Apakah Pasangan Hidup = Soul Mate?

Seharusnya pasangan hidup adalah soul mate kita

Tapiiiiii kenyataannya gak begitu bukan? Banyak pasangan yang sudah sekian tahun menikah tapi justru ketemu soul mate di lingkungan pekerjaan, pertemanan, mantan pacar. Bagaimana mungkin? Dulu waktu pacaran gimana? Trus dah bertahun-tahun menikah piye? Lha, embuh!!

Soul mate tuh apa sih? Asline aku ya gak tau šŸ˜€Ā  Menurutku, soul mate tu seseorang dimana kita bisa mendapatkan kenyamanan, bisa total curhat seenaknya tanpa resiko diomelin ato dikritik abis, gak malu ato sungkan menumpahkan isi hati, wis nyaman bener deh berdekatan dengannya. Kadang soul mate kita sudah tau apa yang kita rasakan tanpa kita harus ngomong dulu, tau apa yang kita inginkan tanpa kita minta, weh punya indra keenam duooong???

Nah, apakah pasangan hidup kita saat ini sudah memenuhi persyaratan untuk menjadi seorang soul mate? Alangkah bahagianya bila demikian. Hmm, tapi lom tentu yaaa?Ā  Gimana kalo soul mate itu justru kita dapatkan dari rekan sekantor? Ato teman chatting? Ato orang lain pokoke bukan pasangan deh? Wah, gawat yaa? Memang kadang pasangan kita jenuh atoĀ males mendengar curhat kita, ato memang kitanya yang membosankan? Hal yang seharusnya diselesaikan berdua akhirnya mentok karena “gak nyambung”. Yang pengen cari solusi tapi ujung-ujungnya malah berantem?Ā Apa sih yang bikin gak nyambung?Ā  Jenuh? Sudah tau isi masing-masing luar dalam? Jadi ketika ada “seseorang lain” yang curhat pada kita ato yang rela kita curhatin, rasanya menyenangkan? Suasana baru, wajah baru, deg degan baru? Dari sinikah awal timbulnya perselingkuhan? Ato selingkuh dulu baru curhat-curhatan? Mbuhlah, wong aku lom pernah selingkuh or curhat ma orang?

Sebetulnya gak masalah sih menemukan belahan jiwa pada diri orang lain. Yang jadi masalah kan kalo soul mate nya itu lawan jenis to? Eh, ato soul mate itu emang identik dengan lawan jenis? Menurutku sih gak ya. Aku punya seorang sahabat yang usus dan jeroanku tau semua tapi sejenis, cewek. Dan cocok banget. Apa itu disebut soul mate ato sekedar sahabat ya? Sayangnya kita harus berpisah karena proses kedewasaan yang memisahkan, masing-masing mencari hidup sendiri. Hallo Fe, pa kabar?

Yang pasti bagiku belahan jiwaku saat ini adalah kedua malaikatku. Mereka tau kapan aku sakit, sedih, senang, marah (lha, kalo yang ini pasti tau, he…he…). So aku berjanji pada diriku sendiri kelak akupun akan jadi soul mate mereka. Terutama saat-saat mereka melewati masa remaja yang pasti sulit. Bersikap seperti “Ibu” yang melarang ini-itu, menasehati ini-itu, Ā boleh, tapi bersikap sebagai sahabat akan lebih penting buat mereka. Agar mereka tak mencari sahabat yang salah.

So, siapakah soul mate mu, Kawan?

Iklan

8 thoughts on “Apakah Pasangan Hidup = Soul Mate?

  1. nh18 Februari 5, 2009 / 12:40 pm

    Hmmm … Soulmate ?
    Aku kok ndak percaya ya dengan hal itu …

    Yang aku percaya adalah …
    Ada orang yang “cocok” dan “klik” sekali dengan kita …

    Dan pertanyaan selanjutnya adalah …
    “Apakah ada orang yang lebih cocok dan lebih klik dari pasangan kita yang sekarang ?”
    hhmmm … aku tidak bisa menjawabnya …

    Tapi yang jelas …
    Lebih baik menjaga satu merpati ditangan …
    daripada tertarik untuk mengejar merpati lain yang terbang diawan …
    Karena merpati di awan itu belum tentu lebih baik dari merpati yang sudah ditangan kita ini …

    Hmmm … panjang yak …
    Eniwei …
    Salam saya Bu …

    Setujuuuuuuu ….. Emang Pak, merpati di awan itu jelas-jelas gak lebih baik wong ngayap mulu he…he…he…

  2. bujanglahat Februari 5, 2009 / 12:55 pm

    Soulmate ku adalah istriku nanti… hihihi

    Ditunggu undangannya hihihi…..

  3. Ferry ZK Februari 5, 2009 / 2:12 pm

    menyatukan (kemauan) 2 kepala tentu bukan perkara mudah apalagi masing – masing kepala terpisah satu sama lainya, lhaaa wong yang kembar siam dempet kepala saja yang jelas – jelas sudah disatukan kepalanya masih tidak sejalan, yang satu mau makan yang lainya emoh berat apalagi yang tidak dan tak ada hubungan persamaan rahim yang melahirkan ???

    jika biduk sudah dikayuh sudah tentu gelombang siap ditempuh dan apabila badai serta ombak kemudian datang bergemuruh itulah tantangan sebenarnya sebelum berlabuh..

    Orang Kerdil bicara soul mate..

    Orang Dewasa bicara adaptasi/penyesuaian, hak & kewajiban, posisi dan proporsi, aturan yang disepakati dan segala hal – hal lain sesuai kadar kedewasaanya..

    Orang Kerdil bicara diluar pasangan ternyata ada yang lebih bisa memberi kenyamanan, mau memaklumi, bisa dijadikan sandaran tanpa khawatir sanggahan dll, dsb, dst..

    Orang Dewasa bicara mengendalikan ego, introspeksi diri, menyadari diluar dirinya ada individu lain yang terkait denganya sehingga segala hal yang dilakukan tentu perlu mempertimbangkan individu tersebut..

    Orang kerdil bicara.. hanya perasaan.. yang seringkali subyektif dan hanya menuntut tanpa pernah mampu memandang dengan dua sisi yang berlawanan..

    Orang Dewasa bicara kenyataan, keadaan dan harapan yang mungkin bisa direngkuh kedepan…

    jika biduk sudah dikayuh sudah tentu gelombang siap ditempuh dan apabila badai serta ombak kemudian datang bergemuruh itulah tantangan sebenarnya sebelum berlabuh..

    Hmmmm, dan semoga tidak berpindah ke kapal lain jika badai bergemuruh…. dan tidak berlabuh di tempat yang lebih baik dari pelabuhan yang sudah ada

  4. Ferry ZK Februari 5, 2009 / 2:21 pm

    Indikator mendasar seseorang yang memiliki kedewasaan dan melepas kekerdilan diri adalah kemampuan bersyukur atas apapun yang telah dimiliki… meski sekecil apapun…

    Untuuuung tiap malem eh kadang pagi buta bersyukur pada Tuhan…

  5. Emanuel Setio Dewo Februari 5, 2009 / 6:17 pm

    Akhirnya tertulis juga. Hehehe…

    Ho oh, tapi jadi anak buahe “Snow White” he…he….

  6. Emanuel Setio Dewo Februari 5, 2009 / 6:27 pm

    @ Bang Ferry,

    Hihihi… rupanya Ferry masih bingung antara “fisik” dengan “jiwa.” Jelas kalau kembar siam 8 pun (yang walau pun secara fisik sama) belum tentu akan menjadi soul mate.

    Dan lagi masalah “soul mate” bukan berarti masalah pemikiran. Soul mate pun akan memiliki cara berpikir yang berbeda. Kalau pemikirannya sama, berarti itu foto copy atau cermin atau just follower. Hehehe…

    Oh iya, saya juga punya kata mutiara tentang orang kerdil:

    Hanya orang kerdillah yang mengkerdilkan orang lain.

    Hehehe… Just kidding. Jangan dimasukkan di hati.

    Point-nya adalah bahwa Mbak Choco punya pendapat tentang soul mate. Tentu daku dan bang Ferry punya pendapat berbeda. Tetapi tidaklah perlu mengkerdilkan atau meremehkan pendapat orang yang berbeda. Justru di situlah letak kedewasaan kita diukur.

    BTW, daku pun punya pendapat berbeda dengan Bang Ferry tentang arti “kedewasaan.” Tapi bukan berarti daku akan mengkerdilkan atau mencemooh pendapat Bang Ferry.

    Be tolerant, adalah salah satu ciri kedewasaan. Tetapi toleransi saja bukan berarti sudah dewasa.

    Salam damai & sejahtera.

    Padahal tinggiku 160 cm lho šŸ˜¦
    Eniwei, mungkin karena faktor usia ya menyusut, asal bukan osteoporosis he…he…

  7. Ferry ZK Februari 6, 2009 / 9:14 am

    @ Bro Dewo,

    kekeke justru itu intinya, anda sudah bahas panjang lebar so makin jelas bukan bahwa hanya orang kerdil yang bicara soul mate coz tiap jiwa punya kehendak tiap kehendak didasari kepentingan dan semuanya tentu dibumbui oleh ego, sepanjang kepentingan sama atau ada kesamaan (seperti anda dengan chocho dalam kasus ini contohnya) tentu semua serasa “soul mate” tetapi ketika ada gesekan kepentingan, yang tadinya “soul mate” bisa jadi berubah mendadak (bukankah anda pernah mengalaminya hehehe lihat postingan anda terdahulu tentang “kawan dekat anda”). Jika rekan sekantor atau teman lama serasa “soul mate” apakah itu berarti dia mengerti anda dan anda mengerti dia ? grow up man… itu semua cuma basa basi coz ada tameng antara dia dengan anda, tameng yang terbuat karena ada jarak antara dia dengan anda, sementara dengan pasangan tentu karena sudah sehidup semati sudah tanpa tameng lagi coz gimana rasanya hidup seatap tapi masih ada basa – basi ?

    “Toleran” ada pada tataran pergaulan diluar keluarga sebab dalam keluarga yang ada adalah kesepakatan yang telah disepakati bersama, anda dengan saya tentu ada “Toleran” disitu, tetapi saya dengan keluarga tentu beda, sebab sebagai kepala keluarga tentu saya memiliki kepentingan sendiri meski anda sebagai nasrani belum tentu mengerti arti kepala keluarga sebagai pemimpin dalam keluarga.

    Salam Damai.

    Lho…lho… kok mbawa-mbawa nasrani dan kepala keluarga to? Wah…wah… musti ganti topik, kayaknya aku mo nulis tantang “room mate” aja deh, lebih aman (kos-kosan kaleee)

    Ngelus dada, untung aku gak punya “soul mate” diluaran sana

  8. Mbelgedezā„¢ Februari 6, 2009 / 4:21 pm

    .
    Soulmate ku yaitu, mobil atau motor yang bisa mbawa diriku lari kencang….

    Kalo selingkuhanku sekarang, modem Axesstel dari JUMP Smart….

    ***lho,…ndak nyambung yak ???***

    Mobil ato motor untuk membawa lari kencang diriku dan soulmate ku he…he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s