Iseng Aja

Hantu Malam

Iring-iringan para lelaki itu semakin melambat sebab langkah terasa sangat berat. Puluhan obor benderang memecah malam, membuat rembulan sembunyi di balik awan dan bintang meredupkan cahyanya. Sebentar lagi, suara itu akan kembali menggema. Sebentar lagi, bulu-bulu kuduk akan kembali meremang. Dan sebentar lagi……. hihihihiihii……..hihihihihihihi……..hihihihihii…….

Lelaki dari barisan terdepan tersuruk kaget. Lelaki dari barisan tengah dan belakang surut mundur. Obor bergoyang gemetar membuat api menari-nari. Bayangan pohon nangka dan buahnya laksana ibu raksasa mengemban bayinya. Bahkan parau gagak pun enggan mengabarkan tangis kematian. Lelaki paling besar dari barisan paling depan mengomando untuk maju. Setengah dari para perkasa itu maju namun setengahnya lagi terpaku pada bumi. Dan terdengar lagi …………….. hihihihihi ……… hihihihihihi ……………. hihihihiihi …………..

Tekad bulat para lelaki pemberani itu mengalahkan lengking kengerian tawa perempuan. Tawa dari kubur yang mengusik desa mereka sejak berhari-hari lalu. Setiap anak kecil sembunyi pada ketiak ibunya, setiap bayi tak mau menyusu, setiap perempuan meringkuk terkencing-kencing di atas dipannya, dan setiap laki-laki gemetar gelisah. Ternak dan burung-burung tak berani bersuara. Bahkan anjing-anjing menelan kembali lolongannya.

Gubuk terpencil nyaris rubuh itu makin jelas. Tarian api obor dan kepulan asap hitam tipis menyeruakΒ  kepekatan langit. Tawa kematian itu terhenti berganti isak menyayat kalbu. Pedihnya mengiris-iris jantung, isaknya mencabik-cabik hati. Sedih….sedih…. tak terperi….. Lelaki paling kecil dari barisan paling belakang mengusap sudut matanya. Entah mengapa tangis itu sungguh nestapa.

Dan ketika lelaki paling besar dari barisan paling depan mendobrak pintu reyot itu…… malam pun mati. Angin berhenti berembus. Obor-obor padam kehabisan minyak. Hanya gemelatuk gigi dan gemetar tubuh menandakan adanya kehidupan. Suara tangis yang menyayat berhenti seketika. Berganti dengusan dan tanya parau, “Siapa itu?”

Bahkan lelaki paling besar dari barisan paling depan pun luluh lunglai mendengar teguran parau itu. Lututnya lemas dan luruh laksana tak bertulang. Lelaki-lelaki perkasa lainnya tunggang langgang, hanya tinggal lelaki paling kecil dari barisan paling belakang. Dadanya berdebar keras, jantungnya berdentam-dentam. Dihalaunya pergi lelaki paling besar dari barisan paling depan yang terduduk lunglai.

Seberkas cahya bintang menerobos melalui pintu yang telah hancur. Sesosok perempuan setengah telanjang terbaring pada dipan tak berkasur. Kebayanya tercabik, kainnya terkoyak.Β  Aroma busuk air seni dan kotoran menguar dan mengendap di langit-langit. Lelaki paling kecil dari barisan paling belakang itu melangkah maju. Sepasang mata berkilau marah, lalu meredup, lalu menangis, lalu memekik, “Aku bukan setaaan! Aku hanya perempuan yang kehilangan, kehilangan semuanyaaa…dan aku gila karenanya!!”

Lelaki paling kecil dari barisan paling belakang itu terus maju. Sejak awal dia merasa, kikikan itu bukan dari kubur, tangisan itu bukan dari neraka, karena sedihnya sangat menyayat, mengiris-iris jantung, mencabik-cabik hati. Perempuan itu sungguh manusia, walau rambutnya berkeriapan, jemarinya tinggal tulang, dan tubuhnya bagai kerangka mati. Hanya sepasang matanya masih bisa menyala. “Mari Ibu, saya akan membantumu. Lepaskan kepedihanmu, relakan dukamu, saya akan menolongmu,” ujar lelaki paling kecil dari barisan paling belakang itu dan berjalan semakin mendekat.

Tangis pedih itu kini hanya berupa senggukan, lalu napas yang tersengal, dan lalu bungkam untuk selamanya. Kesedihan tak terperi dari rasa kehilangan semua yang dicintainya. Lelaki paling kecil dari barisan paling belakang itu lalu pergi. Sejak itu tawa mengerikan itu tak terdengar lagi. Tangis menyiksa itu tak mengisak lagi. Hanya tinggal gubuk tua suram yang menunggu tiupan angin untuk merubuhkannya. Dan gemerisik rumpun bambu yang bersiul menghias malam.

Catatan:

Maap, judul kuganti, Kawan yang sudah membaca dan bekomentar. Karena tadi ketika pulang melewati jalan sepi dan gelap di antara rinai hujan, tiba-tibaΒ  aku takut sendiriiii…. terbayang-bayang judulnya hiiiiyyyyy………….. Oya, endingnya juga kuubah dikit biar rada misterius…. hayah…..

16 tanggapan untuk “Hantu Malam

  1. healaaah.. aku tiwas mbaca ne separuh – separuh.
    serem euy mbaca malem – malem begini…

    fisik itu ternyata tidak mempengaruhi keberanian yah?
    benar – benar don’t judge the book by it’s cover
    *bener gak tuh begitu?*

    huehehehehehehehe..

    Choco:

    Hahahaha…. ternyata gak serem ya, Riani πŸ˜€

    Emang, badan besar gak jaminan nyali besar πŸ˜†

  2. heuheu… tertipu… πŸ˜€

    tapi mah dari awal Oyen kagak takut, gak mungkin lah blog adem gene isinya serem πŸ˜€

    Choco:

    Huahahaha…… betul sekali, Oyen! Aku ini tergolong berbadan besar namun bernyali kecil πŸ˜†

  3. Akhirnya lelaki kecil berhati dan bernyali besar juga ya, yang mengakhiri ‘hantu malam’ itu.

    Choco:

    Betul! Dia yang membebaskannya dari penderitaan πŸ˜€

  4. ngumpet di ketek sist cho.. *huuufttttttttt acem.. πŸ˜› *
    untung aku gak takut,, hehehe,,, *padahal megangin pinggang mas Nakho kuat2, hehe*

    imajinasimu, manstabb sist,, mbabrah tekan ngendi2, heheh

    Choco:

    Enak ajaaa, udah pakek rexona sak botol kok….

    Halah…halah… kau itu takut gak takut emang suka pegangan Mas Nakho πŸ˜€

    Piye meneh, emang hobine ngayal ki 😦

  5. Sangking wedine..foto aja di umpetin…hi…hi…hi….
    pasti takut kalau wajahnya medeni….hix…hix…hix….

    Dulu saya nonton ludruk di desa tetangga. Jalan yang dilewati ada kuburannya. Pulang nonton sekitar jam 2-3 malam. Beberapa meter sebelum kuburan ada yang bilang ” Mlayu opo ora ?”. Saya bilang ” Mlayu ae..satu..dua..tiga..”

    Kami kompak lari sambil nyincing sarung….dan kami memang gak pake celana (panjang)

    Salam dari pawang hantu

    Choco:

    Huahahahaha…. ngebayangin Pakde lari terbirit-birit sambil nyincing sarung πŸ˜†

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s