Rumah

Ratri, istriku menyodorkan segelas teh hangat di hadapanku.

“Ibu masih tidak mau sarapan, Mas,” ujarnya lirih. Wajah istriku sedih sekali. Aku jadi serba salah. Sudah tiga bulan sejak kepindahan Ibuku ke rumah ini istriku jadi sedih. Bagaimana tidak? Ibu sering tidak mau makan. Ngobrol pun enggan, hanya sesekali mau bercanda dengan Dito cucunya, anakku yang masih balita. Padahal Ibu adalah seorang yang periang, bahkan ketika Ayah berpulang Ibulah yang senantiasa menghibur dan membesarkan hati kami anak-anaknya.

Aku segera menuju kamar Ibu tanpa menyentuh teh hangat buatan istriku. Pelan kuketuk kamar Ibu.

“Bu… Ibu sudah bangun? Boleh aku masuk?” ujarku pelan. Sesaat tak terdengar apa-apa. Lalu suara langkah-langkah ringan mendekati pintu. Ibu membukakan pintu lalu kembali duduk di tepi tempat tidur. Aku duduk di samping Ibu.

“Ibu, mengapa Ibu tak mau makan? Ibu membuat kami sedih, kasihan Ratri juga selalu memikirkan Ibu,” tanyaku sambil menggenggam tangan wanita yang kukasihi ini. Ibu menitikkan air mata.

“Ibu hanya ingin pulang, Nak,” bisiknya.

“Pulang? Pulang kemana, Bu?” tanyaku sedikit emosi. Rumah Ibu telah laku terjual. Memang itu kesepakatan antara aku, adikku dan tentu saja Ibu. Beliau sudah sepuh, tak mungkin lagi hidup sendiri. Sementara adik perempuanku tinggal di Kanada dengan suaminya. Maka sudah tentu Ibu harus tinggal bersamaku.

“Ibu ingin pulang ke rumah, Nak. Ke Yogya, ke rumah kita dulu,” lirih Ibu berkata.

“Mana mungkin, Bu? Rumah itu sudah laku terjual, sudah pula dihuni oleh orang lain. Tak mungkin lagi Ibu pulang ke sana!” ujarku keras. Sungguh aneh-aneh saja Ibuku ini. Dengan kesal kutinggalkan kamar Ibu. Samar kudengar Ibuku mengisak. Ah!

Enam bulan berlalu. Sejak kutegur waktu itu Ibu mulai mengobrol dan makan dengan teratur. Lega hatiku dan istriku. Hingga suatu hari Ratri kembali melapor padaku.

“Sudah tiga hari Ibu tidak makan, Mas. Minum saja hanya air putih. Aku kuatir, Mas.” Ah, kenapa lagi Ibuku ini. Maka aku segera masuk kamarnya tanpa mengetuk lagi.

Ibuku yang sepuh namun masih cantik di mataku itu terbaring lesu. Mendadak aku kuatir.

“Ibu? Ibu sakit?” tanyaku. Lembut kupijat kaki kurus Ibuku. Tanpa membuka mata Ibu hanya menggeleng. Setitik air mengalir di sudut matanya. Aku jadi sedih tak terkira. Aku tahu Ibu ingin pulang, kembali ke rumah cinta kami. Rumah tempat aku dan adikku lahir dan dibesarkan, tempat Ibu dan Ayah berjuang bersama dalam suka dan duka. Rumah penuh kenangan di mana Ibu dan Ayah merajut kasih hingga maut memisahkan.

“Ibu ingin pulang?” tanyaku akhirnya. Ibu membuka mata perlahan dan mengangguk. Mata rentanya berpendar penuh harap.

“Ibu melihat Ayahmu selalu menunggu Ibu pulang. Setiap hari Ayah memanggil-manggil Ibu dari kursi goyangnya, melambaikan tangannya. Kasihan Nak, Ayahmu kesepian, Ibu harus pulang, Nak,” ujar Ibu terbata-bata. Aku pun menangis. Perih hatiku. Maafkan aku, Ibu. Dan akupun mendekap wanita yang kucintai ini dengan haru.

HIKMAH:

  • Niat baik tak selalu menjadi yang terbaik untuk orang yang kita kasihi
  • Memaksakan kehendak pada orang tua hanya membawa kesedihan, meski menurut kita itu yang terbaik
  • Jenguklah selalu orang tuamu, karena tak selalu mereka mau tinggal bersama kita
  • Jangan pisahkan orang tua dari masa lalunya, karena semakin kita tua semakin kita hidup dalam kenangan

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp

 

Iklan

40 thoughts on “Rumah

  1. Emanuel Setio Dewo Januari 16, 2011 / 10:46 pm

    Hiks… jadi ikutan sedih. Padahal kan cuma fiksi ya?

    Choco:

    Iya kok, cuma fiksi 😀

    (aku nulise yo sedih dewe jeh)

  2. jumialely Januari 16, 2011 / 10:48 pm

    malam mbak.. mampir menikmati hidangan dulu ya nyambi nunggu stempel

    Choco:

    Aiiih, Ibu Juri terkena insomnia jugak niy 😀

    Monggoo, masih ada vanilla late kok 😀

  3. marsudiyanto Januari 16, 2011 / 11:52 pm

    Lho, kemarin kayaknya sudah ngikut kok ngikut lagi Mbak?
    Atau saya yg salah baca?
    Oke deh…
    Semoga sukses

    Choco:

    Hahahaha….. yang maren ndak memenuhi syarat, Pak Mars, jadi ndaptar lagi 😀

  4. Shohibul K.U.C.B Januari 17, 2011 / 5:46 am

    Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam K.U.C.B
    Artikel anda akan segera di catat
    Salam hangat dari Markas New BlogCamp di Surabaya

    Choco:

    Akhirnya lolos jugak, makasiy Pakdeeee….. 😀
    Salam sejuk dari Bogor

  5. Hafid Junaidi Januari 17, 2011 / 5:54 am

    wah, versi cerita panjangnya jadi gimana nih?

    Choco:

    Hihihihi…. lupakan saja yang panjang itu 😀

  6. Debby Januari 17, 2011 / 9:08 am

    saya juga jadi pengen pulang ^^

    Choco:

    Pulanglah, Nak… rumahmu selalu terbuka untukmu, dan kehangatan akan selalu menyambutmu…. 😀

  7. Lidya Januari 17, 2011 / 9:56 am

    memang kita sering kali berniat baik tapi belum tentu baik untuk orang tua ya. ada hikmahnya juga nih, mertuaku ga mau pindah ke rumah satunya yg lingkungannya lebih baik,dia lebih kerasan dirumah lama

    Choco:

    Iya, mereka enggan meninggalkan kenyamanan yang sudah didapat. Apalagi jika rumah itu penuh kenangan 😀 Salam buat mertua yaa….

  8. jumialely Januari 17, 2011 / 10:05 am

    orangtua adalah rumah titipan sang pemilik hidup. Biarlah dimasa tuanya merasakan bahagia dan selalu tersenyum. Atas stempel komandan blogcamp JURI datang menilai, terim Kasih atas cerita penuh hikmah, salam hangat

    Choco:

    Akhirnya Ibu Juri datang untuk menilai. Makasiy yaaa….

    (psst, sogokan vanilla late nya manjur gak nih :mrgreen: )

  9. bundadontworry Januari 17, 2011 / 11:29 am

    sepakat Mbak Choco, keinginan ortu kita belum tentu sama dgn keinginan kita utk membahagiakan mereka.
    kita hanya berusaha melakukan yg terbaik, menurut kita saja.

    Semoga beruntung Mbak Choco di KUCB ini 🙂
    salam

    Choco:

    Betul Bunda, kadang kita merasa “tahu” yang terbaik, padahal belum tentu sesuai yaa…
    Makasiy Bunda, salam sayaaangg….

  10. nchie Januari 17, 2011 / 12:30 pm

    salam knal mba..
    hiks..ko jadi melow gini ..

    Choco:

    Salam kenal jugak, makasiy ya dah berkunjung… 😀
    Jangan melow ah, senyuummm yuukkk…. 😀

  11. monda Januari 17, 2011 / 1:45 pm

    Orang tua memang selalu pengen ke rumahnya sendiri.
    Opung dulu juga gitu maksa mau pulang ke rumahnya sendiri … , biarpun rumah anak tetap lebih enak di rumah sendiri katanya

    salam kenal mbak

    Choco:

    Sudah home sweet home rupanya 😀 Tak ada yang lebih nyaman dari rumah sendiri yaa….

    Salam kenal, Jeng, makasiy dah berkunjung 😀

  12. melly Januari 17, 2011 / 2:15 pm

    Jadi sedih 😦
    jd inget ibuku, dr kmrin gak bisa2 nlp ibuku 😦

    Choco:

    Aduuh, jangan sedih…nanti malam dicoba lagi ya, Melly….

  13. advertiyha Januari 17, 2011 / 2:50 pm

    aku tak nunut nangis yo sist… huaaaaaaaaaaa…..

    moga menang aja deh,, wes gak iso komen apa2..
    sip markusip.. 🙂

    Choco:

    Owh, cup..cup.. Sayaaaang…. sini…sini… tak peluk (dah pake rexona kok) 😀

  14. partnerinvain Januari 17, 2011 / 3:15 pm

    Betul banget Bu, Ibuku juga begitu. Menurut kita baik belum tentu bagi beliau, aku selalu menurutkan keinginan ibuku, kalau ibu bahagia, aku juga ikut bahagia.

    Choco:

    Setuju, kita anak-anaknya hanya bisa mensupport dan mendampingi, sama seperti yang ortu lakukan ketika kita sedang merintis kehidupan 😀

  15. nh18 Januari 17, 2011 / 3:39 pm

    Apa yang baik menurut kita …
    Belum tentu terbaik dimata orang lain

    Salam saya Bu Choco

    Choco:

    Betul Om, maka sebaiknya kita bertanya dulu jika hendak berbuat sesuatu untuk orang lain ya, agar tidak mengecewakan 😀

  16. gerhanacoklat Januari 17, 2011 / 3:45 pm

    terkadang anak merasa lebih benar dan tak memedulikan pendapat orang tuanya
    hikz jadi sedih 😦

    Choco:

    Ah, Julie, aku tak bermaksud membuatmu sedih 😦
    Kelak kita juga akan jadi orang tua yang benar-benar tua, setidaknya kita sudah berpengalaman menjadi anak yaa… 😀

  17. ysalma Januari 17, 2011 / 4:07 pm

    hmmm,, jadi ingat kedua orangtuaku,,
    yups,, keinginan anak yang menurutnya yang terbaik belum tentu sejalan dengan maunya orangtua,,, rumah cinta, rumah kejayaan mereka, dan seribu kenangan ada disetiap ruangnya,,,
    berjaya di KUCB ya mba choco.. 🙂

    Choco:

    Iya, walau kita tak boleh terikat pada benda tapi kenyataannya seribu kenangan dalam rumah tak mungkin terlupa.

    Makasiy ya, Jeng 😀

  18. Majalah Masjid Kita Januari 17, 2011 / 4:42 pm

    yang terpenting adalah.. kita sudah mengawali tindakan dengan niat baik.. itu yg terpenting.. masalah hasil.. kita serahkan ke yg di atas.. 🙂

    Choco:

    Betul, untuk orang tua kita selalu mengupayakan yang terbaik 😀

  19. Devi Yudhistira Januari 17, 2011 / 4:43 pm

    sik tak nangis sik….

    haduh yu…kiye dadi nangis nemen…

    (hbis mengeluarkan wacana mereka pindah rumah ke sini nih-bukan fiksi red)

    trims ya…tak tanya2 lagi, apa keinginan mereka….

    suwun bianget yo mbakyuuuu

    Choco:

    Wis ojo nangis to, Jeng…. hapuslah air matamu… cieee….
    Biasanya ortu tetap ingin tinggal di rumah sendiri, padahal menurut kita yang paling praktis ya bareng kita ya? Supaya ada yang mengurus, klo sakit bisa kita antar ke dokter, dll.

    (Eee, tapi kalok mau jujur sebetulnya minta ortu pindah ke rumah kita biar bisa dititipin jagain anak ya hihihihi… :mrgreen: )

  20. pink Januari 17, 2011 / 5:05 pm

    Niat baik belum tentu baik di mata orang lain. Yang penting kita sudah berusaha. Tapi kalo emang si ibu nggak mau dipaksa, mendingan kita dengerin apa kata beliau.

    Salam kenal.

    Choco:

    Betul, biarkan ortu memutuskan, sama seperti ortu membebaskan kita untuk memutuskan sesuatu 😀

    Salam kenal juga, makasiy ya dah berkunjung 😀

  21. Ade Truna Januari 17, 2011 / 5:55 pm

    waduuuh, jadi punya perasaan bersalah begini ya, kemarin waktu jenguk ortu…sama ibuku pamit, sama bapakku aku lupa. 😦

    Choco:

    Waduh, gih buruan telpon Ayahanda… kok iso lali to, Mas 😀

  22. mood Januari 17, 2011 / 8:04 pm

    Dooh, jadi ironi yang ada ya.
    Sukses ya buat kontesnya, yang ini pasti diterima. Tuh sudah distempel Pak De Cholik sama jurinya juga.

    Salam.. .

    Choco:

    Iya Mas, udah gak kepanjangan lagi 😀
    Makasiy yaa…

  23. arsiteku Januari 18, 2011 / 7:46 am

    Wujudkan Rumah Impian Anda

    JASA KONSULTAN ARSITEK KONTRAKTOR DAN DESAIN INTERIOR

    Untuk anda yang membutuhkan jasa arsitek dan kontraktor berpengalaman. Silahkan hubungi kami untuk mewujudkan rumah impian anda.

    Kunjungi—> http://www.konsultan-arsitektur.com/

    Apapun itu jenis hunian yang ditawarkan, seperti:
    1. Rumah Mewah / Villa
    2. Hotel / Apartement
    3. Mall, Ruko / Rukan / Kantor
    4. Cafe / Restaurant / Playland

    Untuk memenuhi keinginan klien & owner, harga yang terjangkau di tengah pasar yang kompetitf dengan tetap dapat mengurangi biaya desain & pembangunan apabila anda menggunakan jasa arsitek & kontraktor dari kami.

    Dengan produk jasa yang akan diterima, yaitu:
    1. Design Architecture + Estimation Cost (RAB)
    2. Prespektif Warna 3Dimensi
    3. Sub Drawing
    4. Project Supervising
    5. Design & Build
    6. Landscaping
    Hubungi segera :
    PT. Diorindo Graha Perkasa
    Jl. Harapan Mulia Raya no.1B
    Kemayoran-Jakarta
    Telp: (021) – 4287 6180
    Mobile: (021) – 9138 6230
    Email: elevenstudios@yahoo.co.id
    Untuk konsultasi silahkan klik di sini…

  24. yadiebaroos Januari 18, 2011 / 11:15 am

    Kadang kita memang terlalu egois kepada ortu kita, niat kita supaya kita bisa menyenangkannya namun hasilnya malah menyusahkan

    Choco:

    Untuk itu perlu dikomunikasikan, apakah mereka lebih senang ikut kita atau tetap ingin sendiri 🙂 Kalo mereka memilih sendiri toh tak berarti kita tak peduli pada mereka 🙂
    Salam…

  25. fitrimelinda Januari 18, 2011 / 11:20 am

    terkadang orang tua lebih suka tinggal dirumahnya dibanding dirumah anak2 nya..

    Choco:

    Betul, mereka juga ingin tetap punya privacy 🙂

  26. Sya Januari 18, 2011 / 12:22 pm

    Saya jadi pingin pulang ke rumah Mba, sedih bacanya 😦

    Choco:

    Oh, Tasya, aku tak bermaksud membuatmu sedih. Dah telpon ortu hari ini?
    Salam yaa ….

  27. Asop Januari 19, 2011 / 12:50 pm

    Sesal selalu datang belakangan…. 😥

    Choco:

    Iya nih, jadi terpaksa beli lagi tuh rumah dengan harga lebih mahal 😀

  28. Abi Sabila Januari 19, 2011 / 1:16 pm

    tak mudah melupakan kenangan, apalagi bersama orang yang paling disayang. sebagaimana yang saya rasakan saat mudik, ingin selalu pergi ke pemakaman, melihat gundukan tanah di atas makam almarhumah istri, lega rasanya.
    Saya bisa memahami mengapa ibu meminta pulang.

    Choco:

    Adduhh, Abiii, kok malah jadi aku yang sedih 😥
    Biarlah kenangan itu menjadi penghias hati dan menjadi penyemangat untuk menyusuri masa depan.
    Salam hangat…

  29. qefy Januari 19, 2011 / 10:43 pm

    Hwaaaaaaa, mengharu biru. Pas banget kisah ini kalo baca sambil minum teh. *kayak iklan :D, apapun semoga selalu bahagia dirasa. Karena bahagia akan menghapus haru 🙂

    Choco:

    Setujuuu, semua akan indah pada waktunya 😀

  30. kang ian dot com Januari 20, 2011 / 8:08 am

    wh yang ini di acc hihi..terharu euy jadi inget sm ortu di rumah ^^
    sukses ya

    Choco:

    Iya, sudah distempel, Kang 😀 Gih, buruan telp ortu 🙂
    Makasiy yaa…

  31. Mbakayune Januari 20, 2011 / 1:47 pm

    Hikssss….hiksss….
    baru mbaca judulnya aza udh nangis..lha kepriben sih?

    Choco:

    Jiyan, mbakayune nyong kiye terlalu sensi apa lebay yak? :mrgreen:
    Masa mbaca judul “Omah” bae mewek sih? 😆

  32. edratna Januari 20, 2011 / 3:11 pm

    Jadi ingat almarhum ibu.
    Saat itu ibu sakit, karena anak-anak sudah di luar kota disepakati ibu tinggal bersama adik saya yang suami isteri dosen di Semarang. Ibu setuju, dengan syarat membawa barang-barang yang disayanginya, termasuk meja kursi yang saya beli (saya anak sulung) dengan uang hasil bonus kerja pertama.

    Daripada rumah kosong, rumah akan dikontrakkan, inipun ibu setuju. Sehari sebelum penghuni mau datang, ibu gelisah dalam tidurnya…akhirnya mengaku…”Kalau aku pengin pulang, dan menengok makam ayahmu tinggal dimana?” Akhirnya kontrak dibatalkan, penghuni yang terlanjur belum dapat tempat baru sementara ditampung di rumah, dan sebulan kemudian harus cari kost baru. Rumah saya tetap kosong, walau kami jarang pulang. Saat ibu meninggal, tamu yang datang pertama ikut membrsihkan rumah, karena ibu meninggal di rumah sakit Semarang, yang perlu waktu 4 jam ke kota saya.

    Choco:

    Waduh, untung Bu Edratna segera mengambil langkah tepat untuk membatalkan kontrak ya.
    Memang kadang pandangan kita tak sepaham dengan orang tua, namun sebaiknya kita menuruti kehendak ortu ya, Bu, agar tidak kecewa di kemudian hari.

    Makasiy sharingnya, Bu… 🙂

  33. niQue Januari 21, 2011 / 4:38 am

    sejak Ibu meninggal kurleb 4.5thn yang lalu, banyak orang menyarankan agar ada yang menemani bapak tinggal di rumah agar beliau tidak sendirian, agar ada yang mengurusnya. Tapiiiiiii………… dengan tegas bapak bilang mau sendiri saja. Tidak kurang2 juga yang menawari beliau menikah agar ada yang mengurus, tapiiiiiiiiiiii………… lagi2 bapak menolak tawaran itu.

    Hasilnya? Ya, bapak sendirian aja di rumahnya, tanpa ada yang menemani, mengurus dirinya sendiri, bahkan kalau anak2nya mau ngumpul, bapak sudah siap dengan nasi dan sayur andalannya khas orang Medan hehehe …

    Jadi setuju untuk tidak memisahkan orang tua dari tempat yang penuh kenangan baginya, dan biasanya itu rumah ya, karena sudah menghabiskan banyak waktu dengan istri tercinta.

    Choco:

    Betul, niQue, karena pindah rumah bagi orang tua tidak sekedar meninggalkan rumah, namun juga meninggalkan kampung halaman di mana sanak-saudara ada di sana semua.

    Wah, seru ya, Bapak masih bisa menyiapkan sayur andalan, pasti sangat menyenangkan. Salam ya buat Bapak 😀

  34. Ceritaeka Januari 21, 2011 / 9:06 am

    Merinding bacanya!
    Kangen mertuaku di Malang yang slalu SMS nanya kapan aku mengunjungi mereka.. Hu hu hu

    Choco:

    So, segera luangkan waktu sejenak untuk menjenguk mertua, Eka 😀 Dan jangan lupa pulangnya bawa apel Malang ya hahahaha…..
    Salam untuk mertua yaa…

  35. mandor tempe Januari 21, 2011 / 8:33 pm

    ah benar-benar ku merindukan kedua orang tua saya di sana. Sekarang berada di perantauan ini aku malah berpikir bagaimana memoyong mereka, ternyata apa yang kupikirkan belum tentu mereka setuju.
    Saya jadi … (ah kenapa sih mau bilang hatinya sedih aja gak mau, malu-malu)

    Choco:

    Jangan malu, Pak Ndor, laki-laki juga boleh sedih kok kalo rindu ortu 😀
    Semoga bisa mencari jalan keluar terbaik ya, Boss, ortu happy dan dirimu happy jugak 😀

  36. abdurrohim Januari 21, 2011 / 10:52 pm

    maaf telat ngasih komentar……penuh imajinasi.. terimakasih… bales kunjungan ya ….. moga sukses sama2 kontesnya..

    Choco:

    Gak papa, makasiy ya dah berkunjung 😀

  37. ndaru Januari 27, 2011 / 10:57 am

    kata mami saya dulu…momong anak kecil itu susah…lebih susah lagi momong orang tua…saya sih nangkepnya ungkapan itu bukan keluhan kek pak presiden ngeluh gajinya endak naek2…tapi saya melihatnya sebagai sebuah ajaran untuk membuat nyaman ortu, apalagi yang udah sepuh

    Choco:

    Iya, gantian, dulu mereka sudah merawat kita so saatnya kita merawat mereka 😀

  38. yoszuaccalytt Januari 31, 2011 / 2:50 pm

    Wahh udah lama gak berkunjung disini langsung disuguhi tulisan yang kerennn..bikin aku merenung….Salam…

    Choco:

    Makasiy dah berkunjung kembali 🙂

  39. yustha tt Februari 16, 2011 / 9:13 am

    Budhe….makan2 lho ya….
    Hahaha…. Congratz….

    Choco:

    Makasiy, Jeng 😀 Yuk, makan siang bareng jam 12 yaaak 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s