Nomor Dua

Bukan masalah sebetulnya menjadi nomor dua. Karena bila tak siap mental mungkin lebih enak menjadi nomor dua, tidak harus menjadi panutan, tidak harus menanggung beban.

Yang tak enak adalah dinomorduakan! Ketika seharusnya menjadi yang utama namun harus menjadi cadangan! Ketika seharusnya mendapat yang terbaik namun hanya mendapat sisa! Haruskah mulai membiasakan diri?

Ah, sensi sekali aku akhir-akhir ini. Hilang percaya dirikah? Saat orang lain menerima tawaran terbaik, seperti jabatan, pekerjaan, liburan menarik, tapi aku malah berkutat pada masalah tak penting! Mengapa bagi orang lain tak penting namun serasa meraja di kepalaku? Faktor umurkah? Hilang percayakah? Mengapa aku kembali seperti anak kecil yang harus selalu menjadi utama? Yang selalu ingin diperhatikan? Lelahnya diriku. Ketika semua orang berbahagia meninggalkan rutinintas aku malah terpenjara dalam kebosanan!

Bosan? Bosan akan apa? Entahlah, Sabtu-Minggu yang kunanti setiap hari ternyata hanya berujung sepi. Kembali aku terperangkap pada kesempitan. Bodoh sekali aku ini, menyerah pada hal yang tak jelas.

Duh, sensinya diriku ini. Akan kedatangan bulan merahkah? Aku tak tau…..

Iklan

2 thoughts on “Nomor Dua

  1. mbelGedez™ Juli 26, 2008 / 8:55 pm

    Padahal biyasanya nyang jadi cadangan malah dimanja loohh….
    Liyat ajah, ban cadangan da mobil malah ndak pernah dipake….

    😆

    Tapi kan diinget cuma kalo diperluin doang, Om? Btw, menghibur sekali…thanks.
    😦

  2. Someone November 24, 2008 / 1:07 am

    Shrsnya kt tanya pd diri ndiri knp kt jd no dua?

    Hmmm, jenuh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s