Dongeng insomnia

Kembang di Tengah Halimun

Rio tak juga bisa memejamkan matanya. Diliriknya jam kecil di samping tempat tidurnya. Ah, sudah menjelang tengah malam. Dia sudah menyerah pada usahanya untuk tidur. Maka dia bangkit, mengenakan jaketnya lalu menuju keluar.

Angin dingin langsung menerpa tubuhnya. Kabut lembut melayang-layang turun membawa air hujan yang tipis namun menusuk. Rio tak peduli. Dirapatkannya jaketnya lalu melangkah perlahan menuju kebun bunga mungil di samping teras depan. Sekilas hidungnya mencium wangi yang belum pernah dirasakannya. Kebun bunga di villa mungil milik Tomi ini memang penuh dengan aneka bunga. Cantik sekali. Mang Sardi dan istrinya sangat rajin merawat villa di kawasan puncak ini.

Rio melangkah menuju ayunan di tengah taman itu. Suasana tengah malam dan gerimis ini tentu saja sangat sepi. Tak ada orang yang berani keluar rumah di tengah udara dingin yang menusuk. Namun Rio sungguh sangat memerlukan ketenangan dan kedamaian ini. Baru tadi siang dia tiba di villa milik Tomi sahabatnya. Dia memang sedang ingin menyepi dan menyendiri. Rio teringat percakapannya dengan Tomi kemarin.

“Kau ke villa orang tuaku saja, Yo! Di sana kau bisa menenangkan diri dan mudah-mudahan menemukan solusi yang terbaik,” ujar Tomi kemarin ketika Rio berkeluh-kesah padanya.

“Thanks, Tom. Aku memang sedang ingin menyendiri. Pikiranku sungguh kalut.” Sahabatnya tersenyum menepuk bahunya.

“Aku turut prihatin tentang masalahmu, Yo. Datanglah ke rumahku nanti sore untuk mengambil kunci villa. Tinggallah di sana sesukamu.”

Maka tadi siang sepulang kuliah dia langsung memacu Tiger kesayangannya menuju Puncak. Mang Sardi menyambutnya dengan hangat, rupanya Tomi sudah memberitahukan kedatangannya. Rio langsung merasa nyaman. Sudah seringkali Tomi mengajaknya week end bersama teman-temannya di sini.

Kini, di tengah alam yang terlelap, bahkan bulan pun bersembunyi di balik mega, Rio membayangkan kedua orang tuanya. Entah mengapa, orang tua yang sangat dicintainya itu tiba-tiba memutuskan untuk berpisah. Sungguh tak masuk akal, apalagi yang mereka pikirkan? Rio yang anak tunggal itu merasa sangat terpukul ketika Papa menyampaikan hal itu padanya.

“Kau harus mengerti, Rio. Cuma ini jalan yang terbaik untuk Papa dan Mama. Kami sudah tidak bisa bersatu lagi,” jelas Papanya. Rio meledak.

“Mengapa, Pa? Mengapa? Tak ada artinyakah Rio di mata Papa dan Mama?”

“Bukan begitu, Nak. Papa masih berusaha mempertahankannya, tapi Mamamu tidak sepaham dengan Papa.”

“Ahh, persetan! Itu hanya alasan saja. Prinsip, paham, apalagi alasannya, Pa? Kemana saja kalian selama delapan belas tahun ini? Kenapa soal prinsip ini baru muncul sekarang?”

“Rio, jaga mulutmu! Sekarang kau belum mengerti, tapi suatu saat nanti kau akan memahaminya.”

“Sampai matipun Rio takkan pernah bisa memahaminya!” Teriak Rio sembari mengambil kunci motornya.

“Rio!”

Selapis kaca bening berkilau di mata Rio. Dia bukan pemuda cengeng, namun membayangkan perpisahan kedua orang tuanya sungguh membuat hatinya hancur. Selama ini Papa dan Mama nampak selalu harmonis dan romantis, tak sekalipun Rio pernah mendengar mereka bertengkar atau berkata kasar. Tapi ternyata semua itu hanya sandiwara. Sungguh mengecewakan.

Lamunan Rio sesaat terputus. Sayup-sayup antara ada dan tiada dia mendengar senandung lirih. Suara lembut seorang gadis yang sedang menyanyikan lagu. Rio melihat berkeliling. Di ujung taman dia melihat seorang gadis berlutut menatapi kuncup bunga putih yang Rio tak tahu namanya.

Perlahan dia menghampiri gadis bergaun pink yang nampak sudah ketinggalan jaman itu. Rambutnya hitam panjang tergerai di bahunya. Rio tak dapat melihat wajahnya karena gadis itu memunggunginya. Ragu dan sungguh sangat heran dia menyapa gadis yang entah datang dari mana itu.

“Haii..” sapanya lirih.

“Ssstt,” bisik gadis itu tanpa menoleh. Rio makin penasaran. Bagaimana tidak, di tengah malam yang dingin dan sunyi ini tiba-tiba muncul seorang gadis.

“Oh, sorry. Mmm, boleh aku menemanimu?” bisik Rio. Gadis itu masih tak menoleh, namun dari gerakan kepalanya Rio dapat melihat anggukannya. Maka Rio segera berlutut di samping gadis itu. Lututnya menyentuh rumput tebal yang dingin dan basah.

“Ini namanya bunga wijaya kusuma, sebentar lagi akan mekar.” Gadis itu kembali berbisik. Rio melongo menatap kuncup besar di hadapan mereka. Kembali gadis itu bersenandung lirih. Rio tak tahu apa yang disenandungkannya, namun suaranya sungguh merdu dan halus.

“Eee, boleh aku tahu siapa namamu?” Tanya Rio perlahan. Dia merasa dirinya aneh, kenapa mesti berbisik-bisik begini? Namun mengingat gaya bicara dan senandung lirih gadis itu dia jadi ikut-ikutan berbisik, seolah kalau mereka berbicara keras kuncup itu tak jadi mekar.

“Aku Lily,” jawab gadis itu.

“Lily, hmm nama yang indah. Aku Rio,” ujar Rio sambil mengulurkan tangannya. Namun Lily tak menyambut tangan itu, maka dengan canggung Rio kembali menarik tangannya.

“Ehm, kapan bunga itu akan mekar, Lily?” Tanya Rio berusaha mengobrol. Ingin dia menyibak rambut tebal sebahu itu agar dia bisa melihat wajah Lily. Namun rupanya tak perlu repot-repot karena Lily menoleh kepadanya. Dan jantung Rio seakan hendak melompat keluar dari rongganya! Cantik! Cantik sekali! Seluruh wajahnya lembut, tatapannya teduh, namun pipi dan bibirnya nampak pucat. Pasti karena kedinginan. Matanya sangat bening dinaungi bulu mata yang lentik dan alis tebal namun serasi. Hidungnya bangir dan tulang pipinya tinggi. Anggun dan cantik itulah kesan yang ditimbulkan. Ada kesan Indo pada wajahnya, meski tak begitu kentara. Andai bibir itu tak pucat pastilah sangat menawan senyumnya. Walaupun hanya ada kilau bintang dan pantulan sinar lampu dari dalam rumah, namun kecantikan Lily sungguh berkilau.

“Tepat tengah malam bunga ini akan mekar. Indah sekali, namun hanya sesaat. Tak tahukah kau tentang bunga ini?” jelas Lily dengan tetap berbisik. Rio masih terpana melihat kecantikan Lily.

“Eh, oh, aku memang pernah mendengar namanya tapi tak pernah melihatnya,” jawab Rio tergagap-gagap. Lily kembali memandangi kuncup itu. Lama mereka berdiam, Lily masih terus menatap kuncup wijaya kusuma dan Rio terus menatap kecantikan Lily. Dan ajaib! Lily memekik kecil, tampak bunga putih itu mulai bergerak. Rio terlonjak namun segera maklum apa yang terjadi. Bahkan Rio pun tak sanggup berkedip. Entah hanya khayalannya atau memang sungguh-sungguh nyata, Rio melihat kelopak itu membuka. Perlahan, perlahaaan sekali, nyaris tak kasat mata, kelopak putih itu bergerak, merekah dan kian merekah. Wanginya menyebar ke seluruh penjuru taman. Wangi yang manis namun mistis. Rio menahan napasnya sejenak melupakan Lily.

“Indah sekali,” bisiknya. Bunga putih itu mekar sempurna, anggun dan semerbak. Pesonanya seperti menyihir seluruh alam. Gerimis tiba-tiba berhenti, seolah takut titik airnya akan melukai kesempurnaan berwarna putih itu. Kabut sejenak memudar, membingkai bunga nan menawan itu.

Rio menoleh menatap Lily. Setetes mutiara berkilau meliuk melintasi pipi pucatnya. Ingin sekali Rio menghapus air mata itu.

“Kau menangis, Lily?” Pertanyaan bodoh. Tapi sungguh Rio tak tahu harus berbuat apa. Dia belum pernah melihat gadis menangis di hadapannya. Lily mengusap pipinya dengan tangan putihnya.

“Aku selalu menangis setiap kali melihat bunga ini mekar,” bisiknya perlahan.

“Seringkah kau melihatnya, Lily?”

“Setiap tahun sekali, di tengah hujan aku selalu menanti keindahan ini.”

“Mengapa harus setahun sekali? Tidakkah bunga ini mekar setiap musim?”

Lily tersenyum menatap Rio. Kepala indahnya menggeleng.

“Bunga ini hanya mekar setahun sekali, di penghujung tahun, di antara  musim hujan. Dan aku selalu menantikannya.”

Rio terpana melihat Lily, kecantikannya nyaris melampaui bunga wijaya kusuma ini. Putih, anggun, harum, dan mempesona.

“Esok pagi, Rio,” lanjut Lily, “Kau takkan lagi bisa melihat keindahannya. Hanya kelopak layu dan terkulai yang tertinggal.”

“Oh, sayang sekali,” keluh Rio.

Lily tersenyum padanya.

“Aku tau, Rio, kau sedang mempunyai masalah berat. Tak ada masalah di dunia ini yang tak dapat diatasi. Tinggal bagaimana kita mau menerimanya.”

Rio takjub. Darimana gadis cantik ini tahu dia punya masalah berat?

“Darimana kau tahu aku punya masalah, Lily?”

Lily tertawa kecil.

“Tak ada orang yang keluar rumah pada tengah malam, di udara yang menggigit begini dan di tengah rinai hujan, kalau dia tak punya masalah.”

Rio tersenyum malu. Benar juga.

“Hei, lalu kau sendiri? Berarti kau juga sedang punya masalah bukan?” tebak Rio. Senyum Lily memudar.

“Aku memang punya masalah. Tapi itu bertahun-tahun yang lalu, sekarang aku hanya benar-benar sedang menanti bunga ini mekar.” Tubuh Lily sedikit menggigil. Rio segera melepas jaketnya dan memberikan pada Lily. Gadis itu menolak halus.

“Aku lahir dan besar di sini Rio, dingin seperti ini tak ada artinya buatku. Kulitku sudah kebal, begitu juga rasaku,” ujarnya lirih, “pakailah kembali, kalau tidak kau akan segera membeku di sini.”

Dengan enggan Rio memakai kembali jaketnya. Memang dingin ini sungguh membekukan.

“Kau tinggal di sekitar sini?” Tanya Rio. Lily menunjuk suatu tempat di atas bukit di hadapan mereka. Rio mengikuti arah jemari Lily, namun kabut yang kembali turun menutupi jarak pandangnya. Biarlah, besok akan ditanyakannya pada Mang Sardi.

Keheningan kembali hadir. Dingin kembali menusuk tulang. Tapi Rio tak mau kehilangan momen berkesan ini. Melihat bunga yang hanya mekar setahun sekali dengan seorang gadis cantik? Bahkan bermimpi pun tak pernah.

“Rio, kau pemuda yang baik. Aku merasa nyaman berada di dekatmu. Entah mengapa, aku berani berdekatan denganmu,” lirih sekali Lily berkata. Rio melambung ke langit ketujuh, Belum sempat dia berkata Lily kembali meneruskan perkataannya.

“Bertahun-tahun lalu, sama saatnya seperti ini, seorang pemuda tampan berdarah bangsawan menemaniku,” sejenak Lily menarik napas, “dia tunanganku. Sebelum aku diboyong pergi aku minta ijin untuk melihat untuk terakhir kalinya bunga ini mekar.”

“Tahukah kau Rio, bahwa bunga ini memang bunga raja-raja? Maka sungguh tepat saat itu aku berdampingan memandanginya. Namun rupanya hanya gelarnya saja yang berdarah biru. Hatinya sungguh hitam,” mendadak Lily menangis. Rio kelabakan. Ingin dipeluknya gadis ini tapi Lily selalu menjaga jarak dengannya. Selalu menjauh jika jarak di antara mereka semakin dekat.

“Eh…emm… sudahlah, Lily. Kalau kenangan itu begitu buruk untukmu, tak usah kau ceritakan,” ujar Rio kebingungan. Lily mengusap matanya. Isaknya terhenti berganti senyum.

“Kau memang baik. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa masalahmu bukanlah yang terberat. Masih banyak lagi orang-orang yang memikul beban berat di pundaknya. Mengertikah kau Rio akan maksudku?”

“Aku mengerti, Lily. Terimakasih. Dan kuharap apapun masalahmu dulu, semoga kini kau mampu mengatasinya.” Lili menggeleng.

“Aku tak sekuat itu, Rio. Aku tak setegar itu, sudahlah. Hei, lihat bunga ini semakin lemah. Sayang sekali esok kau hanya akan melihat sisa kecantikannya.”

“Lily, semakin dingin di sini. Maukah kau masuk bersamaku? Aku buatkan segelas coklat panas untukmu.”

“Tidak, Rio. Aku akan terus di sini sampai bunga ini layu menjelang subuh nanti. Masuklah kalau kau lelah dan kedinginan.” Rio memang kedinginan. Tapi meninggalkan Lily sendirian di sini? No way! Dengan suara digagah-gagahkan dia menolak.

“Aku akan menemanimu di sini. Sampai menjelang subuh? Oh, sampai siang pun akan kulakukan,” ujarnya. Lily tertawa kecil. Rio beranjak ke bagian lain taman itu. Di sana dia melihat pohon pisang lalu memetik daunnya yang paling lebar. Segera dia menggelar daun pisang itu untuknya dan Lily.

“Nah, duduk begini lebih nyaman bukan?” Tapi Lily bergeming. Dia masih saja bersimpuh. Gaunnya yang lebih tepat dipakai di siang hari itu membingkai di sekelilingnya. Basah terkena hujan.

“Aku sering datang kemari tapi tak sekalipun aku pernah melihatmu. Di manakah kau selama ini, Lily?”

“Sudah kukatakan, aku hanya datang untuk melihat bunga ini saja.”

“Tidakkah kau menanamnya sendiri di kebun rumahmu?”

“Sudah mati bertahun-tahun lalu, Rio. Dan aku tak mampu menanamnya lagi. Kalau kau perhatikan, hanya di rumah ini saja bisa kau temui bunga ini.”

“Benarkah? Sayang sekali aku baru mengetahuinya sekarang,” sesal Rio. Tentu saja dia tak pernah memperhatikan kebun Tomi. Setiap mereka berlibur ke sini hanya berpesta barbekyu dan main kartu, atau berenang yang mereka lakukan.

Entah berapa lama mereka berdua berdampingan di depan bunga wijaya kusuma itu. Rio di atas daun pisangnya dan Lily yang bersimpuh di sampingnya. Sayup-sayup di kejauhan mulai terdengar suara-suara. Mungkin para pedagang sayur yang segera menuju pasar atau para petani yang mulai membuka harinya. Bunga itu kini benar-benar terkulai.

“Aku harus pergi,” bisik Lily. Rio panik.

“Hei, bolehkah kuantar kau pulang?”

Lily menggeleng lalu bangkit. Entah mengapa wajahnya nampak kian pucat. Tentu setelah semalaman kedinginan darah di tubuhnya mulai membeku.

“Tapi tak baik buatmu jalan sendiri di pagi buta ini.”

“Tak ada yang perlu kau kuatirkan. Aku sudah melampaui semua hal yang kau kuatirkan, Rio.”

“Tapi, aku ingin mengenalmu lebih jauh, Lily,” desak Rio. Tanganya menjulur hendak menggenggam tangan Lily. Gadis itu menghindar.

“Tak cukupkah semalam ini, Rio?”

“Tentu saja tidak. Biarlah aku mengantarmu, setidaknya mengikutimu dari belakang.”

“Kau pemuda baik, Rio. Aku hanya ingin mengingatkan, jangan lari dari masalah. Hadapilah, karena apapun dampak dari masalahmu, kau akan segera bisa beradaptasi dan melupakannya. Waktu yang akan membantumu.” Lily berjalan mundur. Entah darimana datangnya kabut tebal itu, namun Rio tak lagi dapat memandang gadis itu.

“Lily… Lily….,” panggilnya lemah. Sayup-sayup terdengar suara azan subuh. Rio merapatkan jaketnya lalu segera masuk. Dingin yang menusuk itu membangkitkan bulu kuduknya. Dia lalu merebahkan dirinya di sofa.

 

Rio mendengar seseorang memanggilnya. Sepertinya jauh sekali suara itu. Tubuhnya berguncang-guncang, seseorang sedang membangunkannya. Samar-samar nampak raut tua Mang Sardi saat dia membuka mata.

“Ah, syukurlah, bangun juga Nak Rio ini,” desah lega Mang Sardi. Rio langsung terduduk lalu mengusap matanya.

“Astaga, jam berapa ini, Mang?”

“Hampir jam satu siang. Nak Rio tidur nyenyak sekali, sampai-sampai saya mondar-mandir tidak juga terbangun.” Rio terkaget-kaget. Sejenak dia melupakan apa yang terjadi tadi malam, namun ketika teringat segera dia bangkit.

“Mang, antarkan aku ke rumah Lily, yuk,” ajaknya. Mang Sardi bingung.

“Lily? Lily siapa, Nak?”

“Lho, Mang Sardi tidak kenal Lily? Katanya tinggal di bukit sana.” Mang Sardi kebingungan. Rio segera meraik tangan lelaki tua itu keluar.

“Itu, di atas bukit itu rumahnya,” tunjuk Rio ke arah bukit yang menjulang di depannya. Mang Sardi kebingungan.

“Tapi di sana tidak ada rumah, Nak. Di sana hanya ada pemakaman kuno.” Rio bingung. Ah, Mang Sardi ini bercanda rupanya.

“Mang Sardi kan orang sini, masa gak tau di sana ada rumah? Rumah seorang gadis cantik, namanya Lily,” desak Rio. Sejenak kening Mang Sardi berkerut, namun tiba-tiba nampak seperti teringat sesuatu. Rio menatapnya penuh harap.

“Ingat kan, Mang? Gadis itu cantiiiik sekali, rambutnya tebal lurus sebahu, kulitnya putih, dia senang sekali dengan bunga wijaya kusuma.”

Wajah Mang Sardi langsung pucat. Mulutnya berkata tergagap-gagap.

“Da…da..darimana Nak Rio tahu tentang Lily?”

“Tadi malam dia ke sini, Mang. Aku menemaninya sepanjang malam menunggu mekarnya bunga putih itu,” ujar Rio girang. Pipinya sempat memanas. Mang Sardi terkejut, tangan keriputnya mengelus-elus dada.

“Nak… Nak Rio bercanda ya?”

“Ya ampun, enggaklah Mang. Sampai mejelang subuh kami berdua memandangi bunga itu. Nih, lihat Mang, jeansku saja masih lembab karena rumput basah,” ujar Rio sembari menepuk-nepuk celana jeansnya. Namun Mang Sardi kian pucat. Dia istgifar berkali-kali.

“Mamang kenapa, sih? Kok aneh begitu?”

“Nak, kalau benar Nak Rio tadi malam ketemu Lily, tentu saja Mamang terkejut. Karena…karena….” Mang Sardi segera masuk lalu mencari tempat duduk. Tubuhnya lemas sekali.

“Karena apa, Mang?” Rio sungguh penasaran.

“Karena Lily itu sudah meninggal berpuluh-puluh tahun yang lalu,” bisik Mang Sardi. Rio terpana. Entah mengapa bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya langsung berdiri. Angin dingin seketika  membekukan napasnya.

“Aapa?” desahnya terkejut.

“Kalau benar Lily itu yang Nak Rio maksud, Mamang jadi ingat ceritanya. Mari Nak, Mamang ceritakan,” kata Mang Sardi sembari duduk di kursi teras. Setengah linglung Rio mengikuti dan duduk di hadapan Mang Sardi.

“Dulu, lebih dari lima puluh tahun lalu, saat itu Mamang baru berusia delapan tahun, ada seorang gadis Indo bernama Lily. Dia anak seorang janda bernama Nyai Delima. Cantik sekali, banyak pemuda baik dari kampung sini maupun luar kampung melamarnya. Namun tak satupun yang memikat hatinya,” Mang Sardi sejenak berhenti menghela napas, “hingga datanglah seorang pemuda bangsawan dari seberang. Muda dan tampan, hati Lily pun terpikat. Lamaran diterima dan Lily hendak diboyong ke seberang.”

“Namun seminggu sebelum kepindahan, Sang Bangsawan menodai kesucian Lily, hingga gadis itu menderita dan bunuh diri. Lalu Ibunya pun menyusulnya karena tak kuat menanggung kepedihan ditinggal putri satu-satunya,” lanjut Mang Sardi.

Rio menggigil.

“Bunga itu?”

“Lily memang sangat menyukai wijaya kusuma. Seluruh kebunnya dipenuhi bunga itu, dan pada saat mengembang wanginya menyebar hingga seluruh kampung. Di kebun itulah Lily ternoda, di antara kembang-kembang kesukaannya.”

Rio benar-benar merinding sekarang.

“Sejak itu kebunnya hancur, tak ada yang merawatnya lagi. Dan memang sering terdengar desas-desus bahwa Lily kadang menampakkan diri saat bunga wijaya kusuma mekar.”

Rio tak lagi mendengar perkataan Mang Sardi. Seluruh perasaannya terguncang. Jadi semalaman dia ngobrol dengan hantu? Hantu cantik mempesona, bahkan sempat menasehatinya pula?

Ah, rasa penasaran menguasai hatinya. Segera dia memacu Tigernya mendaki bukit kecil itu. Namun ternyata Mang Sardi benar. Tak satupun tanda-tanda kehidupan nampak di bukit itu. Hanya angin dingin dan tanah kering sejauh mata memandang. Kemudian pandangan Rio terpaku pada gerbang besi yang sudah karatan dan berbentuk tak karuan. Di atas besi tua itu nampak papan lapuk dengan tulisan yang sudah tak terbaca. Rio memarkir motornya dan menghampiri gerbang itu. Sesaat napasnya terhenti. Di balik gerbang itu nampak hamparan pemakaman yang sudah tak terawat. Perlahan dia memasuki pemakaman itu. Sungguh menyeramkan. Entah sudah berapa usia pemakaman itu dan mungkin sudah tak ada lagi keluarga yang tersisa untuk merawatnya.

Batu-batu nisan yang sudah dimakan usia itu tak mampu lagi menampakkan tulisan. Namun di ujung tampak ada dua makam kembar dari batu marmer putih yang sudah kusam. Rio bergegas mendekati. Salah satu makam itu bergambar oh.. Rio segera menghapus debu dan tanah yang menutupinya. Perlahan gambar itu nampak nyata oohh…. Gambar bunga wijaya kusuma yang mekar sempurna! Rio menatap nisan marmer itu. “Lily van Kohmer 1940 – 1957.

Semuda itu dia harus pergi, desah Rio. Diambilnya sekuntum bunga rumput lalu diletakkannya di atas makam marmer itu.

“Beristirahatlah dengan tenang, Lily. Terimakasih atas pertemuan semalam, kau memang gadis cantik berhati mulia. Selamat tinggal,” bisik Rio.

Kini, Rio siap pulang, menghadapi apapun keputusan orang tuanya. Problem yang dihadapinya  tak ada artinya dibandingkan derita Lily pada masa hidupnya. Rio sadar, orang tuanya yang menjalani perkawinan itu. Toh dia takkan kehilangan keduanya, mereka masih orang tua yang dicintainya. Terimakasih, Lily.

16 tanggapan untuk “Kembang di Tengah Halimun

  1. cerita pendek yang panjang, tapi saya menikmati alur cerita, bahasa dan dialog yang dimunculkan, mengalir. Salut untuk yang bisa membuat cerpen sebagus ini.

    Choco:

    Ah, Pa’e…. makasiy pujiannya yaa… jadi maluu 😳

  2. apikkk……

    langsung teringat bunda lily dan bunga lily….dan mbayangin Lely.. lah itu saya…

    ——- STOP PERCERIAN— Sebisa mungkin

    ——-Bahwa seberat apapun masalah, pasti ada jalan keluarnya———-

    ——-Bunuh Diri Bukan solusi terakhir dalam mencari jalan——–

    Choco:

    Hahahaha….. waduh iyaa, Bundaaaaa Lily jangan marah, sumpah aku gak bermaksud 😀
    Cerpen ini stok lama yang baru diposting, jadi lupa ganti nama 😀

    Lely manis, pantas jadi juri CERMIN ‘coz pandai sekali melihat hikmah dari tiap cerita, hihihihi…..

  3. weleeehhhh….medeni….bersambung ra?

    gambare apik yu…jam piro olehmu nunggoni motret, ketemu lily tah?
    (awah lo diprotes bunda Lily karna pake nama ini qiqiqiqi)

    Choco:

    Wis entek, Jeng, kiye wae wis kepanjangan 😀

    Kuwi sing motret Ibundaku di halaman rumahnya, niat banget ya Bundaku itu 😀 (I love you, Mom)
    Soale nama Lily itu indaaah benget 😳 (maap ya, Bun 😀 )

  4. hiiiiiiiiiiiyyyy
    serem jadinya Mbak, takut ketemu dia stlh pulang ngajar

    Choco:

    Sst, maka kalo lagi sendirian, sering-seringlah nengok ke belakang, takut ada yang ngikutin lho…. :mrgreen:

    (kalo yg ngikutin ganteng sih gak papa ya, Deb 😀 )

  5. alurnya agak ketebak yah bu? kan gak mungkin gitu ada seorang wanita tengah malam canti, sendirian duduk di kebun begitu aja. udah ngebayangin yang horor – horor aja tadinya. hehehehhehehehhe.
    tapi teteup suka, soalnya bahasa mengajak aku buat menemani Rio terlibat perbincangan dengan si Lily
    gambar bunga nya cantik bu..

    Choco:

    Iya, Riani, padahal aku sukanya yang endingnya gak ketebak 😀
    Untung kau bacanya gak tengah malam, yaa 😀

  6. hiiiiiiiiiiiiiiiiiii… *merinding, semua buluku* hiks.. 🙂
    sip..sip.. markusip.. ternyata dikau bisa lepas dari cerpen kocak, heheh…

    Oh, lily, terimakasih juga, sudah mengingatkanku, bahwa bagaimanapun beratnya hidup ini, pasti ada jalan keluar, kita hanya harus menghadapi dengan hati lapang, karena bunuh diri tak akan ada arti dan akan menyebabkan penyesalan,, 😦

    salam sayang sist cho,
    salam buat lily,, hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…

    Choco:

    APA??? Jadi selama ini…. selama ini…… kau ini berbulu ya??? :mrgreen:

    Aku malah pengen hidup 1000 th lagi 😀 Mati hanya pelarian dari dunia, sesudah itu? Hiiiiiiiiyy……

    Salam sayaang untukmu, Cin…. (huwekkkssss…..)

  7. hiiiii….hantu cantiknya , kok namanya sama denganku , Mbak choco…… xixixixixi…….. 😛
    cerpen yg bikin pikiran kita terbuka, bahwa masih banyak orang lain yg punya masalah lebih berat dr pada masalah yg kita hadapi ya Mbak …
    salam

    Choco:

    Hihihihi….. maap, Bun, waktu menulis itu kok nama “Lily” langsung melintas di benakku 😀
    Tapi yang namanya Lily biasanya emang cantik kok, Bun…. 😀

    Betul, Bunda, kadang kita merasa bahwa masalah kita adalah yang terberat. Dengan memandang masalah orang lain mengingatkan kita untuk selalu bersyukur 😀

  8. Kemana saja kalian selama delapan belas tahun ini?
    Kenapa soal prinsip ini baru muncul sekarang?”

    Kegundahan Rio sangat masuk akal …

    Salam saya

    Choco:

    Mungkin mereka tak pacaran dulu sebelum menikah, Om. Jadi “masalah prinsip” itu muncul setelah sekian tahun berlalu 😀

  9. Bah… yang pacaran belasan tahun sampe kumpul kebo puluhan tahun juga banyak yang pisah alasan prinsip, intinya 2 kepala tentu isi berbeda, selama jelas yang mana yang memimpin yang mana yang dipimpin masalah apapun ya gak kan sampai memisahkan. Bukankah perempuan berasal dari kata per-empuan ?

    Choco:

    Iya siy, cuman kesel aja ngeliat artis2 itu pada cerai dengan alasan “beda prinsip” 😆

    Eitss… (kucek-kucek mata) kekasihku komen? Tumbeeennnn….. 😀

  10. cerpennya keren, saya malah blom berani publish buatan sendiri, hhahaaha … dibiarin aja njogrok di pojokan tuh hehehe
    tapi mba, jadi mo nanya sama komen satu ini
    Choco:
    Mungkin mereka tak pacaran dulu sebelum menikah, Om. Jadi “masalah prinsip” itu muncul setelah sekian tahun berlalu

    masak siy? Emangnya kalo nikahnya ga pake pacaran, satu hari nanti masalah prinsip itu akan muncul??? Soale aku nikahnya ga pake pacaran mba, jadi takut duluan hahahaha

    Choco:

    Ayo dong, niQue, dipublish, aku siyap jadi pembaca niihhh….. ditunggu yaa 😀

    Heeiii, itu cuma becanda kok. Kakek nenek kita dulu juga gak pacaran tapi awet2 aja tuh? Yang pake pacaran belasan tahun juga bisa kandas kok ujung-ujungnya.
    Tenang aja, Dear, nyang penting komitmen dan tujuan menikah sudah jelas, insya Allah langgeng dan bahagia selalu. Suami istri adalah team untuk menuju kebahagiaan dan mengentaskan anak-anak 😀
    Gak usah kuatir yaaa…. 😀

  11. Kisahnya bagus. Ini pasti untuk pemanasan menjelang Pagelaran Kecubung 3 Warna ya jeng.

    Sudah dapat pasangan ?

    Salam hangat dari Surabaya

    Choco:

    Hiks… syaratnya bikin nangis, Pakde 😥 padahal team dah siyap 😥

  12. keren mbak choco 🙂 saya dulu punya bunga itu..memang kalau mekar juga menjelang subuh..dan biarpun ditungguin..dia ngga akan mekar, begitu kita lengah sedikit saja, langsung dia mekar..dan betul juga besoknya udah layu..malah ada cerita dari orang2 tua, kalau siapa saja yg bisa melihat mekarnya bunga itu, apa yg dia harapkan akan terwujud..jadi make a wish aja pas bunga itu mekar…hahaha..percaya ngga percaya sih..tapi waktu masih kecil dulu saya nyoba lho..

    Choco:

    Iya, beruntung ibuku bisa melihatnya ya 😀 Bunga ini sama gak ya dengan bunga “Sri Rejeki”?

    Joan dah pernah liat ya? Trus…trus… terkabul gak keinginannya? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s