Dongeng insomnia · Iseng Aja

Cinta Segi Empat – Segi Kedua

Hujan turun semakin deras, Surti bersembunyi di balik jas hujan di boncengan Mas Jon. Aduh, sungguh merepotkan hujan ini. Mana kalau hujan begini angkot pasti berdesakan dan mendadak jadi susah dicari. Untunglah Mas Jon mau mengantarnya pulang. Akhirnya mereka berhasil menerobos kemacetan dan kini sudah ada di depan kamar kos Surti.

Surti keluar dari jas hujan Mas Jon dan lari dengan berpayung tasnya menuju teras kamarnya. Mas Jon menyusulnya dari belakang. Dan ketika Surti mendongak, senyumnya tiba-tiba merekah dan matanya berkaca-kaca.

“Kang Tejo!” serunya penuh rindu. Namun Tejo hanya menatapnya dengan dingin, sedingin es campur yang disantap di North Pole ditambah es batu dua termos. Senyum Surti pudar. Ia segera sadar, Mas Jon ada di belakangnya. Seketika ia salah tingkah.

“Eee, Kang, ini Mas Jon teman kantor Surti. Mas, ini Kang Tejo, emm…suami Surti,” ujar Surti gelagapan. Kedua pria itu saling mengulurkan tangan tanpa senyum. Mas Jon segera undur diri dan ngabur secepat kilat bak Gundala Putra Petir, sampai lupa memakai jas hujannya. Terbayang di benaknya suami Surti yang tinggi besar dengan kulit kecoklatan tertempa matahari. Sekali tiup terbanglah Jono ke angkasa. Brrr.

Sementara itu dengan gemetar Surti membuka pintu kamarnya. Rindu setengah mati pada Tejo bercampur ketakutan kalau-kalau Tejo tahu perasaan hatinya. Begitu mereka masuk ke kamar, suasana dingin dan kaku menggantung di udara. Tejo diam terpekur dan Surti diam tertunduk.

“Tole sehat, Kang?” tanya Surti berusaha memecah sunyi.

“Siapa laki-laki tadi?” Tejo balas bertanya tanpa menjawab pertanyaan Surti.

“Teman kantor, Kang. Kebetulan pulangnya searah jadi…..”

“Jadi setiap hari antar kamu pulang?” potong Tejo.

“Tidak, Kang, tidak sering,” gagap Surti lalu pecahlah tangisnya. Segera ia berlari ke pojok kamar.

“Surti bingung, Kang, bingung…, aduuuh bingung setengah mati!” Begitu refrain tangisnya. Hati Tejo serasa diguyur salju yang mencair. Benar, memang ada yang tidak beres, bisiknya dalam hati. Harus segera kubereskan!

“Ceritakan, Sur. Aku mau ada kejujuran di antara kita,” ujarnya tegas. Tanpa meninggalkan pojokannya dan dengan sedu sedan bernada dasar C, Surti menceritakan tentang perasaan hatinya pada Jono dan pada Bang Thoyib. Tejo mulai curiga. Kakeknya adalah seorang paranormal terkenal di dusunnya sana. Ki Ra Mudengan, seorang dukun sakti mandra guna. Itulah sebab Tejo merasa ada yang tidak beres pada istrinya yang setia sejak dulu kala. Dan ia curiga istrinya telah dipelet.

“Kau pernah diberi makanan oleh mereka?” tanyanya. Sejenak Surti diam mengingat-ingat.

“Iya, Kang. Mas Jon pernah memberiku kue dan Bang Thoyib memberiku rujak.Β  Setelah itu aku mencret. Ada apa, Mas?” Tanya Surti bingung. Tejo langsung yakin bahwa memang istrinya telah dipelet. Ia segera menghampiri Surti, membalikkan tubuh Surti yang masih menghadap tembok.

“Kau dipelet oleh mereka, Sur,” ujar Tejo lirih.

“Apa? Tidak mungkin! Hari gini tidak ada pelet lagi, Kang!” Sergah Surti yang sungguh mati tidak percaya pelet, santet dan kawan-kawannya.

“Lalu? Jadi? Kau memang menyukai mereka?” hardik Tejo. Surti kebingungan. Tak mungkin ia jatuh cinta pada kedua makhluk aneh itu. Tejonya sungguh tampan dan rupawan serta gagah perkasa walau hanya seorang petani. Kembali tangisnya meledak. Sebelum mencapai pojokan, Tejo meraih tangannya.

“Percaya atau tidak, kau memang dipelet, Sur. Untuk itu mari kita bersama-sama mencari solusinya,” bisik Tejo lembut. Dihapusnya air mata istri terkasihnya. Surti mendongak memandang Tejo.

“Kang Tejo tidak marah?”

“Itu bukan salahmu, sudahlah. Malam ini kita tidur saja. Besok kita pikirkan lagi,” ujar Tejo lalu membimbing istrinya ke tempat tidur.

Hujan masih rinai di luar sana. Namun dingin tak lagi menghinggapi kedua insan yang saling merindu itu.

****SENSOR*** πŸ˜€

to be continued…..

15 tanggapan untuk “Cinta Segi Empat – Segi Kedua

  1. Sensor itu artinya TAMAT kan ?

    kok ada To Be Continuednya ?
    aaahhh ndak konsisten nih …

    (komentar sotoy … meniru tok sow di TV)
    πŸ™‚

    salam saya Bu

    Choco:

    Owh, kalo gitu saya salah ya, Om?
    Tapiii…. mo diganti kok dah terlanjur publish ya… πŸ˜€

  2. kang tejo so sweet, love u deh kang smoga langgeng sama surti

    Choco:

    Kata Kang Tejo: Ooooh, aku pun love u, Jeng…..

    (*dan Surti yang mendengarnya berlari mencari pojokan*)

  3. kokkk di senssooor bu Pieeeettt??
    *hushhh.. anak kecil belon tidur malem – maleem…
    πŸ˜›

    Choco:

    Pssst, Riani, kau belon cukup umur. Dah sana gosok gigi, cuci kaki trus bobok….

  4. Wah surtin kena pelet sehingga kalaun ketemu Bang Thoyib dan Mas Jon langsung melet-melet.

    Kalau dikampung saya ada istilah senso, gergaji untuk memotong kayu. Kata itu tentu diambil dari chain saw, karena kalau cincau itu janggelan atau ager2 hitam.

    Mungkin karena takut kepelet, makanya ada yang gak berani pasang foto di blog. Kalau saya kan pasang foto dimana-mana dengan sengaja agar dipelet.
    salam pelet dari Surabaya

    Choco:

    Huahahahaha…… Pakdee…..Pakde….. πŸ˜†
    Sungguh bukan takut dipelet tapi takut disantet πŸ˜†

    Salam melet dari Bogor πŸ˜€

  5. Ki Ra Mudengan ini pasti kakeknya Nduk Ram, nona Kutjink ituh. Mana nDuk Ram, mana nDuk Ram ?

    Choco:

    Owh, betulkah? Sungguh aku tak bermaksud demikian. Jadi tak enak hati nih πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s