Dongeng insomnia · Iseng Aja

Cinta Segi Empat

Surti menangis sesenggukan di pojok kamar kosnya yang sempit. Sudah kebiasaannya sejak kecil, jika menangis selalu mencari pojokan. Entah pojok kamar, pojok tempat tidur, bahkan kadang pojok WC. Pokoknya harus pojokan, baru ia bisa menangis dengan tuntas. Wajahnya menghadap ke dinding dan bahunya turun naik mengikuti irama tangisnya. Tangisnya bernada dasar C dengan tempo andante, kadang diselingi cresendo dan diakhiri dengan decresendo.

Masih diingatnya tiap kata yang diucapkan Mas Jon di Monas tadi. Oh, mana mungkin ia bisa jatuh hati pada Mas Jon yang kurus dan berjenggot tujuh helai itu? Belum lagi Bang Thoyib yang juga merebut hatinya. Padahal dulu Surti sebal sekali pada Bang Thoyib yang suka judi itu. Sebal bukan karena tampangnya tapi karena eh karena judi itu haram. Tapi mengapa sekarang ia bisa jatuh cinta pada kedua manusia aneh itu?

Setelah mengisakkan tiga bait tangisan, Surti merebahkan diri di tempat tidur. Tubuhnya lelah, hatinya juga lelah. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, tapi apa? Tiba-tiba ia merindukan Si Tole, anak semata wayangnya yang sering sakit-sakitan itu. Kang Tejo pernah mengusulkan untuk mengganti nama buah hati mereka yang bernama asli Roberto Fernando Joko Sutejo. Tapi Surti tidak setuju, karena ia tak percaya dengan segala alasan keberatan nama dan sebagainya. Itu sirik, tidak boleh. Maka si Tole tetap menyandang nama indah itu.

Malam kian larut namun pikiran Surti masih mengembara entah ke mana. Kadang tertidur sekejap lalu terbangun, terlelap sejenak lalu terjaga kembali. Mimpinya rupa-rupa warnanya. Hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Sesekali air mata mengalir dari sudut matanya. Hingga akhirnya Surti benar-benar terbangun dan tak bisa tidur lagi.

“Kang Tejo, tolong aku. Ada yang tidak beres dengan diriku,” bisik Surti putus asa.

Dan di ujung pulau Jawa, di malam yang sama, ratusan kilometer jauhnya dari kamar kos Surti, seorang lelaki gelisah dalam tidurnya. Keringat dingin membasahi kaosnya dan akhirnya ia terbangun dengan napas terengah-engah. Ditengoknya anak kecil yang tidur lelap di sebelahnya. Dengan lega ia mengusap dahi si buah hati. Lalu ia duduk di tepi tempat tidur.

“Ada apa, Surti? Mengapa engkau gundah? Sakitkah engkau?” bisik lelaki itu cemas.

Hanya cinta sejati yang mampu menyatukan rasa, menembus awan-awan dan melewati rembulan. Malam ini, Surti dan Tejo tak bisa terlelap.

To be continued……

 

5 tanggapan untuk “Cinta Segi Empat

  1. yaaahhh……….lagi asik2 baca , kok to be continued sih, Mbak
    tak tunggu lho ya lanjutannya …….. 🙂
    salam

    Choco:

    Waa, Bunda membaca jugak ya hiihihihihi…… jadi malu… 😳

    Segera terbit, Bun 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s