Dongeng insomnia · Iseng Aja

Cinta Segi Empat – The End of The Curse

Lereng Merbabu, Jawa Tengah  – 00.02

Mas Jon menatap langit yang penuh kembang api. Sudah tiga batang rokok diisapnya tanpa pernah habis. Pikirannya melayang-layang, membumbung ke atas lalu meledak persis seperti kembang api yang dilihatnya. Rupanya gerimis tak membuat perayaan tahun baru di kampungnya terganggu. Namun ia tak bisa turut menikmati, hatinya masih gundah memikirkan Surti. Kalau dulu ia yang mengejar-ngejar Surti, maka sekarang yang terjadi adalah kebalikannya. Dan Mas Jon belum juga menemukan “orang pintar” yang bisa memberinya penawar ramuan cinta.

Tiba-tiba angin berdesir, membuat kuduk Mas Jon meremang. Mas Jon merapatkan jaketnya. Sekujur tubuhnya menggigil, giginya saling beradu menimbulkan suara gemerutuk. Bbbrrrrr…….. dinginnya tak tertahankan. Mas Jon gelisah, segera ia bangkit dari duduknya dan berlari-lari di halaman seperti orang kesurupan. Tapi dinginnya kian menggigit. Aliran darahnya serasa membeku. Ada apa ini? Aaaaaaaaaaarrrggg……. Mas Jon terkulai membeku.

RB. Akibat Sarung Tersingkap, Tangerang – 00.05

Seorang perempuan mengerang kesakitan. Peluh bercucuran di pelipisnya. Ia tengah berjuang antara hidup dan mati akibat perbuatannya sendiri.

“Ayo, Bu, dorong teruss… tarik napas fuh…fuh…  fuh…dorong lagi…. teruss…” Bu Bidan terus menyemangati Ibu muda yang mulai lemas itu.

“Aarrg, sakiiiit… aduuuh… saya sudah gak kuat, adduhhhh… Bang Thoyiiiiiiiiibb….,” teriak Ibu muda itu. Bersamaan dengan teriakan memanggil suaminya, lahirlah seorang bayi sehat yang menangis dengan kerasnya. Bayi yang sangat montok dengan panjang 51 cm dan berat 3700 gr. Wajahnya sangat mirip dengan bapaknya, hanya untunglah tak langsung berkumis. Ibu muda itu menangis haru.

 

Gang Buntu, Karet Tengsin – 00.15

Tiga orang anak kecil menangis merengek pada ibunya.

“Tapi Bapak udah janji bawain kembang api, Mak. Huhuhuhu….. mana Bapak, Mak?” rengek Nhoyib, Si Sulung.

“Iya, Mak. Kalo gitu Mak aja yang beliin, masa semua main kembang api kita enggak?” tangis Shoyib, Si Bungsu. Sedangkan Si Tengah, Rhoyib, tak mau kalah ikut menarik-narik ujung daster emaknya.

“Ayuk, Mak, warung Babah Kong masih buka sampe pagi, tuh. Ayuk, beli, Mak, keburu pagiii….”

Mak makin pusing mendengar rengekan ketiga anaknya sejak habis Isya tadi. Lagipula kemana sih Bang Thoyib ini? Malam tahun baru bukannya di rumah malah keluyuran gak pamit.

“Udah, udah, nih sono pada beli,” tukas Mak akhirnya. Disodorkannya uang lima ribu pada ketiga anaknya.

“Huwwwaaaa…., mana sukup, Mak?” tangis Shoyib. Mak jadi naik pitam.

“Uang Mak tinggal segitu, kalo gak mau ya udah, tunggu aja bapakmu pulang!”

Dan ketiga anak itupun melantunkan tangisan dengan tiga suara. Bass, baritone, dan tenor.

“Bapaaaakkkkkk………!”

Mak pun membanting pintu kamarnya.

Bang Thoyib… Bang Thoyib…. mengapa tak pulang-pulang? Anakmu…anakmu… panggil-panggil namamu. Tangis Mak dalam kamar.

 

Ujung Pulau Jawa – 00.00.49

Asap putih membumbung tinggi, bergulung-gulung menyentuh eternit dan pecah menyebar ke seluruh ruangan. Kabut tipis itu berasal dari kemenyan yang wanginya menusuk hidung, menyergap sukma, dan menyesakkan napas. Lelaki tua dengan jenggot putih itu menatap pria di depannya.

“Piye Le, wis cukup sak mene?” (Gimana Nak, udah cukup segini?)

“Sampun cekap, Mbah,” jawab pria itu. (Sudah cukup, Kek)

“Trus mau kamu bikin berapa lama sakitnya?” Tanya Ki Ra Mudengan.

“Dua hari saja, Mbah. Saya gak ingin mencelakakan mereka, saya cuma ingin membuat pelajaran agar mereka kapok,” jawab Kang Tejo lirih. Ki Ra Mudengan tersenyum pada cucunya.

“Yang penting Surti kembali pada saya, Mbah. Itu sudah cukup,” lanjut Kang Tejo. Ki Ra Mudengan menunduk, mulutnya komat-kamit. Tangannya bergetar-getar. Sejenak kemudian kembali membuka matanya.

“Katakan pada istrimu Le, jangan lupa sholat lima waktu. Surti mudah diserang karena hatinya kosong, sering melamun mikir yang tidak-tidak. Suruh istrimu pasrah namun tetap ikhtiar, serahkan semua pada Gusti Allah,” Ki Ra Mudengan berhenti sejenak. Kang Tejo tertunduk. Hatinya pedih, Surti harus bekerja karena terpaksa. Seharusnya ia yang merantau dan bukan istrinya.

“Suami, istri, memang harus saling membantu. Gak masalah siapa yang harus bekerja di mana, yang penting tetap ingat Tuhan, tetap sembahyang. Insya Allah terbebas dari gangguan,” lanjut Ki Ra Mudengan seolah bisa membaca hati Kang Tejo.

“Inggih, Mbah,” sahut Kang Tejo lirih. (Iya, Kek)

 

Dan akhirnya Surti dan Tejo hidup bahagia selamanya. Sementara Mas Jon dan Bang Thoyib sudah kapok, tak lagi mau minta bantuan kegelapan untuk mendapatkan sesuatu. Hanya saja Bang Thoyib masih sering menghilang dan anak-anaknya yang sekarang empat orang masih sering memanggil-manggil namanya. Aahh….

 

TAMAT

 

Pelajaran moral:

  1. Balas dendam tidak selamanya memuaskan, yang ada hanya menambah penderitaan.
  2. Kalo sekedar memberi pelajaran, yaa bolehlah…. supaya kapok!
  3. Percayalah saja kepada Tuhan Yang Maha Esa, bahwa umur, jodoh, dan harta semua sudah diatur olehNya.
  4. Pasrah, ikhlas, namun terus berusaha dengan diiringi doa, akan menghantar pada pencapain sebuah cita.
  5. Jangan suka melamun dan berpikir yang tidak-tidak, nanti gampang kesurupan 😀

17 tanggapan untuk “Cinta Segi Empat – The End of The Curse

  1. kalo cinta segi empat masih ada sudut jelas yang bisa dipatahkan,,
    pesan moralnya itu boleh banget 🙂

    Choco:

    Dipatahkan trus jadi segitiga aja ya 😀

  2. hilmahnya itu loh setuju banget,yang paling takut .takut kesurupan..hihih..
    bener2 cinta segiempat ..

    Choco:

    Itulah bahayanya ngelamun, tiba-tiba suaranya berubah jadi om-om trus minta kopi 😆

  3. wew … dilarang ngelamun biar ga kesurupan, padahal untuk mendapatkan inspirasi menulis kan pake melamun, gimana dunks 😀

    Choco:

    Naaa, supaya gak kesurupan ngelamunnya sambil ngemil kacang, inspirasi dapet, perut kenyang 😆

  4. hikmahnya setuju banget ,Mbak Choco.
    untuk gak segi lima cintanya ya Mbak Choco, takut gak muat disini …hahahaha.. 😀 😀

    selamat ya Mbak , semoga sukses diacara KUCB ini 🙂
    salam

    Choco:

    Kalo segi lima benjol-bejol, Bundaa 😆
    Yang ini gak ikut kontes kok, Bun 😀

  5. Setelah meng-khatamkan cerita ini, maka saya langsung berjoged diiringi lagu Bang Thoyib dan disambung ngerock bersama surti tedjo, hahaha…

    seru nih, jadi jangan pernah bergantung pada kegelapan, yang bersih2 saja, tapi kalo mau ngasih sembako ato amplop ya gak papa.. *apa lagih ini.. hehhehe

    lanjut dong…lanjut… *mulai ketagihan.. 😛

    Choco:

    Sudah tamat, Say 😀

  6. jangan-jangan setiap yang punya nama bang toyib paling jarang pulang ya :D,
    bisa 3 kali puasa tiga kali lebaran loh 😀

    Choco:

    Anaknya malah udah pada kuliah, lho, tapi Bang Thoyib masiiiiih aja jarang pulang 😀

  7. Cerita pendek yang cukup mengesankan dan sarat pembelajaran hidup… seneng sekali mbaca2nya…

    Seneng udah bisa mampir kesini.. salam hangat dari negeri 1001 malam 😀

    Choco:

    Wah, ini cerbung kok, cuma kelamaan nyambungnya 😀

    Makasiy dah mampir 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s