Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 5

Episode 5: Arjuna

Flashback dulu ya, 😉

Arjuna meletakkan gagang telepon dengan senyum cerah tersungging di bibirnya.

“Telepon dari siapa, Juna?” Sebuah suara berat mengejutkannya.

“Eh, anu… mmm… kawan, Pa, Rizal,” jawabnya gugup. Usianya sudah hampir dua puluh tujuh tahun, tetapi jika menyembunyikan sesuatu di hadapan Ayahnya, seperti anak umur tiga belas saja layaknya.

“Hmm, nanti malam kau ikut Papa ya, kita diundang makan malam oleh Pak Rangga. Kita akan membicarakan pertunanganmu dengan Anita.”

“Owh, Pa, please, beri aku waktu. Aku sama sekali belum bisa menyukai Anita.”

“Hei. apa yang kurang dari dia? Cantik, lulusan Perancis, cerdas dan kaya raya. Apa lagi yang kau ragukan, ha?”

“Anita nyaris sempurna, Pa. Tapi…”

“Jadi kau masih memimpikan Dewi ya? Tidak, Juna! Sampai kapanpun Papa tak merestui hubunganmu dengan Dewi!”

“Tapi, Pa…..”

“Tidak! Selamanya TIDAK!” gelegar Bimo lalu bergegas meninggalkan anak semata wayangya. Arjuna mengepalkan tangannya.

“Ok, Pa! Aku akan turuti permintaanmu, tapi jangan kau suruh aku tinggalkan Dewi,” geram Juna dalam hati. Tangannya mengepal kencang hingga buku-buku jarinya memutih.

*****************************************************

Kini Marni telah mempunyai jadual tetap untuk mengunjungi Nirwana. Hari Selasa di lantai rendah, dan hari Kamis khusus mengunjungi Sonya dan beberapa kawannya yang kini telah menjadi pelanggan tetap. Sayangnya selama hampir dua minggu tak ada perkembangan berarti. Pak Bimo jarang sekali datang ke Nirwana.

Dan seperti biasa hari ini Marni telah siap menunggu Sonya di lobby. Dan kali ini tentu saja tanpa mengantuk, karena ia telah mempelajari fungsi-fungsi tabletnya, meski hanya untuk sekedar main Angry Bird atau Fruit Slice hahahaha….. Sejurus kemudian Nia menyuruhnya masuk ke ruang Sonya tanpa perlu diantar lagi.

Setiap kali melewati selasar yang mirip gallery itu, disempatkannya sejenak untuk menikmati lukisan Bakul Jamu Gendong yang spektakular itu. Meresapi kesenduan matanya dan ketidakpuasan parasnya. Cantik sekali.

Sesampai di ruang Sonya ia mengetuk pintu lalu masuk. Sesosok pria menawan sedang duduk santai membaca sebuah majalah di sofa. Jantung Marni terkena gempa lagi meski tak seheboh dulu.

“Oh, maaf….saya kira…”

“Haii, Mar, masuk saja sini,” Sonya berseru dari balik mejanya. Pria muda yang sedang santai itu menatap Marni lalu tersenyum. Mirip! Persis! Bagai pinang dibelah empat! Hanya saja yang di hadapannya ini versi mudanya. Dengan ragu Marni melangkah masuk. Koper trolley nya akhir-akhir ini terasa merepotkan.

Sonya menyilakan Marni duduk di sofa, di hadapan pria tampan itu.

“Bentar ya, Mar, sedikit lagi selesai nih. Oya, kenalkan ini Pak Juna, Pak Juna ini Marni penjual jamu,” ujar Sonya tanpa meninggalkan tempat duduknya. Juna mengulurkan tangannya pada Marni yang disambut gadis itu dengan gemetar.

“Ee, Pak Juna? Bapak yang melukis Bakul Jamu Gendong itu ya?” tanyanya pelan. Arjuna tertawa.

“Darimana kau tahu?”

“Mbak Nia yang bilang. Lukisannya bagus banget, Pak, Bukan karena saya juga penjual jamu maka suka lukisan itu, tapi benar-benar bagus, Pak. Lukisannya hidup banget, padahal gak berwarna ya?” cerocos Marni tiba-tiba sok akrab begitu. Juna hanya tersenyum sambil membolak-balik majalah di pangkuannya.

“Kalo boleh tahu, siapa itu Pak, yang jadi model?”

“Hmm, Eyang Buyut saya.”

“Hah? Eyang Buyut? Beliau…beliau masih hidup?”

“Hahahaha…. tentu saja tidak. Tapi kami menyimpan lukisan wajahnya, dari situ aku buat versi lukisan yang baru.”

“Ooh. Mmm…. eee…. beliau penjual jamu ya, Pak?”

Kali ini Juna tak bisa menahan tawanya. Lepas, bebas, menggelegar. Rasanya sudah lama sekali ia tak tertawa lepas begini.

“Hush! Kamu, Mar! Leluhur Pak Juna ini kan ningrat, pengusaha kaya raya. Kamu tahu, perusahaan Immortal Bros ini milik keluarga. Pak Bimo, ayah Pak Juna ini yang dipercaya memegang tampuk pimpinan,” jelas Sonya.

Dan gempa kembali mengguncang hati Marni. Seperti ribuan gajah berlarian hatinya. Pak Juna ini putra Pak Bimo? Marni segera meramu jamu segar untuk menghilangkan gemetar seluruh tubuhnya. Pantas saja wajahnya begitu mirip dengan Pak Bimo. Semu merah kemabali menjalar di pipi Marni. Oh, mengapa tiap kali mendengar nama Bimo hatinya langsung berdesir aneh? Jatuh cintakah? Tak mungkin! Kenal saja tidak. Lagipula Pak Bimo itu lebih pantas jadi ayahnya bukan?

“Silakan coba, Pak. Ini untuk menyegarkan, menghilangkan panas, tidak pahit kok,” bujuk Marni menyodorkan segelas jamu pada Juna. Ragu Juna menerima gelas itu. Belum pernah seumur hidupnya ia minum jamu. Namun diteguknya juga cairan berwarna kuning segar itu.

“Hei, seger banget! Wah, baru tahu ada juga jamu yang gak pahit ya?”

“Wah, ada, Pak. Tidak semua jamu itu pahit kok.Tergantung bahannya dan cara meramunya.”

Cukup lama Marni bercengkrama dengan Juna dan Sonya, ketika tiba-tiba pintu terbuka dan sosok kembaran Juna memasuki ruangan. Marni langsung mengkerut tenggelam di sofa.

“Hai Juna, lama ya kau tunggu Papa. Mengapa tidak menunggu di ruangan Papa?” suara berat itu menyapa putranya dengan ramah.

“Lumayan, Pa. Ah, ruangan Papa terlalu besar dan sepi. Enakan di sini, disuguhi jamu pula,” jawab Juna. Sonya sudah deg degan takut Boss nya tak berkenan memasukkan penjual jamu ke kawasan kantor. Bimo duduk di samping Juna.

“Hmm, jamu? Bagaimana caranya ada jamu di sini?”

Dengan gugup Sonya menjelaskan keberadaan Marni. Dan lega hatinya ketika ternyata Bimo tidak marah, bahkan meminta Marni untuk membuatkan segelas juga untuknya. Gemetar Marni meramu jamu segar untuk Pak Bimo, target sekaligus penyebab gempa di hatinya.

***********************************************************

Target Beli Jamu

From : Marni Bakul Jamu                                                                           Thursday, July 07, 2011 08.14PM

To     : Ibu Nancy

Dear Ibu Nancy,

Saya sudah berhasil mengenal Pak Bimo, bahkan sudah bertemu juga dengan Pak Juna putranya. Mereka mirip sekali ya, Bu? Oya, Pak Bimo juga bilang jamu saya enak dan beliau mau juga dibuatkan jamu seminggu dua kali. Kemajuan yang pesat ya, Bu? Doakan saya ya.

Salam,

Marni

Nancy membaca email Marni dengan gembira sekaligus sedih. Arjuna. Bertemu juga rupanya ia dengan Arjuna. Ah, pilu hatinya jika harus menyebut nama Arjuna. Misi ini harus dipercepat. Segera ia membalas email Marni dan memberi instruksi untuk pekerjaan yang sedikit lebih beresiko.

Re: Target Beli Jamu

From : Nancy                                                                           Thursday, July 07, 2011 08.30 PM

To     : Marni Bakul Jamu

Bagus kerjamu, Mar. Selanjutnya kamu harus berusaha bisa berkunjung ke rumah Pak Bimo. Caranya terserah kamu. Setelah dua atau tiga kali kamu ke sana, akan kuberi instruksi selanjutnya.

Untuk pengganti transport dan lain-lainnya sudah saya transfer 5,000,000 ke rekening kamu. Sukses ya.

Salam,

Nancy

*****************************************

to be continued…. again? 😦

Episode 6: Rumah Sunyi

Iklan

17 thoughts on “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 5

  1. tunsa Juni 29, 2011 / 5:10 pm

    kok sudah sampe 5? pertamanya dimana? gak dikasih link? jadi saya kurang enak bacanya 😦

    Choco:

    Adaaa Mas, di ujung atas kanan itu link untuk ke cerita sebelumnya. Diurut aja nanti ketemu kok ke episode pertama 😉

  2. d e w o Juni 29, 2011 / 5:48 pm

    Mantab. Ga sabar ingin baca misi selanjutnya.

    Choco:

    Hahahaha…. sabar yaaa 😉

  3. mood Juni 29, 2011 / 9:08 pm

    Langsung baca bagian akhirnya, ternyata masih bersambung.
    Keknya sudah habis tiga gelas kopi dan dua piring kudapan kalo ditotal total saat membaca kisah Si Marni ini 😛

    Kalo aku baca juga kisah yang ini, nanti diganti ya kopi sama kudapanku. Wkwkk 😀

    Choco:

    Wakakakaka……kumpulin aja dulu bonnya, Bang, ntar akhir bulan diklaim yak 😆

  4. lidya Juni 30, 2011 / 6:48 am

    lagi BW pagi-pagi lihat postingan Jamu ini langsung deh aku klik paling duluan hehehe.
    Marni keren juga bawa tablet segalamain angry bird .Fruit Slice aku belum pernah main mbak,aku download ah.
    Iu Nancy ad apengalaman apa sih mbak sama Juna? masih bersambung terussss 🙂

    Choco:

    Hahahaha…. kalo dah donlot itu jadi lupa waktu lho, Jeng, maunya maen terus 😀

    Nancy sama Juna? Wah, sungguh suatu hubungan yang rumit 😛
    Iya nih, nyambung terus, Jeng. aku jadi kuatir nih nyaingin “Butir-butir pasir di laut” :mrgreen:

  5. Orin Juni 30, 2011 / 9:57 am

    Ehem…Pak Juna itu mirip tak sama chef Juna mba? hhihihi…

    Tak sabar menunggu kelanjutannya. Go Marni go….*pom-pom girl*

    Choco:

    Waaah, jauh lebih ganteng Pak Juna lho, Rin :mrgreen:
    Sipp, terbit seminggu sekali, Say… hahahahaha….

  6. Mabruri Sirampog Juni 30, 2011 / 10:06 am

    bacanya ntar sore bu,,,,
    ngabsen dulu,,,, 😀

    Choco:

    Sipp, absen sudah masuk, Mas Brur 😀

  7. clothdiapers popok kain murah Juni 30, 2011 / 10:33 am

    ngga ngikutin dr awal …
    mencoba memahami dulu ,….
    cerpennya bagus mbak …
    atau mau di angkat jd novel yak ?!?

    Choco:

    Buka link sebelumnya aja, ada kok di pojok kanan atas 😀
    Makasiy ya Say, bukan novel e book ajalah, nanti kalo dah komplit 😀

  8. nh18 Juni 30, 2011 / 3:28 pm

    Wah-wah-wah …
    Semakin melintir ceritanya nih …
    mantaappp …

    Hanya disini … Bimo Berputra Arjuna … !
    hahaha

    salam saya

    Choco:

    Aku yo bingung, Om, kok jadi makin banyak nama bermunculan yak? 😦

    Hihihihihi…. jangan bilang-bilang Om Sedj ya, Om, ntar diprotes aku. Wong Bimo kok beranakkan Arjuna :mrgreen:

  9. Mamaseris Juni 30, 2011 / 7:17 pm

    Keren bangettt…. Aduh sy g prnah absen lho baca dr awal…. Detektif marniiiiiiii kutunggu hasil kerjamuu..hahaha

    Choco:

    Waaah, makasiy ya Mam, dah ngikutin ceritanya dari awal 😀
    Sipp, detektif Marni segera beraksi… dan semoga tidak terlibat percintaan yaa 😉

  10. Dewi Juli 12, 2011 / 5:03 pm

    Aku juga mau jadi Marni… Mosok cuma untuk transport dapet 5 jeti?

    choco:

    Hahaha, sudahlah, kau jadi pacar Juna sja ya, Jeng… 😉

  11. sedjatee September 28, 2011 / 7:48 pm

    penamaan tokoh yang sangat “wayang”
    mbak dewi seneng wayang to?
    di wayang : bimo kakaknya arjuna
    di sini: bimo bapaknya arjuna
    sama aja kok

    sedj

    choco:

    Hahahahaha….. iya, Om Is, ini rada nyleneh masak Bimo kok beranakkan Arjuna :mrgreen:
    Tapi gimana lagi, saya suka tokoh-tokoh ini 😀

  12. bangprast Oktober 6, 2011 / 3:49 pm

    dog dog dog kulonuwunnn …permisi.. mo ikut mbaca, boleh ya….

    choco:

    Monggo…monggo, Bang… ikuti sampai habis yaaa 😀

  13. ~Amela~ Oktober 25, 2011 / 7:52 am

    woow.. makin menegangkan

  14. Una Desember 1, 2011 / 12:03 pm

    Nancy itu ibunya Arjuna? o_o

  15. Wong Cilik November 20, 2012 / 5:15 pm

    Arjuna mancari cinta 😀

    Nyarinya susah ternyata 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s