Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 6

Episode 6: Rumah Sunyi

Silakan baca yang lalu dulu, yaa 🙂

Kini Marni tahu banyak tentang targetnya dari Sonya. Pak Bimo adalah seorang duda (dada Marni berdesir mendengarnya), istrinya meninggal dunia ketika melahirkan Arjuna. Dan sejak itu Bimo tidak pernah menikah lagi, namun tidak berarti tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita. Mulai dari kalangan sosialita hingga selebrita, artis dan model, penyanyi dan presenter sudah pernah menjadi teman kencannya. Sebut saja nama Bimo di hadapan mereka, maka bintang-bintang di langit akan berpindah ke mata para cantik itu, berbinar-binar penuh harap. Siapa yang tak berharap menjadi pendamping pria kaya raya sekaligus tampan berkarisma itu?

Marni juga tahu bahwa Arjuna, putra semata wayang Bimo, sama sekali tak berminat pada bisnis keluarga itu. Ia lebih tertarik pada seni, persis seperti ibu dan eyang putrinya, kata orang-orang. Namun Bimo terus menekan anaknya agar terjun ke dunianya. Arjuna menamatkan pendidikan di sekolah bisnis ternama di Amerika dan lulus dengan angka pas-pasan. Jika libur musim panas tiba Juna tidak pulang, namun terbang ke Perancis dan mengunjungi Palace of Versailles, lalu diteruskan ke National Gallery di London, kemudian menyempatkan ke Uffizi Gallery di Florence. Ia belajar melukis secara otodidak karena ayahnya tak pernah mengijinkan untuk belajar seni secara formal.

Dan Marni juga tahu ketika Juna menderita depresi menjelang akhir kuliahnya. Ketika Juna harus konsul secara teratur dengan psikiater meski tak banyak mengurangi depresinya kecuali bahwa akhirnya Juna lulus kuliah. Dan depresi itu sembuh ketika Bimo akhirnya menyerah dan membiarkan anaknya melukis. Juna tampak bahagia karenanya. Maka ia melancong, melukis Malioboro di Yogya, sunset di Bali, suku Asmat, isi laut Bunaken. Mendengar cerita itu Marni sempat menghapus titik air di matanya. Betapa menyedihkan kehidupan anak beranak tanpa sentuhan lembut seorang ibu.

Lamunan Marni terhenti ketika ponselnya berdering. Sonya meneleponnya.

“Halo, Mar, lagi di mana?”

“Oh, di rumah, Mbak. Hari ini saya ndak kemana-mana lagi ndak enak badan, nih.”

“Yeee, gimana, kan tinggal minum jamu to Mar, sembuh deh.”

“Ihik…ihik… saya lagi ndak mbikin jamu, Mbak, bahan-bahan yang saya butuhkan belum datang dari Solo. Ada apa to, Mbak, kok tumben nelpon.”

“Tadinya sih mau ngajak kamu pergi, tapi kalo kamu sakit gak jadi deh.”

“Lho, memangnya mau pergi ke mana? Kalo ndak ke luar kota ya saya bisa kok nemenin Mbak Sonya.”

“Ke rumah Pak Bimo, Mar. Soalnya…..”

Deg! Marni tak mendengar lagi apa yang dikatakan Sonya. Lha kok bisa pas banget gini? Di saat Marni bingung bagaimana caranya ke rumah Bimo, tiba-tiba abrakadabra! Jalan keluar datang begitu saja?

“Hei, Mar, kamu dengerin gak sih?”

“Eh, iya, maaf, Mbak, Oh, jadi ndak ada yang bisa nemenin ya? Ya sudah, saya mau kok, Mbak,” sahut Marni dengan jantung berdebar-debar.

“Okay, nanti jam empat aku jemput kamu ya. Mau janjian di mana?”

“Ee, saya saja yang ke Nirwana, Mbak. Nanti saya tunggu di lobby bawah aja ya.”

“Ok, deh. Sampai nanti ya.”

“Eeh, Mbak, tunggu, ee saya mesti pakai baju apa nanti?”

Sonya tertawa geli.

“Baju santai aja, aku cuma diminta Bapak memastikan persiapan untuk acara jamuan makan nanti malam gak ada masalah. Itu acara keluarga, Mar, nanti sebelum tamu berdatangan kita pulang. Ok? Bye…”

Sonya mengakhiri pembicaraan. Marni masih bingung, mengapa kemudahan selalu berpihak padanya? Bergegas ia menyetrika baju santai terbaiknya, sebuah dress sabrina warna ungu muda dengan ban kecil di pinggang. Lupa sudah pening di kepalanya.

*******************************************

Perlahan Sonya memasuki halaman sebuah rumah sangat luas di kawasan Menteng. Security yang bertugas nampak mengenal baik Sonya. Setelah memarkir mobilnya, ia mengajak Marni turun.

“Rumah ini Mar, begitu besar dan mewah, namun sama sekali tidak ada kehangatan. Sunyi dan dingin,” bisik Sonya sambil menggandeng Marni masuk melalui pintu samping.

“Mbak Sonya sering datang ke mari ya?”

“Sudah kayak rumah sendiri, Mar. Setiap mengadakan jamuan makan atau ada acara apa pun di rumah, aku yang mengurus dan memastikan tak ada satu apapun yang kurang. Kalo jamuan resmi aku pasti ikut sampai selesai. Tapi kalo acara keluarga aku segan ikutan.”

“Ooo. Lha nanti ituacara apa to, Mbak?”

“Kunjungan balasan keluarga Pak Rangga, orang tua Anita, calon tunangan Pak Juna.”

“Ooo. Pak Juna sudah punya calon to?”

“Psst, itu perjodohan, Mar. Pak Juna sendiri sudah punya kekasih, namanya Dewi. Udah ah, nanti kapan-kapan aku ceritain. Tapi kamu bisa pegang rahasia kan?”

“Aman, Mbak! Dijamin ndak bocor kalo di tangan saya.”

Keduanya memasuki dapur. Beberapa petugas catering dan para pembantu mondar-mandir di ruangan. Sonya segera menemui Mbok Sum, mengenalkannya pada Marni lalu bergegas ke kebun tempat jamuan akan digelar.

“Mbok Sum itu orang kepercayaan Bapak. Ia yang mengasuh Pak Juna sejak lahir hingga kini. Janda tanpa anak, maka ia sayang sekali pada Pak Juna,” cerita Sonya. Marni ternganga-nganga sambil terus mengikuti Sonya menuju kebun samping. Rumah ini begitu luas, bagaimana mengepelnya ya? batin Marni.

Di kebun sudah tertata meja-meja buffet dan meja-meja bundar bertaplak putih berenda. Lampu-lampu taman tersebar di antara rimbunnya tanaman-tanaman hijau. Di latar belakang tempat makan nampak kolam renang berair biru. Semua sudah dihias rapi dengan bunga-bunga segar di setiap sudut halaman.

Marni menarik lengan Sonya dan berbisik di telinganya.

“Mbak, ini mau pesta kawinan atau cuma makan malam sih?”

“Hihihihi…. kamu ini. Kalau orang kaya ya begini ini, Mar. Biar cuma mengundang keluarga tapi hebohnya melebihi tujuh belasan di RW! Nah, kamu baik-baik di sini ya, aku mau ke dalam sebentar.”

Sonya tak memedulikan protes Marni dan segera menghilang ke dalam. Marni kebingungan. Petugas catering berseragam putih sibuk semua. Lalu beberapa pembantu wanita sibuk merapikan segala sesuatunya. Tak ada yang memedulikan atau bahkan sadar akan kehadirannya. Marni berkeliling ikut merapikan bunga-bunga dalam vas maupun dalam pot. Tak seorangpun menegurnya, semua sudah melihat bahwa ia datang bersama Sonya, berarti aman.

Lama-lama Marni menikmati kesendiriannya, ia bahkan begitu asyik dengan semua tanaman itu. Dirapikannya suplir yang rimbun di tepi kolam renang. Lalu disianginya dedaunan adenium yang menguning. Bunga-bunga aneka warna dari adenium yang menakjubkan. Dan Gelombang Cinta yang begitu besar dan rimbun membuat Marni sejenak menahan napas. Tak disadarinya seseorang memperhatikannya dari salah satu meja jamuan makan itu.

Marni baru sadar ketika ia mengibaskan rambut panjangnya ke samping dan melihat sosok itu dari sudut matanya. Mata elang itu! Marni nyaris tercebur andai saja tak segera meraih pokok palem di sampingnya.

“Eeee…mmmm…. selamat sore, Pak,” ujarnya pelan, “saya diajak eh Mbak Sonya ke mari. Eh, maaf Pak, ini cuma saya bersihkan kok.”

Bimo tersenyum melihat gadis cantik itu gemetar. Tangannya melambai dan menyuruh Marni mendekat. Ragu Marni melangkahkan kakinya yang seperti diganduli batu itu mendekat.

“Duduklah,” ujar Bimo berdiri dan menarik sebuah kursi untuk Marni. Oh, Marni melayang-layang, tersanjung sekali.

“Maaf, Pak, saya cuma merapikan tanaman itu.”

“Terimakasih kau mau melakukannya. Marni bukan namamu?”

Marni mengangguk tak berani menatap mata elang itu. Hatinya berbunga-bunga karena namanya masih diingat.

“Bapak tidak marah kan karena saya di sini? Maaf Pak, saya hanya diajak Mbak Sonya.”

“Heii, kamu jangan ketakutan seperti itu, dong. Saya gak keberatan kok kamu ada di sini. Hmm, kamu suka tanaman ya?”

“Oh, iya, Pak. Rumah saya di kampung penuh dengan tanaman obat, bunga, hijau-hijauan. Pokoknya aneka bunga dan daun saya suka, Pak,” ceorocos Marni. Dasar bakul jamu, belum ada semenit tadi gemetaran sekarang sudah ngoceh.

“Kalau kamu memang suka, bolehlah sekali-sekali datang ke mari dan merawat tanaman-tanaman itu.”

Marni terbelalak, pipinya memerah dan memucat silih berganti. Bimo jadi gugup melihat kecantikan dan kepolosan yang duduk di hadapannya ini.

“Oh, jangan salah sangka. Sudah ada tukang kebun yang merawat, maksudku kalau kau benar-benar suka, kau boleh berkunjung kapan saja untuk mengawasi kerja Maman, tukang kebun,” jelas Bimo. Heran, sudah puluhan wanita cantik, bahkan jauh lebih cantik dan matang yang ia kencani, namun mengapa di hadapan gadis muda ini jantungnya berlompatan?

“Dengan senang hati, jika Bapak berkenan,” ujar Marni lirih.

“Nah, kalau begitu datanglah kapanpun kau mau. Untuk keperluan transport dan biaya minta saja pada Sonya.”

“Oh, tidak perlu, Pak. Saya senang melakukannya untuk Bapak.” Ups. Pipi Marni kembali berpelangi ketika sadar akan ucapannya. Dan Bimo pun mendadak berdebar. Masih tak habis pikir ia, mana mungkin gadis ingusan di depannya ini bisa membuat jantungnya berdebar? Aneh. Pria matang dan berpengalaman macam dirinya nasih bisa tersipu malu.

Dan Sonya pun datang menghampiri menyelamatkan keadaan yang serba kikuk namun mendebarkan.

************************

Rumah Sunyi

From : Marni Bakul Jamu                                                                           Friday, July 15, 2011 09.24 PM

To     : Ibu Nancy

Dear Ibu Nancy,

Bu, saya sudah ke rumah Target. Bahkan beliau meminta saya datang kapanpun saya mau untuk mengawasi kerja tukang kebunnya sekaligus merawat tanamannya. Saya ndak nyangka selancar ini lho, Bu. Saya tunggu instruksi selanjutnya.  Doakan saya ya.

Salam,

Marni

Re: Rumah Sunyi

From : Nancy                                                                           Friday, July 15, 2011 10.20 PM

To     : Marni Bakul Jamu

Lakukan dulu saja permintaannya. Instruksi akan kusampaikan kemudian.

Nancy

Mengapa begitu mudah? Mengapa Bimo begitu saja mempercayainya? Nancy meremas jemarinya dengan gelisah.

Maap, bersambung lagi  yaaa…. 😉

Episode 7: Bintang-bintang pun Berjatuhan

13 tanggapan untuk “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 6

  1. Hwaaa pertamax… Ikut terpana…..serasa saya marninya! Hehe

    Choco:

    Saya jugak nulisnya sambil deg degan kayak Marni lho 😳

  2. mbak kayanya aku jatuh cinta sama Juna hehehe. duuh masih bersambung aja nih. penasaran maunya Nancy itu apa ya

    Choco:

    Aduh….aduuuh…. Juna yang mana nih, Jeng? Yang chef apa yang pelukis? :mrgreen:
    Sabar ya, Jeng, sumpah saya jugak belum tau apa maunya Nancy 😦

  3. It’s getting hot here ….
    hehehe

    Salam saya

    Choco:

    Turn on the Air Con then…. :mrgreen:

    Makasiy ya Om, masih mau mengikuti, smoga ndak bosan yaaa 😀

  4. Bocoran dunk mba Choco,sampe berapa episod niiih? duh…ikut deg2an deh…

    Choco:

    Waduh, Orin San, maafkan daku, karena akupun tak tau mau dibawa kemana episode ini … 😦 (lebayyy)
    Hehehhe… mudah-mudahan gak lama ya, Saay… 😀

  5. Hai Mbak Choco…
    saya baca dari part 1…nggak komen… udah keburu penasaraaann… hehehe… jadi komennya langsung di sini aja deh ya…

    Mantap ceritanya… jadi makin penasaran gimana endingnya nih… 🙂

  6. Apakah Pak Bimo jatuh cintrong pada si bakul jamu? Aiiihhh… agak panjangan dikit napa, Mbak? Baru baca langsung bersambung. Jadi gemes aku…

    choho:

    Jelas jatuh cinta hawong Marni cantik je he hehehe

  7. gaya bertutur mbak dewi sangat khas…
    satu yang mengesankan: deskripsinya begitu detil
    saya jadi ingat teori waktu ambil sertifikasi MBTI
    apakah mbak dewi ini seorang ISTJ? hehehe…. just kidding…

    sedjh

    choco:

    Waaaa….. bukan Om, saya ndak introvert malah cenderung ember kok wkakakaka….
    Nek detilnya sih mmm hehehehe iya kayaknya…. :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s