Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 10

Episode 10 : Di Balik Lukisan Miranti

Dewi memeluk Nancy dengan tangis yang tak terbendung.

“Dia sudah pergi, Ma… hiks…hiks… Juna sudah pergi…..,” tangisnya berderai-derai. Nancy membelai kepala putrinya dengan wajah sedih.

“Dia berjanji menungguku…. Oh Maa, Juna bersedia menunggu jawabanku, tapiii…. ia meninggalkanku hiks….”

Air mata Nancy mengalir perlahan dan jatuh di rambut halus putrinya. Semua salahku! Jerit hatinya penuh sesal. Seharusnya ia tak melibatkan Dewi dalam usaha balas dendam ini, kini justru putrinya yang sakit hati. Nancy mengusap air matanya sementara putrinya masih bersimpuh dalam pelukannya. Tas dan koper bertebaran di sekeliling mereka. Nancy teringat pada Marni, tak ada waktu lagi. Marni harus segera menyelesaikan tuganya dan bukan malah berpacaran dengan target.

*******************************************

Juna dan Marni saling bertatapan. Sedetik kemudian Juna segera mendekat ke pintu.

“Kamu kenapa, Mar? Mengapa menangis?”

Buru-buru Marni mengusap sisa-sisa air matanya.

“Ndak papa kok, Pak. Ee, Pak Juna kok ndak turun? Dari tadi dicari Bapak lho?” tanya Marni. Matanya berpindah-pindah dari Juna ke lukisan Miranti.

“Aku memang tidak ingin ikut pesta. Aku….aku hanya ingin mengambil lukisan Mama untuk kubawa. Tapi…nanti lain kali sajalah,” jawabnya dan hendak keluar pintu. Marni menggeser kakinya memberi jalan pada Juna. Baru beberapa langkah Juna berbalik.

“Selamat ya, Mar, kamu berhasil merebut hati Papa. Tolong jaga dia baik-baik,” ujarnya lalu tersenyum ramah. Marni salah tingkah.

“Eee, Pak Juna mau kemana? Nanti kalau ada yang bertanya bagaimana?”

“Katakan saja kau tak pernah melihat aku di sini. Bye.”

Marni hanya bisa memandangi langkah-langkah cepat Juna menuruni tangga, lalu masuk kamar dan menutup pintu. Direbahkannya badannya yang penat di atas tempat tidur empuk itu. Masih terdengar suara-suara di bawah, musik yang kini melantunkan lagu-lagu lembut dan derai tawa serta perbincangan yang tak ia mengerti. Marni membalikkan badannya dan menatap lukisan Miranti. Wajah ayu dalam lukisan itu seolah kembali menatapnya. Entah hanya bayangannya saja atau memang demikian, tiba-tiba wajah dalam lukisan itu meredup. Matanya sayu dan kelopaknya menunduk seolah merasakan sedih tiada tara, sudut-sudut bibir indah itu melekuk turun. Marni merinding, ia menutup matanya sekejap lalu membukanya kembali. Dan wajah dalam lukisan itu kembali seperti semula dengan senyum anggun dan wajah terduhnya.

Marni bangkit dan berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Benaknya berpikir keras. Mengapa Pak Juna tidak mau tampak kehadirannya? Dan mengapa ia tak jadi mengambil lukisan ini? Bukankah ini lukisan Mamanya, bahkan ia sendiri yang melukisnya? Mestinya tak perlu sungkan padaku dan bawa saja lukisan ini. Marni segera mengunci pintu kamarnya dan bergerak mendekati lukisan itu. Ia mengambil kursi di depan meja rias dan menaikinya. Perlahan ia menurunkan lukisan besar itu. Berat. Namun Marni mempunyai perasaan ada sesuatu di balik lukisan itu.

Setelah lukisan itu ia turunkan, ia mulai memeriksa dinding yang dilapisi marmer-marmer berukuran 40 x 40 cm. Dirabanya dinding-dinding dingin itu. Tak ada apa-apa. Namun matanya tertumbuk pada salah satu marmer yang mencurigakan. Tidak ada nat-nat berwarna putih yang menutupi jeda dengan marmer lainnya, namun hitam. Marni merabanya lalu mencoba mencongkel marmer itu dengan jarinya. Tak ada yang terjadi. Marmer itu tetap kukuh pada tempatnya. Marni semakin penasaran, pasti ada cara untuk membuka marmer ini. Dirabanya sekeliling bagian itu, ditekan-tekannya, masih tak ada yang terjadi.

Dengan kesal Marni memukul marmer itu dengan keras. Dan….. ziiiinnnkkkkk…… suara mendesing terdengar disertai marmer yang terdorong keluar. Marni nyaris berteriak saking kagetnya. Marmer yang ternyata sudah didisain sehingga bisa terbuka itu terdorong lalu berhenti tepat di wajah Marni. Gadis itu sibuk mendiamkan jantungnya yang berdentam-dentam. Ia melongok ke dalam ceruk yang ditutup marmer tadi, lalu segera menutup mulutnya yang nyaris memekik melihat isi dalam ceruk tersebut. Ini benda yang dicarinya yang harus diserahkannya pada Nancy!

Sebuah pistol kecil dengan panjang kurang dari 17 cm tergeletak dengan manisnya. Slide dan barrel nya berkilau berlapis emas 22 karat dengan frame berwarna hitam. Di bagian slide tertulis GLOCK 27 AUSTRIA .40. Marni berdebar-debar, memang ini yang dimaksud Nancy. Diulurkan tangannya hendak mengambil benda indah sekaligus menyeramkan itu. Namun seketika ditariknya kembali tangannya, masih teringat nasihat Nancy dalam benaknya.

“……dan jangan sekali-sekali kamu menyentuhnya dengan tangan telanjang. Kamu harus mengenakan sarung tangan untuk mengambilnya.”

Marni segera turun dari kursi dan mengambil G Tab dari tasnya. Berkali-kali ia mengambil gambar pistol itu. Bu Nancy menyuruhnya untuk mengambil pistol itu tapi tentu saja Marni takkan melakukannya. Maka ia mengambil gambar dari segala sudut, berikut ceruk tersembunyi itu. Ingin ia membalik benda itu tapi tak berani karena tak membawa sarung tangan. Setelah puas mengambil gambar ia masih memandangi benda itu. Inikah yang juga dicari Pak Juna? Tapi untuk apa? Dan mengapa Nancy mencarinya juga? Ada apa dengan pistol ini? Mengapa harus disembunyikan? Marni bergidik lalu segera menutup kembali marmer itu. Belum sempat ia memasang kembali lukisannya suara ketukan terdengar di pintu. Aduh, Marni panik sekali. Dengan berusaha secepat dan sekuatnya ia memasang kembali lukisan itu lalu segera memasukkan G Tab dalam tasnya.

“Marni….” Suara ketukan disertai panggilan mesra itu membuat Marni semakin panik. Ia mengembalikan kursi rias pada tempatnya, sejenak memastikan bahwa lukisannya tidak miring dan segera mendekat ke pintu. Setelah menata napasnya ia membuka pintu.

“Haii, kamu kenapa, Sayang? Pesta hampir usai dan kamu belum turun juga?” Bimo menatapnya mesra. Jantung Marni kembali berdebar namun kini untuk alasan yang berbeda.

“Saya agak pusing, Pak. Entahlah, mungkin masuk angin,” jawab Marni pelan. Bimo membimbingnya masuk dan mendudukkannya di love seat di ujung tempat tidur. Dibelainya rambut Marni dengan sayang.

“Maafkan aku, Sayang. Aku sudah membuatmu kelelahan ya?”

“Oh… ndak… ndak kok, Pak…. bukan karena itu tapiii……” Marni tak melanjutkan perkataannya karena telunjuk Bimo mendarat di bibirnya.

“Sst, jangan berkata apa-apa.”

Bimo memasukkan tangannya ke dalam saku lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari perak. Dibukanya kotak itu lalu menyerahkannya pada Marni. Gadis itu menahan napas demi melihat sebuah cincin emas putih bertahtakan berlian sebesar biji kacang berkilau memukau.

“Marni, maukah kamu menjadi pendampingku?” bisik Bimo lalu menggenggam tangan Marni. Diambilnya cincin berlian itu lalu hendak memasangkan ke jari manis Marni.

Gadis itu melambung ke langit ketujuh. Bahagianya melebihi saat pertama kali jamunya laris manis di hari pertama berjualan di ibukota. Gemetar jemarinya dalam genggaman tangan Bimo. Namun seketika ia teringat obrolan nyonya-nyonya di kebun tadi. Tanpa sadar ia menarik tangannya.

“Mar?”

“Maaf Pak, pantaskah saya untuk Bapak. Saya…saya hanya gadis desa penjual jamu. Ndak berpendidikan, apa Bapak tidak malu?” ucapnya lirih. Kepalanya tertunduk. Bimo mengangkat dagunya dan menatap mata Marni tepat di bola matanya.

“Katakan padaku, Mar, kamu mencintaiku tidak?” tanyanya tegas.

“Saya…saya….saya jatuh cinta pada pandangan pertama, Pak,” bisiknya malu sekali.

“Nah, tak perlu lagi kau pikirkan kau ini siapa. Aku mencintaimu, Mar. Dan tahukah kau, ini kali pertama sejak istriku meninggal dunia aku melamar seorang wanita. Aku mencintaimu dan ini bukan cinta sesaat. Jadi Sayang, kuulang sekali lagi, maukah kau menjadi pendampingku?”

“Tapi Pak, apa kata orang-orang nanti? Bapak tidak malu?”

“Tidak. Nah, maukah aku menjadi istriku?”

Marni menatap wajah tampan di hadapannya. Ia juga tak mengerti bagaimana mungkin bisa mencintai pria yang lebih cocok menjadi ayahnya. Bahkan belum mengenalnya lebih jauh. Tatapan Bimo serasa menghunjam jantungnya, tegas namun teduh. Kebapakan namun sekilas terlihat seperti seorang anak kecil yang memohon semangkuk es krim. Kadang terlihat seperti pria muda yang penuh gairah, Marni sama sekali tidak punya pengalaman percintaan, namun lelaki tampan ini telah membuatnya seperti gadis yang sudah berpacaran sepuluh kali. Marni tersenyum, diremasnya tangan Bimo.

“Saya….saya… mau,” bisiknya. Bimo menghela napas panjang lalu meraih jari manis Marni dan memakaikan cincin indah itu.

“Terimakasih, Sayang.”

Bimo lalu mencium bibir Marni lembut. Kali ini ciuman yang panjang dan lama, dan Marni kembali meleleh dalam dekapan Bimo.

*************************************

Foto-foto

From : Marni Bakul Jamu                                                                           Friday, August, 2011 02.24 AM

To     : Ibu Nancy

Dear Ibu Nancy,

Saya sudah berhasil menemukan benda itu. Sudah saya foto-foto seperti terlampir. Apakah tugas sudah selesai?

Salam,

Marni

Nancy menggeram. Untuk apa foto? Aku butuh aslinya, desisnya. Ia segera menelpon Marni.

“Marni, kau harus mengambil benda itu dan bukan fotonya. Kalau hanya sekedar foto, aku punya lebih banyak.”

“Tapi Bu, saya ndak mungkin mengambil, itu mencuri dan dulu Ibu bilang tugas saya tidak berbahaya bukan?”

“Ini sama sekali tidak berbahaya, aku hanya akan meminjamnya 2-3 hari setelah itu kau kembalikan lagi.”

“Ah, untuk apa, Bu? Saya tidak berani. Itu punya Pak Juna kan?”

“Bukan.” Marni terlompat kaget. Tak ada suara dari seberang. Diam sesaat.

“Bu? Saya akan melakukannya tapi Ibu harus menjelaskan dulu ada apa dengan pistol itu?”

“Aku akan menjelaskan setelah benda itu ada di tanganku.”

Marni diam kembali.

“Baiklah, saya akan melakukannya. Tapi Ibu janji untuk menceritakan pada saya?”

“Kau bisa pegang janjiku.” Marni hendak menutup pembicaraan ketika Nancy memperingatkannya.

“Dan Marni, sebaiknya kamu menjauh dari Bimo. Dia bukan pria yang tepat untukmu.”

“Bu……”

Nancy telah menutup teleponnya.

***

Aduuuhhh, bersambung lagi deeehhh 😦

Episode 11 : Pengakuan Juna

Iklan

10 thoughts on “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 10

  1. Orin Agustus 3, 2011 / 2:28 pm

    Aduuuuh….puasa2 Marni ciuman jg *ups* hihihi…. ditunggu episode berikutnya dg tidak sabar mba Choco 😉

    choco:

    Kan critanya gak pas puasa, Orin San :mrgreen:

  2. dewifatma Agustus 3, 2011 / 3:37 pm

    *sebelum baca, mo laporan duyu*

    huhuhu… aku nunggu ini dari tahun kapan, Mba’e… Tiap hari nge-cek updetan Mba Choco di blogroll ku…. Teganya dirimu menyiksaku

    Yo wis, aku mbaca dulu yo Mba..hehehe…

    choco:

    Wakakaka… maap, Jeng aku ndak bermaksud menyiksamu kok 😀

  3. dewifatma Agustus 3, 2011 / 3:45 pm

    haiiiyyyyaaaa…..

    Masih bersambung… Bisa mati penasaran akyu..

    choco:

    Hihihiihii….sabar to, Jeng 😀

  4. niQue Agustus 3, 2011 / 3:56 pm

    hihihi …
    jadi laper ….

    choco:

    What? Kok iso? Laper apa nih :mrgreen:

  5. alamendah Agustus 3, 2011 / 4:27 pm

    Kok pakai acara cium-ciumn. Ah, bisa kepengen, ki…

    choco:

    Weits, puasaaa, Mas :mrgreen:

  6. Emanuel Setio Dewo Agustus 4, 2011 / 10:41 am

    Hehehe… aku mbacanya 2 hari. Soale kemarin hectic banget jadi ngga selesai. Jadi mbacanya bersambung sendiri. Eh di akhir cerita masih bersambung beneran. Hiks…

    Salam

    choco:

    Kayaknya masih beberapa episode lagi deh 😦

  7. ais ariani Agustus 4, 2011 / 10:01 pm

    pistolnya mau dipakek Nancy buat ngebunuh Juna, terus Bimo yang dijadikan kambing hitam, makanya pake pistolnya Bimo

    *sok mbikin skenario sendiri*
    hehehehehhehe….

    choco:

    Aduuuh, kasihan kambingnya ah, jadi kambing hitam melulu (lho) :mrgreen:

  8. Lidya Agustus 9, 2011 / 2:50 pm

    hiks iya bener komenku gak ada. hati-hati marni jangan terjebak bu Nancy ah

  9. ~Amela~ Oktober 25, 2011 / 8:52 am

    makin penasaran euy

  10. Una Desember 1, 2011 / 12:51 pm

    Kenapa sih pistolnya… 😕

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s