Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 8

Episode 8 : Mission Impossible

Menjelang maghrib Marni sudah tiba di Menteng. Sejak semalam ia sudah memasak gudeg, lalu subuh tadi sudah dihangatkan lagi. Gudeg akan semakin enak jika semakin sering dihangatkan, begitu kata Ibu dulu. Maka seharian ini ia tinggal memasak aksesorisnya, sambel goreng krecek, ayam dan telur coklatnya. Dan kini ia meminta Mbok Sum menghangatkan kembali.

“Aduh, ini kompor kok canggih bener ya, Mbok? Masa kompor kok ndak ada apinya,” tanya Marni takjub melihat kompor hitam yang tak mengeluarkan api itu. Mbok Sum tertawa geli.

“Simbok juga dulu bingung, Nak. Di sini semua serba modern, sekali sentuh mateng semua.”

“Nah, Mbok Sum nanti bantuin menata meja ya, aku kan ndak bisa. Lha wong biasa makan tinggal makan ndak pake meja je,” ujar Marni. Mbok Sum tertawa tertahan. Polos sekali gadis ini.

“Tenang aja, Nak Marni, nanti Mbok yang urus semuanya. Pokoknya Nak Marni tinggal mengurus Bapak saja,” ujar Mbok Sum tersenyum simpul.

“Ah, Mbok Suuum? Apa maksudnya ini?” Pelangi menghias pipi Marni.

“Hhihihihi…. Mbok senang kalo Bapak ada temannya. Kasihan selama ini kesepian. Biarpun banyak tamu dan kerabat datang tapi Mbok tahu kalo hati Bapak itu ndak seriang sekarang, sejak ada Nak Marni.”

“Aahh, Mbok sok tauuuu,” elak Marni malu-malu.

“Kalau Pak Juna sering datang ndak, Mbok?”

“Oh, kalo Mas Juna sudah jarang ke sini, lebih senang di apartemennya, paling kalau ada acara atau kalau sedang ingin pulang saja.”

“Ooo…”

Marni lalu minta ijin Mbok Sum untuk berganti baju. Mbok Sum mengantarnya ke tuang tidur tamu. Awalnya Marni menolak dan mau berganti di kamar Mbok Sum saja, tapi kemudian ia ingat misinya untuk meneliti rumah ini. Maka dengan senang hati ia memasuki rumah utama yang besar dan mewah itu. Mbok Sum membawanya menaiki tangga berkarpet merah tebal.

“Ini kamar Mas Juna,” ujar Mbok Sum menunjuk sebuah pintu berukir yang tertutup rapat. Mereka melangkah lagi.

“Kalo yang ini ruang kerja Bapak. Bapak sering mengadakan meeting dengan orang-orang tertentu di sini. Dulu ada Pak Suryo orang kepercayaan Bapak yang hampir setiap hari datang ke sini, tapi beliau meninggal dua tahun lalu, karena kecelakaan.”

Marni mendadak berdebar memandangi ruang kerja yang pintunya terbuka itu. Ingatannya melayang pada pesan Bu Nancy yang memintanya untuk mengambil sesuatu dari ruang kerja ini. Kalau tidak ada berarti ada di ruang tidur Bimo, dan ia harus mengambilnya. Mengambil? Ohh, Marni merinding membayangkannya. Ia takkan pernah mau menyentuh benda itu, ia hanya akan memotretnya tanpa perlu menyentuh seujung kuku pun! Bu Nancy tak perlu tahu, yang penting ia bisa membuktikan bahwa benda itu benar-benar ada.

“Ini kamar Bapak. Nah, sebelahnya ini ruang tidur tamu kehormatan. Nak Marni bisa memakai ruang yang ini.” Mbok Sum lalu membuka kamar itu dan terhamparlah pemandang mewah di depan Marni. Sejenak Marni lupa bernafas! Sebuah tempat tidur besar dan mewah berada di tengah ruangan. Lalu meja hias, lemari berukir, sofa mewah menawan, TV lebar yang menempel di dinding, kamar mandi mewah, ruang ganti, dll…dll…. Ah, luas kamar ini sama dengan 8 kamar kos dijadikan satu!

“Mbok… jangan di sini, Mbok…. cari yang lain saja. Ini…ini…terlalu ajaib buatku,” desah Marni. Mbok Sum mendorongnya masuk.

“Bapak sudah pesan, kalau Nak Marni butuh istirahat saya harus menyediakan kamar yang ini. Sudahlah, Mbok mau menyiapkan meja makan dulu ya.”

Mbok Sum lalu menutup pintu dan meninggalkan Marni sendiri. Marni meletakkan tasnya di karpet, dibukanya sepatunya. Dengan takut-takut ia merebahkan diri di tempat tidur mewah itu. Seketika tubuhnya bak melayang di awan, empuk dan membal 😀 Pandangannya menyapu sekeliling ruangan. Ia melihat lukisan seorang wanita cantik, pasti Pak Juna yang melukis. Siapa dia? Nyonya Bimo kah?

Tiba-tiba Marni ingat tugasnya, bergegas ia mengganti bajunya. Sehelai gaun malam warna hitam dengan korsase ungu muda. Rambutnya disanggul ke atas dan diberi 2 kuntum melati di tepinya. Riasan wajahnya tipis namun agak tebal 😀 Lalu ia mengganti sandal dengan stiletto. Anggun dan cantik. Ia melirik jam tangannya. Masih ada waktu setengah jam.

Marni membuka pintu, melongok ke kiri dan ke kanan, lalu mengendap ke kamar kerja Bimo. Perlahan ia memasuki ruang besar itu lalu menuju meja kerja dengan kursi yang nyaman dan besar. Marni mencoba membuka lacinya, ah terkunci! Laci kedua, tekunci juga! Semua laci di meja itu terkunci. Pandangannya segera beralih ke rak buku yang berjajar rapi di dinding. Tak mungkin benda itu ada di sana. Ia segera menuju sebuah lukisan besar di salah satu dinding. Ia ingat, kalau di film-film pasti ada sebuha lemari rahasia di balik lukisan.

Marni meraba-raba dan berusaha mengintip dibalik lukisan itu. Tiba-tiba di dengarnya langkah-langkah di luar. Oh!! Jelas ia tak mendengar langkah di tangga karena berkarpet, tapi lantai di koridor atas ini tak berkarpet! Pucat ia segera mencari temapt sembunyi. Aduh, Gusti, tolong aku! Segera ia melihat pintu yang menuju ke balkon. Dibukanya pintu lalu segera bersembunyi di luar. Jantungnya nyaris tak tertolong karena berdebar kencang.

**********************************

Dewi menggenggam tangan Mamanya. Perempuan setengah baya itu memalingkan mukanya, sementara Dewi menunduk. Setetes air mata mengalir di pipinya.

“Maafkan aku, Ma. Aku…aku tak kuasa menolaknya.”

“Jadi kau benar-benar jatuh cinta padanya?” tanya wanita itu dingin. Dewi mengusap butiran air mata yang mengalir.

“Iya, Ma. Juna pemuda yang sangat baik, hatinya begitu lembut dan perasa. Aku…aku ingin hidup bersamanya, Ma.”

Wanita itu menarik tangannya. Wajahnya kaku tanpa ekspresi. Ia bangkit dari duduknya dan berdiri membelakangi anak semata wayangnya.

“Kamu lemah! Mama meminta kamu mendekatinya untuk membuatnya patah hati dan bukan malah kamu yang patah hati!” geram wanita. Namun sesungguhnya hatinya menangis untuk anak gadisnya.

“Ma, Juna tidak bersalah apa-apa. Kalau Mama benci pada ayahnya mestinya Mama tak perlu menyakiti Juna pula.”

“Tidak! Kalau Juna hancur, maka Bimo pun ikut hancur. Ngerti? Bimo sudah membuat hidup kita berantakan tanpa satu pun tangan hukum bisa menyentuhnya. Mama harus membalasnya! Dan kamu tahu kan, kelemahan Bimo ada pada anaknya?”

“Oh, Maa…” keluh Dewi tak berdaya. Wanita itu menghela napas. Hatinya teriris melihat anak gadisnya dimabuk cinta. Ia membalikkan badan dan menatap dalam-dalam mata anaknya. Mencari kesungguhan di hitam bola matanya.

“Kau bilang Juna mengajakmu kawin lari ke Perancis?”

Dewi mengangguk.

“Kamu sungguh mencintainya?” tanya wanita itu dalam-dalam. Dewi menatap Mamanya.

“Iya, Ma,” ucapnya lirih.

“Kalau begitu, pergilah bersamanya,” kata wanita itu mantap.

“Ma?”

“Iya, pergilah. Kejar masa depanmu bersamanya.”

Dewi melongo. dalam sekejap ia memeluk Mamanya kuat-kuat. Air mata membanjiri pipi dan bahu Mamanya.

“Terimakasih, Ma,” bisik Dewi di sela isaknya.

Nancy mengusap lembut rambut halus putrinya. Air mata mengalir tanpa bisa ditahannya.

***********************************

Marni memucat, langkah kaki itu semakin dekat. Lalu didengarnya kursi bergeser, dan bunyi kunci yang membuka laci. Sesaat tak terdengar apa-apa. Sejurus kemudian langkah kaki itu menjauh. Marni mengintip ke dalam. Sudah tak ada siapa-siapa. Segera ia berlari masuk ke kamarnya kembali. Sejenak ia menenangkan jantungnya lalu dengan setenang mungkin ia keluar kamar.

Di koridor ia berpapasan dengan Bimo yang juga baru keluar dari kamarnya.

“Eh, Bapak. Maaf Pak, saya baru siap, ee….Mbok Sum menyuruh saya ke kamar ini,” gagap Marni. Bimo menyentuh lengannya.

“Aku yang menyuruhnya. Kamu ayu sekali,” ujar Bimo. Marni merasa aliran darahnya menghianatinya karena mengumpul semua di pipinya. Bimo tertawa dan membimbingnya turun.

Di ruang makan, makan malam telah rapi tersusun. Gudeg itu telah tersaji di atas piring porselen. Satu set lilin menyala di tengah meja besar itu. Gelas-gelas kristal indah menghias di dekat piring-piring mewah. Marni berdebar. Tentu ia akan sangat bingung memakai peralatan makan serba mewah itu. Lha wong biasanya ia makan dengan piring hadiah deterjen dan cukup dengan lima jari lentiknya saja.

Bimo menarik kuris untuknya. Lalu ia sendiri duduk di sisi lain meja itu berhadapan dengan Marni. Untuk sesaat suana begitu kaku. Namun lalu Marni teringat kata-kata Mbok Sum.

“…..pokoknya Nak Marni tinggal mengurus Bapak saja…”

Marni segera menyendok nasi untuk Bimo, mengambilkan gudeg dan aksesorisnya, terakhir menghidangkan di hadapan Bimo. Geraknya begitu gemulai, alami tanpa dibuat-buat. Membuat rasa lapar Bimo menguap tak berbekas,berganti rasa terpesona pada gadis ayu di hadapannya itu.

Setelah itu Marni mengambil untuk dirinya sendiri. Sedikit, hanya basa-basi. Sesungguhnya ia sangat lapar tapi malu jika harus makan banyak di depan pria berwibawa itu. Nanti di rumah ia bertekad membeli nasi padang di ujung jalan.

Bimo mulai membuka obrolan ringan seputar latar belakang Marni. Dan bakul jamu yang mudah beradaptasi itu langsung bicara lancar. Sesekali keduanya tertawa renyah, sesekali saling menunduk, sesekali saling memandang jika tak sengaja tangan bersentuhan karena hendak mengambil sendok yang sama. Akhirnya makan malam itu ditutup dengan sajian bauh anggur manis yan gentah darimana datangnya.

“Terimakasih, Mar. Masakanmu sangat enak,” puji Bimo.

“Ah, Bapak, betulah enak? Tidak terlalau asin ya?”

“Enggak, kan makannya pakai nasi jadi pas banget. Kapan-kapan akan kuundang tamu-tamuku dan kau harus menyajikan gudeg yang sama enaknya.”

“Masa tamu Bapak suka? Ini kan makanan daerah, manis, tidak semua suka.”

“Heii, tentu saja tamu-tamu Jawa yang kuundang hahahaha…..”

Bimo mengajak Marni duduk di ayunan besar di taman. Malam sudah turun sejak tadi, bintang-bintang mulai bermunculan. Entah kemana semua staf rumah tangga, hingga taman ini begitu sepi. Hanya lampu-lampu temaram dan kilau kolam renang memantulkan cahaya bintang.

“Indah malam ini ya, Mar,” bisik Bimo. Sebelah lengannya mengitari bangku ayunan dan mendarat di belakang bahu Marni.

“Eh, iya, Pak.”

“Marni, aku hendak bicara sesuatu padamu. Tapi kau jangan kaget ya,” ujar Bimo menoleh ke gadis di sampingnya. Marni berdebar tak karuan.

“Mengenai apa, Pak?”

“Mm, kurasa aku jatuh cinta padamu,” bisik Bimo. Marni nyaris terjengkang ke belakang. Tak disangka-sangka Bimo akan berkata begitu.

“Eee, kau tak perlu menjawab apa-apa, aku hanya ingin kamu tahu saja.”

Marni menunduk. Dijawab tidak ya? Jawab aja, deh!

“Saya rasa…saya juga…eeeh…jatuh cinta sama Bapak,” bisik Marni lalu menutup wajahnya dengan tangannya.

Bimo tersenyum bahagia. Ditariknya tangan Marni dari wajahnya. Semakin cantik gadis ini jika sedang tersipu. Perlahan Bimo mendekatkan wajahnya ke wajah Marni lalu mendekatkan bibirnya. Sedetik kemudian Marni merosot ke bangku ayunnya. Seumru-umur belum pernah bibirnya dikecup orang. Bulan pun bersembunyi di balik awan. Ikut lemas.

*************************************

Mission Impossible

From : Marni Bakul Jamu                                                                           Tuesday, July 26, 2011 10.20 PM

To     : Ibu Nancy

Dear Ibu Nancy,

Bu, saya rasa misi ini sangat tidak mungkin. Saya tak bisa menemukan barang itu di manapun. Semua laci meja kerja terkunci.Rasanya tak ada di ruang itu. Entah di kamar tidur target. Tapi saya tidak mungkin masuk ke sana bukan? Ibu punya saran?

Salam,

Marni

Re: Mission Impossible

From : Nancy                                                                           Tuesday, July 26, 2011 11.45 PM

To     : Marni Bakul Jamu

Dulu barang itu ada di laci nomor dua meja kerjanya. Kamu cari dulu di situ. Uang sudah saya transfer.

Nancy

Huh, ternyata tidak mudah! Dan waktu semakin sempit. Kau harus bisa, Marni!

Maap, bersambung lagi  yaaa…. ;)

Episode 9: Dan Langit pun Runtuh

13 tanggapan untuk “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 8

  1. Riasan wajahnya tipis namun agak tebal …

    (sumpah … saya masih membayangkan … yang kek apa itu ya …)

    halah membahas yang tidak penting …
    (kayak media saja kamu Ner …) 😛

    Salam saya

    Choco:

    Wakakakaka….. lha wong saya juga bingung je, Om 😀

  2. Huhuhu… Jane opo toh ‘barang incaran itu’ huahuahua… Aku tunggu kelanjutamnnya…banyk iklane sihhh… Hehehhe

    Choco:

    Wakakaka….. maklum Mam, stripping jadi banyak iklan 😆
    Barangnya? Nantikan setelah pesan-pesan berikut…. 😛

  3. cari barangapa sih mbak? aku bantuin deh hehehe
    Dewi itu skr kemana ya? apakah itu lukisan dewi

    Choco:

    Dewi mo kabur ma Juna. Itu lukisannya emaknya Juna hehehehe…. 😀

  4. Sama kek Om trainer, msh membayangkan kek gimana marni pake riasan tipis namun agak tebal itu mba hihihihi

    Choco:

    Hihihihihi….. gini lho Orin San, riasannya tuh tipissss tapi agak tebel gituuu…. :mrgreen:

    (tidak menjawab pertanyaan)

  5. Benda apakah yang dicari Marni?
    Lanjot ke episode 9 ahhh…

    *Eh nggak nyampe 1000 episode kyk sinetron “itu” kan, Mbak? hihi…*

    Choco:

    Wahahahaha…. tenang Jeng, paling cuma 247 episode kok :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s