Menawar “Undertable”

Masih terkait dengan tulisanku sebelumnya soal “Turunkan Harga”. Kali ini yang terjadi adalah naikkan “undertable”. Capeeek, deeehhh!!! Memang sudah bukan rahasia lagi kalo kita menjual sesuatu pada perusahaan pasti ada “oknum” yang meminta komisi. Terutama bagi para key person. Merekalah yang akan membawa proposal  kita ke rapat direksi, sampai diputuskan siapa yang akan menang tender. Dan Kawan, ada oknum-oknum tertentu yang akan memperjuangkan agar tawaran kita goal asalkan kita bisa memberi sesuatu kepada mereka. Hah, hal yang sudah biasa bukan?

Yang menyebalkan adalah kalo mereka ini nawar komisinya. Ah, kok kamu cuma kasih 10%? Tuh si A nawarin saya sampe 20% lhoo. Wah, kan harga saya juga udah murah, Pak, kalo diskonnya ditambah lagi bisa bangkrut saya? Gak lah, Si A juga kasih harga yang sama kok! Waduh, kalo 20% terlalu berat, Pak, 15% aja yaaaa? Samain aja deh, nanti punya kamu yang akan saya goal kan, soalnya  Si A gak bisa bikin laporan sebagus kamu. Nah itu dia, Pak, gak cuma laporan tapi pelaksanaannya pun kita jauh lebih rapi dan tertib, cepat pula gak mengganggu kerja. Jadi deal ya, Pak, 15%. Nanti deh, saya pikirkan lagi. Kamu pertimbangkan aja kalo Si A itu bisa kasih lebih kenapa kamu enggak?

Gggrrrrrrr! Sebel kan kalo menghadapi orang seperti ini? Kalo yang ditawar harga jual sih gak papa, kan demi penghematan perusahaan dia. Lha ini yang ditawar komisi? Coba Kawan, bayangkan, misalnya saja proyek ini bernilai 100 jt, trus dia dapat komisi 20 jt. Enak amat?? Padahal dianya gak ngapa-ngapain. Oke, dia memang sudah membantu kita untuk menggoalkan proposal kita, tapi kan di lapangan yang bekerja itu anak buah dia, bukan dia. Oke, doi bertanggungjawab terhadap pekerjaan ini, artinya kalo kami kerja gak beres pasti doi akan minta pertanggungjawaban kita secara dia juga akan diadili oleh direksi. Tapi kan team ku akan bekerja sebaik-baiknya, gak mungkin sembarangan sekalipun kita sudah membayar uang “undertable” bukan? Karena buat kami kerjasama ini diharapkan gak cuma sekali tapi bertahun-tahun ke depan. Dan yang terpenting buat kita adalah kepuasan pelanggan agar mereka selalu kembali lagi dan bahkan akan mengajak rekan mereka untuk bekerjasama dengan kami. Bukankah ada pepatah “Kalo customer puas dia akan memberitahukan kepada satu orang, tapi jika customer tidak puas dia akan memberitahukan pada 10, 15, 30 orang, bahkan pada setiap orang yang ditemuinya.” So? Gak berani macem-macem kan kita?

Menghadapi orang-orang seperti ini mang menyebalkan, tapi tetap harus dihadapi. Kalo mang minta komisinya gak masuk akal sih kutinggal aja. Tapi selama masih wajar dan masuk hitungan pasti kuberi, iyalah kan kita juga mesti berterimakasih. Untunglah gak banyak sih orang menyebalkan model begini yang aku temui. Kebanyakan mereka menawar harga jual aja, yah sambil makan siang bareng. Padahal kalo orang baik-baik kita juga gak diam aja kok. Biasanya setelah proyek selesai kita beri souvenir, seperti jam mahal, ponsel, camdig, ato uang dalam jumlah yang pantas. Pokoke kami juga berterimakasihlah atas bantuan mereka.

So, enaknya diapain ya orang kayak gini? Mereka tau banget kalo kita butuh mereka. Hiiiiihhhhh!!!!!

Iklan

4 thoughts on “Menawar “Undertable”

  1. nh18 Februari 18, 2009 / 2:43 pm

    Udah … Jitak aja …

    Yang hebatnya …
    Orang yang seperti ini … kalo ada kamera TV teriaknya paling kenceng … demo soal KKN dan yang sejenisnya …

    Jitak dua kali … !!!

    Choco:

    Setuju, sungguh menyebalkan orang-orang begini. Masalahnya mo dijitak pada pake helm 😀

  2. Mbelgedez™ Februari 21, 2009 / 12:10 am

    .
    Dulu sayah selalu meninggalkan orang-orang kayak gituh…

    Dan ternyata keputusan sayah ndak salah.

    Begitu dia cuman ngejar komisi, maka harga yang di dapet juga akan makin murah, dengan kualitas yang juga menurun…..

    Choco:

    Iya, menyebalkan rasanya gak ikhlas deh ngasihnya. Orang-orang begini biasanya kutinggal juga, kecuali kalo proyek gede 😀

  3. Emanuel Setio Dewo Februari 22, 2009 / 9:20 pm

    Tinggal saja!!!
    Aku sdh bbrp kali ketemu orang kayak begini, bahkan sering kali lebih parah karena yg dimakan adalah URANG RAKYAT. Hanya ada satu kata: TINGGAL!!!

    Kalau nekat dituruti, duit yg dia makan tidak akan jadi kebaikan buat dia. Dan kita pun tidak bakal kerja dengan optimal karena dana dipotong. Hati kita pun tidak nyaman.

    Choco:

    Betul, mang kita kerja bakti gak ada untung? Tinggal aja sambil bilang: Gigi lo tujuh? 😀

  4. Emanuel Setio Dewo Februari 22, 2009 / 9:21 pm

    Eh, ada salah ketik, mohon diralat.
    Seharusnya:
    “UANG RAKYAT”

    Choco:

    Saking semangatnya ampe salah ketik 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s