Dongeng insomnia · Iseng Aja

Cinta Segi Empat

Surti menangis sesenggukan di pojok kamar kosnya yang sempit. Sudah kebiasaannya sejak kecil, jika menangis selalu mencari pojokan. Entah pojok kamar, pojok tempat tidur, bahkan kadang pojok WC. Pokoknya harus pojokan, baru ia bisa menangis dengan tuntas. Wajahnya menghadap ke dinding dan bahunya turun naik mengikuti irama tangisnya. Tangisnya bernada dasar C dengan tempo andante, kadang diselingi cresendo dan diakhiri dengan decresendo.

Masih diingatnya tiap kata yang diucapkan Mas Jon di Monas tadi. Oh, mana mungkin ia bisa jatuh hati pada Mas Jon yang kurus dan berjenggot tujuh helai itu? Belum lagi Bang Thoyib yang juga merebut hatinya. Padahal dulu Surti sebal sekali pada Bang Thoyib yang suka judi itu. Sebal bukan karena tampangnya tapi karena eh karena judi itu haram. Tapi mengapa sekarang ia bisa jatuh cinta pada kedua manusia aneh itu?

Lanjutkan membaca “Cinta Segi Empat”