Panggil Aku Sri Meina

Namaku Tjan Mei Hui, sudah bisa ditebak nama panggilanku pasti Memey. Usiaku sudah tak muda lagi, bahkan sudah diambang senja. Kalau kata kawanku, usiaku ini sudah melewati asar menjelang maghrib. Dan seperti para cendekia perempuan lainnya aku tak menikah. Perempuan yang terlalu maju dengan gelar panjang berderet di belakang namaku membuat tak seorang priapun berani mendekat. Atau karena memang aku yang terlalu menutup diri?

Dulu, aku seorang dosen favorit di salah satu universitas negri terbesar di tanah air. Kehidupanku sangat menyenangkan. Kesibukanku mengajar dan mengadakan penelitian-penelitian membuatku semakin tenggelam dalam keterasinganku dan tentu saja menambah gelar panjang di belakang namaku, DR. dr. Sri Meina, MA, MPH, Ph.D. Kini, mahasiswaku di Heidelberg memanggilku dengan “Professor”. Prof. Tjan dan bukan Prof. Meina. Telah kutinggalkan nama itu dan kusandang kembali nama pemberian orang tuaku.

Saat ini aku sedang bimbang. Sepucuk surat berkop universitas negri terbesar di tanah air ada dalam genggamanku. Surat “lamaran” untukku yang ditandatangani oleh rektor yang dulu sahabatku. Seorang pria rendah hati namun tegas dan disiplin serta mendedikasikan seluruh hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Ingin sekali kusambut lamarannya, kembali ke tanah air yang sangat kucintai meski aku bagai orang asing di tanah kelahiranku sendiri. Aku juga sangat merindukan kesejukan Malang, tempat mendiang orang tuaku membesarkanku dan adik-adikku. Aku merindukan sahabat, keluarga, bahkan mahasiswaku yang entah sudah menjadi apa sekarang.

Namun bayangan hitam itu kembali menyeruak. Tiga belas tahun lalu, di bulan yang ironisnya bahkan menyerupai namaku, lebih gila lagi tepat di ulang tahunku, sebuah peristiwa hitam menimpa keluargaku. Masa-masa kelam bagi mata-mata sipit dan kulit kuning sepertiku. Kami seperti anjing kudis yang diusir dan dihina, diadili tanpa persidangan. Brutal! Adik bungsuku, Tjan Mei Feng bahkan tak pernah ditemukan hingga kini. Papiku cacat seumur hidup dengan luka bakar nyaris di seluruh tubuh, Mamiku meninggal karena depresi berat. Toko elektronik milik Papi ludes tak tersisa. Sia-sia Papi menyelamatkan kobaran yang terus menjilati tubuhnya dan toko sandaran hidupnya. Kedua adikku yang lain selamat karena mereka bersembunyi di rumah-rumah sahabat. Dan aku sendiri diam tak berdaya di laboratorium kampus.

Satu bulan setelah kejadian itu, sebuah universitas ternama di Heidelberg mengundangku. Tanpa pikir panjang aku segera berangkat menuju tanah di mana mereka tak peduli apakah aku sipit, berkulit kuning, atau bahkan berkulit hijau sekalipun. Tempat di mana isi kepala dihargai dan diakui. Dan kini, universitas yang dulu pernah atau bahkan kini masih kucintai, mengundangku kembali. Aku yakin, kini tanah airku tercinta telah aman, semua hidup rukun berdampingan. Sejatinya aku rindu pada negriku. Di sana aku tak pernah membeku kedinginan, mau makan apapun yang kumau serba tersedia. Sayur lodeh dengan ikan asin dan sambal terasi adalah hal yang sangat mewah di Heidelberg. Aku rindu semuanya. Tapi, maukah mereka menerimaku dengan cacat trauma yang masih bersemayam di pojok hatiku? Trauma akan tangan-tangan brutal yang tak pernah kulihat namun selalu kubayangkan merobek-robek tubuh adik bungsuku? Kuremas surat berkop itu dan kubiarkan perapian melalapnya.

*****************************

Bandara Soekarno-Hatta

Tubuh renta itu terseok-seok mendekatiku. Adik laki-lakiku memapahnya dengan senyum lebar. Air mataku bercucuran. Kupeluk Papi erat-erat. Tumpah ruah rinduku, pada sosok yang selalu kuhindari karena selalu mengingatkanku pada Mami dan Mei Feng. Papi begitu tua namun sekaligus tampak sehat. Adikku gagah, berkemeja dan berdasi. Rupanya mereka tak mendustaiku, bahwa hidup mereka telah membaik, luka-luka mulai tersembuhkan. Kehangatan tanah air mencairkan duka mereka, tak sepertiku yang terus-menerus membekukan luka dan mengenangnya hingga air mata terkuras habis.

Kini, aku mantap melangkah. Akan kuabdikan sisa hidupku pada negri yang telah menerima kelahiranku dan mendewasakanku. Negri yang sejak tangisan pertamaku dan kubuka mataku untuk pertama kalinya puluhan tahun lalu, telah memberiku ilmu dan jiwa. Negri yang selalu memberiku matahari dan bulan. Semoga trauma itu segera berlalu, karena aku mencintai negriku. Dan semoga tangan-tangan brutal itu tahu, bahwa inilah negriku dan bukan negri seberang lautan, tempat nenek moyangku yang bahkan belum pernah kulihat sekalipun dalam hidupku.

Dan, panggil aku Sri Meina. Itu saja.

***************************

Horeeee….. Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio Nia, Lidya, Abdul Cholik.

Sponsored By :

Iklan

12 thoughts on “Panggil Aku Sri Meina

  1. Orin Agustus 8, 2011 / 9:20 am

    Aiiih…ini mah keren pisan mba Choco… salaman dulu ah sm rival hihihihi

    choco:

    Yuuuk salaman 😛

  2. Batavusqu Agustus 8, 2011 / 9:34 am

    Salam Takzim
    Met pagi bu dosen Tjan Mei Hui, cerita ini mengenangkan
    Salam Takzim Batavusqu

    choco:

    Kenangan buruk ya, Kang. Nyesel deh ngangkat tema ini 😦

  3. Lidya Agustus 8, 2011 / 10:21 am

    Marni terkalahkan dulu nih mbak postingannya demi ini ya hahaha lebay.
    Terima kasih ya mbak sudah berpartisipasi. ditunggu kelanjutannya bakul jamu

    choco:

    Hahahaha…. Marni lagi ngumpulin data-data, Jeng, sabar ya minggu ini pasti terbit 😀
    Jeng, kok gak komen di episode 10 to? Di akhir cerita nanti akan ada surprise lhooo 😉

  4. nia/mama ina Agustus 8, 2011 / 11:19 am

    Terimakasih atas partisipasi sahabat dalm kontes CBBP
    Artikel sudah lengkap…
    Kalau memungkinkan tolong Bannernya dipasang….
    Salam hangat dari jakarta….

    choco:

    Thanks Mam, banner sudah dipasang 😀

  5. Berny Sjofyan Agustus 8, 2011 / 11:23 am

    Ah, satu lagi penjilat penghisap darah bumi pertiwi, salutlah !

    choco:

    😦

  6. Mabruri Sirampog Agustus 8, 2011 / 12:12 pm

    sudah tidak diragukan lagi kalau membuat cerita mah… pasti bagus hasilnya.. 😀
    saya pun dibuat merinding bacanya.. heheh

    bagus tuh bu buat difilimkan.. 😀
    Mataku juga sipit, tpi karena kurang tidur, jadi bawaannya pengen merem trus.. 😀

    choco:

    Mas Brur ada-ada aja 😆
    Film? Jangan ah, sensitif 🙂

  7. Belajar Photoshop Agustus 8, 2011 / 1:11 pm

    amien.. iia setuju.. semoga gag pake trauma trauma an lagi 😦
    sukses buat giveawaynya 😉

    choco:

    Thanks ya 🙂

  8. dewifatma Agustus 9, 2011 / 1:20 pm

    Kalo mba Choco yang jadi saingan…hiks..hiks…aku mundur ah…. Malyuuuu…!!

    choco:

    Tenaaang Jeng, sudah lama saya gak memenangkan apapun kok hihihihihi….. :mrgreen:

  9. Lidya Agustus 9, 2011 / 2:46 pm

    loh komenku di episode10 gak ada? aku komen ulang deh.masa iya aku melewatkan ceritanya hehehe

  10. Dhenok Agustus 9, 2011 / 2:53 pm

    edaaan, haaaahh ceritanya pokoknya two thumbs deh mbak.. rivalku berat euy.. 😀

  11. advertiyha Agustus 18, 2011 / 4:50 pm

    Keyeeeeeeeeennn.. sayang komennya telat.. 🙂
    tapi doanya gak telat, terbukti kan dikau jadi salah satu juara?? 🙂
    selamat say…

    choco:

    Makasiy ya, Say 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s