Dongeng insomnia · Nimbrung Mikir

Putri Zahra dan Kotak Ajaib

Sudah beberapa hari ini hati Putri Zahra gundah gulana. Ia belum menyelesaikan tugas yang diberikan Ayahandanya, Raja Zorala. Sebetulnya tugas itu tidak berat sama sekali, bahkan Putri Zahra tidak perlu melakukan apa-apa hanya duduk saja sambil tersenyum manis. Namun justru karena itulah Putri selalu menunda-nunda. Yah, Raja hanya meminta Putri untuk dilukis dengan gaun  kebesarannya untuk perayaan ulang tahunnya nanti. Namun karena bosan dan tidak suka berdiam diri maka Putri Zahra tak melakukan pesan Ayahandanya. Dan ketika Putri sudah bersedia dilukis, ternyata Zarata, pelukis istana sedang terbaring sakit dan tak mampu bangun dari tempat tidurnya. Sedangkan tak lama lagi Ayahanda dan Ibundanya akan kembali dari lawatan ke negara tetangga.

Di saat panik itulah Paman Zabor, orang kepercayaan Raja Zorala menegur Sang Putri.

“Bagaimana kalau kita undang para pelukis di seluruh negri untuk melukis Tuan Putri?”

“Ah, tetapi tidakkah Ayahanda akan tahu bahwa itu bukan lukisan Zarata, Paman?”

“Pasti tahu, tapi daripada Tuan Putri tidak dilukis sama sekali?”

Putri Zahra diam sejenak namun kemudian menyetujui usul Paman Zabor.

Maka keesokan harinya segera berdatanganlah para pelukis ternama dari seluruh penjuru negeri. Ada yang tua, muda, pria, wanita. Dan bersama-sama mereka segera melukis Putri Zahra. Dan seperti biasa saat dilukis Putri Zahra tak bisa duduk dengan diam. Hanya sebentar ia mau duduk diam dan tersenyum manis. Tak lama kemudian ada saja yang dilakukan Sang Putri. Kadang menggaruk-garuk hidungnya, kadang membetulkan gaunnya, lalu sebentar kemudian menguap, atau menoleh ke kiri dan ke kanan. Dan para pelukis tak ada yang berani menyuruhnya diam.

Maka sore hari kemudian, ketika semua pelukis telah menyelesaikan lukisannya, tak satupun lukisan yang berkenan di hati Putri.

“Ahh, lihatlah Paman, lukisan yang ini masa hidungku terlalu miring? Dan ini? Ooh, mana mungkin pipiku setembam ini? Lihatlah yang ini Paman, gaunku tampak kebesaran. Apalgi yang ini, aduuuhhh….. rambutku nampak berantakan!”

Paman Zabor hanya menghela napas panjang. Tentu saja lukisan itu tak satupun yang sempurna karena Putri tak juga mau diam. Lukisan yang tampak tembam itu karena Putri mengulum gula-gula. Lalu yang hidungnya miring itu karena Putri tak henti-hentinya menggaruk hidung. Dan yang rambutnya berantakan karena Putri selalu memainkan rambutnya yang ikal dan lebat. Semua pelukis menyerah dan pulang dengan kecewa.

“Aduh, bagaimana ini Paman? Tak bisakah Zarata bangun dan melukisku?” rengek Putri Zahra.

“Tidak bisa, Tuan Putri, Tuan Zarata bahkan sedang dirawat di rumah tabib.”

“Lalu bagaimana? Ayahanda akan segera pulang. Pasti beliau marah kalau lukisanku belum jadi?” Putri Zahra menangis terisak. Paman Zabor jadi bersedih.

Keesokan harinya Paman Zabor segera membuat pengumuman ke negara-negara tetangga untuk mengundang para pelukis ternama. Dan segeralah berdatangan pelukis dari segala penjuru dunia. Dan lagi-lagi para pelukis hebat itu tak satupun berhasil melukis Putri dengan indah. Selalu ada saja kurangnya karena Putri yang sesungguhnya cantik jelita itu tak semenitpun bisa diam. Sekali lagi para pelukis pulang dengan kecewa karena tak sanggup melukis Sang Putri yang cantik jelita itu.

Hingga menjelang senja, seorang pemuda datang tergopoh-gopoh menghadap Paman Zabor.

“Tuanku, masihkah saya bisa mengikuti sayembara untuk melukis Tuan Putri nan jelita?”

Paman Zabor menatap heran ke arah pemuda itu, tak satupun alat lukis yang ia bawa tetapi ia akan melukis Putri Zahra.

“Anak Muda, siapakah engkau? Dan jika kau hendak melukis Tuan Putri, manakah peralatan lukismu?”

“Nama saya Yoshikawa, saya datang dari Negeri Matahari Terbit. Dan ini alat lukis saya,” jawab pemuda itu sambil menunjukkan sebuah kotak kecil berwarna perak. Paman Zabor jadi marah.

“Jangan macam-macam, Anak Muda. Semua pelukis ternama dari seluruh penjuru dunia dengan alat lukis yang paling lengkap pun tak ada yang berhasil melukis Tuan Putri. Ini kau hanya membawa kotak kecil saja. Mana kuasmu? Mana kanvasmu?”

“Saya tidak memerlukan itu semua, Tuan. Percayalah, saya bisa melukis Tuan Putri seperti nyata adanya dan hanya membutuhkan waktu satu menit saja.”

Paman Zabor semakin marah dan mengusir pemuda itu pergi. Mendengar ribut-ribut, Putri Zahra segera keluar dan menemui Pamannya. Ketika Pamannya bercerita, Putri menjadi takjub.

“Benarkah kau bisa melukisku hanya dalam waktu satu menit?” Tanya Putri terheran-heran. Yoshikawa tersenyum dan mengangguk. Putri lalu membujuk Paman Zabor untuk memberi kesempatan pada Yoshikawa. Akhirnya Paman Zabor mengijinkan.

Putri Zahra lalu mengajak Yoshikawa ke taman bunga dan duduk di kursi taman dengan senyumnya yang paling manis. Yoshikawa mengambil kotak kecilnya, mengarahkannya ke Tuan Putri dan …jepret… seberkas sinar menyilaukan Putri Zahra.

“Selesai, Tuan Putri,” ujar Yoshikawa.

“Apa? Bahkan akupun belum menggaruk hidungku. Mana hasilnya?”

“Ijinkan saya mencetak dulu lukisan ini dan membesarkannya untuk Tuan Putri.” Yoshikawa lalu minta dibuatkan ruang kerja untuknya.

Tak lama kemudian kembali Yoshikawa menghadap Putri Zahra dan Paman Zabor. Di tangannya tampak sebuah pigura besar dengan woooww….. gambar Putri Zahra yang cantik dan sempurna!  Mirip sekali dengan aslinya, tak ada cacat sedikitpun. Putri terkagum-kagum melihatnya.

“Bagaimana mungkin kau melakukannya? Apa nama kotak ajaib itu, Yoshikawa?”

“Ini bukan kotak ajaib, Tuan Putri. Ini adalah kamera. Di negri kami tak perlu orang berpose lama-lama untuk diabadikan gambarnya, cukup sebentar dan jadilah gambar yang mirip sekali dengan aslinya. Gambar ini kami sebut foto.”

Putri Zahra sangat gembira. Disuruhnya pemuda Yoshikawa untuk tinggal di istana hingga Ayahandanya kembali. Dan selama itu Putri jadi senang sekali berpose untuk di foto. Tak perlu lagi duduk atau berdiri berjam-jam untuk dilukis. Paman Zabor pun lega melihat tuannya berseri kembali.

_____________________________________________________________________________________________

 

Horeeee…… cerita ini diikutkan dalam Lomba Menulis Cerita Anak (Dongeng) Sarikata.com 2011

Hahahaha…. kok jadi ketagihan ndongeng, nih… 😛

Wish me luck…. again…. 😉

 

 

Dongeng insomnia · Nimbrung Mikir

Emily Kelinci dan Dapur Bibi Susan

Emily adalah seekor kelinci kecil yang lucu dan menggemaskan. Bulunya putih seperti salju dan ekornya bulat seperti bola kapas. Pipinya sangat chubby membuat siapapun yang melihatnya ingin mencubit karena gemas. Emily juga periang dan senang berkawan dengan siapapun, sehingga kawannya banyak dan semua menyayanginya. Emi, begitu kawan-kawan memanggilnya.

Namun akhir-akhir ini Emi sering termenung, tidak mau makan dan malas bermain. Mama jadi terheran-heran melihat putri kecilnya yang periang jadi pemurung. Bahkan wortel kesukaannya pun sering tak disentuhnya.

“Emi, kenapa kamu tidak mau makan? Lihat, wortelmu masih utuh. Padahal kau senang sekali kan makan wortel renyah ini?” tanya Mama sambil menyodorkan sepiring wortel segar yang menggoda selera. Emi mendorong piring itu ke tengah meja.

“Emi bosan, Ma. Setiap hari hanya makan wortel dan wortel saja. Gigi Emi jadi sakit mengunyah wortel keras ini,” jawab Emi. Mama terkejut. Biasanya Emi begitu antusias menggigit wortel yang katanya so crunchy nyam…nyam… yummy…. Jangan-jangan…..

“Coba Mama lihat gigimu?”

Emi lalu membuka mulutnya dan Mama memeriksa. Ternyata benar, gigi susu Emi sudah mulai goyang, pasti sebentar lagi patah. Pantas saja Emi jadi malas makan yang keras-keras. Tiba-tiba Mama punya ide. Segera mama meraih telpon dan menelpon Bibi Susan. Setelah itu Mama menyuruh Emi bersiap untuk ke rumah Bibi Susan.

“Mau ngapain ke rumah Bibi, Ma?”

“Ah, sudahlah, di sana kau akan senang dan tidak bosan. Ayo cepat, sepuluh menit lagi Bibi akan datang menjemputmu.”

Tak sampai sepuluh menit kemudian Bibi sudah mengetuk rumah pohon Emi dan segera mengajaknya ke rumah Bibi. Sesampai di rumah Bibi Susan, Emi langsung diajak ke dapur. Wow, dapur Bibi Susan sangaaat besar. Bibi memang terkenal suka masak dan masakannya selalu enak.

“Mau ngapain kita, Bi?”

“Nah, Anak Manis, kata Mama kau tidak mau makan karena sakit gigi ya? Naah, sekarang Bibi mau mengajakmu memasak,” sahut Bibi sambil memasang celemek kecil di leher Emi. Lalu Bibi juga memakai yang lebih besar.

“Memasak? Ems tidak bisa masak, Biii….. nanti tidak enaak..,” protes Emi. Bibi hanya tersenyum lalu mengeluarkan banyak wortel dari lemari pendingin. Emi berteriak.

“Aaahh, Bibiiii, Emi gak mau makan wortel lagiiii….,” teriaknya nyaris menangis.

“Eee, Bibi tidak akan menyuruhmu makan wortel ini, Sayang. Tunggu sebentar.” Bibi lalu membuka lemari lain di dekat lemari pendingin. Dikeluarkannya sebuah alat berbentuk seperti teko, lalu sebuah alat lain yang bentuknya kotak seperti koper milik Papa. Emi terheran-heran melihat semua alat itu.

“Apa itu, Bi?” tanyanya sambil mendekat.

“Nah, yang ini namanya blender, lalu yang ini namanya oven.”

“Untuk apa semua alat itu, Bi?” tanya Emi terkagum-kagum.

“Yuk, kita membuat juice wortel dan wortel pie. Kau pasti suka.”

Lalu Bibi mulai menyambungkan semua peralatannya ke listrik. Mula-mula mereka membuat juice wortel. Emi sempat ketakutan melihat alat itu berputar-putar menghancurkan potongan wortel yang keras. Apalagi suaranya yang menderu-deru. Bibi tertawa lalu menarik Emi mendekat dan menjelaskan bahwa alat itu tidak berbahaya asalkan kita berhati-hati memakainya. Bibi juga menjelaskan tidak hanya wortel yang bisa dihaluskan, semua bahan makanan bisa, seperti buah, daging, dan bumbu-bumbu.

Setelah juice wortel selesai, Bibi segera memarut wortel dan Emi membantu membuat adonan. Seluruh wajah Emi bertaburan tepung seperti memakai bedak. Bibi jadi tertawa geli. Tak lama kemudian adonan dan wortel siap. Bibi lalu memasukkan ke dalam oven. Sambil menunggu pie matang mereka menikmati juice segar. Emi suka sekali.

Beberapa menit kemudian aroma wangi menguar memenuhi seluruh ruangan. Bibi segera mengeluarkan pie dari oven. Waah, bagus sekali!

“Aduh, bagus ya, Bi. Sayang sekali kalau dimakan, nanti rusak.”

“Hahaha…. pie ini memang untuk dimakan, Sayang. Yuk kita potong.”

Emi menikmati pie hangat yang fresh from the oven. Hmm, yummy…… pie lembut itu sama sekali tak membuat giginya sakit.

“Hebat ya, Bi, alat-alat itu. Bisa mengubah wortel yang keras menjadi juice yang cair dan segar atau menjadi kue yang lezat. Sekarang Emi jadi tambah suka dengan wortel.”

“Itu namanya teknologi, Nak. Semua peralatan itu memudahkan kita membuat aneka masakan dan minuman. Teknologi tidak hanya itu saja. Seperti telepon, komputer, internet, dan masih banyaaaak lagi. Semua membantu kita dalam bekerja dan berkarya. Teknologi sangat bermanfaat jika digunakan sesuai kebutuhan.”

“Ooo, nanti Emi akan cerita ke Mama pengalaman Emi hari ini. Makasih ya, Bi. Eee, tapi sisa kuenya boleh Emi bawa pulang kan?”

Bibi tertawa kecil. Dan Emi pun melanjutkan menyantap kue lezat dan juice segar buatannya dan Bibi Susan.

______________________________________________________________________________________________________

 

Horeeee….. kisah ini diikutkan Lomba Cerita Anak, Dongeng, 2011 di Sarikata.com

Wish me luck 😉

Iseng Aja · Nyam...nyam...sedaaap...

Tansrun

Bukaaan, ini bukan adik ato abangnya Dasrun yang menghebohkan itu. Ini adalah nama makanan yang aku gak tau nama sebenarnya apa. Kata temanku ini makanan ndeso, tapi menurutku ini luar biaso. Makanan ini terbuat dari ketan yang ditaburi sesuatu seperti serundeng. Maka aku menamakannya “Tansrun” alias ketan srundeng 😀

Susah sekali menemukan tansrun yang benar-benar enak. Hingga suatu kali teman kantor membawakan dari rumah. Dan rasanya uenaaaaakkkk….. Ketannya kuning dengan taburan srundeng (ato apa sih itu?) yang gurih, little bit manis dan pedas. Sarapan yang nikmat dan mengenyangkan.

Ini beberapa tansrun yang pernah aku nikmati 😛

Tansrun Ocean Park, enak banget! Aku habis dua 😳
Dibawain teman, uenak jugak. Aku habis dua jugak 😳
Tansrun pasar dekat rumah. Tapi gak enak 😦

Entah napa aku jadi seneng banget makanan ini. Awalnya dulu pernah beli di suatu tempat saat mengerjakan proyek, eeh lha kok jadi ketagihan 😀

Tapi hingga kini aku masih belum tau apa nama makanan ini? Kalo beli langsung nunjuk, mau nanya ma yang juwal malu 😛

Barangkali ada info tentang tansrun yang enak, please tell me 😀

Cari Solusi · Iseng Aja · Tak Enak

Benalu

Sebetulnya agak terlalu kasar sih menurutku. Tapi susah sekali mencari padanan kata yang tepat untuk tipe seperti ini. Hmm, coba Kawan simak percakapan di suatu pagi di bawah ini.

Pak Vijay : Choco, ini ada proyek baru. Kamu bisa kerjakan kan? Nilainya cukup besar lho. Bla…bla…bla…

Aku         : Bisa aja, Pak. Yang penting harga sesuai ya.

Pak Vijay : Oya, jangan lupa ya, success fee buat saya 10% seperti biasa.

Aku          : Oh, tenang aja, Pak.

Pak Vijay ini adalah seorang konsultan .  Relasinya terbentang luas di seluruh Indonesia. Memang beliau sering memberi proyek ke kantorku. Dan tentu saja ada fee seperti yang beliau sebut itu. It’s okay, saling menguntungkan bukan? Sekarang Kawan simak percakapan lain lagi di bawah ini, setengah hari kemudian.

Pak Sanjay : Mbak Choco, tadi sudah dihubungi oleh Pak Vijay ya mengenai proyek akhir Maret nanti?

Aku            : Oh, yang itu ya? Sudah, Pak. Ini saya sedang buat penawarannya, nanti sore saya email.

Pak Sanjay : O ya, perlu Mbak Choco ketahui, Pak Vijay sekarang sudah resmi bekerja di kantor kami. Sudah full time, yah saya kan gak bisa urus semuanya sendiri. Jadi yaa saya menawarkan ke beliau dan ternyata setuju.

Aku (kaget) : Ooo, sudah resmi bergabung ya, Pak? Saya kira masih sebagai konsultan di kantor Bapak.

Pak Sanjay : Sudah per Januari lalu. Bla…bla…bla…

Pak Sanjay ini direktur sebuah perusahaan relasi kantorku. Kami sudah bekerja sama lama, sudah teken kontrak. Jadi kalo ada proyek pasti lari ke kantorku, tidak ke tempat lain. Dengan kata lain, tanpa bantuan Pak Vijay pun proyek ini akan jatuh ke tanganku. So?

Itulah yang menjadi ganjalanku saat ini. Andai proyek itu bernilai 100 juta. Maka aku harus menjual 110 juta untuk fee Pak Vijay. Padahal mestinya harga segitu bisa masuk semua ke kantorku kan? Memang sih harga 100 juta itu sudah profit, tapi kan bisa lebih besar lagi kalo yang 10 juta juga masuk kantor. Ato yang lebih mengerikan kalo setiap kali ada proyek dari Pak Sanjay si Pak Vijay ini minta 10% kan lama-lama harga jualku jadi makin meningkat. Ini bukan masalah under-table seperti biasa kita berikan pada key person, tapi aku merasa seperti kecurangan ya? Gak tertutup kemungkinan Pak Sanjay akan melirik provider lain setelah kontrak selesai karena punyaku kemahalan.

Sementara untuk membatalkan fee itu juga gak enak, karena aku sudah terlanjur menyetujui. Lagipula sewaktu menelponku aku lom tau kalo beliau dah jadi karyawan Pak Sanjay. Kalo proyek lain sih aku rela memberi fee itu. Tapi kalo proyek dari Pak Sanjay, yang sudah jelas-jelas menjadi mitraku masih minta juga? Etis gak sih yang begitu? Trus gimana caranya aku bilang ke Pak Vijay agar tidak mengambil fee dari situ? Ato biarin aja seperti itu?

😦 Aku hanya bisa menatap sendu wajah Sahruk Khan yang ganteng di majalah temanku.

 

 

 

 

Cari Solusi · Cintaku · Ketawa dulu

Bersyukur

Sedang nonton acara apa tuh yang tentang rumah-rumah mewah.

Cantik : Bundaaa, Adek pengen rumah kayak gitu. Ada kolam renangnya, asyiik yaa…

Aku     : Nah, makanya Adek sekolah yang pinter, kalo dah besar kerja yang baik terus bikin sendiri deh rumah kayak gitu

Cantik : Aaah, itu kan masih lamaaa. Adek maunya sekaraaang….

Aku     : Yeee, Adek gak boleh gitu. Kita harus bersyukur, biarpun rumah kita kecil dan sederhana tapi kita enak, gak kehujanan, gak kepanasan. Tuh liat anak-anak yang di pinggir jalan itu gak punya rumah, kalo hujan kehujanan, kalo malem tidurnya di pinggir jalan, kasihan kan? (mboke lebay tenan 😀 )

Cantik : Iya ya, Bunda, moga-moga mereka juga bisa punya rumah kaya kita yaa.

Beberapa hari kemudian.

Aku     : Adeeeeekk….. ini kok ulangan Sundanya cuma dapat 63? Aduuuh, sederhana banget siihh nilainyaaa???

Cantik : Iiiih, Bundaaa…. harusnya Bunda itu bersyukur, temen Adek ada yang nilainya tiga puluh. Masih bagus Adek kan?

Aku    : &*%$^#&()_#)(*……..

Iseng Aja · Jalan-jalan yuuuk....

Cikarang City Walk

Kini tak susah lagi untuk mencari tempat entertain klien ato lunch meeting di Cikarang ato sekedar makan siang rame-rame (cukup sebulan sekali aja :mrgreen: ). Jika selama ini harus ke Jakarta, ato ke sini ato ke restoran Jepang yang selalu berteriak “mase…mase….” walopun tamunya perempuan, ato ke beberapa tempat lain yang jumlahnya gak banyak di Cikarang, maka sekarang sudah ada City Walk di kawasan Lippo.

Jumat minggu lalu sepulang dari presentasi iseng untuk mencoba tempat ini. Banyak sekali pilihan tempat makan yang cukup representatif. Ada makanan ringan, sedang, berat, berat sebelah dan lain-lain. Tinggal jalan kaki dan pilih mau bertengger di mana. Supermarket juga ada. Nampaknya tempat ini belum lama dibuka karena masih banyak karangan bunga di tiap restonya. Aku baru tahu, maklumlah kalo dari kantorku menuju arah Lippo ini butuh perjuangan khusus diiringi doa dan air mata. Muacet!

Langsung saja kita liat penampakannya 😀

Itu Judulnya 😀
Belum masuk ke marketnya itu 🙂
Yang ringan ada 🙂
Dipilih-dipilih
Mo bertengger di mana aja, semua nyaman nampaknya 😀

So Kawan, kalo kau nyasar ke Cikarang, tak usah bingung cari tempat makan. Datang saja ke situ. Cocok wat ngumpul-ngumpul ato makan bareng keluarga. Tapiiii jangan kesel ya kalo muacet 😀

 

PS. Gak brani dari deket, malu dah banyak pengunjung, padahal waktu aku datang masih sepiiii, siang dikit langsung rame. Jadi gak semua kufoto 😀

 

Jalan-jalan yuuuk.... · Tak Enak

Tarif Tol Merata

Kali ini aku mo ngomel-ngomel tentang tarif tol merata yang mulai berlaku sejak tanggal 2 Maret lalu. Bukan soal harganya, tapi dampak yang ditimbulkannya. Naiknya sih gak seberapa cuma 500 rupiah dari tarif lama. Tapiiii, muaceeeetnyaaaaa……..

Kantorku Kawan, terletak di Kawasan Industri Jababeka. Nah, jarak dari Jababeka ke pintu tol itu gak jauh, paling sekitar 5 – 7 km lewat jalan normal. Tapi karena puadatnya lalin di hari kerja maka mesti mutar melalui Jababeka 2. Oleh karena itu Kawan, jarak yang begitu dekat harus ditempuh dalam waktu 40 – 45 menit. Itu kondisi normal sehari-hari. Nah, setelah berlaku tarif merata itu, di mana kita harus membayar di pintu masuk, astaganagaaaa antrinyaaaaaaa…….

Hari pertama waktu yang kutempuh 1 jam lebih! Believe or not! Dari kantor 16.35 sampai di pintu tol 17.50. Capek gak sih? Sikile nganti pan pedhot. Mana binatangnya gede-gede lagi, segala bus, trailer, tronton, truk, kapal selam, traktor, wis aneka jenis ada di sini semua. (Mending jalan kaki aja ampek pintu tol baru nyegat angkot). Dah gitu antri mbayarnya puanjaaaang buanget! Pasti mereka mbayarnya pake uang 200 ribuan semua. Huh! Mbok ya uang pas gitu biar cepet.

Jababeka ini Kawan, gak usah pake mbayar dulu, cuman ngambil tiket aja udah muacete puoll lha kok pake diganti-ganti kayak gini? Dah gitu gak cuman Cikarang, rupanya di MM2100, Cibitung, juga mengalami hal yang sama. Emang sih pas keluar di Bekasi Barat gak semacet biasanya.

Hari kedua gak terlalu parah, karena aku ngabur lebih cepat dari kantor :mrgreen: (semoga boss tak pernah tau aku punya blog). Semoga ini hanya karena penyesuaian saja. Semoga ke depannya lebih lancar lagi.

Ini baru lolos mutar Jababeka2
Harus mutar lagi di bawah fly over
Antrian gak jelas 😦
Binatangnya besar-besar kan?

Bagaiman dengan Jumat sore ini? Semoga gak macet parah. Atoo…. ngabur sekarang aja? :mrgreen:

 

Cintaku · Iseng Aja · Ketawa dulu

Belajar IPS

Semalam, pulang kantor, capek bermacet-macet, ditambah kedua malaikatku ujian semua. Fiuuhh, mesti bagi-bagi tugas.

Aku     : Deek, belajar IPS nya ama Mbak yaa, Bunda mau belajar ama kakak dulu.

Cantik : Oke, Buun….

Maka akupun masuk kamar belajar dengan Guanteng, Cantik dengan Mbak.

Lima belas menit berlalu. Aku keluar kamar. Mbak sedang memberi Cantik pertanyaan.

Mbak   : Keluarga yang terdiri dari 4 anggota keluarga apa, Dik?

Cantik  : Catur Warga

Lalu Mbak membacakan bacaan di buku bla…bla…bla….

Mbak   : Keluarga Pak Amir (sebut saja gitu, lupa 😀 ) ada 4 orang, Ibu Fatimah, ibunya, anaknya siapa, Dek?

Cantik  : Rina dan Andi

Mbak   : Bukaaan…. Rina dan siapa?

Cantik  : Budi

Mbak    : Bukaaan…. ayo ah Dek, yang betul

Cantik   : Aaah, Mbaaakk gak tau aaahhh….

Mbak    : Ayo doong, kan tadi Mbak udah bacain

Aku yang sedang meneguk air dingin nyaris keselek. Maka segera kutengahi.

Aku      : Ya udah Mbak, yang itu gak usah ditanyain. Mmm, yang ini aja…

Begitu masuk kamar aku langsung terkikik-kikik 😆 Masa anaknya Pak Amir ditanyain? Yang itu mah gak bakal keluar di ujian, Mbaaakk 😆

Maafkan Bunda, Dek, ntah gimana hasil ulanganmu hari ini 😦

Dongeng insomnia · Nimbrung Mikir

Gigiku Cenat-Cenut

April menatap bingung double chocolate yang disajikan oleh waitress. Kuenya sih menarik hati, berlumur saus coklat nan menggoda. Tapi kan dia gak pesan kue ini?

“Sorry, Mas, saya gak pesan kue ini. Salah kali?” tolaknya. Si Mas pelayan tersenyum simpul.

“Saya diminta memberikan ke Ibu, dari Bapak di sudut sana,” jawab Si Mas. Spontan April menoleh ke arah meja yang ditunjuk Si Mas. Tawanya nyaris tumpah saat melihat siapa yang duduk di sudut ruangan itu.

“Tolong bawain ke sana, Mas, saya mau pindah aja ke sana,” ujarnya. Ia segera menutup laptop nya dan dengan dibantu Si Mas segera pindah ke meja di sudut itu.

“Hai, Adam. Boleh aku duduk sini?”

Adam langsung tergagap-gagap, peluh bercucuran di pelipisnya. Tanpa menunggu jawaban Adam, April segera mendaratkan bokongnya di hadapan Adam. Pria berkacamata itu langsung tertunduk salah tingkah.

kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu
selalu peluh pun menetes setiap dekat kamu
kenapa salah tingkah tiap kau tatap aku
selalu diriku malu tiap kau puji aku

“Makasih double coklatnya, ya.”

“Eh, sama-sama…”

“Dam, Papamu dokter gigi ya?”

Adam kaget.

“Kok tau sih?”

“Soalnya hatiku cenat-cenut tiap dekat kamu, wakakakaka……,” goda April.

Adam ikut tertawa. Kirain April tau beneran kalo papanya dokter gigi. Ih, Adam emang naksir berat pada gadis lucu di depannya ini. Tapi gak pernah berani ia ungkapkan perasaannya. Cowok pemalu dari department IT ini sungguh sangat mencerminkan profesinya. Pendiam, pemalu, tapi suka memendam. Hahahaha…. begitukah orang IT? Entahlah.

“Kok kamu ke sini sih? Ini kan belum jam pulang?” tanya April. Adam salah tingkah, sebetulnya ia ke sini karena melihat April masuk ke kedai kopi Stardhut di lantai bawah gedung kantor mereka.

“Ee, lagi suntuk. Kamu sendiri ngapain ke sini?”

“Lagi bikin materi presentasi besok. Kalo gak sambil minum cappuccino, entah mengapa otakku serasa buntu,” jawab April sembari menyeruput cappuccino nya lalu kembali membuka laptop nya.

Adam memandangi pujaan hatinya tanpa berani bicara apa-apa. Ia pura-pura sibuk memainkan BB nya padahal matanya curi-curi pandang ke arah April. Sesekali tatapannya bertubrukan dengan gadis itu yang lalu mengedipkan sebelah matanya. Kalau sudah begitu Adam jadi tersipu malu. Sebetulnya ini moment yang tepat untuk mengungkapkan perasaan pada April, tapi Adam tak berani juga.

kenapa lidahku kelu tiap kau panggil aku
selalu merinding romaku tiap kau sentuh aku
mengapa otakku beku tiap memikirkanmu
selalu tubuhku lunglai tiap kau bisikkan cinta

“Dimakan dong kuenya,” ujar Adam mendorong piring kecil berisi coklat itu ke arah April.

“Oh iya… thanks.”

April lalu menyuapkan sepotong kecil double coklat ke mulutnya. Hmm,…matanya terpejam merasakan kue lembut itu hancur dalam mulutnya.

“April…eh…”

“Hmm?” sahut April lalu menyuap lagi kali ini sepotong besar kue coklat.

“Aku…eee…aku….”

“Aaarrggghhh…..” April menjerit kecil, sendok kecil yang dipegangnya terpelanting. Adam kaget bukan kepalang. Belum lagi ia mengungkapkan perasaannya kok April sudah menjerit?

“Ada apa, Pril? Kenapa?” Adam panik dan langung pindah di sebelah April.

“Gigiku…gigikuu….” April memegangi pipinya dengan sebelah tangannya. Berdebar-debar Adam mengusap-usap bahu April.

“Adduuuhhh…. gigiku sakit banget, Dam…. sakiiiitt.”

Adam segera meminta pelayan untuk menyediakan air mineral. Lalu April diminta berkumur. Namun sakitnya tak berkurang bahkan makin cenat-cenut karena dinginnya air merasuk ke lubang giginya. Bergegas Adam membereskan bawaan mereka lalu menggandeng April menuju parkiran mobil di basement.

“Mau..mau kemana, Dam?”

“Ke rumahku,” sahut Adam sambil membukakan pintu mobil untuk April dan mendorongnya masuk.

“Ke rumahmu? Ngapain?”

“Tentu saja periksa gigimu. Ayahku kan dokter gigi.”

April melongo.

“Benarkah?”

“Tentu saja, kan kamu dah bilang tadi.” Adam segera mengemudi Katana nya dengan kencang. Pipi April merah padam. Gara-gara menggoda Adam tadi sekarang giginya cenat-cenut, tapi gak hanya itu hatinya pun ternyata cenat-cenut beneran! Niat hati menggoda kok malah tergoda!

 

Bagaimanakah kejadian selanjutnya di rumah Adam? Simak kisah ke-2 yang berjudul “Kudengar Detak Jantungmu” yang diteruskan oleh Iyha di advertyha.blogdetik.com 😀