Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 7

Episode 7 : Bintang-bintang pun Berjatuhan

Juna menggenggam jemari lentik gadis di sampingnya. Sementara ombak-ombak kecil yang nakal menjilati kaki telanjangnya. Sesekali gerai rambut panjang gadis itu membelai lembut pipinya dengan bantuan angin laut yang asin. Sesekali Juna membelai anak-anak rambut yang membaur lucu di keningnya.

“Dewi…oh Dewiku….,” gumamnya. Gadis cantik itu menoleh dan memandangnya penuh sayang.

“Ada apa, Babe? Kok nampaknya agak aneh gitu sih?” tanya Dewi lembut. Disandarkannya kepala indahnya di bahu kekasihnya.

“Kapan kau mau ikut aku? Apa sih yang membuatmu begitu berat mengikuti aku?”

“Ah, kau kan tahu alasannya, Sayang. Hanya itu dan tak ada lainnya.”

Juna menghela napas panjang. Langkahnya terhenti dan ditatapnya gadis cantik yang kini berhadapan dengannya.

“Mari kita pikirkan masa depan kita, Cantik. Mau sampai kapan kita menunggu? Kau kan tahu, Papaku sudah melamar Anita untuk jadi istriku. Dan kau pun tahu aku tak bisa menolaknya.”

Dewi membuang muka. Matanya tertunduk sayu.

“Ayo, Sayang, ikut aku ke Versailles, kita menikah dan hidup tenang di sana. Pierre sahabatku akan dengan senang hati membantu kita. Please?” lanjut Juna. Diangkatnya dagu kekasihnya dan ditatapnya bola mata bening yang mulai berkaca itu.

“Juna….”

“Biarlah namaku dicoret dari daftar ahli waris, aku masih punya tabungan untuk hidup sederhana beberapa tahun di Versailles, Honey. Kau akan sejahtera bersamaku.”

“Juna….”

“Aku sudah muak dijadikan boneka oleh Papa! Bahkan dengan siapa aku harus menjalani hidup pun diatur olehnya! Come on, Babe, ikutlah bersamaku.”

“Juna…oh…Juna, aku mau. Aku ingin, tapi aku tak bisa, bagaimana dengan Mama?” keluh Dewi tak berdaya.

Juna membalikkan badannya, menatap matahari yang mulai surut.

“Itu artinya kau tidak mencintaiku, Dewi.” Suara Juna sedingin es, membuat Dewi terlonjak kaget.

“Juna, kau tahu betul perasaanku. Ahh, beri aku waktu. Aku akan memikirkannya meski berat bagiku, tapi aku harus memilih bukan?” bisik Dewi lalu memeluk Juna dari belakang. Juna tak berdaya merasakan hangatnya dekapan kekasih. Hatinya meleleh seketika.

Maafkan aku, Juna,” bisik Dewi dalam hati. Ditahannya air mata yang nyaris luruh membasahi Juna.

********************************

“E jamuuuu….jamune…..

Badan sehat awak kuat yen diombe…..”

Marni bersenandung riang sambil menatap sayang kuncup-kuncup addenium yang mulai mengembang. Merah, merah jambu, putih, kuning, semua indah. Seindah hatinya yang kini rutin mendatangi rumah mewah di kawasan Menteng itu. Tak sekalipun ia bertemu Bimo sejak kedatangannya untuk kali pertama.

Pembawaannya yang ceria dan penuh canda membuatnya dengan mudah diterima oleh para staf rumah tangga, mulai dari tukang kebun sampai security. Marni memang mudah beradaptasi. Bahkan Mbok Sum sudah menganggapnya seperti anak sendiri.

Sedang asyik Marni merawat kebun, G Tab nya memanggil dengan nada dering khusus.  Bu Nancy! Bergegas Marni menghampiri meja kebun dan segera memasang earphone wireless nya.

“Hallo, ya Bu…. eh…oh…. saya lagi di rumah target. Oh, sudah lama, Bu. Sekarang saya harus ngapain lagi, Bu?” Marni bersuara lirih dan melangkah menjauh menuju tempat paling sepi.

Sejenak tak terdengar apapun sampai ketika Marni tiba-tiba memucat.

“Apa? Ndak mungkin. Saya ndak mungkin bisa….aduuuhhh….gimana caranya? Aduuhhh….ngambil apa? Waaa, saya takut. Ya…ya….baiklah, saya coba. Ndak harus hari ini to? Ya…ya…baik….”

“Wah, dari telpon dari pacar, nih?” Sebuah sura berat menyapanya membuat Marni terlonjak hingga nyaris jatuh.

“Eh, Bapak….ee…bukan kok, dari langganan mau pesen jamu,” jawab Marni gugup. Bimo tertawa.

‘Tumben Bapak sudah pulang?” tanya Marni setelah jantungnya kembali tenang.

“Sedang bosan, Mar, ingin di rumah saja. Gimana kamu, senang di sini?”

“Wah, bukan senang lagi, Pak, saya sangat menikmati!” Ups! Marni mendekap mulutnya sendiri. Ndeso tenan, bisik hatinya, sapa yang ndak betah tinggal di rumah mewah ini, meski hanya mengurus kebun saja. Bimo tertawa. Gadis polos, cantik.

“Mau gak kamu temani saya makan malam?” Deg degan Bimo ketika mengucapkan itu. Belum pernah seorang wanita menolak ajakannya dan semoga Marni pun tidak.

“Eh, kapan, Pak?” bisik Marni gugup lagi.

“Ya sekarang, kita makan di luar saja.”

Marni berpikir keras sejenak. Ia harus melakukan tugas Bu Nancy secepatnya dan sampai detik ini ia belum tahu bagaimana caranya. Tiba-tiba ia punya ide.

“Oh, saya senang sekali, Pak. Tapii kalau hari ini saya tidak bisa karena harus mengantar pesanan. Mm, kalau besok saja bagaimana, Pak? Saya siapkan makan malam yang paliiiing enak buat Bapak,” ujar Marni dengan nada membujuk.

“Hahahaha….. memangnya kau bisa masak?”

“Oh, tidak sia-sia Ibu saya mengajari saya membuat gudeg, Pak. Kata keluarga saya, gudeg buatan saya enaaak. Eh, tapi, Bapak suka makan gudeg tidak?”

“Itu makanan kesukaanku. Baiklah, besok jam delapan malam aku pulang dan kuharap kau ada di sini menemaniku makan. Okay?”

Pipi Marni berpelangi lagi.

“Baik, Pak. Saya akan ada sejak sore di sini, menunggu Bapak,” ujarnya lirih. Bimo mendadak teringat mendiang istrinya. Ohhh… Marni….Marni….

“Nah, sekarang aku antar kamu pulang ya?”

“Oh, ndak usah, Pak. Trimakasih, saya biasa naik Trans kok, Pak.”

“Tidak, aku antar kamu sampai kos kamu.”

“Tapi, Pak….. tidak pantas Bapak mengantar saya.”

Bimo tersenyum. Dengan lembut ia menyentuh bahu Marni dan menghelanya meninggalkan kebun bersamanya. Dan bintang-bintang pun berjatuhan menimpa jantung Marni. Seumur hidup takkan terlupakan hari ini.

*****************************

Kali ini Marni hanya ber SMS.

Bu, tugas akan sy laksanakan besok malam. Tdk janji berhasil tapi akan sy usahakan. Doakan bisa berhasil ya.

Nancy membalas.

Ok. Klo gagal, msh ada waktu smpai minggu dpn.

Nancy berdebar, Sebentar lagi akan terlunaskan hutangmu padaku, Bimo!

*****************************

Aduuh, kayaknya masih panjang niy, bersambung lagi yaaa 🙂

Episode 8: Mission Impossible

Iklan

12 thoughts on “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 7

  1. Mamaseris Juli 13, 2011 / 8:48 am

    Emang disuruh ngapain sih sama bu nancy? Penasaran… Yg lbh panjang dong ceritanya…. Heheh.. Trlalu singkat jd tambah pnasarannn huhu

    choco:

    Hihihi… Sabar ya, Mam 😉

  2. Orin Juli 13, 2011 / 9:58 am

    Hadeuuuuhh….hebat nih ci mba nge-cut-nya :p
    Ditunggu lanjutannya yaa….pgn nyicip bener ga gudeg buatan Marni enak he he

    choco:

    Waa, Orin San, kau suka gudeg? Nanti aku mintain Marni deh he he…

  3. ais ariani Juli 14, 2011 / 12:16 am

    ada episode delapaaaannn???
    *menghela nafas: p.e.n.a.s.a.r.a.n*

    choco:

    Hihihihihihi……itu “baru” d.e.l.a.p.a.n, Rianiiiiii…… 😛

  4. Emanuel Setio Dewo Juli 14, 2011 / 12:57 pm

    Ayoooo doooong…

    choco:

    Ke mana? Studio Trans Makasar? Mauuuuu….. 😀

  5. Mabruri Sirampog Juli 14, 2011 / 2:59 pm

    mripate pedess.. 😀

    choco:

    Le moco ojo karo ngulek sambel to, Mas Brur :mrgreen:

  6. Mood Juli 15, 2011 / 12:27 am

    Weewww, ini tugasnya Marni belum kelar juga ya ?
    Tapi apa bener Marni bisa buat Gudeg, jadi kepingin nyobain juga gudeg buatannya.

    Salam.. .

    Choco:

    Weiis, dulu Marni sempat bimbang mo jadi bakul gudeg ato bakul jamu, Bang. Akhirnya milih jual jamu aja, gak terlalu repot 😆

  7. dewifatma Juli 19, 2011 / 11:40 am

    ow..ow..ow…ku taktahan..
    menunggu kelamaan…
    episode ke delapan…
    uwouwouwo……

    Marni disuruh apa sih sama Jeng Nancy….??

    Choco:

    Psst, disuruh ngambil sesuatu….

  8. Lidya September 11, 2011 / 10:58 pm

    ternyata aku baca episode ini tapi tidak komen:-D

  9. sedjatee September 28, 2011 / 9:14 pm

    setiap babak selalu penuh kejutan
    setiap episode selalu menggairahkan untuk ditunggu lanjutannya…

    sedj

    choco:

    Ikuti terus kelanjutannya yaaa 😛

  10. Una Desember 1, 2011 / 12:36 pm

    Aaaaa…

  11. Wong Cilik November 20, 2012 / 5:28 pm

    selain bakul jamu bisa jadi juragan Gudeg donk …

    Panggilannya jadi bakul kamu, bukan bakul gudeg siiy 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s