Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 5

Episode 5: Arjuna

Flashback dulu ya, 😉

Arjuna meletakkan gagang telepon dengan senyum cerah tersungging di bibirnya.

“Telepon dari siapa, Juna?” Sebuah suara berat mengejutkannya.

“Eh, anu… mmm… kawan, Pa, Rizal,” jawabnya gugup. Usianya sudah hampir dua puluh tujuh tahun, tetapi jika menyembunyikan sesuatu di hadapan Ayahnya, seperti anak umur tiga belas saja layaknya.

“Hmm, nanti malam kau ikut Papa ya, kita diundang makan malam oleh Pak Rangga. Kita akan membicarakan pertunanganmu dengan Anita.”

“Owh, Pa, please, beri aku waktu. Aku sama sekali belum bisa menyukai Anita.”

“Hei. apa yang kurang dari dia? Cantik, lulusan Perancis, cerdas dan kaya raya. Apa lagi yang kau ragukan, ha?”

“Anita nyaris sempurna, Pa. Tapi…”

“Jadi kau masih memimpikan Dewi ya? Tidak, Juna! Sampai kapanpun Papa tak merestui hubunganmu dengan Dewi!”

“Tapi, Pa…..”

“Tidak! Selamanya TIDAK!” gelegar Bimo lalu bergegas meninggalkan anak semata wayangya. Arjuna mengepalkan tangannya.

“Ok, Pa! Aku akan turuti permintaanmu, tapi jangan kau suruh aku tinggalkan Dewi,” geram Juna dalam hati. Tangannya mengepal kencang hingga buku-buku jarinya memutih.

*****************************************************

Kini Marni telah mempunyai jadual tetap untuk mengunjungi Nirwana. Hari Selasa di lantai rendah, dan hari Kamis khusus mengunjungi Sonya dan beberapa kawannya yang kini telah menjadi pelanggan tetap. Sayangnya selama hampir dua minggu tak ada perkembangan berarti. Pak Bimo jarang sekali datang ke Nirwana.

Dan seperti biasa hari ini Marni telah siap menunggu Sonya di lobby. Dan kali ini tentu saja tanpa mengantuk, karena ia telah mempelajari fungsi-fungsi tabletnya, meski hanya untuk sekedar main Angry Bird atau Fruit Slice hahahaha….. Sejurus kemudian Nia menyuruhnya masuk ke ruang Sonya tanpa perlu diantar lagi.

Setiap kali melewati selasar yang mirip gallery itu, disempatkannya sejenak untuk menikmati lukisan Bakul Jamu Gendong yang spektakular itu. Meresapi kesenduan matanya dan ketidakpuasan parasnya. Cantik sekali.

Sesampai di ruang Sonya ia mengetuk pintu lalu masuk. Sesosok pria menawan sedang duduk santai membaca sebuah majalah di sofa. Jantung Marni terkena gempa lagi meski tak seheboh dulu.

“Oh, maaf….saya kira…”

“Haii, Mar, masuk saja sini,” Sonya berseru dari balik mejanya. Pria muda yang sedang santai itu menatap Marni lalu tersenyum. Mirip! Persis! Bagai pinang dibelah empat! Hanya saja yang di hadapannya ini versi mudanya. Dengan ragu Marni melangkah masuk. Koper trolley nya akhir-akhir ini terasa merepotkan.

Sonya menyilakan Marni duduk di sofa, di hadapan pria tampan itu.

“Bentar ya, Mar, sedikit lagi selesai nih. Oya, kenalkan ini Pak Juna, Pak Juna ini Marni penjual jamu,” ujar Sonya tanpa meninggalkan tempat duduknya. Juna mengulurkan tangannya pada Marni yang disambut gadis itu dengan gemetar.

“Ee, Pak Juna? Bapak yang melukis Bakul Jamu Gendong itu ya?” tanyanya pelan. Arjuna tertawa.

“Darimana kau tahu?”

“Mbak Nia yang bilang. Lukisannya bagus banget, Pak, Bukan karena saya juga penjual jamu maka suka lukisan itu, tapi benar-benar bagus, Pak. Lukisannya hidup banget, padahal gak berwarna ya?” cerocos Marni tiba-tiba sok akrab begitu. Juna hanya tersenyum sambil membolak-balik majalah di pangkuannya.

“Kalo boleh tahu, siapa itu Pak, yang jadi model?”

“Hmm, Eyang Buyut saya.”

“Hah? Eyang Buyut? Beliau…beliau masih hidup?”

“Hahahaha…. tentu saja tidak. Tapi kami menyimpan lukisan wajahnya, dari situ aku buat versi lukisan yang baru.”

“Ooh. Mmm…. eee…. beliau penjual jamu ya, Pak?”

Kali ini Juna tak bisa menahan tawanya. Lepas, bebas, menggelegar. Rasanya sudah lama sekali ia tak tertawa lepas begini.

“Hush! Kamu, Mar! Leluhur Pak Juna ini kan ningrat, pengusaha kaya raya. Kamu tahu, perusahaan Immortal Bros ini milik keluarga. Pak Bimo, ayah Pak Juna ini yang dipercaya memegang tampuk pimpinan,” jelas Sonya.

Dan gempa kembali mengguncang hati Marni. Seperti ribuan gajah berlarian hatinya. Pak Juna ini putra Pak Bimo? Marni segera meramu jamu segar untuk menghilangkan gemetar seluruh tubuhnya. Pantas saja wajahnya begitu mirip dengan Pak Bimo. Semu merah kemabali menjalar di pipi Marni. Oh, mengapa tiap kali mendengar nama Bimo hatinya langsung berdesir aneh? Jatuh cintakah? Tak mungkin! Kenal saja tidak. Lagipula Pak Bimo itu lebih pantas jadi ayahnya bukan?

“Silakan coba, Pak. Ini untuk menyegarkan, menghilangkan panas, tidak pahit kok,” bujuk Marni menyodorkan segelas jamu pada Juna. Ragu Juna menerima gelas itu. Belum pernah seumur hidupnya ia minum jamu. Namun diteguknya juga cairan berwarna kuning segar itu.

“Hei, seger banget! Wah, baru tahu ada juga jamu yang gak pahit ya?”

“Wah, ada, Pak. Tidak semua jamu itu pahit kok.Tergantung bahannya dan cara meramunya.”

Cukup lama Marni bercengkrama dengan Juna dan Sonya, ketika tiba-tiba pintu terbuka dan sosok kembaran Juna memasuki ruangan. Marni langsung mengkerut tenggelam di sofa.

“Hai Juna, lama ya kau tunggu Papa. Mengapa tidak menunggu di ruangan Papa?” suara berat itu menyapa putranya dengan ramah.

“Lumayan, Pa. Ah, ruangan Papa terlalu besar dan sepi. Enakan di sini, disuguhi jamu pula,” jawab Juna. Sonya sudah deg degan takut Boss nya tak berkenan memasukkan penjual jamu ke kawasan kantor. Bimo duduk di samping Juna.

“Hmm, jamu? Bagaimana caranya ada jamu di sini?”

Dengan gugup Sonya menjelaskan keberadaan Marni. Dan lega hatinya ketika ternyata Bimo tidak marah, bahkan meminta Marni untuk membuatkan segelas juga untuknya. Gemetar Marni meramu jamu segar untuk Pak Bimo, target sekaligus penyebab gempa di hatinya.

***********************************************************

Target Beli Jamu

From : Marni Bakul Jamu                                                                           Thursday, July 07, 2011 08.14PM

To     : Ibu Nancy

Dear Ibu Nancy,

Saya sudah berhasil mengenal Pak Bimo, bahkan sudah bertemu juga dengan Pak Juna putranya. Mereka mirip sekali ya, Bu? Oya, Pak Bimo juga bilang jamu saya enak dan beliau mau juga dibuatkan jamu seminggu dua kali. Kemajuan yang pesat ya, Bu? Doakan saya ya.

Salam,

Marni

Nancy membaca email Marni dengan gembira sekaligus sedih. Arjuna. Bertemu juga rupanya ia dengan Arjuna. Ah, pilu hatinya jika harus menyebut nama Arjuna. Misi ini harus dipercepat. Segera ia membalas email Marni dan memberi instruksi untuk pekerjaan yang sedikit lebih beresiko.

Re: Target Beli Jamu

From : Nancy                                                                           Thursday, July 07, 2011 08.30 PM

To     : Marni Bakul Jamu

Bagus kerjamu, Mar. Selanjutnya kamu harus berusaha bisa berkunjung ke rumah Pak Bimo. Caranya terserah kamu. Setelah dua atau tiga kali kamu ke sana, akan kuberi instruksi selanjutnya.

Untuk pengganti transport dan lain-lainnya sudah saya transfer 5,000,000 ke rekening kamu. Sukses ya.

Salam,

Nancy

*****************************************

to be continued…. again? 😦

Episode 6: Rumah Sunyi

Cintaku

Lelakiku

Setiap malam menjelang, ia selalu memeluk perutku
Tak bisa lelap ia tanpa meletakkan kepala di bahuku
Dan jika terbit mentari, kata pertama yang terucap adalah memanggilku
Ah, manis sekali Lelakiku ini, betapa tergantungnya padaku

Lelakiku, satu-satunya pria lain dalam hidupku
Yang bahkan kucintai melebihi kekasihku sendiri
Ah, tak ada cemburu tak ada amarah
Karena kekasihkupun mencintai Lelakiku ini

Hari ini, sembilan tahun genap Lelakiku
Sudah besar, sudah makin dewasa, meski masih manja
Selamat ulang tahun, Sayang
Gapailah cita dan cintamu, kau pasti bisa

Tetaplah menjadi matahari dalam hidup kami
Kelak, jika Ayah Bunda telah renta
Kaulah yang harus menjadi pelindung bagi Adikmu
Sungguh besar tanggungjawabmu sebagai sulung, Nak

Namun kini, selagi masih sembilan tahun
Bermanjalah, meski tlah tinggi tubuhmu
Bermainlah, meski beban belajar kian menggelayut
Panjang umur, Anakku, sehat selalu
Cinta Ayah, Bunda, dan Adik selalu ada untukmu

Selamat ulang tahun, Honey….

Mr. President pulang kampong :mrgreen:
Dapat ikan gak, Pak Jendral 😛
Kan kubela Tanah Airku 😀

Oooh Indahnyaaa....

Kado dari Riani

Hari Kamis, sebuah kado cantik datang dari Riani. Duh, tak sabar untuk segera melihat, padahal Si Cantik sudah menelponku siang bahkan paket itu sudah dibuka olehnya 😀

Dan ketika kulihat salah satu isi kado itu, merinding semua bulu kudukku. Sebuah fiksi mini dengan tulisan yang tak lebih dari 160 karakter telah terukir manis di sebuah mug. Ya ampyuuun Rianiiii, baru kali ini seumur hidupku melihat tulisanku terukir di sebuah benda yang bukan kertas beneran maupun sekedar kertas maya. Lebay ya? Tapi bener Kawan, itu menakjubkan sekalipun mug itu hanya untukku dan tak setiap orang bisa melihat 😀 Idemu sungguh brilliant, Riani, dan ini sungguh surprise buatku (jadi pengen koleksi aneka mug dengan tulisan 160 karekater 😀 ). Thanks a lot, Say 🙂

Rasanya semua hadiah dari Riani ini surprise. Coklat dengan kacang mede! Ah Riani, rupanya you know me so well ya hahahaha…… Coklat itu gue banget gitu loh (bergaya alay 😀 ) Coklat asli Yogya pula. Rupanya sesuai janjinya akan memberi kado kepada pemenang sesuai karakter masing-masing ahaaiiii…. 😀

Yang tak kalah mengejutkan adalah sebuah T shirt capung dari Yogya. Ini sungguh mengejutkan ‘coz size nya “M”. Oh, I wish I’m in “M” size 😛 Dan kaos itupun langsung diklaim oleh Guanteng dan paz! Hahahaha….. Masih satu lagi “Jahe Gula Jawa”, minuman yang menghangatkan. Ini jelas sebanding dengan jamu Marni langganan saya 😛

Makasiy ya Say, atas semua bingkisanmu itu. Semoga persahabatan ktia tetap langgeng tak hanya di dunia maya namun jugak kelak di dunia nyata 😀 (gek ndang rampung sekolahe trus mrene yoo 😀 )

Bukan horror, obsesi yang sudah kukubur tiba-tiba bangkit 😛
Sayang, kupingnya patah hiks... 😥
Ada surat cintanya lhoo 😳 (plax!)

Iseng Aja · Jalan-jalan yuuuk.... · Nyam...nyam...sedaaap...

Soto Ceker Suroboyo

Eee, lha kok sudah Jumat lagi. Cepat sekali hari berganti. Yuk mari lari-lari, mencari sarapan pagi. Di mana lagi kalo tidak di Bekasi, lha wong saya tiap hari lewat sini.

Soto ceker sungguh lekker, jangan lupa dua iris jeruk nipis dikecer (apa coba? :mrgreen: ), dijamin rasa jadi sueger.

Yuk mari kita lihat, soto ceker yang memikat.

Soto ceker yang leker 😛

Lokasi di Pekayon, seberang SDSN (singkatan dari apa ya?) Pekayon Jaya. Yang jual pasangan Madura – Jakarta. Suaminya anak tuan tanah, dengan lapak berlimpah. Katanya lulusan sarjana tapi ndak mau kerja, lebih baik wiraswasta saja.

Silakan Kawan mencoba, pasti takkan kecewa 😀

Have a nice Friday 😉

Iseng Aja

Motion Radio

Sepanjang jalan menuju kantor, aku selalu ditemani I Radio 89.6 FM. Karena penyiarnya lucu, Rafiq dan Putri. Sering aku dibuat tertawa sendiri kalau mendengarkan mereka. Kadang sampai malu kalau macet dan berhenti di belakang angkot. Penumpangnya suka takjub melihatku. Emak-emak ketawa sendiri 😳

Nah, pada suatu kali salah satu dari penyiar favoritku itu tidak siaran. Dan rasanya kok garing gitu karena ganti pasangan, so aku  ganti frekuensi. Pindah ke Motion Radio 97.5 FM yang entah kapan ditempel tiba-tiba stikernya sudah ada di kaca belakang.

Ternyata, Kawan, penyiarnya juga lucu banget. Ari Daging dan Miun. Apalagi kalo Miun sudah mengeluarkan logat Cilacapnya, aduuuh ampek sakit perut! Obrolannya juga renyah dan lucu. Belum lagi ada iklan layanan masyarakat tentang Pak Polisi dan Kak Guru, aduuuh lucu deh 😀

So Kawan, sejak aku tak bisa mendengar JJM 108 FM karena kemresek tak jelas dan I Radio yang kadang garing, maka aku pindah ke Motion Radio. Lagu-lagunya pun campuran oldies dan lagu baru. Pernah takjub ketika mendengar Tonight nya New Kids on The Block 😀 Jadul yak? Ee, itu belum seberapa kadang mendengar lagu yang bahkan akupun belum lahir ketika lagu itu ngetop 😀 Tapi yang baru pun banyak lhooo.

Dan yang pasti Kawan, iklannya tak sebanyak I Radio yang baru sebentar ngobrol sudah diselingi iklan yang buanyak 😦 Coba deh Kawan, dengarkan Motion Radio, seruuuu deehh 😀

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 4

Episode 4: Gempa di Hati Marni

Seperti biasa, baca yang lalu dulu yaa…

Dua puluh menit berlalu, Marni terkantuk-kantuk menunggu. Hawa pendingin ruangan semakin menambah berat kelopak matanya. Ditambah lagi sayup-sayup terdengar alunan David Foster dari speaker yang tak nampak. Lembut, mendayu, merayu, dan sukma pun terombang-ambing pada frekuensi yang berbeda dengan raganya. Sayup di dengarnya panggilan yang jauuuuhhh sekali. Lalu sentuhan lembut mendarat di pipinya.

“Mbak….mbak… ditunggu Ibu Sonya di dalam,” Sang Resepsionis membangunkan Marni yang tertidur. Marni langsung terbangun. Duh, malunya menatap mbak resepsionis yang menahan senyum itu. Bergegas ia merapikan roknya.

“Yuk, ikut saya ke dalam,” ajak Si Resepsionis bernama Nia itu. Marni mengikuti dengan semangat. Nia membuka pintu kokoh berukir menawan itu. Marni menahan napas, seketika matanya disuguhi lukisan-lukisan luar biasa di sepanjang selasar menuju tangga berkarpet. Lampu-lampu seperti batu es (atau pecahan kristal?) berjajar rapi mengapit tiap lukisan menawan itu. Sejenak Marni lupa bernapas ketika pandangannya tertuju pada salah satu lukisan besar. Bakul Jamu Gendong! Seorang perempuan luar biasa cantik dengan kain kebaya dan batik selutut menatapnya sayu. Di punggungnya tersunggi bakul bambu dengan botol-botol jamu di dalamnya. Anehnya, lukisan itu tidak berwarna. Hanya hitam, putih dan abu-abu. Namun mengapa begitu hidup? Mata gadis itu sungguh menerbitkan rasa haru, seperti menunjukkan kesedihan sekaligus rasa tidak puas.

“Eh, lukisan siapa itu, Mbak?” bisik Marni. Nia mengikuti pandangan Marni.

“Ooh, itu lukisan Pak Juna. Beliau senang melukis dan semua lukisannya bagus banget,” jawab Nia. Pipinya merona ketika mengucapkan itu. Marni hendak bertanya lebih lanjut tapi Nia telah mengajaknya ke atas.

Lagi-lagi ada ruang tunggu dengan satu set sofa mewah ketika mereka sampai di ruangan atas. Nia mengetuk sekilas lalu membuka salah satu pintu dan menyilakan Marni masuk.

Seorang perempuan cantik, kira-kira lima tahun lebih tua dari Marni menyilakan masuk.

“Hai, kamu Marni ya?” sapanya ramah.

“Iya, Mbak Sonya?”

“Iya, sorry lama nunggu ya, biasa kerjaan gak ada habisnya. Eh, kata Rani kamu jualan jamu? Coba liat ada jamu apa aja?” Sonya menyilakan Marni duduk di sofa yang lebih sederhana namun elegant. Marni heran juga, sekretaris kok punya ruangan sendiri, mewah lagi. Setahunya sekretaris itu cuma ngumpet di kubikel yang agak terpisah dari lainnya tapi dekat dengan ruangan boss. Marni gak peduli, langsung naluri bakul jamunya keluar.

“Wah, macem-macem, Mbak. Ada jamu biasa-biasa aja, tapi ada juga yang luar biasa. Kalo Mbak Sonya ini sudah cantik, mulus dan wangi, cukup pake jamu penyegar aja, Mbak, biar makin muluuss. Ini, buat Mbak, jamu gula asem dingin, segerr…” Marni mengeluarkan botol-botol kupperware dan thermosnya. Sonya tertawa lalu meneguk jamu segar itu.

“Eh, kamu punya jamu buat nyembuhin jerawat gak?”

“Lho, Mbak Sonya sudah mulus banget gitu kok? Lalat menclok aja pasti langsung kepleset, lho?”

“Bukan buat akuuu, buat pacarku. Jerawatnya aduuh, cuma satu sih, tapi kalo lagi numbuh katanya sakit banget.”

“Wah, jangan-jangan bisul itu, Mbak. Besok saya bawakan deh, jamunya. Dijamin 3 kali minum itu jerawat gak nongol-nongol lagi.”

Percakapan mereka terputus ketika pintu mendadak terbuka.

“Sonya, saya mau ke Bogor,” suara berat seorang lelaki terdengar dari arah pintu.

Marni menoleh. Dan iapun membelalak, hatinya seperti terkena gempa yang luar biasa hebat. Debaran jantungnya seperti deru pesawat terbang yang siap landas. Di wajahnya tercipta semburat-semburat merah jambu. Pipinya yang transparan mendadak pekat dengan warna-warna cerah. Belum pernah ia melihat pria setampan itu. Usianya sudah tak muda, mungkin lima puluhan. Namun penampilannya begitu sempurna, nyaris tak ada perut yang membuncit. Hanya uban di pelipis yang menandakan matangnya usia.

Dan ketika pria itu menatapnya tepat di bening bola matanya, Marni langsung menunduk. Jantungnya tak mau diam dan pelangi di pipinya semakin berwarna. Hanya sedetik, namun Marni takkan pernah melupakan wajah dan tatapan itu seumur hidupnya.

Sonya bergegas ke mejanya, mengambil sesuatu lalu segera menyerahkan pada pria yang kemudian melangkah pergi.

Sonya kembali menghampiri Marni yang mendadak diam seperti kelinci dalam pelukan harimau.

“Itu Bossku, Pak Bimo. Orangnya tampan, pinter banget, baik hati tapi galak juga,” cerita Sonya tanpa diminta. Dan jantung Marni semakin berdebar. Pak Bimo!

********

Bertemu Target

From : Marni Bakul Jamu                                                                           Tuesday, June 21, 2011 3:60 PM

To     : Ibu Nancy

Dear Ibu Nancy,

Saya sudah melihat Pak Bimo. Baru sekedar melihat, belum bertegur sapa apalagi nawarin jamu saya. Tapi saya akan berusaha segera mengenal beliau. Doakan saya ya, Bu.

Salam,

Marni

Nancy tersenyum tipis. Cepat juga bakul jamu itu mencari informasi tentang Bimo. Bahkan sudah bertemu orangnya pula. Tak salah ia meminta Marni untuk memata-matai Bimo. Nancy segera membalas email Marni dan memberi petunjuk selanjutnya.

Tak lama lagi rahasia laki-laki itu akan terbongkar, geram Nancy. Dan semua orang akan tahu bahwa Bimo tak sesuci yang dikira orang selama ini. Nantikan pembalasanku, Bim! jerit Nancy dalam hati.

To be continued lagi aahhh…. 😀

Episode 5: Arjuna

Iseng Aja · Jalan-jalan yuuuk.... · Nyam...nyam...sedaaap...

Mie Ayam Awat

Hari Jumat datang lagi. Mari kita jalan-jalan ke Galaxy, tentu saja di Bekasi. Masuk dari Kalimalang lurus saja, sampai ke patung kuda yang kedua. Tepatnya di seberang Kartika Sari arah menuju Bank Mandiri.

Mie ayam Awat yang sungguh lezat. Datang dari Bangka tapi halal kok katanya. Yang juwal mirip personil Sm*sh, itu kata sobat saya 😳

Buanyak sekali, kenyang sampai tiga hari 😛
Biarpun kusut, rasa tetaaap lezut 😛

Seporsi dengan bakso lima belas ribu, kuhabiskan dengan rasa malu :oops:(beli setengah harga tetap segitu). Bagaimana tidak, porsinya yang begitu membludak, jadi berfikir mau habiskan atau tidak. Tapi karena lapar, ya sudah sikat saja, lha wong enak 😀

Have a nice Friday… 😀

Update: Ternyata namanya bukan Aswat tapi AWAT 😳 Maaf, salah hihihihihi…… tapi yang juwal tetep mirip Morgan kok 😳

Cari Solusi · Nimbrung Mikir

Kado Untuk Guru

Gak papa sih, sebagai tanda terimakasih 🙂

Sebentar lagi kedua malaikatku akan segera menerima rapor kenaikan kelas. Dan inilah saat-saat untuk mencari kado untuk guru wali kelas.

Dulu, sewaktu Guanteng masih duduk di bangku TK, aku menjadi orang tua yang paling naif ketika mengambil rapor. Bagaimana tidak, ketika semua orang tua datang dengan membawa aneka bingkisan, aku datang dengan tangan kosong dan wajah polos tak berdosa.

Ketika Guanteng duduk di bangku SD, aku kembali menjadi orang tua yang polos ketika saatnya mengambil rapor semesteran. Kupikir bingkisan akan diberikan  ketika kenaikan kelas saja. Ternyata tidak, Kawan! Jadi begini “rule” nya. Kalau mengambil rapor bayangan atau semesteran, cukup memberi bingkisan berupa kue atau sejenisnya, yang ringan sajalah. Nanti ketika kenaikan kelas baru memberi kado yang lebih baik. Dompet, tas, batik, dll. Siapa sih yang membuat aturan itu? Hohoho, tentu saja bukan sekolah, tetapi inisiatif para orang tua murid, khususnya Ibu-ibu gaul itu. Kalo dari sekolah jelas-jelas tidak menyarankan (meski tidak melarang). Bahkan ada juga ortu yang mengkoordinir mengumpulkan uang untuk dibelikan kenang-kenangan untuk wali kelas.

Sebetulnya gak papa gak sih memberi bingkisan untuk guru itu? Kalo pas kenaikan kelas, aku setuju saja. Itu kan bentuk terimakasih karena telah membimbing anak-anak kita selama satu tahun belajar. Lagipula di kelas yang lebih tinggi nanti belum tentu guru tersebut akan kembali menjadi wali kelas bukan?

Tetapi kalo bingkisan di tengah-tengah semester gitu kok aku agak gak setuju ya? Karena kesannya kok…eh…maap…maap…bukan bermaksud apa-apa…. tapi kok kayak eh….menyuap gitu ya? Aduh, ampuuun kasar sekali kata-kataku ini? Semoga bukan seperti dugaan negatifku ini ya, tapi benar-benar karena berterimakasih pada para guru itu 😦 Karena tanpa sengaja, ketika sedang mengantri ambil rapor, aku mendengar percakapan di antara para Ibu yang wangi-wangi itu. Begini kira-kira:

“Ini lho, Mama Devan, aku bawa bingkisan gini kan supaya anak kita lebih diperhatikan sama guru.”

“Betul, moga-moga guru jadi lebih perhatian sama anak kita, ya. Paling gak kasih nilainya gak pelit-pelit amat hihihihi…..”

Deg! Dag! Dig! Dhueerr!!! Jantungku kena bom! Kenapa? Karena saat itu aku tidak membawa apa-apa untuk Guru! :mrgreen:

Aku jadi sedih. Aku yakin (atau berharap?) para guru di sekolah kedua malaikatku tidak serendah itu. Buktinya ketika aku tidak membawa apa-apa itu, Guanteng tetap mendapat perhatian dari wali kelasnya, bahkan perhatian yang berlebih. Cantik juga tetap memperoleh nilai bagus sesuai dengan kemampuannya, meski waktu itu aku juga tak membawa apapun untuk wali kelasnya. Tapi aku jadi agak tersentil. Memang seharusnya aku membawa bingkisan itu, bukan untuk mendapat imbalan tetapi untuk berterimakasih bukan?

Saat pengambilan rapor kenaikan kelas nanti, aku pasti akan membawakan kado untuk para wali kelas malaikatku. Karena sudah purna tugas mereka setahun sebagai wali kelas malaikatku. Dan pemberian ini tentu tidak akan mengubah apapun, selain ungkapan terimakasih. Tapi untuk semesteran? Entahlah, hatiku masih bimbang. Ingin memberi tetapi takut guru berprasangka, tidak memberi juga kuatir guru mengharap? Aduuh, bingung! Ikuti arus sajakah?

Kau tahu Kawan, (enggggaaaaaakkkk) kuperhatikan kalau yang mengambil rapor para bapak, mereka tak perlu membawa apa-apa. Cukup dengan senyum, ngobrol dikit dan pulang. Tapi kalo yang mengambir rapor para emak? Weits, tangan kiri nenteng donat satu lusin, tangan kanan nenteng bingkisan entah apa 😦 Dan sayangnya kekasihku tak pernah mau mengambil rapor. Padahal kalo mau kan jadi terbebas membawa bingkisan yang menimbulkan prasangka itu 😦

Saking paniknya pernah memberi guru sekotak coklat, darurat 😦

P.S. Maaf, saya belum sempat BW mengunjungi Kawan-kawan 😦

Iseng Aja · Jalan-jalan yuuuk.... · Nyam...nyam...sedaaap...

Soto Mencos

Hari Jumat telah tiba. Saatnya untuk bersukaria, mencari makan siang yang lezat tiada tara 😀

Soto Mencos sungguh mak nyos
Soto kaki sapi menggoda hati

Soto kaki sapi dengan kuah lezat, bertaburan emping dan krupuk merah. Satu porsi dengan setengah nasi cukup membuat wajah berseri. Berlokasi di Rawa Sari, tepatnya aku tak mengerti. Nanti jika ke sana lagi, akan kuberitahu tempatnya yang pasti 😀

Setelah makan siang usai, janganlah terus bersantai. Segeralah kembali bekerja dengan semangat tetap menyala.

Have a nice Friday 😉

Cari Solusi · Nimbrung Mikir

Angka yang Selalu Mengejar

Angka tak pernah lepas dari kehidupan. Setiap orang yang bernafas pasti selalu diikuti angka. Umur adalah angka. Rupiah-rupiah yang dipungut dan dikumpulkan tiap bulan dengan tetesan keringat pun berupa angka. Waktu adalah perwujudan dari angka. Ukuran adalah angka. Raport adalah kumpulan angka yang menentukan kelulusan. Bahkan kadang angka membuat manusia tertekan! Target! Target pencapaian adalah angka yang harus dipresentasikan. Dan itu menentukan prestasi bukan? Uff!

Angka pencapaian tahun lalu hanya 95%, masih kurang 5%. Harusnya tak mengapa? Masih boleh tersenyum walau tipis? Tapi tetap saja judulnya tidak mencapai target! Lagi-lagi angka yang menentukan prestasi. Sekalipun sudah bekerja maksimal. Penuh dedikasi, diiringi air mata darah dan cucuran keringat, mengorbankan kesenangan, tetap saja angka yang berbicara.  Performamu ditentukan oleh sederetan angka yang menyebalkan. Seratus persen adalah keharusan. Lebih dari seratus persen adalah pujian dan tepukan di bahu. Kurang dari 100% adalah cemooh dan cibiran.

Angka, manusia takkan pernah terlepas darinya. Angka kian dan selalu akan mengejar. Tinggal bagaimana kita menikmati kejaran angka itu. Mau bersantai atau berusaha keras, itu pilihan. Karena angka jugalah yang akan menentukan. Namun adakah angka sempurna? Takkan pernah ada. Karena bahkan angka tertinggi pun membutuhkan pengorbanan untuk mendapatkannya. Dan angka yang paling rendahpun membuahkan kesakitan pada akhirnya. So, apakah angka telah memperbudak kita? Entahlah, karena hidup memang tak pernah lepas dari angka.

Horeee….. ikutan ASKAT nya Pakdeee….. 😉

Wish me luck….