Dongeng insomnia · Iseng Aja

……….

Setetes embun jatuh menimpa helai daun yang terbungkuk, tak kuasa menahan berat yang kian terasa hari demi hari. Embun pun luruh ke pangkuan bumi. Helai itu hanya mampu menatap titik air yang menghilang terserap hangatnya tanah. Ia tahu, tetes itu akan disambut mesra oleh akar yang selalu rindu belaian gerimis. Helai itu menyesal, ia pun merindukan sentuhan embun sejuk itu, embun dari air mata bidadari yang penuh cinta. Adakah cinta yang terlampau berat, hingga tak kuasa untuk menerima seluruhnya?

Ketika daun tak lagi mengerti bahasa yang dituturkan oleh ranting, kekasihnya. Tak lagi tahu apa yang diinginkan kekasih itu  darinya. Setiap kali ranting mengucap kata cinta dengan bahasa yang tak biasa, dengung kumbang  menulikannya. Helainya terayun dihalau sayap, menjauh dari ranting yang kian merana. Dan ranting hanya membisikkan kata-kata yang semakin tak dimengerti. Adakah cinta memerlukan kata-kata, hingga rangkaian kalimat pun menjadi begitu pentingnya?

Dan ketika kuncup-kuncup tanjung memekar, helai daun gelisah. Akan segera tiba waktunya untuk gugur, meninggalkan kekasihnya. Helai-helai segar baru akan menggelayuti lengan kekasih, merangkul manja, memagut mesra. Sang daun tertunduk, tak mampu lagi dirinya memangku embun agar terus membasahinya. Inikah akhirnya? Adakah cinta sejati akan lekang ditelan waktu, hingga sisi-sisinya lapuk dan intinya keropos?

Tak pernah ada helai yang siap ketika saatnya tiba. Ketika angin mengembus lembut, berputar-putar mengelilinginya, dan memisahkan helai dari rantingnya. Sang daunpun melayang-layang lemah, terombang-ambing antara sakit dan pasrah. Dan akhirnya jatuh ke pelukan ibu bumi, sama seperti embun yang luruh dari tubuhnya. Hampa dipandangnya sang kekasih yang kokoh pada dahannya. Ingin dia memeluk kekasihnya, membelainya, mencumbunya, bercinta dengannya, sebelum seluruh dirinya hancur ditelan bumi. Adakah cinta dapat mengulang kisahnya, hingga tak perlu ada tangisan sekalipun maut memisahkan?

Dan daunpun membusuk dalam penantian tak berujung. Selamanya, ranting akan jatuh paling akhir. Ketika hujan pun telah enggan menyapanya. Adakah cinta begitu menyakitkan, hingga tak ada pelipur yang dapat menyembuhkan?

Cinta itu indah, manis, namun juga menyakitkan dan meremukkan…