Dongeng insomnia · Nimbrung Mikir

Gadis Rembulanku, Sahabatku

Hujan masih cukup rinai. Pesawat masih satu jam delay. Awan-awan hitam menggantung rendah, tak menjanjikan cerah dalam sekejap. Sebentar-sebentar sahabatku mengusap matanya yang gerimis. Sebentar-sebentar kekasihnya mengusap lembut dan mengecup keningnya. Dan sebentar-sebentar kuembuskan asap sigaret dari hidungku. Ini sigaret yang keempat, yang akan kusisakan panjang puntungnya lalu mengambil yang kelima.

Kucoba tak menyaksikan adegan itu. Jantungku serasa terimpit, hatiku serasa menipis. Menyaksikan sahabatku bermesra dengan kekasihnya. Tapi ini permintaan sahabatku, untuk mendampinginya melepas kekasihnya yang akan pergi melingkari separuh bumi ini. Demi masa depan mereka berdua namun demi kehancuranku. Napasku tersengal, tersedak asap yang menggulung di kerongkongan. Kutinggalkan mereka sejenak. Kutata serakan hati dan jantungku. Dan kuisap sigaret yang kelima.

Rinai melembut. Suara merdu dari pengeras suara membuatku kembali mendekat. Sahabatku sedang memeluk kekasihnya. Kekasihnya sedang mendekap sahabatku. Lalu kekasihnya mendekat padaku, menepuk bahuku. Bro, kutitipkan dia padamu. Hanya kau yang kupercaya menjaganya selama aku pergi. Dia berucap. Aku hanya mengangguk, tersenyum dan menyalaminya. Mengucapkan selamat jalan dan semoga menemukan cinta baru di sana. Tentu saja dalam hati. Kuisap sigaret yang keenam.

Sahabatku melambaikan tangannya. Ingin kumendekapnya. Ingin kumenghiburnya. Ingin kukatakan masih ada aku untukmu, Namun hanya kugamit lembut lengannya. Dia menoleh, tersenyum samar dan menghapus embun di matanya. Maafkan aku. Ucapnya. Mengapa kau begitu banyak merokok? Tegurnya ketika kuambil sigaret ketujuh. Aku hanya mengangkat bahu lalu mengajaknya pergi. Kuselipkan sigaret itu di bibirku namun tak kunyalakan. Sahabatku benci bau asap.

Gerimis masih ada. Setia pada awan. Sahabatku mendongak ke atas berharap dapat melihat kekasihnya di antara awan-awan. Setahun dia akan berpisah. Setahun aku punya kesempatan. Namun dia seperti rembulan. Begitu cantik, begitu nyata, begitu dekat namun tak teraih, tak tersentuh. Gadis Rembulanku, sahabatku. Aku cinta padamu. Kusiapkan sigaret kedelapan dan masih tak kunyalakan.

______________________________________________________________________________________

 

Horeee….. ikutan memperebutkan novel terbarunya Yessi Greena “Seperti Janji Kita”.

Wish me luck 😉