Iseng Aja · Ketawa dulu

PT. Soker Indonesa

Beberapa hari lalu dalam perjalanan menuju kantor kok perutku terasa luaper buanget. Maka bersama sobatku kami memutuskan sarapan soto ceker dulu. Perkiraan kami waktu masih cukuplah buat sarapan. Weits, sarapan yang lezat. Kalo sarapan soto nasinya dikiiiiiiit aja biar gak terlalu kenyang, untunglah penjualnya sudah hafal kebiasaan kami 😀

Selesai sarapan kami segera melaju lagi. Tetapi apa yang terjadi, Kawan? (gak tauuuuuuuu) Ternyata tol macet parah! Waks, ini diluar perhitungan kami. Dan tentu saja sampai kantor telat banget. Sampai di parkiran kami membahas kira_kira mesti jawab apa kalo ditanya Boss? Kami berpikir keras.

Sobatku : Waduh, bilang dari mana nih kalo ditanya?

Aku       : Aha, gini aja kita bilang dari PT. Soker Indonesa.

Sobatku : Walah, apaan tuh?

Aku       : PT. Soto Ceker Indonesa HUWAHAHAHAHAHA…….

Kamipun tertawa ampek sakit perut di dalam mobil. Sampai air mata berlinang-linang dan perut mules. Perlu Kawan ketahui kami berdua memang kelebihan hormon tertawa, jadi cerita gak lucu pun bisa membuat kami terpingkal-pingkal.

Sobatku : Ayo coba, berani gak kamu bilang gitu?

Aku       : Berani aja, kenapa gak?

Maka kami berdua pun segera turun mobil dan masuk kantor. Dan benarlah, Si Boss menanyakan darimana kami. Maka dengan gagahnya kujawab,

“Dari PT. Soker….” belum selesai aku ngomong gitu lha kok aku langsung tertawa terpingkal-pingkal. Sobatku sungguh tak bertanggung jawab ia langsung naik tangga sambil tertawa tertahan. Aduh, sumpah! Aku sampe gak bisa ngomong, tertawa sampe merem. Kawan-kawan yang lain jadi ikutan tertawa padahal gak tau persoalannya.

Oh, Kawan, andai kau dalam situasi seperti itu. Terpingkal-pingkal gak jelas di depan Boss dan teman-teman. Maka tanpa meneruskan perkataanku aku segera lari menyusul sobatku. Sampai di atas kami melepas tawa sepuasnya. Sorry Boss…… 😀

Pesan moral: habiskan dulu tertawamu sampai tuntas baru menghadapi dunia 😀

(*berdoa siang malam semoga boss gak baca*)

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 9

Episode 9 : Dan Langit pun Runtuh

Nancy melambaikan tangannya melepas kepergian Dewi menyambut masa depannya. Sementara Dewi dengan suka cita menjalankan mobilnya. Sebentar lagi ia akan membuat kejutan untuk Juna. Akhirnya Mama merestui hubungan mereka dan ia siap mengikuti kemanapun Juna membawanya. Senyum tak hilang dari bibirnya hingga ia berdiri di pintu apartemen Juna. Ditekannya bell sekali. Tangannya sibuk merapikan rambut panjangnya. Dewi ingat betul pesan Mama dulu untuk membuat Juna jatuh hati lalu tinggalkan hingga Juna hancur. Tapi kini ternyata ia benar-benar jatuh cinta pada Juna. Misi jelas telah gagal. Sementar Mama masih dendam pada Bimo, sebaliknya Bimo pun selalu curiga pada Nancy.

Untunglah Mama mau mengerti perasaannya, bisik Dewi dalam hati. Tak ada tanda-tanda pintu terbuka. Sekali lagi Dewi memencet bell. Lima menit berlalu. Sekali lagi ia memencet bell. Kepanikan mulai melanda. Ke mana Juna? Segera ia menghubungi ponselnya. Tidak aktif. BBM pun ia kirim. Tak ada respon. Juna oh Juna, kemana kau pergi? Telpon ke Sonya. Sudah seminggu Juna tidak muncul di Nirwana, begitu jawaban yang ia peroleh. Telepon ke rumah Menteng? Tidak mungkin.

Lemas Dewi melangkah. Air mata mulai membanjiri pipinya. Kemana kau pergi Juna, kekasihku? Ajak aku bersamamu. Ke belahan dunia manapun yang kau suka, asal itu bersamamu. Dewi menangis dalam diam.

*************************************

Lanjutkan membaca “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 9”

Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 8

Episode 8 : Mission Impossible

Menjelang maghrib Marni sudah tiba di Menteng. Sejak semalam ia sudah memasak gudeg, lalu subuh tadi sudah dihangatkan lagi. Gudeg akan semakin enak jika semakin sering dihangatkan, begitu kata Ibu dulu. Maka seharian ini ia tinggal memasak aksesorisnya, sambel goreng krecek, ayam dan telur coklatnya. Dan kini ia meminta Mbok Sum menghangatkan kembali.

“Aduh, ini kompor kok canggih bener ya, Mbok? Masa kompor kok ndak ada apinya,” tanya Marni takjub melihat kompor hitam yang tak mengeluarkan api itu. Mbok Sum tertawa geli.

“Simbok juga dulu bingung, Nak. Di sini semua serba modern, sekali sentuh mateng semua.”

“Nah, Mbok Sum nanti bantuin menata meja ya, aku kan ndak bisa. Lha wong biasa makan tinggal makan ndak pake meja je,” ujar Marni. Mbok Sum tertawa tertahan. Polos sekali gadis ini.

“Tenang aja, Nak Marni, nanti Mbok yang urus semuanya. Pokoknya Nak Marni tinggal mengurus Bapak saja,” ujar Mbok Sum tersenyum simpul.

“Ah, Mbok Suuum? Apa maksudnya ini?” Pelangi menghias pipi Marni.

“Hhihihihi…. Mbok senang kalo Bapak ada temannya. Kasihan selama ini kesepian. Biarpun banyak tamu dan kerabat datang tapi Mbok tahu kalo hati Bapak itu ndak seriang sekarang, sejak ada Nak Marni.”

“Aahh, Mbok sok tauuuu,” elak Marni malu-malu.

Lanjutkan membaca “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 8”

Dongeng insomnia · Nimbrung Mikir

Poetry Hujan: Tarian Hujan

Sengaja ku tak percepat langkah, meski kuyup seluruh tubuh
Kurentangkan lengan mencoba memeluk hujan
Dan pepohonan meliuk mengundang
Aku tertawa, kusambut uluran dahannya
Kami berdansa waltz tanpa orkestra
Mari…mari… menari denganku

Aku berputar bersama angin
Tertawa bersama dewa petir
Dan bercengkerama bersama putri awan
Gemulai ku menari, lincah ku bergaya
Jalanan aspal laksana savanna
Mari…mari… menari bersama hujan

Rerumputan mulai memetik dawai-dawainya
Jengkerik memainkan harpanya
Katak-katak mendentingkan melodinya
Mengiringiku berdansa yang kini berorkestra
Hujan dan air mata membaur, mengabur, ku tak peduli
Persetan dengan duka dan luka
Mari…mari…berdansa aku tak berbeban

Hujan kian menderas, doa dan kutuk kudaras
Hiruk pikuk tak kudengar, gemuruh besi beroda tak kusapa
Aku hanya berdansa bersama flamboyan
Aku hanya menari hingga lena dan lemas
Aku hanya heran mengapa hujan ini berdarah?
Ah…hujanhujan…jangan berhenti menari

Aku tak tahu
Aku hanya menyatu bersama hujan
Melayang-layang
Tiap menghunjam kembali ku terbang
Pekikan dan tangisan tak kurasa
Dan aku menjadi hujan
Melayang-layang
Kini aku bebas menari
Kapan pun kumau
Berdansa
Kapan pun kuingin

 

Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis

Iseng Aja · Ketawa dulu

Pait…Pait…Pait…

Siang hari, panas-panas, di tengah kerjaan yang tak kunjung purna, mendengarkan keluhan dan gosip kawan satu ruangan.

A      : Hih, nyebelin banget sih Si Bebek itu, sok-sok jadi koordinator belagu banget!

B      : Emang, gayanya gak tahan deh, semua orang di perintah-perintah, bossy banget, huh!

C      : Emangnya dia doang yang banyak kerjaan?

A      : Dah gitu kerjanya gak ikutin SOP lagi, suka-suka dia ntar giliran salah cari kambing hitam, deh!

B      : Gimana kalo kita jauhi aja, gak boleh masuk ke ruangan kita

C      : Iya tuh, kan dia sering ngefax ke sini tuh, kunci aja pintunyaaaa

Aku  : Eeehh….ehhh…. gak boleh gitu, dong. Kalo urusan kerjaan ya harus utamakan. Masa mo dikunciin?

All    : Abisnya sebel, Bun!

Aku  : Gini aja, ntar klo keliatan dia mau masuk ruangan, rame-rame kita bilang “Pait…pait…pait….”

All    : HUAHAHAHAHA……..emangnya tawon? HUWAHAHAHAHA…..

Dan sukseslah daku mencairkan amarah mereka 😉

Dongeng insomnia

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 7

Episode 7 : Bintang-bintang pun Berjatuhan

Juna menggenggam jemari lentik gadis di sampingnya. Sementara ombak-ombak kecil yang nakal menjilati kaki telanjangnya. Sesekali gerai rambut panjang gadis itu membelai lembut pipinya dengan bantuan angin laut yang asin. Sesekali Juna membelai anak-anak rambut yang membaur lucu di keningnya.

“Dewi…oh Dewiku….,” gumamnya. Gadis cantik itu menoleh dan memandangnya penuh sayang.

“Ada apa, Babe? Kok nampaknya agak aneh gitu sih?” tanya Dewi lembut. Disandarkannya kepala indahnya di bahu kekasihnya.

“Kapan kau mau ikut aku? Apa sih yang membuatmu begitu berat mengikuti aku?”

“Ah, kau kan tahu alasannya, Sayang. Hanya itu dan tak ada lainnya.”

Juna menghela napas panjang. Langkahnya terhenti dan ditatapnya gadis cantik yang kini berhadapan dengannya.

“Mari kita pikirkan masa depan kita, Cantik. Mau sampai kapan kita menunggu? Kau kan tahu, Papaku sudah melamar Anita untuk jadi istriku. Dan kau pun tahu aku tak bisa menolaknya.”

Dewi membuang muka. Matanya tertunduk sayu.

“Ayo, Sayang, ikut aku ke Versailles, kita menikah dan hidup tenang di sana. Pierre sahabatku akan dengan senang hati membantu kita. Please?” lanjut Juna. Diangkatnya dagu kekasihnya dan ditatapnya bola mata bening yang mulai berkaca itu.

“Juna….”

“Biarlah namaku dicoret dari daftar ahli waris, aku masih punya tabungan untuk hidup sederhana beberapa tahun di Versailles, Honey. Kau akan sejahtera bersamaku.”

“Juna….”

“Aku sudah muak dijadikan boneka oleh Papa! Bahkan dengan siapa aku harus menjalani hidup pun diatur olehnya! Come on, Babe, ikutlah bersamaku.”

“Juna…oh…Juna, aku mau. Aku ingin, tapi aku tak bisa, bagaimana dengan Mama?” keluh Dewi tak berdaya.

Juna membalikkan badannya, menatap matahari yang mulai surut.

“Itu artinya kau tidak mencintaiku, Dewi.” Suara Juna sedingin es, membuat Dewi terlonjak kaget.

“Juna, kau tahu betul perasaanku. Ahh, beri aku waktu. Aku akan memikirkannya meski berat bagiku, tapi aku harus memilih bukan?” bisik Dewi lalu memeluk Juna dari belakang. Juna tak berdaya merasakan hangatnya dekapan kekasih. Hatinya meleleh seketika.

Maafkan aku, Juna,” bisik Dewi dalam hati. Ditahannya air mata yang nyaris luruh membasahi Juna.

********************************

“E jamuuuu….jamune…..

Badan sehat awak kuat yen diombe…..”

Marni bersenandung riang sambil menatap sayang kuncup-kuncup addenium yang mulai mengembang. Merah, merah jambu, putih, kuning, semua indah. Seindah hatinya yang kini rutin mendatangi rumah mewah di kawasan Menteng itu. Tak sekalipun ia bertemu Bimo sejak kedatangannya untuk kali pertama.

Pembawaannya yang ceria dan penuh canda membuatnya dengan mudah diterima oleh para staf rumah tangga, mulai dari tukang kebun sampai security. Marni memang mudah beradaptasi. Bahkan Mbok Sum sudah menganggapnya seperti anak sendiri.

Sedang asyik Marni merawat kebun, G Tab nya memanggil dengan nada dering khusus.  Bu Nancy! Bergegas Marni menghampiri meja kebun dan segera memasang earphone wireless nya.

“Hallo, ya Bu…. eh…oh…. saya lagi di rumah target. Oh, sudah lama, Bu. Sekarang saya harus ngapain lagi, Bu?” Marni bersuara lirih dan melangkah menjauh menuju tempat paling sepi.

Sejenak tak terdengar apapun sampai ketika Marni tiba-tiba memucat.

“Apa? Ndak mungkin. Saya ndak mungkin bisa….aduuuhhh….gimana caranya? Aduuhhh….ngambil apa? Waaa, saya takut. Ya…ya….baiklah, saya coba. Ndak harus hari ini to? Ya…ya…baik….”

“Wah, dari telpon dari pacar, nih?” Sebuah sura berat menyapanya membuat Marni terlonjak hingga nyaris jatuh.

“Eh, Bapak….ee…bukan kok, dari langganan mau pesen jamu,” jawab Marni gugup. Bimo tertawa.

‘Tumben Bapak sudah pulang?” tanya Marni setelah jantungnya kembali tenang.

“Sedang bosan, Mar, ingin di rumah saja. Gimana kamu, senang di sini?”

“Wah, bukan senang lagi, Pak, saya sangat menikmati!” Ups! Marni mendekap mulutnya sendiri. Ndeso tenan, bisik hatinya, sapa yang ndak betah tinggal di rumah mewah ini, meski hanya mengurus kebun saja. Bimo tertawa. Gadis polos, cantik.

“Mau gak kamu temani saya makan malam?” Deg degan Bimo ketika mengucapkan itu. Belum pernah seorang wanita menolak ajakannya dan semoga Marni pun tidak.

“Eh, kapan, Pak?” bisik Marni gugup lagi.

“Ya sekarang, kita makan di luar saja.”

Marni berpikir keras sejenak. Ia harus melakukan tugas Bu Nancy secepatnya dan sampai detik ini ia belum tahu bagaimana caranya. Tiba-tiba ia punya ide.

“Oh, saya senang sekali, Pak. Tapii kalau hari ini saya tidak bisa karena harus mengantar pesanan. Mm, kalau besok saja bagaimana, Pak? Saya siapkan makan malam yang paliiiing enak buat Bapak,” ujar Marni dengan nada membujuk.

“Hahahaha….. memangnya kau bisa masak?”

“Oh, tidak sia-sia Ibu saya mengajari saya membuat gudeg, Pak. Kata keluarga saya, gudeg buatan saya enaaak. Eh, tapi, Bapak suka makan gudeg tidak?”

“Itu makanan kesukaanku. Baiklah, besok jam delapan malam aku pulang dan kuharap kau ada di sini menemaniku makan. Okay?”

Pipi Marni berpelangi lagi.

“Baik, Pak. Saya akan ada sejak sore di sini, menunggu Bapak,” ujarnya lirih. Bimo mendadak teringat mendiang istrinya. Ohhh… Marni….Marni….

“Nah, sekarang aku antar kamu pulang ya?”

“Oh, ndak usah, Pak. Trimakasih, saya biasa naik Trans kok, Pak.”

“Tidak, aku antar kamu sampai kos kamu.”

“Tapi, Pak….. tidak pantas Bapak mengantar saya.”

Bimo tersenyum. Dengan lembut ia menyentuh bahu Marni dan menghelanya meninggalkan kebun bersamanya. Dan bintang-bintang pun berjatuhan menimpa jantung Marni. Seumur hidup takkan terlupakan hari ini.

*****************************

Kali ini Marni hanya ber SMS.

Bu, tugas akan sy laksanakan besok malam. Tdk janji berhasil tapi akan sy usahakan. Doakan bisa berhasil ya.

Nancy membalas.

Ok. Klo gagal, msh ada waktu smpai minggu dpn.

Nancy berdebar, Sebentar lagi akan terlunaskan hutangmu padaku, Bimo!

*****************************

Aduuh, kayaknya masih panjang niy, bersambung lagi yaaa 🙂

Episode 8: Mission Impossible

Iseng Aja · Nyam...nyam...sedaaap...

Fruit and Salad dari Wall’s

Ini dah hari Jumat ya? Yuk cari yang seger-seger. Mau ager-ager atau es puter? Es krim aja, yuuk. Ada rasa baru yang sungguh seru. Es krim Fruit and Salad dari Wall’s. Woow, masih susah dicari di supermarket. Untunglah suami temanku kerja di Unilever, maka aku bisa makan duluan dan semoga gak membuat Kawan ngiler 😀

In sudah yang kedua kali kucoba, setelah mencari-cari di supermarket tak ketemu jua 🙂

So colorful, menggoda bukan? 😀
Banyak buah dalam tiap suapan, hmmm....
Oh, dia menggodaku, aku jadi mauuuu....

Nah Kawan, ini es krim solusi bagi yang tak suka coklat. Karena memang coklat terlalu pekat, meski aku menyukainya dengan sangat 😉

Semoga sudah banyak di pasaran yaaa….

Have a nice Friday 😀

Nimbrung Mikir · Nyam...nyam...sedaaap...

Wisata Kuliner Pekan Raya Jakarta

Jalan-jalan ya None ke Pekan Raye
syalalalalala…..
Jangan lalai ya None janganlah slebor
syalalalalala…..
Wisata kuliner ya None bersame aye
syalalalalala…..
Yuk kita makan ya None Si Kerak Telor
andeca andeci ya bora, bora bori
andeca andeci ya bora, bora boriiiii

Wah, sudahkah Kawan ke Pekan Raya Jakarta? Seru lho, meski ramai tak terkira, namun perlu juga berkunjung ke sana. Karena inilah pesta akbar ulang tahun Jakarta. Kali ini aku tak bahas Pekan Raya nya, tapi akan kubahas makanannya. Makanan khas Betawi yang jujur saja baru kucoba sekali. Wisata kuliner di malam hari, yang asyik tak tertandingi. Yuk mari kita coba, kerak telor istimewa, baik cara membuatnya maupun rasanya.

Bahannya ketan, telor, dan bumbu-bumbu rahasia :mrgreen:
Lebar kan jadinya 😀
Telor bebek 15 ribu, telor ayam 10 ribu, dipilih-dipilih 🙂
Masaknya heboh sampai dibolak-balik gitu 😀

Nah, mari kita lihat hasil wisata kuliner kali ini. Ini die, Kerak Telor Kemayoran taraaaa……

Penampilannya kurang menggoda, tapi enak rasanya 😀

So Kawan, sekali-sekali cobalah wisata kuniler di Kemayoran. Abang-abang penjualnya rapi berjajar di tepi jalan. Mari kita cintai produk makanan dalam negri, karena kalau bukan kita, siapa lagi? Tak kalah kok dengan spaghetti atau nasi briani 😀

Horeeee….. ikutan kuisnya Pakdee, wish me luck….. 😉

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 6

Episode 6: Rumah Sunyi

Silakan baca yang lalu dulu, yaa 🙂

Kini Marni tahu banyak tentang targetnya dari Sonya. Pak Bimo adalah seorang duda (dada Marni berdesir mendengarnya), istrinya meninggal dunia ketika melahirkan Arjuna. Dan sejak itu Bimo tidak pernah menikah lagi, namun tidak berarti tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita. Mulai dari kalangan sosialita hingga selebrita, artis dan model, penyanyi dan presenter sudah pernah menjadi teman kencannya. Sebut saja nama Bimo di hadapan mereka, maka bintang-bintang di langit akan berpindah ke mata para cantik itu, berbinar-binar penuh harap. Siapa yang tak berharap menjadi pendamping pria kaya raya sekaligus tampan berkarisma itu?

Marni juga tahu bahwa Arjuna, putra semata wayang Bimo, sama sekali tak berminat pada bisnis keluarga itu. Ia lebih tertarik pada seni, persis seperti ibu dan eyang putrinya, kata orang-orang. Namun Bimo terus menekan anaknya agar terjun ke dunianya. Arjuna menamatkan pendidikan di sekolah bisnis ternama di Amerika dan lulus dengan angka pas-pasan. Jika libur musim panas tiba Juna tidak pulang, namun terbang ke Perancis dan mengunjungi Palace of Versailles, lalu diteruskan ke National Gallery di London, kemudian menyempatkan ke Uffizi Gallery di Florence. Ia belajar melukis secara otodidak karena ayahnya tak pernah mengijinkan untuk belajar seni secara formal.

Lanjutkan membaca “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 6”