Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 2

Episode 2: Bertemu Ibu Manager

Silakan mbaca yang ini dulu yaa…

Marni serasa tenggelam di sofa empuk itu. Maklumlah, walaupun keluar masuk kantor mewah, tapi paling banter cuma duduk di pantry, bukan di ruangan mewah begini. Hanya dengan senyum tipis dan jabat tangan sekilas, Nancy duduk di hadapan Marni.

“Jamu apa saja yang kau jual?” tanyanya sedikit berbasa-basi.

“Oh, macam-macam, Bu, Ada jamu Awet Ayu, Arum Semerbak Mewangi Sepanjang Hari, Galian Singset, Galian Kabel, Rapet Pet Pet, Kuat Perka……”

“Ok, ok. Sudah berapa….”

“Oiya, saya juga jual ramuan pijat seperti di spa, lho Bu, nanti yang mijat saya sendiri,” potong Marni. Kalo sudah bicara soal jamu dan ramuan ia memang sering lupa sedang bicara dengan siapa. Naluri bakul jamunya keluar begitu saja. Nancy mendengarkan tak sabar.

“Sudahlah, aku tidak mau membeli jamu kamu itu,” kata Nancy gusar. Marni melongo.

“Lho, kata Mbak Wulan Ibu tertarik sama jamu saya?”

“Bukan sama jamumu itu. Tapi sama kamu!” Marni makin terkejut. Duduknya gelisah, punggungnya basah, dan ia hanya bisa menahan resah.

“Begini, langganan kamu sudah menembus kaum elite kan? (Marni mengangguk) Nah, perkantoran mana saja yang sudah kamu masuki?”

“Oh, sepanjang Sudirman, Thamrin, Kuningan, dari Bank sampai kantor pemerintah. Rumah Sakit sampai restoran. Yang belum pernah saya masuki cuma gedung kura-kura itu, Bu.”

“Mengapa?”

“Sudah masuknya susah, denger-denger orang sana suka lupa mbayar, Bu. Eeh, giliran ingat minjem duit rakyat. Lha saya ndak enak, wong saya juga rakyat je.” Marni menjelaskan dengan suara merdu tapi medok. Ia memang cantik, tubuh sexy dengan ukuran ideal, membuat iri perempuan manapun. Tapi soal dialek, sungguh tak bisa hilang.

Nancy tersenyum tipis.

“Siapa saja pelanggan kamu?”

“Waah, banyak, Bu. Dari kepala seksi sampai kepala batu, dari staf sampai manajer, sekretaris sampai direktur, dari artis sampai produser.”

“Hmm, satu lagi. Kamu bisa menyimpan rahasia tidak?” Sekali lagi Marni terlonjak. Pertanyaan yang tidak biasa.

“Maksud Ibu?”

“Dengan keluar masuk perkantoran dan berkenalan dengan mereka tentu kamu sering mendengar gosip-gosip antara mereka. Kamu sebarkan lagi tidak?”

Marni tersenyum. Ingatannya melayang pada kliennya yang sekarang berada di penjara. Markisa Gee, seorang perempuan cantik mempesona. Banyak orang menduga ukuran Markisa yang super duper wow itu hasil operasi di luar negeri. Padahal tidak! Ukuran Ibu Markisa membesar semata-mata karena ramuan jamu buatan Marni. Selama hampir setengah tahun Marni memijat Markisa dan memberi jamu untuk diminum. Hasilnya, dari ukuran 34 menjadi 44. Luar biasa bukan? Dan sesuai permintaan Markisa, Marni merahasiakan persoalan itu. Sebagai imbalannya, Marni diberi city car second yang sampai sekarang belum pernah disentuhnya karena tak bisa menyetir. Dan kelak, Marni akan mematenkan ramuan super duper wow nya itu.

“Kao soal gossip, saya tau lebih banyak dari mbak-mbak judes yang di tivi itu, Bu. Tapi saya ini seperti tiram yang rapet pet tidak sembarangan membuka mulut. Ibu bisa pegang kata-kata saya.”

Sekilas wajah Nancy mengendur dan menjadi lebih rileks.

“Begini Marni, saya ingin minta bantuan kamu untuk memata-matai seseorang. Dia orang penting dan menduduki jabatan sangat tinggi. Ini misi yang sangat rahasia dan penting. Kalau kamu merasa tak sanggup, sampai sini saja pertemuan ini. Tapi kalau kamu sanggup, imbalan sangat besar menanti.”

Marni jadi berdebar-debar. Naluri bakul jamunya mendadak hilang berganti dengan naluri ingin tau yang menggelora. Pasti ini urusan detektif kayak di film-film itu. Ini tantangan, selingan dari jual jamu yang kadang membuat jemu.

“Saya akan mencoba, Bu.”

“Tidak ada mencoba. Yang ada, ya atau tidak.” Marni kaget, judes banget sih Ibu Cantik ini? Marni menguatkan hatinya, anggap saja bertualang.

“Asal tidak membahayakan nyawa siapapun saya sanggup!” ujarnya mantap.

“Baiklah. Misi ini sama sekali tidak membahayakan siapapun. Saya hanya ingin agar seseorang berlangganan jamu kamu dan kamu harus memata-matai setiap kegiatannya, gali informasi yang banyak tentangnya. Tentu saja tanpa ketahuan siapapun. Laporkan semua kegiatannya pada saya setiap kamu bertemu dengannya.”

“Siapa dia, Bu?” Nancy mengulurkan kartu nama yang sejak tadi dipegangnya. Marni menerimanya dan membaca nama yang tertera di situ.”

“Bimo Wicaksono, Presiden Direktur, PT. Immortal Bros, Highest Tower 98th floor.” Marni menyesal menyanggupi tantangan tadi. Tubuhnya mendadak lemas, nadinya mengeras, otaknya terasa kebas. Gedung itu satu-satunya tempat yang sulit ditembus. Kejayaannya hanya sampai lantai 12. Selanjutnya adalah tempat para dewa. Pelanggannya hanya segelintir orang di lantai 3, 7, 9, dan 12. Itupun karena mereka pindah dari kantor lama sehingga Marni pun dibawanya serta ke sana.

“Err, beliau ini siapanya Ibu?”

“Kamu gak perlu tahu. Kamu punya alamat email?” Tanya Nancy seakan tak mengetahui kegalauan Marni.

“Punya Bu, tapi ponsel saya lemot agak sedikit lebay, jadi sulit sekali berkomunikasi lewat email.”

Nancy berdiri ke meja kerjanya dan mengambil kotak putih masih dilapisi plastik.

“Ini kamu bawa, tablet sudah dilengkapi nomor telepon. Dan ini khusus untuk berhubungan dengan saya, jangan digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain.”

Marni menerima barang yang seumur-umur tak pernah dibayangkan akan dimilikinya. Nancy tak peduli Marni bisa atau tidak mengoperasikannya, dengan anggukan dan senyum tipis ia mempersilakan Marni keluar.

“Oya, bawakan saya Kunyit Asem Penyebab Mesem, ya. Berikan saja pada Wulan.”

“Baik, Bu.”

to be continued….. πŸ˜€

Episode 3: Menembus Nirwana

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif

Episode 1: Marni

Marni masih berdiri bersandar di dinding pantry, menunggu Wulan sekretaris Ibu Nancy, seorang GM yang katanya cantiiikk tapi galak. Bukan, bukan untuk wawancara kerjaan tapi untuk menjual jamunya. Sudah tiga tahun Wulan langganan jamunya dan sekarang Ibu Boss nya itu tertarik untuk bertemu Marni.

“Mar, besok kamu datang ya. Boss ku pengen ketemu kamu.” Marni masih ingat pesan Mbak Wulan kemarin.

“Mau ngapain, Mbak?”

“Ya mau beli jamu, masak mau nglamar kamu jadi mantu!”

Marni tersipu-sipu malu sambil menuang jamu kunyit asem buat Wulan.

“Hihihihi…lha siapa tau anaknya Ibu Boss tertarik sama saya to, Mbak…ihik…ihik…”

“Ih, genit kamu! Saya juga mau,” balas Wulan. Keduanya lalu cekikikan. Gimana gak cekikikan wong anaknya Ibu Boss ini perempuan je.

Pikiran Marni melayang kembali memutar waktu hingga lima tahun lalu. Saat untuk pertama kalinya ia merantau ke Jakarta lima hari setelah ijasah SMU nya keluar. Ibunya yang bakul jamu turun-temurun itu menangis berlinang-linang. Tangannya masih sibuk mengiris bawang untuk masak tumis kangkung.

“Mau ngapain kamu ke Jakarta, Nduk? Mbok sudah di sini saja nemenin Ibu. Kalo kamu pergi terus Ibu sama siapa di sini?”

“Ndak mau. Pokoknya Marni mau meneruskan usaha jamu kita di Jakarta. Jamu buatan Ibu ini manjur banget, langganan Ibu sudah sampe Bu Bupati. Hanya keterbatasan Ibu saja jadi gak bisa bikin pabrik jamu kayak Jamu Kukuruyuk itu kan?”

“Memangnya jamu kamu laku nanti? Orang Jakarta kan sudah ndak minum jamu, Nduk. Mereka itu minumnya yang manis-manis, mana mau jamu pait begini?”

“Pokoknya Ibu diam saja di sini. Nanti kalo aku minta kirim bahan-bahan jamu, Ibu jangan telat ngirimnya. Lima tahun lagi aku pulang mbawa banyak uang.”

Dan pergilah Marni merantau. Mulai berjualan jamu seperti bakul jamu lainnya. Seragam kain batik ketat agak longgar,Β  blouse lengan panjang agak pendek, bedak tebal agak tipis, lipstik pink agak merah, rambut disanggul agak terurai, menggendong bakul besar agak kecil. Tapi target market Marni adalah sopir-sopir di perkantoran. Dengan harapan kelak yang disopirilah yang akan membeli jamunya. Dan ternyata harapan Marni terkabul.

Berawal dari sopir-sopir di kawasan perkantoran, lalu para office girl atau cleaning service yang berpacaran dengan para sopir itu. Kemudian dari mulut ke mulut meningkat hingga level para staff dan para sekretaris. Hingga akhirnya berhasil menembus para manager dan direksi. Mulai berjualan di parkiran sampai akhirnya masuk ke pantry. Bener, ini tidak lebay. Perjuangan Marni membuahkan hasil di akhir tahun keempat. Derita dan air mata karena sering petak umpet dengan security perkantoran yang sekedar menjalankan tugas kini telah terlampaui.

Tentu saja seragam Marni berubah. Kini ia memakai rok span ketat lima senti di atas lutut, blouse serasi dengan scarf nya, sepatu lima senti, gendongan berubah jadi koper trolley yang dimodifikasi dalamnya sehingga bisa memuat botol-botol jamu eh sekarang pakai produk kupperware yang anti tumpah itu. Orang takkan menyangka Marni seorang bakul jamu dengan penampilan bak pramugari seperti itu. Keluar masuk perkantoran mewah pun sudah menjadi hal biasa. Wajah dipoles make up tipis natural, hasil pengajaran para sekretaris itu.

“Heh, ngelamun! Ayo ikut aku, Ibu udah menunggu!”

Marni terlonjak kaget, lalu tersenyum melihat Wulan.

“Sorry, Mbak. Ini koper dibawa atau ditinggal sini aja?”

“Tinggal aja, Ibu mo ngobrol dulu katanya.”

Marni mengikuti Wulan. Setelah memasukkan kartu, pintu pun membuka. Lalu mereka menuju ke sebuah pintu yang tertutup di sudut ruangan. Wulan mengetuk sekilas lalu membuka pintu kokoh itu. Seorang wanita cantik berumur di akhir empat puluhan menganggukkan kepalanya tanpa senyum. Wulan menyuruh Marni duduk di sofa tamu lalu meninggalkan mereka. Entah mengapa Marni merasa terintimidasi dengan kemewahan ruangan dan penghuninya itu.

to be continued…… πŸ˜€

Episode 2: Bertemu Ibu Manager

Iseng Aja · Ketawa dulu

Kecemplung Drum

Siang hari sambil terkantuk-kantuk mendengar obrolan teman-teman.

Si A : Ya ampuun, si Itu kan dulu langsing banget kok sekarang jadi ndut gitu ya?

Si B : Yah, namanya sudah melahirkan pasti ndut lah.

Si A : Iya ya, lha si Anu yang dulu hamil kayak orang cacingan aja bisa jadi bengkak gitu sekarang.

Si C : Resiko Ibu-ibu tuh.

Aku : Kalo aku montok gini bukan gara-gara melahirkan lho.

AllΒ Β  : Trus kenapa? Dulu kan gak semontok ini, Bu?

Aku : Duluuu, aku pernah kecemplung masuk drum minyak tanah. Melar deh jadinya…. huahahahahaha…. πŸ˜†

Note: Terinspirasi komen Jeng Lidya di sini, tapi asli, ngantuk langsung ilang gara-gara cekakakan semua πŸ˜†

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Serial Marni

Sudah lama ndak ndobos nih πŸ˜€ Supaya ndak bosen posting makanan terus, bentaaar lagi mo nulis cerbung lagi. Tentu saja gak serius, tetap renyah kayak kripik, tanpa perlu mikir, tapi mudah-mudahan bisa bikin tersenyum πŸ˜€

Seperti Ramuan Cinta, aku nulisnya spontan, gak pake draft apalagi kerangka karangan dll, wis gak pake aturan blaz dan tentu saja tergantung mood :(. Jadi maap kalo berantakan πŸ˜€

So Kawan, nantikan cerbung berikutnya:

Marni: Bakul Jamu Eksekutif

(halah….halah…. PD banget, kayak ada yang mo mbaca aja hihihihihi…. 😳 )

Jalan-jalan yuuuk.... · Nyam...nyam...sedaaap...

Harga Kaki Lima, Bintang Lima ke Laut Ajaaa….

Gak semua yang mahal dan mewah itu enak. Dan gak semua yang murah dan sederhana itu tak enak. Yang kutemukan ini warung tenda di pinggir jalan, tapi wuenaknyaaaaaa…… ck…ck… jiyan, banget-banget! (Buat Choco opo sih sing gak enak? Kok kabeh-kabeh enak? :mrgreen: ) Tapi bener Kawan, warten ini kutemukan secara tak sengaja. Berlokasi di Jati Asih, Bekasi. Jalan menuju tol Jati Asih sebelum Komsen.

Menunya? Yang top markotop itu kepiting saos padang dan kerang saos padang. Wuidiiihhh, sungguh membuat lupa daratan dan lautan! Mengapa kubandingkan dengan bintang lima? ‘Coz aku pernah makan di resto Bandar Jakarta Ancol dan rasanya agak mengecewakan. Tak cocok di lidah. Padahal semua seafood nya segar dan milih sendiri, sayang sungguh sayang, membumbuinya tak lezat 😦 Yang enak cuma udang bakar dan cumi goreng tepung. Kepiting saos padangnya jauuuuuhhhh ke laut aja 😦

Mari kita liat penampakannya πŸ™‚

Kerang Saos Padang
Kepiting Saos Padang, Juaraaa πŸ˜€

Itu menu yang patut diacungi jempol tangan dan kaki πŸ˜› Tapi selain menu di atas ada juga ayam goreng, lele, ikan bakar, aneka variasi saos, ada bumbu saos asam manis, tiram, dll. Duluuuuuu sekali pernah ada warten yang seenak ini di Galaxy, sayangnya sudah digusur entah ke mana 😦

So, kalo kau main ke Bekasi Kawan, cobalah menu diatas. Nenek (baca: ibunda mertua) yang jago memasak masakan Padang dan selalu enak itu pun berkata, “Lezatnyoo sungguh tiada taroo, enak bana…..” Hahahhaha….. ngarange puoolll πŸ˜› Kira-kira demikianlah, aku lupa :mrgreen:

Iseng Aja · Jalan-jalan yuuuk.... · Oooh Indahnyaaa....

Sunset di Jalan Tol

Jika sore sedang cerah, aku sering sekali disuguhi keindahan alam yang membuat hati gimanaa gitu. Kadang menyaksikan matahari tua masih cerah bersinar menembus awan-awan, sehingga cahyanya membentuk labirin-labirin perak yang luar biasa indah. Seperti kilau cahaya dari surga πŸ˜€

Atau jika beruntung bisa melihat matahari yang berubah keemasan, lalu bulat merah, aku biasa myebutnya telur ceplok πŸ˜€ . Kemudian sedikit demi sedikit hilang ditelan awan meninggalkan warna-warna eksotis di langit. Jingga, merah, biru, lalu kehitaman. Indaaaaahhhh luar biasa. Sungguh pelukis tiada tanding Allah ku itu πŸ™‚

Seperti Mata Dewaaa
Semakin tenggelam
Indah niaannn....
Semburat Jingga

Keindahan itu tak bisa dengan mudah dipindahkan ke peralatan buatan manusia. Apalagi aku hanya memotret menggunakan HP, sambil nyetir pula 😦  Tapi Kawan, kalo kau melihat aslinya, begituuuu indaaaahh, begituuu mempesonaaa. So Kawan, untuk melihat sunset, tak perlu jauh-jauh ke pantai. Dijalan tol pun bisa melamun sambil menikmati keindahan πŸ˜€

Iseng Aja · Jalan-jalan yuuuk.... · Nyam...nyam...sedaaap...

Green Banana

Halah, kayak Tukul aja, apa-apa di”inggris”kan πŸ˜€ Ini mo crita Es Pisang Ijo, yang wuenaknyaaaa….. gak tahaaaannn πŸ˜›

Enake gak ketulungan πŸ˜›

Esnya itu terdiri dari pisang berbaju hijau yang rasanya enak, gak rasa telor or tepung gitu. Trus ada campuran kayak bubur sumsum yang halus dan lembut, ditambah sirop. Wuenak and sueger. Bener, deh! Klo cobain es pisang ijo lainnya agak-agak gimanaaa gitu. Kalo yang ini jiyan, enak tenan!

Menggoda kan? πŸ™‚

Semangkuk Rp. 14,000 plus wareg tenan πŸ˜€Β  Kalo sendiri sih murah ya, tapi kalo makan berenam kok terasa yaa πŸ˜›

Hmm, so yummy... (kata Cantik)
Pokoke bentuke mie, pastiiii mauuu

Selain menyediakan es pisang ijo ada juga es kacang merah, aneka juice. Untuk makanannya ada lumpia, spaghetti, somay, burger, dll.

Ada somay ayam, sapi

Kalo kau pengen coba, Kawan, datanglah ke Kedai Es Pisang Ijo:

Tak pernah sepiiii

Alamatnya? Lupaaa 😳 …. pokoke samping RS. Royal Taruma Grogol belok ke kiri, trus luruuus belok kanan, luruuus, belok kiri lagi… trus kanan lagi klo gak salah, naaah ada plang ijo itu. Cobain yaaa…. πŸ˜€

Update:

Ini alamat Kedai Es Pisang Ijo Pemuda (abis dari sana lagi :mrgreen: )

Tanjung Duren Utara IV Blok O No. 468 A-B, Jakarta Barat

Tel: 021 56967540

Sumpeh, enak bianget!!! πŸ˜›

Iseng Aja

Sapi Cantik

Menurutku Kawan, hewan paling cantik adalah sapi. Lihatlah wajahnya begitu innocent, bulu matanya lentik, kulitnya putih mulus, dan montok semlohay gitu πŸ˜€ Coba kalo hari raya korban, sapi cantik begini banyak dicari.

Ada satu lagi hewan cantik. Jerapah. Uuh, lehernya lebih jenjang dari angsa, bulu matanya juga lentik. Dan yang gak tahan motif bajunya. Kotak-kotak menawan. Tak satupun designer mampu membuat motif seindah itu πŸ˜€

Sayangnya sapi ini terlalu macho, ndak cantik 😦

Kalo menurut Si CAntik, hewan paling cantik yaaaa tiada alain tiada bukan…. Mpus Meong πŸ˜›