Iseng Aja

Ramuan Cinta

Asap kemenyan bercampur tembakau mengepul berputar-putar memenuhi ruang sempit dan gelap itu. Napasku sesak bukan buatan, tapi kutahan saja batuk yang sudah akan meloncat dari tenggorokanku. Pak Tua berambut gondrong (walopun bukan rocker) di depanku itu terus komat-komat. Kupandangi saja tiap gerakannya, tapi sumpah sebetulnya aku takut bukan kepalang! Ingin rasanya kabur dari ruang mengerikan ini, tapi sudah tak mungkin lagi.

Tiba-tiba dengan gerakan menyentak, ia ulurkan tangannya di dadaku. Eits, refleks aku berkelit bak seorang jagoan menghindari pukulan lawan. Si Pak Tua memandangku tajam. Cepat-cepat kubiarkan ia menyentuh dadaku. Biarin deh, sama-sama cowok ini. Telapak tangannya gemetar berputar-putar searah jarum jam di dadaku. Ngapain kira-kira ya? Jangan-jangan dia merasakan jantungku yang menari-nari tak mau diam ini. Secepat ia mengulurkan tangannya, secepat itu pula ia menariknya kembali. Dan seperti biasa aku pun kaget setengah mati. Huh, kalo gak buru-buru keluar dari sini bisa kena serangan jantung nih!

Untunglah Pak Tua itu lalu tenang kembali. Sambil mengelus-elus jenggotnya ia memberiku botol kecil, keciiil banget yang berisi cairan berwarna pink. Nah, ini dia!

“Kau tuang isi botol ini pada makanannya. Gak sampe 24 jam ia akan tekuk lutut di kakimu,” ujarnya dengan suara tua dan parau karena tembakau.

“Waah, terus ramuan ini bertahan sampai kapan, Mbah?” tanyaku.

“Sampai kamu bosan padanya. Kalau dah bosan, kembali padaku dan akan kulepaskan mantranya,” jawab Pak Tua itu. Wah, mana mungkin aku bosan pada Surti yang manis dan sexy itu? Dengan hati berbunga-bunga kuulurkan tanganku hendak mengambil ramuan cinta itu. Tapi dengan lincah Pak Tua menariknya kembali. Aku menatapnya bingung. Lalu dengan tangan satunya ia menggerakkan telunjuk dan ibu jarinya. Eaalaah, sudah tua kok ya masih mata duitan! Gak mungkinlah aku kabur  tanpa membayar. Segera kukeluarkan tiga lembar uang seratus ribu. Pak Tua itu pura-pura tak melihat.  Ya ampuuun, maka kukeluarkan lagi dua lembar yang sama. Baru deh tangannya melepas botol kecil itu. Sial, uang lemburanku sebulan langsung berpindah tangan. Ah tak apalah, demi cintaku pada Surti.

Segera kutinggalkan bilik sempit penuh asap itu. Sebelum pulang aku mampir dulu membeli kue coklat kegemaran Surti. Besok di kantor, akan kuberikan kue ini tentu saja setelah ditetesi ramuan cinta. Dan, Surti pun akan menjadi kekasihku hehehhe…. Segera kupasang muka normal ketika orang-orang mulai menatapku curiga karena senyum-senyum sendiri. Huh, gak tahu rasanya jatuh cinta rupanya mereka ini!

Surtiiiii, aku dataaang…. Jangan kau tolak lagi cintakuuuu….. Jadilah kekasihku untuk selamanyaa….. dan lagi-lagi aku senyum-senyum sendiri. Biarin deh…..

To be continued