Benalu

Sebetulnya agak terlalu kasar sih menurutku. Tapi susah sekali mencari padanan kata yang tepat untuk tipe seperti ini. Hmm, coba Kawan simak percakapan di suatu pagi di bawah ini.

Pak Vijay : Choco, ini ada proyek baru. Kamu bisa kerjakan kan? Nilainya cukup besar lho. Bla…bla…bla…

Aku         : Bisa aja, Pak. Yang penting harga sesuai ya.

Pak Vijay : Oya, jangan lupa ya, success fee buat saya 10% seperti biasa.

Aku          : Oh, tenang aja, Pak.

Pak Vijay ini adalah seorang konsultan .  Relasinya terbentang luas di seluruh Indonesia. Memang beliau sering memberi proyek ke kantorku. Dan tentu saja ada fee seperti yang beliau sebut itu. It’s okay, saling menguntungkan bukan? Sekarang Kawan simak percakapan lain lagi di bawah ini, setengah hari kemudian.

Pak Sanjay : Mbak Choco, tadi sudah dihubungi oleh Pak Vijay ya mengenai proyek akhir Maret nanti?

Aku            : Oh, yang itu ya? Sudah, Pak. Ini saya sedang buat penawarannya, nanti sore saya email.

Pak Sanjay : O ya, perlu Mbak Choco ketahui, Pak Vijay sekarang sudah resmi bekerja di kantor kami. Sudah full time, yah saya kan gak bisa urus semuanya sendiri. Jadi yaa saya menawarkan ke beliau dan ternyata setuju.

Aku (kaget) : Ooo, sudah resmi bergabung ya, Pak? Saya kira masih sebagai konsultan di kantor Bapak.

Pak Sanjay : Sudah per Januari lalu. Bla…bla…bla…

Pak Sanjay ini direktur sebuah perusahaan relasi kantorku. Kami sudah bekerja sama lama, sudah teken kontrak. Jadi kalo ada proyek pasti lari ke kantorku, tidak ke tempat lain. Dengan kata lain, tanpa bantuan Pak Vijay pun proyek ini akan jatuh ke tanganku. So?

Itulah yang menjadi ganjalanku saat ini. Andai proyek itu bernilai 100 juta. Maka aku harus menjual 110 juta untuk fee Pak Vijay. Padahal mestinya harga segitu bisa masuk semua ke kantorku kan? Memang sih harga 100 juta itu sudah profit, tapi kan bisa lebih besar lagi kalo yang 10 juta juga masuk kantor. Ato yang lebih mengerikan kalo setiap kali ada proyek dari Pak Sanjay si Pak Vijay ini minta 10% kan lama-lama harga jualku jadi makin meningkat. Ini bukan masalah under-table seperti biasa kita berikan pada key person, tapi aku merasa seperti kecurangan ya? Gak tertutup kemungkinan Pak Sanjay akan melirik provider lain setelah kontrak selesai karena punyaku kemahalan.

Sementara untuk membatalkan fee itu juga gak enak, karena aku sudah terlanjur menyetujui. Lagipula sewaktu menelponku aku lom tau kalo beliau dah jadi karyawan Pak Sanjay. Kalo proyek lain sih aku rela memberi fee itu. Tapi kalo proyek dari Pak Sanjay, yang sudah jelas-jelas menjadi mitraku masih minta juga? Etis gak sih yang begitu? Trus gimana caranya aku bilang ke Pak Vijay agar tidak mengambil fee dari situ? Ato biarin aja seperti itu?

😦 Aku hanya bisa menatap sendu wajah Sahruk Khan yang ganteng di majalah temanku.

 

 

 

 

Iklan

13 thoughts on “Benalu

  1. Emanuel Setio Dewo Maret 9, 2011 / 4:39 pm

    Bilang saja, “Pak Vijay, saya baru diberi tahu oleh Pak Sanjay kalau Pak Vijay sudah bergabung dalam perusahaan Sanjay. Jadi rasanya tidak etis jika Pak Vijay meminta success fee, karena itu artinya Bapak korupsi/manipulasi.”

    “Jadi kami tidak bisa memberikan success fee ke Bapak”

    Tapi harus berani terima resiko seandainya proyek batal. Hehehe…

    Salam

    Choco:

    Gak braniiiiiii 😦 Lagian dah terlanjur deal 😦

  2. yustha tt Maret 9, 2011 / 7:26 pm

    ooo…lha kok urik iku vijay jablay…

    Hooh mb, ky saran mas Dewo itu aja. Sip.

    Choco:

    Ra tego aku, Jeng 😦 Nek urusan yang gitu-gitu aku paling gak enak ngomonge 😦

  3. marsudiyanto Maret 9, 2011 / 8:00 pm

    Mungkin untuk sekali ini gpp…
    Pak Vijay sudah terlanjur beli tiket buat mudik ke Calcuta

    Choco:

    Iya Pak, sekali ini aja, deh. Apalagi saya dah terlanjur nitip bawang bombay 5 kilo 😦

  4. ais ariani Maret 9, 2011 / 8:44 pm

    ohh bu piet ki kerjanya di kantor polisi toh bersama inspektur vijay
    *komen OOT*
    😀

    Choco:

    Iya, tapi aku takut ama kumisnya yang membentang dari Sabang sampai Merauke itu 😦

  5. Devi Yudhistira Maret 10, 2011 / 8:34 am

    weh aku ra pengalaman yu soal kaya kiye…
    tp sing jelas mbebeih urusan kaya wong kuwe…

    setuju sama dewo…tapi siap diprenguti bosmu ya yu… 🙂

    Choco:

    Ngomonge sing gak sampe ati, Jeng 😦

  6. Kakang Prabu Maret 10, 2011 / 12:40 pm

    ya kan blom tau kalo udah gabung..

    ato bilang aja..kita bagi 2 ya pak..
    hahaha…

    Choco:

    Iya siiiy 🙂
    Bagi 2? Ooww, takuuuuutttt…….

  7. nia/mama ina Maret 10, 2011 / 1:22 pm

    kayaknya utk yg sekarang sdh terlanjur….tp klo ada proyek selanjutnya lebih baik ngmong terus terang aja……seperti ketakutan mbak itu…kalo ngasih fee terus ke dia otomotis harganya dinaikan10% utk feenya dia kan…..dan harganya jadi mahal….kayaknya biar sungkan kalo masalah pekerjaan harus di omongin mbak……daripada krna jual kemahalan trus pak Sanjay berpindah ke lain hati????

    Choco:

    Iya nih, dilematis banget 😦
    Tapi lain kali aku akan berkata “TIDAAAAK”

    (halah, mending brani 😀 )

  8. Chic Maret 10, 2011 / 2:01 pm

    kalo dibilangin ke Pak Sanjay-nya aja gimana? 😀

    Choco:

    Kasian Jeng, nanti kalo dipecat gimana? Kan dia punya anak istri jugak 😦

  9. Abi Sabila Maret 10, 2011 / 2:15 pm

    Pak Vijay itu lho, kemana saja selama ini, apa dia nda tahu peribahasa sepandai-pandai tupai melompat, satu saat akan jatuh juga, atau sepandai-pandai menutup bangkai, baunya akan tercium juga

    Choco:

    Betul Bi, sebentar lagi juga akan tercium aroma busuknya 😀

  10. ndaru Maret 10, 2011 / 3:27 pm

    suruh aja pak vijay tanda tangan kuwitansi tanda terima…lalu kasih kuwitansinya ke pak sanjay itu..”ini harga dari kami pak 100juta kethip..lalu success fee 10% mohon maaf kami harus bebankan ke pihak bapak karena perhitungan dari perusahaan kami sudah nett.”

    eh success fee itu apa to?

    Choco:

    Lhadalah, iki golek perkoro jenenge, Jeng?

    *psst, aku yo ra mudeng, ketoke nek sukses ngasih duwit nek ora yo wis, ngono :mrgreen: *

  11. mas stein Maret 15, 2011 / 1:27 pm

    gimana kalo sampeyan nyari hitman yang bertarif sejuta? masih bisa untung sembilan juta tho? *mlipir*

    Choco:

    Ealaah, perlukah ide ini dijalankan? :mrgreen:

  12. ndaru Maret 16, 2011 / 9:29 am

    @ Mastein
    saya bersedia, tarip saya 1juta tapi kalok buat orang2 oportunis yang nyarik untung dengan menunggang rejeki orang laen saya kasih diskon 20%…mau yang kekmana? yang mengenaskan ato cukup saya plintheng dari jarak 6 kilometer?

    Choco:

    Wakakaka… emang kau punyak plintheng to?

  13. ngodod Maret 16, 2011 / 11:40 am

    hahaha…
    untuk kali ini, relakan saja. besok2 kalo masih minta, hajar saja…

    Choco:

    Ra waniiiii, wis sepuh, takut kuwalat 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s