Iseng Aja

Ramuan Cinta – Tamatlah sudah!

Masih dengan senyum bahagia kugenggam tangan halus Surti.

“Soalnya suami Surti itu cemburuan banget,” lanjut Surti tertunduk. Aku tersenyum kecil. Eh, apa tadi? Suami? SUAMI?? Maksudnyaa???

“Suami, Sur? Suami siapa?” tanyaku gugup. Stroke yang sudah pergi tadi siap hinggap kembali. Air mata Surti menitik.

“Sebetulnya Surti sudah menikah, Mas. Tapi karena kantor mencari wanita single, jadi Surti mengaku belum menikah,” jelas Surti sambil terisak. Aku lemas. Lemas. Lemas. Lemas.

“Surti butuh pekerjaan, Mas. Anak Surti sakit, Kang Tejo cuma petani di kampung sana. Jadi Surti merantau ke Jakarta,” isaknya makin keras. Dan aku makin lemas.

“Tapi entah mengapa, akhir-akhir ini Surti jatuh cinta sama Mas Jon. Bahkan sama Bang Thoyib juga. Padahal Surti itu cinta banget sama Kang Tejo. Surti jadi bingung,” Surti menghapus air matanya, “tapi Surti mau kok menikah sama Mas Jon. Tapi apa Mas Jon mau menerima Si Tole, anak Surti?”

Oalaaahh…… Surtiii, Surtii….. Kamu memang manis dan sexy, tapi aku terlalu pengecut untuk menjalani kehidupan yang ruwet bersamamu dan anakmu. Apalagi pakai acara ijin Kang Tejo segala. Malam yang indah itu rusak seketika. Kami pulangΒ  tanpaΒ  membawa kepastian.

Esoknya, menjelang maghrib, aku mendatangi rumah Pak Tua Ki Joko Plirak Plirik. Ternyata Surti bukan gadis seperti yang kubayangkan. Mantra ini harus segera diputus.

Ketika berjalan melintasi pekarangan luas dengan pepohonan besar, aku seperti melihat sosok yang kukenal berjalan di kejauhan. Segera aku bersembunyi di balik pohon. Sosok besar itu kian mendekat ke arahku. Bang Thoyib! Ngapain dia ke mari? Wajahnya yang seram nampak keruh sekali persis seperti kena banjir lahar dingin. Bahkan kumisnya layu seperti rumput gajah yang kesambar wedus gembel. Kenapa dia? Setelah Bang Thoyib melewatiku, aku segera keluar dari persembunyian dan memandanginya dari belakang. Aneh!

Segera kuteruskan langkah menuju rumah Ki Joko Plirak Plirik karena mendung semakin berat menggantung.

Rumahnya nampak sepi. Kuteriakkan sapa berkali-kali tapi tak ada sahutan. Kuketuk pintunya makin keras. Yang keluar malah ibu-ibu dari rumah sebelah.

“Ada apa, Mas? Nyariin Ki Joko yak?” tanya Ibu itu dengan suara cempreng dan keras.

“Iya, Bu. Ada di rumah gak ya?” sahutku sambil jalan mendekat ke pagar rumah si Ibu.

“Emang situ gak nonton tipi ya, Mas?” Ibu itu malah balik bertanya. Nonton TV? Apa hubungannya dengan Ki Joko?

“Kenapa, Bu?”

“Yeee, ketinggalan jaman, deh! Tadi juga ada orang berkumis nanyain Ki Joko, gak nonton tipi juga tuh,” cerocosnya. Orang yang dimaksud itu pasti Bang Thoyib. Jadi dia melet Surti juga? Udah melet bikin mencret pula. Huh!!

“Memangnya di tipi ada apa, Bu?” tanyaku tak sabar.

“Pan Ki Joko bunuh diri, ngegantung di kamarnya.” Aku nyaris terlompat kaget. What the hell is this? Apa pula ini, Ki Joko bunuh diri? Sudah setua itu bunuh diri?? Wong gak usah bunuh diri juga bentar lagi kok? Aku jadi lemas, lunglai, letih, lesu.

“Bunuh diri kenapa, Bu?” tanyaku nyaris tanpa suara. Si Ibu malah senyum-senyum. Ada orang bunuh diri kok malah senyam-senyum gak jelas. Aku pelototin, Si Ibu langsung menjawab.

“Cintanya ditolak sama anak Pak Lurah dari kampung sebelah. Gadis tujuh belas tahun, lulus sekolah aja belon hihihihihi……”

Eidyan!! Dunia sudah eidyan! Barangkali sebentar lagi aku juga edan!! Oohh, Surtiiii gara-gara kemanisan dan keseksianmu aku jadi beginiii.

Hujan turun rintik-rintik. Aku berjalan gontai, kepalaku berat dan sumpek. Jadi, aku harus terikat seumur hidup pada Surti? Lalu Kang Tejo? Lalu Tole? Lalu Bang Thoyib?? Aaaaaaaaaarrrrrrgggggggggggggg……….

TAMAT

Kisah ini fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama, tokoh,Β  tempat dan peristiwa, maka itu tidaklah disengaja. Sumpah! Ini cuma dobosan menjelang tidur.

Pesan moral:

  1. Jika cinta ditolak, jangan sekali-sekali membiarkan dukun bertindak. Cari aja yang lain, masih banyak kok perempuan di luaran sana.
  2. Kalo sampe kepepet mesti minta bantuan dukun, maka telusuri dulu latar belakang target. Masih single gak, bapaknya galak gak, punya penyakit menurun gak, warisannya banyak gak, dll., dll. Kalo dah mantep, baru deh…..
  3. Bagi para gadis, jangan sembarangan menerima makanan dan minuman dari orang tak dikenal ato dari para pengagum, kecuali kalo kita juga suka hehehhee…..
  4. Percayalah pada Tuhan saja, Dia sudah memilihkan jodoh untuk kita. Kalopun tidak di dunia ini, di surga sana kebahagiaan menanti.
  5. Terakhir, usahakan selalu pulang jika Lebaran tiba. Kasihan sanak saudara mencari-cari.

 

21 tanggapan untuk “Ramuan Cinta – Tamatlah sudah!

  1. lengkap sudah penderitaan mas jon: ) belum jodoh mas knapa maksa sih, katanya cinta tepi ga mau nerima pas tau punya anak.

    ga ada sesion selanjutnya mbak? kaya sinetron hihihi.
    penasaran sama nasib surti

    Choco:

    Salah sendiri tuh, Jeng. Wong cinta ditolak kok minta bantuan dukun πŸ˜€

    Lanjutannya? Hmm, tergantung produsernya nanti (halah…halah….) πŸ˜€

  2. Judulnya …
    Pelet yang enggan lepas …
    ooohhh …

    Asik juga ya jadi Surti … πŸ˜›

    Salam saya

    Choco:

    Pelet yang lengket, Om πŸ˜€

    Hah, asyik dari sebelah mana, Om? Kan repot tuh πŸ˜€

  3. Kalau Surti jadi EOnya BlogCamp pasti banyak yang melet-melet
    bagus ceritanya, aku suka.
    Karmila meluncur ke Gunung Putri jeng
    salam sayank selalu tanpa pelet ikan

    Choco:

    Kan ada kembaranya tuh, Pakde (ngelirik Iyha) πŸ˜€

    Aiiiiihhh…. makasih banyaaaak, Pakde…. Pakde baik banget sih…. 😳
    Semoga Pakde sekeluarga selalu dilimpahi rejeki dan berkat. Amin.

    Salam hangaatttttt dari Gunung Putri

  4. hahaha ini dari kumpulan lagu-lagu yah nama tokohnya? πŸ˜€

    Choco:

    Hahaha…. betul, Sis. Ada Surti dan Tejo, Bang Thoyib, Kopral Jono (alamak jadulnya)…. πŸ˜€

  5. pesan nomor lima nampaknya khusus bagi bang toyib seorang,, hehehe…
    oalah ki..ki.. sudah tua kok bunuh diri segala? mbok diet ketat aja, nanti lak tamat sendiri,, heheh.. πŸ™‚

    dobosanmu asik punya sist.. πŸ™‚

    Choco:

    Hehehe… Bang Thoyib itu kan contoh πŸ˜€
    Sebetulnya sih gak bunuh diri, lagi benerin jemuran ee kelibet talinya soale dah tremor sih πŸ˜†

    Thanks, Honeeeyy….. πŸ˜€

  6. Wakakaka… never ending nih critanya, karena peletnya belum bisa lepas. Mestinya ada sequelnya nih. Xixixi…

    GBU

    Choco:

    Hihihihi….. jadi, kapan-kapan gak da bahan nulis ya lanjutin kisahnya πŸ˜€
    GBUT

  7. Dooh tragis nian akhir cerita nie.
    Lalu.. . Mau dibawa kemana hubungan kita *sambil nyanyi lagu armada* πŸ˜›

    Choco:

    Hahahaha….. dibawa ke Monas πŸ˜†

  8. Saya baca dari bagian 1 lanjut sampai ending… nah, komennya di endingnya aja…hihihi…. baru mikir, kayak Eka..kok namanya tokoh2 dlm lagu hihihi…

    Choco:

    Entah napa, nama-nama itu langsung berkelebat di kepala hehehe…. πŸ˜€

  9. ada kesamaan dalam cerita fiktif ini dengan lika likuku, oh surti surti πŸ™‚

    Choco:

    Owh, maap….saya tidak sengaja…. πŸ˜₯

    (btw, peletnya dah lepaskah? πŸ˜€ )

  10. laah endingnya kok begitu sih
    Kalau dukunnya saja ndak bisa mendapatkan anak pak lurah itu berarti pelet yang diberikan kepada pasiennya patut diragukan. Artinya apakah pelet mas jon benar-benar bekerja pada surti atau masih diragukan. Bener gak sih kesimpulan saya

    Choco:

    Hehehhehe… critane gini, Pak Ndor:

    Ternyata ramuan itu tidak mempan bagi dukunnya sendiri. Lagipula Ki Joko Plirak Plirik itu kan dah sepuh, jadi ramuannya gak komplit, ada yang lupa.

    Eee ditambah lagi dia berikan pada anaknya Pak Lurah dicampur di nasi gudeg komplit, lhaa padahal anaknya Pak Lurah itu kan senengnya pizza yang American Favorite, jadi gak dimakan babar pisan!

    Ya sudah, gak mempan babar blaz ….. πŸ˜†

  11. Kasihan banget si Mas Jon, salah pelet orang, ternyata Surti udah punya anak & suami. Hehehee

    Choco:

    Iya nih, mangkanya telusuri dulu latar belakang baru deh melet… (lho??) πŸ˜€

  12. haha, kisah yang menggelitik. pesan moralnya juga kocak, namun amat sangat benar…

    dan realitanya memang di indo masih banyak yg percaya ama pelet πŸ™‚

    lam kenal

    Choco:

    Hahahha….. betull, bahkan para intelek pun masih ramai mendatangi orang-orang “pintar” itu πŸ˜€

    Salam kenal jugaaa, makasiy yaa sudah berkunjung πŸ˜€

  13. assalamu ‘alaikum..
    bagi para wanita .. janagn suka mudah dibohongi cowok..

    Choco:

    Wa’alaikum salam…
    Betul, berhati-hatilah, mereka ini makhluk nekat lho…. (lho kok malah ngomporin hahahaha…..)

  14. hahaha….pesan moralnya “menyentuh” banget siiihhhh^^
    ditunggu cerita lainnya

    Choco:

    Hahahhaa….sekedar mengingatkan kok πŸ˜€

    Segera publish, ditunggu yaaa…

  15. Dengan berakhirnya kisah ini maka penulis skenario istirahat sebentar. Harap para pengunjung maklum adanya,soalnya lagi nglembur tutup buku Karmila akhir tahun.

    salam hangat dari Surabaya

    Choco:

    Hahahaha….. Pakde tau aja πŸ˜€
    Pakde, makasih ya Karmilanya, hard cover lagi πŸ˜€

    Salam hangaatttt dari Bogor

  16. Ingat cinta timbul bukan karena ada niat tapi bisa datang kapan saja….jadi waspadalah-waspadalah untuk menerimanya

    Choco:

    Hahahaha… ini bukan Bang Napi tapi Bang Cinta πŸ˜†

  17. peletnya mantab kali … sayang dukunnya udah bunuh diri, eh, kok dukunnya nggak pakai peletnya sendiri ya ..hi.hi.hi…

    Kata dukunnya gini: Hawong dokter saja tidak bisa menyembuhkan diri sendiri jeh, mesti harus ke dokter lain… :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s