Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif

Episode 1: Marni

Marni masih berdiri bersandar di dinding pantry, menunggu Wulan sekretaris Ibu Nancy, seorang GM yang katanya cantiiikk tapi galak. Bukan, bukan untuk wawancara kerjaan tapi untuk menjual jamunya. Sudah tiga tahun Wulan langganan jamunya dan sekarang Ibu Boss nya itu tertarik untuk bertemu Marni.

“Mar, besok kamu datang ya. Boss ku pengen ketemu kamu.” Marni masih ingat pesan Mbak Wulan kemarin.

“Mau ngapain, Mbak?”

“Ya mau beli jamu, masak mau nglamar kamu jadi mantu!”

Marni tersipu-sipu malu sambil menuang jamu kunyit asem buat Wulan.

“Hihihihi…lha siapa tau anaknya Ibu Boss tertarik sama saya to, Mbak…ihik…ihik…”

“Ih, genit kamu! Saya juga mau,” balas Wulan. Keduanya lalu cekikikan. Gimana gak cekikikan wong anaknya Ibu Boss ini perempuan je.

Pikiran Marni melayang kembali memutar waktu hingga lima tahun lalu. Saat untuk pertama kalinya ia merantau ke Jakarta lima hari setelah ijasah SMU nya keluar. Ibunya yang bakul jamu turun-temurun itu menangis berlinang-linang. Tangannya masih sibuk mengiris bawang untuk masak tumis kangkung.

“Mau ngapain kamu ke Jakarta, Nduk? Mbok sudah di sini saja nemenin Ibu. Kalo kamu pergi terus Ibu sama siapa di sini?”

“Ndak mau. Pokoknya Marni mau meneruskan usaha jamu kita di Jakarta. Jamu buatan Ibu ini manjur banget, langganan Ibu sudah sampe Bu Bupati. Hanya keterbatasan Ibu saja jadi gak bisa bikin pabrik jamu kayak Jamu Kukuruyuk itu kan?”

“Memangnya jamu kamu laku nanti? Orang Jakarta kan sudah ndak minum jamu, Nduk. Mereka itu minumnya yang manis-manis, mana mau jamu pait begini?”

“Pokoknya Ibu diam saja di sini. Nanti kalo aku minta kirim bahan-bahan jamu, Ibu jangan telat ngirimnya. Lima tahun lagi aku pulang mbawa banyak uang.”

Dan pergilah Marni merantau. Mulai berjualan jamu seperti bakul jamu lainnya. Seragam kain batik ketat agak longgar,  blouse lengan panjang agak pendek, bedak tebal agak tipis, lipstik pink agak merah, rambut disanggul agak terurai, menggendong bakul besar agak kecil. Tapi target market Marni adalah sopir-sopir di perkantoran. Dengan harapan kelak yang disopirilah yang akan membeli jamunya. Dan ternyata harapan Marni terkabul.

Berawal dari sopir-sopir di kawasan perkantoran, lalu para office girl atau cleaning service yang berpacaran dengan para sopir itu. Kemudian dari mulut ke mulut meningkat hingga level para staff dan para sekretaris. Hingga akhirnya berhasil menembus para manager dan direksi. Mulai berjualan di parkiran sampai akhirnya masuk ke pantry. Bener, ini tidak lebay. Perjuangan Marni membuahkan hasil di akhir tahun keempat. Derita dan air mata karena sering petak umpet dengan security perkantoran yang sekedar menjalankan tugas kini telah terlampaui.

Tentu saja seragam Marni berubah. Kini ia memakai rok span ketat lima senti di atas lutut, blouse serasi dengan scarf nya, sepatu lima senti, gendongan berubah jadi koper trolley yang dimodifikasi dalamnya sehingga bisa memuat botol-botol jamu eh sekarang pakai produk kupperware yang anti tumpah itu. Orang takkan menyangka Marni seorang bakul jamu dengan penampilan bak pramugari seperti itu. Keluar masuk perkantoran mewah pun sudah menjadi hal biasa. Wajah dipoles make up tipis natural, hasil pengajaran para sekretaris itu.

“Heh, ngelamun! Ayo ikut aku, Ibu udah menunggu!”

Marni terlonjak kaget, lalu tersenyum melihat Wulan.

“Sorry, Mbak. Ini koper dibawa atau ditinggal sini aja?”

“Tinggal aja, Ibu mo ngobrol dulu katanya.”

Marni mengikuti Wulan. Setelah memasukkan kartu, pintu pun membuka. Lalu mereka menuju ke sebuah pintu yang tertutup di sudut ruangan. Wulan mengetuk sekilas lalu membuka pintu kokoh itu. Seorang wanita cantik berumur di akhir empat puluhan menganggukkan kepalanya tanpa senyum. Wulan menyuruh Marni duduk di sofa tamu lalu meninggalkan mereka. Entah mengapa Marni merasa terintimidasi dengan kemewahan ruangan dan penghuninya itu.

to be continued…… 😀

Episode 2: Bertemu Ibu Manager