Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Tak Enak

Akibat Mengabaikan Hanura

Bukan, tentu saja bukan, Kawan! Hanura yang aku maksud adalah “hati nurani” yang sebenarnya jadi gak pake “rakyat“. Kan sudah kubilang aku ini hanyalah emak-emak yang sok mau jadi wanita karir, tapi tetep aja gak ngerti politik.  So bukan “hanura” yang itu yaaa….

Kisahnya terjadi kemaren. Kantorku sedang ada proyek di lapangan. Maka team sudah kusiapkan, termasuk PIC sudah kutentukan, yakni sobatku sendiri yang sekaligus asistenku. Namun tiba-tiba di malam hari dia sms gak bisa ikut ‘coz diare. Kuharap sih diare beneran, karna kalo bo’ong aku bakalan marah banget. Nah, sementara aku sendiri gak isa ikut ‘coz harus menyelesaikan laporan yang dead line nya pada hari itu juga jam dua siang. Gak mungkin aku meninggalkan kerjaanku. So, teamku bagaikan anak ayam kehilangan induk berada di lapangan. Hanya saja karena mereka sudah berpengalaman maka aku gak kuatir sama sekali.

Segalanya berjalan lancar sampai setelah makan siang tiba-tiba klienku yang Boz itu menelpon. Tahukah Kawan, apa yang terjadi? Pak Boz ini marah-marah bahkan mengancam tidak akan membayar proyek karena ada ketidakpuasan oleh cara kerja yang dilakukan salah satu teamku. Tentu saja aku kalang kabut kebingungan, dia juga marah-marah karena aku ato asistenku tak datang sama sekali sehingga terjadi kesalahan itu. Sudah kujelaskan bahwa aku akan datang tapi agak sore. Dia tetap marah dan menuntut kesalahan, yang sebetulnya bukan kesalahan melainkan kelalaian karena tidak mengikuti prosedur, harus segera diperbaiki.

Bayangkan Kawan, saat itu aku tengah berkutat menyelesaikan laporan yang harus segera dikirim, kondisiku dalam keadaan kurang tidur karena sudah dua malam selalu tidur larut demi menyicil laporan, ditambah lagi listrik mati, bajuku berlengan panjang, sumpek, sesak napas kepanasan, berkuah-kuah, plus dalam rangka menyambut tamu bulanan, tiba-tiba dimarahi klien. Satu-satunya hal yang melegakan hanyalah baterei Red Dellon ku penuh. Tapi tetap saja aku mencapai titik didih hingga otakku nyaris meleleh.

Kalo sudah gitu yang bisa kulakukan hanya diam. Namun ketika aku menelepon salah satu teamku di lapangan, air mataku langsung bercucuran, suaraku nyangkut di tenggorokan. Ah, cengeng sekali aku ini. Tapi itulah yang terjadi, panik! Dan aku sangat marah pada sobatku yang mencret sudah dua hari kok gak sembuh-sembuh. Kalo ada dia tentu kemarahan Pak Boz bisa diredam dan persoalan bisa diatasi.

Lalu apa hubungannya dengan hanuraku? Begini Kawan, pagi harinya di persimpangan jalan, hanuraku sempat berkata untuk setidaknya nongol bentar di lokasi, so belok kiri saja. Toh muncul hanya sebentar demi mengenalkan teamku pada klien, gak nyampe 15 menit. Tapi aku bertindak lain, kuabaikan hanuraku lalu aku belok kanan menuju kantor. Pikirku aku selesaikan dulu laporan secepat mungkin lalu langsung menuju lokasi. Dan inilah yang kudapatkan, kemarahan dan kekecewaan klien.

Bagi seorang marketing, sangat penting untuk hadir pada saat proyek dilaksanakan. ‘Coz klien hanya kenal si marketer sebagai kontak person. Ketika datang ke proyek, si marketer mengenalkan teamnya, siapa PIC nya, jadi kalo ada apa-apa si klien tinggal berhubungan dengan PIC. Kemudian setelah memastikan semua berez dan terkendali, barulah si marketer boleh meninggalkan lokasi. Syukur-syukur sorenya datang lagi untuk mengecek kerjaan hari itu. Biasanya hal itu selalu kulakukan. Tapi sudah kubilang Kawan, ada kerjaan yang tak bisa kutinggal. Dan sialnya PIC yang juga asisten kepercayaanku itu mendadak sakit.  Ooh, lain kali jangan terlalu mengandalkan seseorang!

Pelajaran yang kupetik, walo cuma 5 menit sebaiknya aku harus selalu datang pada hari pertama proyek. Apapun kesulitan dan kesibukanku, harus menyempatkan diri. Untunglah setelah aku minta maaf melalui asisten si Pak Boz dan kepada dia sendiri, amarahnya langsung mereda dan tentu saja segera kuperbaiki kesalahan team kami.

So, jangan lupa bayar ya Paaak……

4 tanggapan untuk “Akibat Mengabaikan Hanura

  1. lebih milih mana, ngerjain deadline telat atau tidak dibayar sama klien ?

    Choco:

    Deadline telat jugak ancamannya gak dibayar, Pak 😦
    Tapi syukurlah maren gak telat, cuman kurang 10 menit menuju jam deadline 😀
    (hayah, kayak Pak SBY aja, last minute)

  2. hatinurani gw mengatakan …”bayaran lebih berarti” 🙂
    salam kenyal ya buuuu…..and jgn sungkan mampir di rumah gw…thx ya

    Choco:

    Iya, kalo gak bangkrut deeh 😀
    Salam kenal juga. BTW, aku mo mampir tapi kok gak ninggalin alamat ya? Tadi nanya tukang ojek malah nyasar
    😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s