bergaji tetap dan sudah bermotor. Adiknya dua perempuan semua dan sudah menikah semua dan tinggal di rumah orang tua semua. Lancar semua. 

Hari H sudah ditetapkan. Tanggal 30 Maret 2008. Imron sudah menghadap boss Karti untuk minta ijin. Boss Karti memberi wejangan-wejangan basi untuk Imron.

          ”Nanti kalo sudah menikah, usahakan tinggal sendiri, jangan dengan orang tuamu, kasihan Karti.” 

         ”Ya, Bu. Rencana kami mau ngontrak rumah setelah 4 bulan.”  

        ”Sebetulnya Karti masih ingin kerja, tapi tidak bagus kalo kalian terpisah. Pengantin baru, apalagi nanti klo ngidam” 

         ”Iya, Bu” (wajah Imron tersipu malu)

          ”Kalo masih pengen kerja, modalin aja Karti buka warung nasi. Masaknya enak, lho, apa aja bisa dari sayur asem sampe rendang Padang, apalagi sotonya enak banget. Kan bisa kerja sambil ngawasin anak, di rumah lagi.” 

         ”Iya, Bu” (Imron makin tersipu dan bahagia). 

         ”Masih boleh kan Karti kerja sampai akhir Februari nanti?”

          ”Iya Bu. Tidak apa.” 

Sempat Karti ragu dengan keputusannya untuk menikah. Kebebasannya akan terenggut, dia yang terbiasa punya uang sendiri, yang masih menanggung adiknya. Ah, tapi kodrat perempuan adalah kawin dan punya anak. Karti tak bisa menolak itu apalagi orang tuanya begitu menuntut. Sang Boss hanya bisa memberi nasehat.

          ”Kamu harus mantap, jalani saja. Hanya kamu yang tau, Imron itu seperti apa, keluarganya gimana. Kalo memang baik, yakinlah, semua akan baik.” 

         ”Iya, Bu. Kalo nanti ada apa-apa, Ibu masih mau terima saya kerja di sini, kan?”

         ”Yakinlah, gak akan terjadi apa-apa. Semua akan baik kalo kalian berniat baik.” 

         ”Ya, Bu.” 

Waktu terus bergulir, sebentar lagi akhir Januari lalu Februari, ooohhh….Lalu, siapakah Karti itu? Karti adalah anak gembala selalu riang tak pernah lelah (ah, ngelantur). 

Karti adalah seseorang, dimana aku mempercayakan belahan jiwaku padanya, 12 jam sehari, 5 hari seminggu, selama lebih dari lima tahun. Kupercayakan belahan jiwaku untuk dirawat dan diasuhnya hingga selalu sehat, terawat, montok.

Aku sudah sangat tergantung padanya….

Belahan jiwaku sudah sangat tergantung padanya….

Kekasihku sudah sangat ….eeeitt, salah… 

Semoga kamu bahagia, Karti. Sekalipun kadang aku kesal padamu karena kamu begitu sensi dan tak pernah mau dikritik, tapi aku berdoa untuk kebahagiaanmu. Terimakasih untuk jasamu selama ini. Ooh…..

11 tanggapan untuk “Karti Mo Kawin

  1. Risiko yang harus dihadapi, jika yang momong belahan hati kita, mendapatkan tambatan hatinya….tapi kita harus rela, semoga Karti bahagia.
    Dan si kecil mendapat pemomong yang baru dan baik hati, serta penyayang.

  2. @Ferry ZK
    Kok no comment? Ikutan pusing, dooong..

    @Dewo
    He..he.. rada mengharukan, sih.

    @edratna
    Itulah, Bu, sudah terlalu lama tergantung pada seseorang akhirnya ketika dia mo pergi segalanya terasa berantakan. Mudah-2an gantinya baik juga, ya BU. Makasih doanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s