Iseng Aja · Nyam...nyam...sedaaap...

Tahu Pletok, Siaran Basa Tegal

Nyong kiye seneng banget karo sing jenenge Tahu Pletok. Asli, tahune enak temen. Dadi mau esuk nyong sms mbakayune nyong sing ayu dewek (lha iya wong mbakayune nyong mung siji 😀 ) Kebeneran mbakayune nyong lagi dines nang Tegal ya wis nyong nitip. Ben rada keren nyong ngirim sms kaya kiye:

Jalan-jalan ke Pulau Bontang

Tidak lupa rambut dicatok

Jika nanti engkau pulang

Janganlah lupa tahu pletok

Wis, pantune ora nyambung babar pisan sing penting maksude ngerti. Ee, mbakayune nyong mbales kaya kiye:

Jalan-jalan maring Pelelen

Pasti ora kelalen

Asli, nyong ngguyu nganti kepingkel-pingkel 😆  Lucu temen jawabane yak. Wis pantun ngawur kabeh tapi kok lucu temen.

Ee, kiye lagi nonton bola final Indonesia vs Malaysia (Garuda hebat, ora juara tapi menang 😀 ),  mbakayune nyong sms maning.

Makan mie dalam kereta

Keenakan sampe kepentok

Tuh Tammy datang naik kereta

Bawa tahu pletok

Horeeee, pesenane nyong teka digawa Tammy, ponakane nyong sing bar liburan nang kana. Trus nyong bales maning:

Mampir Cirebon beli terasi

Trimakasi yee…

Sing jenenge tahu pletok kuwe tahu terus diwein aci trus digoreng. Rasane rada alot keprimen tapi yakin, enake puoll!! Trus ana juga sing ora pletok, tahu biasa dipotong segitiga nah pucuke diwein aci juga. Trus mangane nganggo cengis… waduuhh… pedes-pedes enak.  Dadi kanca-kanca angger mampir Tegal, tuku  bae tahu Murni, sing terkenal sih Nata Jaya kayonge.

Nah, lha kiye…. Tahu Pletok Tegal…… hmmm…..yummy…

Wadahe nganggo besek
Rupane ora karuan, tapi rasane enak temen

 

Terjemahan:

Lanjutkan membaca “Tahu Pletok, Siaran Basa Tegal”

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Cinta Segi Empat – Segi Kedua

Hujan turun semakin deras, Surti bersembunyi di balik jas hujan di boncengan Mas Jon. Aduh, sungguh merepotkan hujan ini. Mana kalau hujan begini angkot pasti berdesakan dan mendadak jadi susah dicari. Untunglah Mas Jon mau mengantarnya pulang. Akhirnya mereka berhasil menerobos kemacetan dan kini sudah ada di depan kamar kos Surti.

Surti keluar dari jas hujan Mas Jon dan lari dengan berpayung tasnya menuju teras kamarnya. Mas Jon menyusulnya dari belakang. Dan ketika Surti mendongak, senyumnya tiba-tiba merekah dan matanya berkaca-kaca.

“Kang Tejo!” serunya penuh rindu. Namun Tejo hanya menatapnya dengan dingin, sedingin es campur yang disantap di North Pole ditambah es batu dua termos. Senyum Surti pudar. Ia segera sadar, Mas Jon ada di belakangnya. Seketika ia salah tingkah.

Lanjutkan membaca “Cinta Segi Empat – Segi Kedua”

Cintaku

White Christmas

I’m dreaming of a white Christmas
Just like the ones I used to know
Where the tree tops glisten and children listen
To hear sleigh bells in the snow

I’m dreaming of a white Christmas
With every Christmas card I write
May your days be merry and bright
And may all your Christmases be white

I’m dreaming of a white Christmas
Just like the ones I used to know
So may your days be merry and bright
And may all your Christmases be white

May your days be merry and bright
And may all your Christmases be white

Merry Christmas, may peace, love, and joy be with you…….

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Cinta Segi Empat

Surti menangis sesenggukan di pojok kamar kosnya yang sempit. Sudah kebiasaannya sejak kecil, jika menangis selalu mencari pojokan. Entah pojok kamar, pojok tempat tidur, bahkan kadang pojok WC. Pokoknya harus pojokan, baru ia bisa menangis dengan tuntas. Wajahnya menghadap ke dinding dan bahunya turun naik mengikuti irama tangisnya. Tangisnya bernada dasar C dengan tempo andante, kadang diselingi cresendo dan diakhiri dengan decresendo.

Masih diingatnya tiap kata yang diucapkan Mas Jon di Monas tadi. Oh, mana mungkin ia bisa jatuh hati pada Mas Jon yang kurus dan berjenggot tujuh helai itu? Belum lagi Bang Thoyib yang juga merebut hatinya. Padahal dulu Surti sebal sekali pada Bang Thoyib yang suka judi itu. Sebal bukan karena tampangnya tapi karena eh karena judi itu haram. Tapi mengapa sekarang ia bisa jatuh cinta pada kedua manusia aneh itu?

Lanjutkan membaca “Cinta Segi Empat”

Cintaku

Ibu, Aku Cinta Padamu

Setiap kita pasti menangis saat pertama melihat dunia. Karena direnggut dengan paksa dari kehangatan gua garba Ibunda. Setiap kita pasti merasakan manisnya air susu Ibunda bahkan jika bercampur tetesan darahnya. Dan setiap kita pasti merasakan hangat peluk Ibunda meski masa itu telah lama berlalu. Seluruh hidupnya akan dipertaruhkan untuk kebahagiaan kita. Saat kita gundah gulana, hanya dekapan Ibu yang menenangkan. Saat sedih merajai hati, menangis di pangkuan Ibunda sungguh melegakan. Usapan lembut tangannya menyejukkan hati yang panas.

Kini, ketika kita dewasa dan Ibunda semakin beranjak tua. Ketika hampir seluruh mahkotanya memutih keperakan. Ketika sendi dan tubuhnya tak lagi lincah. Dan ketika kejora di matanya meredup. Di manakah kita saat ini? Jauhkah? Ada di sisinyakah?  Kapan terakhir kita memijit kakinya? Kapan terakhir kita memasak untuknya? Kapan terakhir kita mengecup pipinya?

Lanjutkan membaca “Ibu, Aku Cinta Padamu”

I feel blue · Iseng Aja

Today

Aku bahagia karena masih bisa menikmati hidup dan menikmati kemudahan hingga hari ini. Karena masih dikelilingi orang-orang yang mencintaiku.

Tapi hari ini aku juga sedih ‘coz waktuku semakin dekat dan hidupku semakin pendek.

Aku hanya ingin diberi kesehatan dan umur panjang agar bisa mendampingi kedua malaikatku hingga mereka tak membutuhkanku lagi.

God, bless me….

Iseng Aja

Ramuan Cinta – Tamatlah sudah!

Masih dengan senyum bahagia kugenggam tangan halus Surti.

“Soalnya suami Surti itu cemburuan banget,” lanjut Surti tertunduk. Aku tersenyum kecil. Eh, apa tadi? Suami? SUAMI?? Maksudnyaa???

“Suami, Sur? Suami siapa?” tanyaku gugup. Stroke yang sudah pergi tadi siap hinggap kembali. Air mata Surti menitik.

“Sebetulnya Surti sudah menikah, Mas. Tapi karena kantor mencari wanita single, jadi Surti mengaku belum menikah,” jelas Surti sambil terisak. Aku lemas. Lemas. Lemas. Lemas.

Lanjutkan membaca “Ramuan Cinta – Tamatlah sudah!”

Iseng Aja

Ramuan Cinta – Menjelang Tamat

Lagi-lagi aku tiba paling pagi di kantor. Bukan karena rajin tapi karena semalaman tak bisa tidur memikirkan Surti yang mencret. Seperti biasa aku langsung menuju pantry. Dan ahh… ternyata Surti sudah masuk. Berdebar-debar kuhampiri dia. Manjur gak ya ramuan dari Ki Joko Plirak Plirik itu? Belum sempat aku menyapanya Surti sudah menyapaku duluan.

“Eehh, Mas Jon. Tumben pagi amat. Mau Surti buatkan teh? Atau kopi?” tanyanya dengan ramah. Apakah ramuan itu bekerja? Sungguh mati aku jadi penasaran, sampai mati pun akan kuperjuangkan!

Lanjutkan membaca “Ramuan Cinta – Menjelang Tamat”

Iseng Aja

Ramuan Cinta – 2

Pagi-pagi benar aku sudah tiba di kantor. Bukan karena rajin,  tapi karena ingin segera menemui calon kekasihku, Surti. Nah, itu dia gadis pujaanku yang manis dan sexy sedang menyedu teh di pantry. Duh, baru melihat punggungnya saja sudah membuat aliran darahku menyebar ke mana-mana. Tak perlu aerobic dengan Mbak Berty Tilarso keringatku sudah bercucuran. Cukup memandang Surti sudah sama dengan membakar kalori sekian kkal. Suasana pantry tentu masih sepi. Segera kuhampiri gadis manis yang membuatku tak tidur tujuh hari tujuh malam ini.

“Met pagi, Surti,” sapaku. Gadis manis itu membalikkan badannya.

Lanjutkan membaca “Ramuan Cinta – 2”

Iseng Aja

Ramuan Cinta

Asap kemenyan bercampur tembakau mengepul berputar-putar memenuhi ruang sempit dan gelap itu. Napasku sesak bukan buatan, tapi kutahan saja batuk yang sudah akan meloncat dari tenggorokanku. Pak Tua berambut gondrong (walopun bukan rocker) di depanku itu terus komat-komat. Kupandangi saja tiap gerakannya, tapi sumpah sebetulnya aku takut bukan kepalang! Ingin rasanya kabur dari ruang mengerikan ini, tapi sudah tak mungkin lagi.

Tiba-tiba dengan gerakan menyentak, ia ulurkan tangannya di dadaku. Eits, refleks aku berkelit bak seorang jagoan menghindari pukulan lawan. Si Pak Tua memandangku tajam. Cepat-cepat kubiarkan ia menyentuh dadaku. Biarin deh, sama-sama cowok ini. Telapak tangannya gemetar berputar-putar searah jarum jam di dadaku. Ngapain kira-kira ya? Jangan-jangan dia merasakan jantungku yang menari-nari tak mau diam ini. Secepat ia mengulurkan tangannya, secepat itu pula ia menariknya kembali. Dan seperti biasa aku pun kaget setengah mati. Huh, kalo gak buru-buru keluar dari sini bisa kena serangan jantung nih!

Untunglah Pak Tua itu lalu tenang kembali. Sambil mengelus-elus jenggotnya ia memberiku botol kecil, keciiil banget yang berisi cairan berwarna pink. Nah, ini dia!

“Kau tuang isi botol ini pada makanannya. Gak sampe 24 jam ia akan tekuk lutut di kakimu,” ujarnya dengan suara tua dan parau karena tembakau.

“Waah, terus ramuan ini bertahan sampai kapan, Mbah?” tanyaku.

“Sampai kamu bosan padanya. Kalau dah bosan, kembali padaku dan akan kulepaskan mantranya,” jawab Pak Tua itu. Wah, mana mungkin aku bosan pada Surti yang manis dan sexy itu? Dengan hati berbunga-bunga kuulurkan tanganku hendak mengambil ramuan cinta itu. Tapi dengan lincah Pak Tua menariknya kembali. Aku menatapnya bingung. Lalu dengan tangan satunya ia menggerakkan telunjuk dan ibu jarinya. Eaalaah, sudah tua kok ya masih mata duitan! Gak mungkinlah aku kabur  tanpa membayar. Segera kukeluarkan tiga lembar uang seratus ribu. Pak Tua itu pura-pura tak melihat.  Ya ampuuun, maka kukeluarkan lagi dua lembar yang sama. Baru deh tangannya melepas botol kecil itu. Sial, uang lemburanku sebulan langsung berpindah tangan. Ah tak apalah, demi cintaku pada Surti.

Segera kutinggalkan bilik sempit penuh asap itu. Sebelum pulang aku mampir dulu membeli kue coklat kegemaran Surti. Besok di kantor, akan kuberikan kue ini tentu saja setelah ditetesi ramuan cinta. Dan, Surti pun akan menjadi kekasihku hehehhe…. Segera kupasang muka normal ketika orang-orang mulai menatapku curiga karena senyum-senyum sendiri. Huh, gak tahu rasanya jatuh cinta rupanya mereka ini!

Surtiiiii, aku dataaang…. Jangan kau tolak lagi cintakuuuu….. Jadilah kekasihku untuk selamanyaa….. dan lagi-lagi aku senyum-senyum sendiri. Biarin deh…..

To be continued