Dongeng insomnia · Nimbrung Mikir

Poetry Hujan: Tarian Hujan

Sengaja ku tak percepat langkah, meski kuyup seluruh tubuh
Kurentangkan lengan mencoba memeluk hujan
Dan pepohonan meliuk mengundang
Aku tertawa, kusambut uluran dahannya
Kami berdansa waltz tanpa orkestra
Mari…mari… menari denganku

Aku berputar bersama angin
Tertawa bersama dewa petir
Dan bercengkerama bersama putri awan
Gemulai ku menari, lincah ku bergaya
Jalanan aspal laksana savanna
Mari…mari… menari bersama hujan

Rerumputan mulai memetik dawai-dawainya
Jengkerik memainkan harpanya
Katak-katak mendentingkan melodinya
Mengiringiku berdansa yang kini berorkestra
Hujan dan air mata membaur, mengabur, ku tak peduli
Persetan dengan duka dan luka
Mari…mari…berdansa aku tak berbeban

Hujan kian menderas, doa dan kutuk kudaras
Hiruk pikuk tak kudengar, gemuruh besi beroda tak kusapa
Aku hanya berdansa bersama flamboyan
Aku hanya menari hingga lena dan lemas
Aku hanya heran mengapa hujan ini berdarah?
Ah…hujanhujan…jangan berhenti menari

Aku tak tahu
Aku hanya menyatu bersama hujan
Melayang-layang
Tiap menghunjam kembali ku terbang
Pekikan dan tangisan tak kurasa
Dan aku menjadi hujan
Melayang-layang
Kini aku bebas menari
Kapan pun kumau
Berdansa
Kapan pun kuingin

 

Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis