Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 4

Episode 4: Gempa di Hati Marni

Seperti biasa, baca yang lalu dulu yaa…

Dua puluh menit berlalu, Marni terkantuk-kantuk menunggu. Hawa pendingin ruangan semakin menambah berat kelopak matanya. Ditambah lagi sayup-sayup terdengar alunan David Foster dari speaker yang tak nampak. Lembut, mendayu, merayu, dan sukma pun terombang-ambing pada frekuensi yang berbeda dengan raganya. Sayup di dengarnya panggilan yang jauuuuhhh sekali. Lalu sentuhan lembut mendarat di pipinya.

“Mbak….mbak… ditunggu Ibu Sonya di dalam,” Sang Resepsionis membangunkan Marni yang tertidur. Marni langsung terbangun. Duh, malunya menatap mbak resepsionis yang menahan senyum itu. Bergegas ia merapikan roknya.

“Yuk, ikut saya ke dalam,” ajak Si Resepsionis bernama Nia itu. Marni mengikuti dengan semangat. Nia membuka pintu kokoh berukir menawan itu. Marni menahan napas, seketika matanya disuguhi lukisan-lukisan luar biasa di sepanjang selasar menuju tangga berkarpet. Lampu-lampu seperti batu es (atau pecahan kristal?) berjajar rapi mengapit tiap lukisan menawan itu. Sejenak Marni lupa bernapas ketika pandangannya tertuju pada salah satu lukisan besar. Bakul Jamu Gendong! Seorang perempuan luar biasa cantik dengan kain kebaya dan batik selutut menatapnya sayu. Di punggungnya tersunggi bakul bambu dengan botol-botol jamu di dalamnya. Anehnya, lukisan itu tidak berwarna. Hanya hitam, putih dan abu-abu. Namun mengapa begitu hidup? Mata gadis itu sungguh menerbitkan rasa haru, seperti menunjukkan kesedihan sekaligus rasa tidak puas.

“Eh, lukisan siapa itu, Mbak?” bisik Marni. Nia mengikuti pandangan Marni.

“Ooh, itu lukisan Pak Juna. Beliau senang melukis dan semua lukisannya bagus banget,” jawab Nia. Pipinya merona ketika mengucapkan itu. Marni hendak bertanya lebih lanjut tapi Nia telah mengajaknya ke atas.

Lagi-lagi ada ruang tunggu dengan satu set sofa mewah ketika mereka sampai di ruangan atas. Nia mengetuk sekilas lalu membuka salah satu pintu dan menyilakan Marni masuk.

Seorang perempuan cantik, kira-kira lima tahun lebih tua dari Marni menyilakan masuk.

“Hai, kamu Marni ya?” sapanya ramah.

“Iya, Mbak Sonya?”

“Iya, sorry lama nunggu ya, biasa kerjaan gak ada habisnya. Eh, kata Rani kamu jualan jamu? Coba liat ada jamu apa aja?” Sonya menyilakan Marni duduk di sofa yang lebih sederhana namun elegant. Marni heran juga, sekretaris kok punya ruangan sendiri, mewah lagi. Setahunya sekretaris itu cuma ngumpet di kubikel yang agak terpisah dari lainnya tapi dekat dengan ruangan boss. Marni gak peduli, langsung naluri bakul jamunya keluar.

“Wah, macem-macem, Mbak. Ada jamu biasa-biasa aja, tapi ada juga yang luar biasa. Kalo Mbak Sonya ini sudah cantik, mulus dan wangi, cukup pake jamu penyegar aja, Mbak, biar makin muluuss. Ini, buat Mbak, jamu gula asem dingin, segerr…” Marni mengeluarkan botol-botol kupperware dan thermosnya. Sonya tertawa lalu meneguk jamu segar itu.

“Eh, kamu punya jamu buat nyembuhin jerawat gak?”

“Lho, Mbak Sonya sudah mulus banget gitu kok? Lalat menclok aja pasti langsung kepleset, lho?”

“Bukan buat akuuu, buat pacarku. Jerawatnya aduuh, cuma satu sih, tapi kalo lagi numbuh katanya sakit banget.”

“Wah, jangan-jangan bisul itu, Mbak. Besok saya bawakan deh, jamunya. Dijamin 3 kali minum itu jerawat gak nongol-nongol lagi.”

Percakapan mereka terputus ketika pintu mendadak terbuka.

“Sonya, saya mau ke Bogor,” suara berat seorang lelaki terdengar dari arah pintu.

Marni menoleh. Dan iapun membelalak, hatinya seperti terkena gempa yang luar biasa hebat. Debaran jantungnya seperti deru pesawat terbang yang siap landas. Di wajahnya tercipta semburat-semburat merah jambu. Pipinya yang transparan mendadak pekat dengan warna-warna cerah. Belum pernah ia melihat pria setampan itu. Usianya sudah tak muda, mungkin lima puluhan. Namun penampilannya begitu sempurna, nyaris tak ada perut yang membuncit. Hanya uban di pelipis yang menandakan matangnya usia.

Dan ketika pria itu menatapnya tepat di bening bola matanya, Marni langsung menunduk. Jantungnya tak mau diam dan pelangi di pipinya semakin berwarna. Hanya sedetik, namun Marni takkan pernah melupakan wajah dan tatapan itu seumur hidupnya.

Sonya bergegas ke mejanya, mengambil sesuatu lalu segera menyerahkan pada pria yang kemudian melangkah pergi.

Sonya kembali menghampiri Marni yang mendadak diam seperti kelinci dalam pelukan harimau.

“Itu Bossku, Pak Bimo. Orangnya tampan, pinter banget, baik hati tapi galak juga,” cerita Sonya tanpa diminta. Dan jantung Marni semakin berdebar. Pak Bimo!

********

Bertemu Target

From : Marni Bakul Jamu                                                                           Tuesday, June 21, 2011 3:60 PM

To     : Ibu Nancy

Dear Ibu Nancy,

Saya sudah melihat Pak Bimo. Baru sekedar melihat, belum bertegur sapa apalagi nawarin jamu saya. Tapi saya akan berusaha segera mengenal beliau. Doakan saya ya, Bu.

Salam,

Marni

Nancy tersenyum tipis. Cepat juga bakul jamu itu mencari informasi tentang Bimo. Bahkan sudah bertemu orangnya pula. Tak salah ia meminta Marni untuk memata-matai Bimo. Nancy segera membalas email Marni dan memberi petunjuk selanjutnya.

Tak lama lagi rahasia laki-laki itu akan terbongkar, geram Nancy. Dan semua orang akan tahu bahwa Bimo tak sesuci yang dikira orang selama ini. Nantikan pembalasanku, Bim! jerit Nancy dalam hati.

To be continued lagi aahhh…. 😀

Episode 5: Arjuna