Iseng Aja · Nyam...nyam...sedaaap... · Tak Enak

Aku Telah Tergoda

Sungguh aku telah berusaha menolaknya, dengan cara halus maupun kasar. Tapi dia terus menggodaku, merayuku, membujukku. Aku tau, menerima rayuannya adalah kesalahan besar dalam hidup. Tidak hanya aku yang dirugikan, tapi seluruh anggota keluargaku 😦  Tapi, siapa yang sanggup menolak kenikmatan duniawi ini?

Bukan aku tak menyadari, sekali kuterima rayuannya, maka semuanya akan berlanjut. Bukan aku tak mengerti, sekali terjerumus, maka akan berat untuk meninggalkannya. Duh, jantungku, hatiku, ginjalku, pankreasku, mengapa kau tak mau mendukungku? Mengapa kau biarkan aku terperosok dalam lubang kelam ini? 😦

Seringkali kudengar, setelah kau tinggalkan, janganlah kau mencoba lagi kenikmatan terlarang ini, karena sekali kau mencobanya, maka kau akan berat meninggalkannya. Hidupmu akan kacau, tubuhmu mengecap kenikmatan itu namun hatimu hampa. Penyesalan akan terus menghantuimu, menyalahkanmu sepanjang sisa hidupmu.

Tapi, Kawan, bagaimana aku harus menghindarinya? Aku telah tergoda. Aku telah menerima rayuannya. Aku telah terjerumus dalam kenikmatan ini 😦 😦 😦

Tapi, siapa yang tahan godaannya???

Lanjutkan membaca “Aku Telah Tergoda”

I feel blue

Selamat Jalan, Kakek

Telah berpulang ke rumah Allah yang Maha Pengasih, ayah mertua, kakek tersayang pada hari Kamis, 11 Maret 2010.  Kakek meninggal dengan tenang di Padang, kampung halaman tercinta sesuai keinginan beliau semasa hidupnya.

Sepi kini, tak ada lagi Kakek yang tiba-tiba datang ke rumah. Yang selalu didengar kisah-kisahnya oleh Guanteng.

Selamat jalan, Kakek. Doa kami, anak, menantu, dan cucu mengiringi kepergianmu. Semoga Kakek mendapat tempat yang mulia di sisi Allah Yang Maha Kuasa. Dan semoga Nenek selalu tabah dalam sepinya. Amien.

Iseng Aja · Tak Enak

Nyaris Ditangkap

Kemaren adalah hari yang benar-benar mendebarkan buatku. Aku nyaris ditangkap polisi, Kawan! Gak, aku gak melakukan kegiatan kriminal apapun kok. Tapi melakukan pelanggaran. Biasaaa, pelanggaran lalu lintas! 😦

Ceritanya kemarin pulang kerja aku melamun berat. Entah apa yang ada di kepalaku, sampai-sampai aku gak sadar klo lampu bangjo traffic light sudah berubah warna jadi merah! Dengan santainya aku mengikuti mobil yang melaju di depanku. Tiba-tiba mak jegagik, arus mobil dan motor dari arah seberang menerjangku. Kyaaaa, aku langsung panik. Sementara Pak Polisi di pertigaan sudah melambaikan tangannya menyuruhku menepi di dekatnya. Ups, dengan terbirit-birit aku mundur aja. Untunglah mobil di belakangku sedang tidak melamun jugak, jadi aku leluasa mundur. Duh, Pak Polisinya itu masih melambai-lambaikan tangannya padaku, tapi aku main bureng aja. Hampir kubalas lambaian tangannya a la miss universe 😀 (hayah, mending berani!). Mobil box di samping kiriku terus memberi aba-aba padaku untuk terus mundur.

Kupasang wajah innocent dan menoleh ke samping kanan terus, menghindari tatapan Pak Polisi. Padahal, duh jantungku jumpalitan, gimana kalo Pak Polisi itu mendekatiku? Aku berdoa terus dalam hati agar Pak Polisinya memaafkanku. Untunglah doaku terkabul. Ketika lampu berubah hijau, kubiarkan mobil box di kiriku melaju duluan, lalu aku melipir di sampingnya hihihihi….. jadi gak kliatan ama Pak Polisi.

Kok segitu takutnya sih? Lha iya, lha wong SIM ku dah lama mati. Hampir 3 th aku nyetir gak pake SIM, Kawan! Lha kok gak buat? Ceritanya itu SIM masih SIM Semarang, ketika mati aku mo perpanjang, eeee KTP Semarangku jugak mati. Aku dah punya KTP lagi sih di Bogor. Nah, berarti aku harus buat SIM di Bogor. Belonlah kesampaian, KTP  Bogorku menyusul wafat kemudian. Lha, sekarang aku dah gak punya identitas. Ck…ck…ck….

Lom lagi skarang klo buat SIM gak isa nembak. Lha gimana mo lulus? Wong adikku yang sopir bus malam sudah tinggi jam nyetirnya aja mesti ngulang, gimana aku yang sopir angkot nyetir sak penake bisa sekali jadi?

Tapi aku janji, sesegera mungkin (kapan??) akan mengurus KTP lalu buat SIM. Biar hidup ini lebih aman dan nyaman. Terimakasih Pak Polisi yang kemaren, kau baik deh membiarkan aku bebas tanpa ditangkap. Mungkin karena wajahku memelaz gitu yak? Hihihihi……

Cari Solusi · Iseng Aja · Tak Enak

Kecanduan

Rasanya aku tak bisa hidup tanpa coklat. Mungkin karena telah dibiasakan sejak kecil jadi terbawa hingga kini. Tapi kau tentu maklum akan kelezatannya, Kawan. Oh, sungguh aku kecanduan makanan yang satu ini! Lihatlah aromanya, bentuknya, campurannya, rasanya, oohhh….. sungguh membuatku tergila-gila! Addict!!!

Tak penting apakah coklat murni atau telah diolah asal jangan masih mentah, aku pasti meliriknya. Tapi Kawan, kini aku harus menghindarinya. Apa yang kusukai dan kucandui ini telah berbalik menyerangku! Si coklat yang maniz dan lezat ini telah mengkhianatiku!

Kini aku tau mengapa para pecandu narkoba rokok sangat berat untuk berhenti. Apa bedanya dengan diriku yang kecanduan coklat? Sama-sama membuat ketagihan, sama-sama menghabiskan uang, dan sama-sama bikin penyakit!!! Kadang aku heran, kok ada ya yang gak suka makan coklat. Aku selalu berdalih bahwa hidup ini sudah pahit, jadi makanlah yang manis-manis (chocovanilla, 88 SM). Ternyata, maniz yang maniz ini telah mempengaruhi tubuhku! Kini aku harus diet, menghindari coklat yang coklat itu, hiks….hiks…..

Sekarang Kawan, aku mulai disiplin. Sedikit demi sedikit kuhindari benda maniz nan lezat itu, jogging tiap pagi,  tidak makan nasi, serta rajin membaca (lho??) demi mengembalikan kadar gulaku menjadi normal. Wish me luck….

Iseng Aja · Mbuh Ah ! · Nimbrung Mikir · Tak Enak

“Maha”siswa

“Maha”siswa, tak semua pemuda bisa menyandang gelar bergengsi itu
Susah payah sang ayah, berkeringat darah dan berairmata empedu
Namun tiap orang tua ingin sang anak terus maju
Kelak kau kan berjubah dan bertoga, dengan senyum semanis madu

Ah, tak taukah kau “Maha”siswa?
Betapa ibumu menangis melihat kau di jalan raya
Melempar batu merusak segala yang ada
Tak taukah kau “Maha”siswa?
Segala yang kau rusak itu ibumu juga yang punya?
Ayahmu yang membayar dengan cucuran peluh di dahinya?
Rakyat papa ini tak punya lagi apapun tuk menanggungnya
Mengapa pula mesti kau binasakan?

Kaum intelektual bukan julukanmu? Yang cerdas dan santun
Tapi kulihat, lagu anarkis yang terlantun
Caci maki, sumpah serapah yang kutangkap, itukah santun?
Sekali lagi kuingatkan, “Maha”siswa, Adikku
Tengoklah ke belakang bahumu
Ibu tercintamu meratap menangis pilu
Berharap tak sesuatu yang buruk terjadi padamu
Adikmu memang mengelukanmu, mengagumimu
Namun taukah kau apa yang tersimpan di benaknya yang lugu?
Oh, itulah “Maha”siswa, Ibu, kelak aku mau seperti itu
Berlari berkejaran, boleh melempar batu ke segala penjuru
Boleh menjungkirbalikkan kendaraan, boleh membakar hingga mengabu
Boleh memukul orang tanpa ragu

Kini kutanya padamu, “Maha”siswa, Adikku
Kelak kalau kau telah jadi sang pemimpin, sang penguasa
Mampukah kau jaga apa yang telah kau perjuangkan
Terjaminkah kelak kau kan jadi yang adil bijaksana
Cobalah sedikit kau renungkan
Tidakkah kau lihat sebagian pemimpin sekarang
Dulu melakukan apa yang kau lakukan, menyuarakan mimpi-mimpi
Tapi tengoklah kerja mereka, bukankah tetap berkorupsi?
Sungguh aku sangat kawatir, Adikku, “Maha”siswa
Kini kau terbawa emosi dan kehilangan makna perjuangan
Aku kawatir kelak kau kan berubah mengikuti arus jaman
Bukankah harta dan tahta tetap menggiurkan?

Kini, sekali lagi kutanya, Adikku, “Maha”siswa
Sudahkah kau belajar dengan sungguh-sungguh?
Sudahkah kau berprestasi di kampusmu?
Berapakah “IP” terakhirmu?
Oh, kau boleh jawab “IP” takkan pengaruhi masa depan
Tapi setidaknya itu hasil, bahwa kau sungguh seorang “Maha”siswa
Lihatlah Ayahmu, lihatlah Ibumu
Tak hentinya berdoa dan berusaha demi dirimu
Agar kelak ada seorang “Sarjana” dalam keluarga

Sudahlah, Adikku, “Maha”siswa
Tetap kudukung segala daya upayamu untuk negara ini
Tapi, lakukan dengan elegan, dengarkan hatimu, tanpa anarki
Tolong, jangan buat cemas rakyat yang sudah papa ini
Jangan ciptakan kengerian bagi kami

Satu doaku untukmu Adikku, “Maha”siswa
Semoga semua kau lakukan dengan murni dan nurani
Bukan karena frustrasi atau patah hati
Bukan karena pelampiasan atas ketakpuasan
Perjuangkan segala yang harus kau raih dengan hati
Kelak, kami akan bangga melihatmu
Bertoga dan berjubah, dengan sehelai kertas tergenggam
Dengan senyum semanis madu

Iseng Aja · Mbuh Ah ! · Tak Enak

DPR = Sekolahan = Terminal?

Lha kok bisa? Ha mbuh, wong kenyataannya yang kulihat gitu kok? Semalam Kawan, aku liat di Metro TV rapat DPR itu. Walah, sebelum rapat mereka nyanyi-nyanyi dulu. Persis morning gathering di sekolah malaikatku, sebelum pelajaran  mereka nyanyi mars sekolah lalu meneriakkan yel-yel sekolah trus yel-yel masing-masing kelas. Gak papa sih, untuk memberi semangat! Bahkan ini lebih baik daripada cuman datang, duduk, ngemil, bobok, lalu tereak “setujuuuu”.

Trus kayak terminalnya di mananya dong? Itu lho, wong yang satu masih ngomong, nyang lain dah manggil-manggil “pimpinan”. Ntar nyang satu lagi aja lom dijawab nyang lain dah manggil-manggil jugak. Bukankah itu persis situasi di terminal? Yang satu tereak Lebak Bulus, yang lain teriak Kampung Rambutan, trus Cilandak, Ragunan, halah komplit deh!

Yang lebih mengenaskan, lagi dibacain apa tuh di podium (lupa), lha kok ada yang ngomong manggil “gang” nya pake mikrofon! Ck…ck… bener-bener gak ada penghargaan! Inikah yang disebut “dewan terhormat”? Wakil rakyat yang dihormati, yang santun, yang berpendidikan, yang memegang amanat? Wong kelakuannya aja gak jelas! Aku curiga mereka hanya ingin menonjolkan diri. Ntar makin heboh, makin berani tereak, bakal diwawancara tipi, diundang jadi narasumber, ngetop deh!

Emang sih, mereka rela gak tidur ampek malem, rela meninggalkan keluarganya, apalagi mbak-mbak anggota dewan yang masih punya bayi. Tapi mbok ya yang elegan, santun, klo ngomong gantian, saling menghargai, kan enak. Semua bisa dengar jelas, kita jadi tau apa sih yang mereka perjuangkan. Rakyat makin percaya.

Halah, tau apa aku ini? Wong cuma emak-emak ra mudeng. Tapi aku yakin, apa yang kupikirkan ini mewakili perasaan emak-emak lain ato bahkan mungkin rakyat sing sama gak mudengnya ma diriku (ato cuma diriku nyang gak mudeng?). Tapi Kawan, sungguh aku sudah muak melihat semua ini! Maafkan aku, tapi inilah yang ada di benakku saat ini 😦

Cintaku · Iseng Aja · Jalan-jalan yuuuk....

Museum Satria Mandala

Mengunjungi museum? Wah, wah, anak sekarang mana ada yang mau? Tapi kalo malaikatku tentu antusias sekali, Kawan. ‘Coz cita-citanya yang mo jadi Jendral itu lhoo hehehe…. Maka pada suatu hari, daripada jalan-jalan ke mall yang cuman ngabisin duwit, ku ajaklah kedua malaikatku mengunjungi museum Satria Mandala.

Sebetulnya hujan lebat mengguyur Jakarta, tapi karena malaikatku dah gak sabar, maka kami nekat juga berangkat. Sampai di museum sepi dan masih gerimis, tapi sudahlah, kami berlarian masuk ke gedung. Kau tau harga tiketnya, Kawan? Masa kami berempat cuma harus bayar Rp. 8,000.00 ? Ck…ck… untuk beli bakso semangkuk aja gak cukup! Trenyuh hatiku. Tapi jangan mahal-mahal deng, ntar makin malas orang ke sini ya.

Sesungguhnya memasuki museum aku agak merinding. Di samping sangat sepi, suasana juga rada mencekam ‘coz yang dipamerkan adalah senjata-senjata pembunuh yang mungkin pada masanya sudah menghabisi ratusan ato ribuan nyawa. Lebay ya? Tapi benar, Kawan, pas ngeliat-liat itu tiba-tiba aku kebelet pipis dan ditunjukkan toilet di gedung yang berbeda. Sepi, lembab, rada gelap, dan aku sendirian. Hiiyy, sungguh aku tidak bisa pipis dengan seksama. Merinding!

Tapi secara keseluruhan sungguh seru. Guanteng dan kekasihku sangat menikmati. Sayang hujan jadi gak bisa berfoto-foto di antara pesawat terbang.

Tandu Jendral Sudirman
25 tahun lagi ya Nak, hehehe....

Lanjutkan membaca “Museum Satria Mandala”

Iseng Aja · Tak Enak

Iklan Tak Senonoh (lagi?)

Duh Kawan, aku menemukan lagi sebuah iklan yang sungguh tak senonoh. Setidaknya menurutku sih. Jangan-jangan sebetulnya gak papa gara-gara kutulis jadi gak senonoh beneran yak? Ah, tapi menurutku mang rada enak gak enak dilihat, kok!

Itu lho, iklan biskuit T****m yang baru. Ceritanya di kabin pesawat, dua orang pramugari cantek dan sexy sedang memperagakan cara makan biskuit itu. Wuih, baru masuk dengan lenggak-lenggoknya saja sudah membuat penumpang pria tak berkedip. Apalagi pas makan biskuitnya. Coba kau perhatikan Kawan, saat ia menggigit biskuitnya itu, masa iya sih pake lidahnya antara mo keluar mo enggak, antara mo menjilat ato enggak, pokoke aku meliatnya kok rada risi ya?

Lom lagi pas biskuitnya dicelupin ke kopi trus mo nyedot, itu lidah juga antara mo melet mo enggak. Ditambah lagi ekspresi para penumpang yang melotot sambil nelen ludah. Halah, halah, kok ya membuat imajinasiku lari  ke mana-mana. (Waduh, jangan-jangan imajinasiku yang rada liar yak?). Mungkin klo yang jadi bintang iklannya Mpok Atiek ato Mbak Omas sih gakkan bikin imajinasi melayang-layang ya? Masalahnya bintang iklannya nih cantek dan sexie! Cantikku aja ampe komentar : Ih, Bunda, cuma makan T***** aja kok lebay banget sih? Itu sudut pandang anak-anak, klo sudut pandang orang dewasa pasti beda lagi 😀

Coba Kawan,  kau lihat di TV nanti malam sependapatkah kau denganku? Kalo iya, brarti itu mang iklan tak senonoh. Tapi kalo gak ya brarti aku lagi rada maboks aja hihihihihi……..