Nimbrung Mikir

Budaya Tertib Mengantri

Weits, kalo sudah membicarakan masalah budaya tertib mengantri rasanya pegel, deh! Kayaknya kok orang Indonesa ini sudah terkenal “anti mengantri”. Contoh simple yang selalu membuatku mengeluarkan “kata-kata mutiara” (baca: memaki) adalah saat mengantri keluar tol. Haduh, adaaaa saja yang berusaha menyalip ato memotong antrian terutama ketika belum memasuki zona antrian dengan pembatas kiri kanan itu. Wuih, kalo sudah gitu tentu aku gak mau mengalah. Kita yang sudah capek-capek mengantri dari jauh tiba-tiba dipotong. Kalo yang motong jalan itu angkot ato truk ato bus meski kesal aku masih maklumi. Yah, mereka kan para pejuang jalanan yang tingkat stress nya itnggi. Tapi ini kadang mobil mewah dengan pengendara yang perlente ck…ck…ck… Tampang boleh, kelakuan sih tetep sopir angkot.

Belum lagi kalo mengantri bayar di supermarket ato mini mart, kok ya adaaaaa aja yang tega memotong antrian dengan alasan “saya hanya belanja satu barang, mbak, boleh ya duluan?” Gubrakkk!! Kalo nenek-nenek ato emak-emak yang sudah berumur sih pasti kuberi, tapi kalo masih muda ato bertampang ndableg, no way! Silakan antri di belakang. Rupanya budaya tertib mengantri ini masih hal yang mewah di negara kita tercinta ini. Semua ingin duluan, semua merasa lebih penting dari yang lain, merasa lebih membutuhkan dari yang lain. Padahal kalo kita sadar, dengan mengantri semua akan menjadi lebih lancar dan cepat. Bisa mengurangi kemacetan, semua puas, semua senang 😀

Paling tidak, budaya tertib mengantri ini harus kita ajarkan pada orang-orang terdekat kita, pada anak-anak. Tentu dengan diri kita sendiri yang memulainya. Yuks Kawan, mulai sekarang kita tertib mengantri di jalan, di kasir mart, di ATM, di WC umum, di manaaaaa sajaaaaa. Maka hidup ini akan lebih indah, dan negara kita tercinta ini akan semakin maju dan kita akan terkenal dengan budaya tertib mengantri 😉

Artikel ini disertakan dalam kontes ADUK nya Pakdee Cholik yang baik hati 😀

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 10

Episode 10 : Di Balik Lukisan Miranti

Dewi memeluk Nancy dengan tangis yang tak terbendung.

“Dia sudah pergi, Ma… hiks…hiks… Juna sudah pergi…..,” tangisnya berderai-derai. Nancy membelai kepala putrinya dengan wajah sedih.

“Dia berjanji menungguku…. Oh Maa, Juna bersedia menunggu jawabanku, tapiii…. ia meninggalkanku hiks….”

Air mata Nancy mengalir perlahan dan jatuh di rambut halus putrinya. Semua salahku! Jerit hatinya penuh sesal. Seharusnya ia tak melibatkan Dewi dalam usaha balas dendam ini, kini justru putrinya yang sakit hati. Nancy mengusap air matanya sementara putrinya masih bersimpuh dalam pelukannya. Tas dan koper bertebaran di sekeliling mereka. Nancy teringat pada Marni, tak ada waktu lagi. Marni harus segera menyelesaikan tuganya dan bukan malah berpacaran dengan target.

*******************************************

Lanjutkan membaca “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 10”